로그인Ariana, terbangun di dunia novel, menjadi karakter antagonis yang dibenci semua orang dan berakhir mengenaskan. Untungnya dia datang sebelum plot utama dimulai. Untuk keselamatan dirinya, dia memilih pergi dari rumahnya, tetapi malah terdampar di Zaltimore Royal Academy. Dia akhirnya memutuskan untuk hidup santai, damai gemah Ripah Loh Jinawi di akademi. Sayangnya dia malah terlibat berbagai insiden yang membuatnya harus berurusan dengan Raja Zaltimore dan seorang bangsawan misterius yang terkenal gila dan kejam. "Dari sisi mananya terlihat kejam, tingkah mereka bahkan seperti anak kucing rumahan," gumamnya tidak mengerti. Ariana pun harus menghadapi berbagai rumor jelek karena kemampuan medisnya. "Aku penyihir kegelapan? Aku bahkan alergi sihir?" Ariana hanya tertawa. Bagaimana petualangan Ariana di dunia novel'? Dapatkan dia menemukan cinta sejati dan kembali ke dunia nyata? Atau hidupnya malah hancur di dunia novel sebagai tokoh Antagonis? Temukan jawabannya di sini
더 보기"Maria ... bangun Nak ... jangan tinggalkan ibu dan ayahmu ...."
Ariana mengerutkan keningnya saat mendengar suara tangis orang yang tidak dikenalnya itu. Apalagi mereka menggunakan bahasa asing yang anehnya bisa dia mengerti. 'Apa aku ini se-jenius itu sampai bisa mengerti bahasa asing tanpa perlu belajar?' batinnya, mendadak bangga pada diri sendiri. Ariana membuka matanya secara perlahan dengan perasaan bingung, melihat sepasang suami istri berpakaian ala abad pertengahan duduk di samping tempat tidurnya. Sang Nyonya dengan dandanan ala putri kerajaan dan perhiasan yang mentereng terlihat berlinang air mata dan pria tampan yang Ariana pikir sebagai suaminya mencoba menenangkannya. 'Kenapa mereka menangisiku dan di mana ini? Kenapa aku ngerasa ada di dunia yang berbeda?' Ariana mengerutkan keningnya tidak mengerti, perasaannya melayang, kedua matanya tampak bergerak ke kanan dan kiri. Sedangkan mulutnya membentuk huruf 'o'. Pikirannya berusaha keras mencerna apa yang sedang dilihatnya. 'Aah, ini pasti mimpi, bobo lagi aja deh,' batin Gadis dengan rambut bagai sinar matahari pagi tersebut. Dia memejamkan kedua matanya kembali karena percaya semuanya hanya lah bunga tidur. Namun satu detik, dua detik, lima menit berlalu, dia masih saja mendengar isak tangis sang Nyonya. Rasa kesal dan penasaran membuatnya memutuskan untuk membuka matanya kembali secara cepat 'Mimpi kok nggak selesai-selesai sih!' Dengan wajah memberengut dia pun melirik ke arah pasangan suami istri yang ada di sampingnya. "Maaf Tuan Nyonya, jangan menangis terus? Saya mau tidur! Besok harus kerja! Jenis setan penganggu apa sih ini? Mimpi kok kebangeten!" gerutunya, kemudian kembali menutup kedua matanya. "Hah? Di-dia bilang kita siapa?" Tuan Bangsawan itu membulatkan kedua matanya. "Di-dia bekerja? Oh ... Dewaa ...." Sang Nyonya menepuk keningnya dengan pandangan frustasi, kemudian kembali menangis meraung-raung. Beliau bahkan meremas gaunnya erat-erat hingga kuku-kukunya meninggalkan bekas merah di tangan mulusnya. 'Dewa? Eh, ya ampun lebay amat si Jin Nyonya, beda banget sama emak gue! Tapi .... dia sejenis Jin apa ya? Kok cantik? Bukan kunti merah kan?' pikir Ariana yang merasa geli sekaligus merinding dandy. "I-istriku kenapa kamu menangis? Bersabarlah!" Tuan Bangsawan itu tampak panik, menatap istri dan Ariana secara bergantian. "Cepat panggil dokter, ada sesuatu yang tidak beres dengan putri kami!" Beliau berteriak dengan suara yang bergetar. "Baik Yang Mulia!" 