Share

Bab 4

Author: DibacaAja
last update publish date: 2026-05-15 12:33:11

Panen Besar Part 2

Zi Chuan Xiu hampir tersedak.

“Menyukai?”

“Dulu kalau dia ingin menyingkirkan seseorang, dia harus repot-repot mencari alasan seperti korupsi atau kelalaian tugas.”

“Sekarang jauh lebih mudah.”

Zi Chuan Ning menepuk bahu imajiner sambil meniru nada Yang Minghua.

‘Pergilah rebut Benteng Xibing untukku.’

“Begitu saja. Orang itu pasti tamat.”

“Tidak ada yang pernah mendapat hasil bagus saat melawan Liu Feng Shuang. Dalam enam bulan terakhir, komandan perbatasan diganti terus seperti roda berputar. Semua yang kalah langsung dicopot.”

“Dan lucunya, semuanya adalah orang-orang yang tidak akur dengan Yang Minghua.”

Zi Chuan Xiu tertawa pelan.

“Sekarang aku benar-benar percaya dia mencintai Liu Feng Shuang.”

“Kalau begitu… bagaimana keadaan Sterling?” tanya Zi Chuan Xiu. “Dia orang yang paling menentang Yang Minghua.”

Zi Chuan Ning mengangguk.

“Yang Minghua memang ingin Sterling pergi ‘berbicara baik-baik’ dengan Liu Feng Shuang.”

Ia tersenyum kecil penuh ejekan.

“Dan kakak Sterling sendiri juga sangat ingin bertarung langsung melawan Liu Feng Shuang. Kudengar mereka sempat bertemu saat perang kedua, tapi hasilnya seri.”

“Namun Paman Zi Chuan Canxing menolak keras rencana itu dan memindahkan Sterling ke Pengawal Kekaisaran sebagai wakil komandan, jadi dia tidak punya kesempatan ikut perang lagi.”

Zi Chuan Xiu berpikir dalam hati.

Semua orang mengatakan Zi Chuan Canxing biasa-biasa saja dan tidak punya kemampuan besar.

Tapi keputusan ini sangat bijaksana.

“Lalu Pamanmu, Kepala Staf itu…” Zi Chuan Xiu menatap keluar jendela. “Dia hanya membiarkan Yang Minghua bertindak sesuka hati?”

Zi Chuan Ning langsung mendengus kesal.

“Aku curiga beliau sudah pikun!”

“Aku berkali-kali mengingatkannya agar waspada pada Yang Minghua. Tapi keesokan harinya…”

Ia langsung meniru suara tua dan lemah Zi Chuan Canxing dengan sangat hidup.

“Masalah ini biarkan Yang Minghua yang mengurus… Hah? Apa yang kau katakan? Aku tidak dengar, bicara lebih keras…”

“Oh, tubuhku sedang tidak enak hari ini…”

“Aku sudah tua. Pensiun lebih awal memang pilihan terbaik… aku sudah tidak sanggup lagi…”

Tiruan itu begitu mirip hingga Zi Chuan Xiu tidak bisa menahan tawanya.

Namun jauh di lubuk hatinya, ia merasa semuanya tidak sesederhana yang dipikirkan Zi Chuan Ning.

Ia masih ingat jelas seperti apa Zi Chuan Canxing enam tahun lalu.

Saat baru diangkat menjadi pemimpin, pria itu penuh semangat dan ketegasan. Tidak masuk akal hanya dalam enam tahun seseorang bisa berubah menjadi penakut dan tidak berdaya seperti itu.

Setelah berpikir sejenak, Zi Chuan Xiu berkata pelan,

“Mulai sekarang jangan mengatakan hal seperti itu lagi di depan orang lain.”

Zi Chuan Ning berkedip bingung.

“Kenapa?”

“Entah Zi Chuan Canxing benar-benar bodoh atau hanya berpura-pura, kalau ucapanmu sampai terdengar oleh Yang Minghua, kau akan berada dalam bahaya.”

Zi Chuan Ning langsung mengangguk patuh.

“Baik.”

Lalu ia tersenyum kecil dan berkata lembut,

“Senang sekali kau sudah kembali.”

“Aku merasa jauh lebih tenang sekarang.”

Hati Zi Chuan Xiu tiba-tiba terasa hangat.

Zi Chuan Ning baru berusia enam belas tahun, tetapi ia sudah menunjukkan kedewasaan yang jauh melampaui usianya.

Dari situ saja sudah terlihat seberapa besar tekanan yang harus ditanggung seorang gadis muda yang tumbuh di tengah lingkungan penuh intrik dan permusuhan.

Zi Chuan Xiu pun menjawab dengan suara lembut,

“Tenang saja.”

Untuk beberapa saat, keduanya kembali terdiam.

Namun kali ini suasananya berbeda.

Kehangatan perlahan memenuhi mobil itu, dan tanpa sadar mereka tidak lagi menjaga jarak seperti sebelumnya.

Tiba-tiba Zi Chuan Xiu seperti baru mengingat sesuatu.