'Yang Mulia?' beo Ariana di dalam hati, dia kembali membuka matanya, kali ini nyaris melotot. "Ya ampun, kayaknya ini gegara novel semalam deh! Haloo Tuan, Nyonya? Saya benar-benar harus kerja pagi besok, jadi biarkan saya tidur dengan tenang, ok! Saya butuh tubuh yang bugar dan wajah yang tetap cantik, Anda berdua mengerti, kan?" Pasangan suami itu melongo. "Baiklah kalau sudah mengerti, Met Bobo!" Ariana kembali menutup matanya agar bisa bobo syantik. Akan tetapi suasana hening tidak bertahan lama, isak tangis sang nyonya kembali terdengar. "Tolong berhenti menangis, kepala saya pusing!" teriak Ariana. Dia memandang sepasang suami istri yang terlihat masih shak shik shock itu sejenak, kemudian kembali menutup kedua matanya. Mencoba mengabaikan kehebohan yang terjadi di dalam kamar itu. "Panggil healer dan pendeta agung sekarang juga!" teriak Tuan Bangsawan lagi yang semakin khawatir pada kesehatan putrinya. Ariana berdecak kesal, tetapi kali ini tidak membuka matanya. 'Bodo ah bodoooo! Pendeta agung kek, healer kek, Penyanyi kicau ke?,' batin Gadis cantik yang berusaha untuk tidur tetapi masih belum bisa karena saking berisiknya ruangan itu. "Haaah ... kalian menyebalkan," teriaknya. Dia terpaksa membuka kedua matanya lagi dan kembali mengerutkan keningnya saat melihat orang-orang berpakaian seperti pelayan dan ksatria negeri dongeng, terlihat begitu panik. 'Mimpi kok lebay amat sih? Aneh banget,' pikirnya seraya menggelengkan kepalanya. Dia kembali mengedarkan pandangannya. Memperhatikan detail ruangan dengan konsep klasik khas abad pertengahan yang sangat mewah dengan lukisan besar, barang-barang antik dan jendela yang besar. 'Ah, ternyata masih ada empat orang lain di ruangan ini selain pasangan suami istri lebay itu dan tiga orang yang kabur tadi,' batinnya. Dia melirik ke arah perempuan paruh bawa dengan gaun hitam berenda, pria paruh baya dengan jas penguinnya dan dua pria berpakaian ala ksatria abad pertengahan. "Kenapa mimpi ini keliatan kayak nyata ya? Mereka kuno sekaligus aneh, tapi kok detail banget mimpinya? Geli asli ngeliat mereka pake kostum kayak gitu, mimpinya aneh banget,' gumam Gadis itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman. Dia merasa cukup terhibur karena seumur-umur baru mengalami mimpi di jaman kuno dan sedetail itu "Sayang jangan menangis, lihatlah untuk pertama kalinya putri kita tersenyum pada kita! Ya ampun cantik sekali!" Sang Tuan bangsawan ikut tersenyum, matanya berbinar memandang Ariana dan gadis itu pun membalas senyumannya, merasa sedikit geli melihat betapa seriusnya pria itu mendalami perannya dalam mimpi itu. 'Eh, aku baru sadar si kakak mister bule ini cogan,' pikirnya, sambil mengamati wajah tampan pria itu dari dekat. 'Ganteng banget kayak James Bond,' batinnya. "Benarkah?" Sang Nyonya menoleh pada Ariana dan untuk beberapa saat dia tertegun menatap gadis itu. "Senyumannya sama denganmu, Sayang!" Kedua mata Nyonya itu tampak berbinar dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lebar yang sangat cantik, hingga membuat Ariana mengerutkan keningnya. Apalagi saat tangan lembut sang Nyonya menyentuh pipinya, gadis itu melebarkan kedua matanya dan tubuhnya merinding sebadan-badan secara otomatis karena merasa baru pertama kali dipegang Jin dalam mimpi. "Gila sensasinya! Kenapa mimpi bisa se-nyata ini coba? Aku bisa ngerasain tangan si Nyonya yang hangat dan harum! Aku menyukainya!" Ariana memegang tangan itu, memandang Nyonya Bangsawan yang terlihat cantik seperti boneka hidup, hingga terus tersenyum saking terpesonanya. Dia bahkan bisa mendengar suara musik dari kejauhan, merasakan tekstur kain gaun sang Nyonya, dan mencium aroma wangi bunga-bungaan di ruangan itu. "Ini bukan mimpi Sayang ... kami benar-benar datang ke sini untuk menemuimu! Untuk menjemputmu kembali ke Galexion!" Sentuhan lembut nan hangat dari tangan Nyonya Cantik yang mengelus pipinya membuat Ariana membulatkan kedua matanya. 'Hangat dan lembut,' batinnya. "Eh? Bukan mimpi? Ga-galexion?" Ariana melebarkan kedua matanya, kemudian keningnya berkerut secara refleks. Nyonya cantik itu tersenyum lembut walaupun masih ada sisa air mata di pipinya. 'Ah, mana ada orang dalam mimpi mengaku ini mimpi ya kan? Bisa dimaklumi sih! Tapi Galexion? Kayak pernah dengar di mana ya?' pikirnya, gadis itu memusatkan pikiran untuk menemukan kata Galexion dalam kamus buku besar di otaknya. 'Ah iya, novelnya Bella!' Ariana bisa dengan cepat menemukan sumber kata Galexion. Dia mengangguk-angguk tanda mengerti, tetapi kemudian membulatkan kedua matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Sayang, aku tahu ini mungkin membingungkan, tetapi kami di sini untukmu. Aku adalah ayahmu dan ini ibumu! Kami memutuskan untuk membawamu kembali ke Alexandria! Kamu tidak akan merasa kesepian lagi!" Pria bangsawan yang tampan itu mencoba menjelaskan duduk perkaranya, beliau menggenggam erat kedua tangan gadis itu. "Hah? A-Alexandria?" Ariana semakin ngelag. 'Jiah, kurasa gara-gara aku keasikan baca novel semalam jadi kebawa mimpi segala, haha ... ini mimpi tergila yang pernah aku alami,' batinnya. Matanya berkedip-kedip beberapa kali, mulutnya tertawa. "Benar, kita akan kembali ke Alexandria, tidak ada lagi pengasingan, kamu akan mendapatkan statusmu kembali!" Pria Bangsawan itu mengangguk dan terus tersenyum dengan lembut. "Oh begitu hahaha ...." Ariana terus tertawa seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kurasa aku terlalu fokus membaca novel sebelum tidur jadinya kebawa mimpi! Sudahlah aku tidur lagi! Badanku sakit semua! Aku harus cepet sadar dan pergi ke puskesmas besok terus kerja! Senang bertemu dengan kalian Tuan Ganteng, Nyonya Cantik! Adios omagos, bye bye!" Ariana dadah-dadah sebentar dan tersenyum, kemudian memejamkan kedua matanya lagi. 'Aku yakin setelah bangun nanti, semuanya akan kembali pada tempatnya! Emak dan Baim pasti bangunin besok pagi! Aku harus mengurus masalah bisulku dulu terus kerja dan cari kerjaan part time tambahan buat persiapan di wahana internship nanti,' batinnya sambil menggerakkan tubuhnya sedikit untuk mencari posisi enak. Dia berusaha mengabaikan segalanya, berpikir rasional dan mengatur napasnya agar tubuhnya rileks. Sementara kedua bangsawan tadi saling berpandangan, kemudian menghela napas panjang secara bersamaan. "Apa dia mengusir kita? Dia pasti membenci kita karena sudah mengabaikannya selama ini?" Si Nyonya kembali terisak. "Ck, kurasa bukan begitu! Dia bilang sendiri tubuhnya masih sakit! Lebih baik kita keluar dulu, biarkan dia beristirahat lebih lama! Kejadian itu pasti sudah membuatnya trauma! Sudah bersyukur kita datang tepat waktu dan putri kita masih bisa diselamatkan," jelas Sang Bangsawan Pria pada istrinya. "Kamu benar, Sayang!" "Ayo Celestin!" Sang Pria bangsawan tadi bangkit lebih dulu, kemudian mengulurkan tangannya pada sang istri. "Baiklah, tapi kamu yakin dia akan baik-baik saja? Dia aman?" Nyonya Celestin masih mengkhawatirkan putrinya. "Dia akan baik-baik saja! Aku sudah menempatkan ksatria terbaik di seluruh Mansion ini!" "Hem, baiklah, aku percaya padamu." Ariana mendengarkan semua percakapan pasangan suami istri itu, tetapi memilih untuk mengabaikan mereka dan fokus memejamkan matanya agar cepat tertidur dan tersadar kembali di dunianya. 'Mimpi yang aneh! Apa karena aku lupa berdoa jadi bisa mimpi seaneh ini? Haah ... sudahlah tidur Ria, tidur ... ingat cicilan panci emak belum lunas, kamu harus bekerja lebih keras lagi!' Pikir Ariana yang berusaha keras untuk tertidur dan setelah perjuangan selama setengah jam, akhirnya gadis itu benar-benar tertidur lelap. Keesokan harinya Ariana terbangun saat mendengar siulan burung murai di dekat jendela kamarnya. 'Burung? Biasanya juga kalau pagi itu ribut suara motor di jalan depan rumah, kok bisa-bisanya ada suara burung? Apa Pak Jamil beli burung?' pikirnya teringat pada tetangga rumahnya yang kaya raya tetapi pelit bin medit meregehese. Gadis itu membuka matanya secara perlahan, melihat pemandangan yang sama dengan yang dilihatnya kemarin. Akan tetapi tidak ada seorang pun di ruangan tersebut. Matahari terlihat mulai terbit, dan pintu balkon itu terbuka, membawa angin pagi yang sejuk. "Apa ini? Kenapa aku masih ada di sini? Kok mimpinya kelamaan sih? Apa aku kena erep-erep karena kurang banyak berdoa?" Ariana berdoa sejenak, tetapi saat merasa gagal