“Tunggu dulu… aku lupa menanyakan hal yang sangat penting.”

Zi Chuan Ning memiringkan kepala.

“Apa?”

“Kau baru enam belas tahun, kan?”

“Iya.”

“Lalu bagaimana kau bisa punya surat izin mengemudi?”

“Surat izin mengemudi?”

Zi Chuan Ning tampak bingung beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk santai.

“Oh, itu. Kata penulis, dia tidak suka hal-hal seperti itu. Jadi di novel ini tidak ada surat izin mengemudi.”

Zi Chuan Xiu langsung membelalak.

“…Jadi kau menyetir tanpa izin?!”

“Cepat hentikan mobil! Aku belum ingin mati!”

“Jangan panik!” Zi Chuan Ning buru-buru mencari sesuatu di dekat kemudi. “Biar aku cari tuas rem dulu… yang mana ya… ini?”

Mobil langsung melesat lebih cepat.

“AAAAA! Itu malah gas! Tolong! Jangan bilang kau benar-benar tidak bisa menyetir!”

“Mana mungkin!” protes Zi Chuan Ning panik. “Aku jelas bisa menyetir!”

Ia mulai mencari-cari lagi dengan gugup.

“Jangan-jangan penulis juga bilang dia tidak suka rem…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Legenda Tiga Pahlawan   284

    Bab 284 : Gejolak Sumpah Perlawanan dan Penolakan Xiu Vera mengangguk, menjulurkan lengan bajunya yang kotor untuk mengusap matanya yang memerah, dan air mata mengalir di wajahnya. "Panjang umur Yang Mulia Raja Cahaya! Panjang umur Timur Jauh!" Para perwira meledakkan sorak-sorai, semangat mereka hampir terasa menggeletik bagi Shirakawa. Pasukan pembangkang kecil ini, yang saat ini diburu dan bersembunyi seperti anjing liar, kini tanpa rasa malu berbicara tentang "tidak mengambil tawanan", keangkuhan mereka seolah-olah mereka telah menguasai Benteng Dewa Iblis dan menginjak-injak seluruh Kerajaan Iblis di bawah kaki mereka. Keesokan harinya, pasukan pembangkang melanjutkan laju merangsek mereka. Saat fajar menyingsing, mereka mengambil Rute Jalan Raya Timur Jauh, dimulakan dari Cerno, dengan destinasi akhir berupa Dataran Minsk di pusat Timur Jauh. Namun, sebelum rombongan melangkah sejauh seratus mil, alarm mendesak bergem

  • Legenda Tiga Pahlawan   283

    Bab 283: Hakikat Perang dan Manuver di Delta Setengah jam kemudian, di dalam kamar Zichuan Xiu. "Masuklah, Shirakawa." Tepat saat hendak terlelap, Zichuan Xiu mendengar ketukan pintu dan berseru, "Pintunya tidak dikunci." Shirakawa mendorong pintu lalu melangkah masuk dalam terkejut: "Bagaimana Anda tahu ini saya, Tuan?" Zichuan Xiu merenung: "Bagi ahli setingkat diriku, tidak ada yang bisa meloloskan diri dari pengamatanku dalam jarak tiga puluh langkah, baik bunga yang terbang maupun daun yang gugur." Mulut Shirakawa menganga: "Benarkah?" Zichuan Xiu: "Bohong." Dia mendesah: "Setiap kali Vera dan yang lainnya melihatku, mereka selalu membuka pintu menggunakan kaki. Terutama malam ini, mereka sangat marah, mana mungkin bisa sesopan ini?" Mengingat apa yang baru saja terjadi, Shirakawa masih merasa gentar: belasan perwira suku luar yang marah terengah-engah, mata mereka memancarkan amarah, berteri

  • Legenda Tiga Pahlawan   282

    Bab 282 : Tragedi Provinsi Shaluo dan Sumpah Perlawanan Bran melepaskan ucapan dalam ketidakberdayaan: "Yang Mulia, kami didera oleh pengejaran komplotan iblis keparat tersebut dan tidak memegang pilihan lain selain merangsek mencari perlindungan kepada Anda. Dengan keberadaan entitas pencabut nyawa tersebut yang mengekor posisi kami siang dan malam, kami didera kecemasan bahkan saat menghentikan langkah untuk meneguk setetes air. Kita tidak dapat mengeksekusi tindakan apa pun!" Zichuan Xiu melontarkan pertanyaan: "Bagaimana caranya kalian menguasai pasokan informasi mengenai lokasi keberadaan pasukanku? Pasukanku tidak menguasai informasi apa pun mengenai lokasi keberadaan pasukan kalian." "Ini bertindak sebagai pasokan informasi yang disampaikan secara langsung oleh pihak Kuil Suci kepada kami." Menyaksikan ekspresi kejutan di rupa wajah semua pihak, Bran memberikan penjelasan: "Sekitar satu minggu yang lalu, se

  • Legenda Tiga Pahlawan   281

    Bab 281: Pertemuan Dua Pahlawan dan Berita Kelam Memanfaatkan gubuk-gubuk kayu dan rumah warga di pintu masuk desa sebagai barikade perlindungan, para prajurit dan pemanah memanjat ke atas atap rumah demi melepaskan bidikan dari posisi ketinggian. Barisan infanteri, tersembunyi di balik gubuk jerami, bersiap meluncurkan pertempuran. Di atas garis horison ber-es di jarak jauh, sebuah garis hitam yang menggeliat dan bergeser mulai merangsek mendekat—sebuah armada pasukan berskala raksasa. Zichuan Xiu merapatkan dahi matanya; kuota jumlah mereka melampaui pasukannya pribadi. Jika mereka memikul pendar permusuhan, konstelasi ini akan bertransformasi menjadi sangat membahayakan. Gema derap langkah kaki kuda bergema saat dua puluh prajurit kavaleri suku Orc yang baru dilatih melompat ke atas punggung kuda dan memacu kuda mereka merangsek menuju ke arah armada musuh. Penugasan mereka bertumpu pada pencapaian jarak terdekat menuju

  • Legenda Tiga Pahlawan   280

    Bab 280: Alarm Malam dan Pertemuan Dua Armada Namun sesi kelas terhenti di tengah jalan saat sesosok gema suara "Wush!" yang sangat raksasa membumbung dari sektor luar. Gema suara tersebut berada dalam tingkat yang se-nyaring dan se-tajam itu hingga mentransformasi setiap individu didera kejutan. Membutuhkan durasi waktu beberapa detik bagi para perwira untuk melepaskan reaksi: "Alarm! Prajurit pengawas melepaskan tiupan alarm!" Perwira piket, yang turut bertindak sebagai siswa di dalam kelas pelatihan tersebut, bertindak sebagai sosok pertama yang melompat keluar, rupa wajahnya berubah pucat pasi. Secara instan berikutnya, seluruh perwira berlari kencang keluar menuju ke kompi mereka masing-masing. Gema alarm membumbung menyerupai gema petir, menggetarkan seluruh kawasan desa. Para prajurit berlari keluar dari kediaman mereka, rupa wajah dipenuhi oleh pend

  • Legenda Tiga Pahlawan   279

    Bab 279: Kelas Militer dan Pendidikan Suku Orc Vera menganggukkan kepalanya secara polos lalu melontarkan pertanyaan: "Tuan, apakah kita mendapati bahwa kita telah mengambil rute jalan yang keliru dalam dua hari terakhir ini? Provinsi Yun berada di sektor timur laut, namun kita justru bergerak merangsek menuju ke sektor barat daya." Zichuan Xiu menjatuhkan daging sapi kering di tangannya, mendongakkan kepala, dengan sepasang mata dipenuhi oleh pendar kejutan: "Kita mengambil rute jalan yang keliru? Tidak mungkin meletus hal tersebut, bukankah sejak awal kita memang bergerak menuju ke sektor barat daya?" "Ah, Tuan, bukankah kita sedang berada di dalam rute perjalanan demi menyelamatkan Kuil Suci?" "Permasalahan utamanya bertumpu pada fakta bahwa Kuil Suci tidak membutuhkan bantuan kita sama sekali." Zichuan Xiu melepaskan ucapan sambil mengusap noda minyak dari telapak tangannya: "Armada iblis yang melunc

  • Legenda Tiga Pahlawan   Bab 1: Kemenangan kuartal pertama

    Kota Kekaisaran dibangun pada Tahun Kekaisaran 335. Awalnya, Kaisar Kesebelas Kekaisaran Bright membangun benteng ini sebagai markas pertahanan di wilayah barat daya untuk menghadang invasi dan gangguan Ras Iblis. Pada masa itu, Benteng Valen bahkan belum didirikan, dan nama awal tempat ini adalah

  • Legenda Tiga Pahlawan   Bab 9

    Promosi Yang Minghua memandang Ge Yingxing. “Apakah kalian berhasil mendapatkan informasi darinya?” Ge Yingxing tersenyum pahit. “Tidak sama sekali. Kami tidak berani menggunakan penyiksaan tanpa izin khusus.” “Setiap hari dia hanya makan, minum, lalu tidur.” “Masalahnya, makanannya terlalu m

  • Legenda Tiga Pahlawan   Bab 8

    Promosi Yang Minghua memang pria yang sangat tampan. Wajahnya tegap dan berwibawa, memancarkan aura seorang pemimpin sejati. Meski usianya sudah melewati lima puluh tahun, berkat latihan energi dalam tingkat tinggi, penampilannya masih terlihat seperti pria berusia tiga puluhan. Sorot matanya jer

  • Legenda Tiga Pahlawan   bab 7

    Kembalinya Sang Pahlawan Part 2.“Yang ini Komandan Luo Minghai,” lanjut Fang Jin. “Kepala Staf Markas Besar.” Wajah Luo Minghai sangat dingin dan suram, seolah seluruh dunia berutang uang padanya dan belum membayar. Ia juga merupakan orang kepercayaan Yang Minghua. Zi Chuan Xiu awalnya berniat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status