bangun dari mimpinya. Gadis cantik itu mencoba bangkit dari tidurnya dengan perasaan gamang yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. "Aku bisa bangun, tapi kenapa aku dasteran begini? Perasaan kan semalam pake piyama Kuromi? Tangannya juga kecil!" Dia benar-benar merasa aneh tapi nyata. "Kok mimpinya totalitas begini ya?" Gadis itu memaksakan diri turun dari ranjang dan sambil berdiri, dia menatap gaun putih panjang berbahan sutra yang membalut tubuhnya. Gadis itu pun merasa sedikit terganggu dengan rambut panjangnya yang terasa semakin panjang. "Mimpi kok jalannya bisa kerasa senyata ini ya?" gumamnya lagi saat melangkahkan kakinya menuju balkon dan melihat beberapa pohon yang menjulang tinggi, memasuki area balkon, kemudian hamparan taman yang indah. Dia juga bisa melihat gunung serta lautan yang jaraknya terlihat tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. "Woaaah mangga ...." "Waaaah pemandangannya ...." Melihat semua pemandangan indah dan hangatnya sinar matahari pagi, membuat mulut Ariana menganga. "Gila, ajib banget pemandangannya! Apa itu laut Ancol?" tanyanya dengan spontan, hingga beberapa saat kemudian dia menepuk keningnya sendiri karena tahu semuanya adalah atribut mimpinya. "Mana mungkin itu laut Ancol, ini mimpi abad pertengahan, Laut Ancol jauh dari sini," gumamnya lagi merasa konyol. "Ah, pasti lautnya bagian dari Samudra Atlantik," tebaknya, mengingat ibunya berencana mengirimnya ke Samudra Atlantik saat marah, kemarin. Gadis itu kemudian duduk sambil ongkang-ongkang kaki di tepian pagar balkon, membiarkan tubuhnya di sinari hangatnya matahari pagi dan rambutnya berterbangan ditiup angin. "Walaupun ini mimpi, tapi kesehatan yang paling utama, tubuhku harus cukup vitamin D nya biar tetap cantik. Hari gini penampilan yang utama, aku nggak boleh kalah saing sama para pemburu part time," gumamnya kemudian memutuskan untuk mengubah posisi duduknya menjadi posisi bersila seperti orang yang sedang bermeditasi dan kembali memejamkan matanya. Lima menit kemudian Ariana berdecak kesal karena mendengar keributan dari bawah dan terdengar langkah kaki orang-orang menuju kamarnya. "Tuan Putri tolong turun dari sana, bahaya!" "Hati-hati Putri!" Ariana mengerutkan keningnya. "Adalagi Putri? Haih, totalitas memang," gumamnya sambil tetap memejamkan matanya. "Oooom!" Gadis itu kembali bermeditasi. Akan tetapi keramaian itu tidak kunjung berakhir. "Haaah, ribut banget, apa mereka menyuruhku lompat? Gila aja lompat dari balkon!' pikirnya dengan wajah cemberutnya. "Maria apa yang kamu lakukan Nak? Apa kamu begitu membenci kami hingga ingin bunuh diri?" terdengar suara si Nyonya yang kemarin dari arah belakangnya. "Turun Nak, kita bicarakan baik-baik, ayah akan memberikan apapun yang kamu mau! Ayah janji untuk mengabulkan segala permintaanmu!" teriak Sang Pria Bangsawan dengan tatapan cemas. 'Ck, siapa Maria? Dan kenapa mereka teriak-teriak kayak gitu! Orang lagi mandi matahari juga, sunbath, sunbath, dasar Jin Ifrit,' pikirnya. Mendengar keributan yang tak berujung, Ariana akhirnya membuka matanya dan menoleh ke bawah, terlihat puluhan pria berseragam ksatria sudah siap dengan sprei dan kasur berlapis untuk menyambut lompatannya, tetapi Ariana tidak berencana lompat, mengingat si bisul. Dia kemudian menoleh ke belakang dan lagi-lagi melihat si Nyonya sudah berlinang air mata dan suaminya terlihat cemas. "Apa benar Anda akan mengabulkan segala permintaanku?" tanyanya pada pria bangsawan yang berambut emas tersebut. "Tentu saja Nak, tentu, ayahmu ini akan mengabulkan segalanya," jawab Sang Tuan Bangsawan. Ariana mengangguk-angguk. "Baiklah, kalau begitu apa Anda tahu bagaimana caranya untuk bangun dari mimpi ini? Mimpiku terlalu panjang, aku harus segera bangun karena ibuku menungguku! Anda tahu caranya?" tanyanya. Mendengar itu pasangan suami istri bangsawan itu terkejut, kemudian saling berpandangan dan ujung-ujungnya sang Nyonya kembali menangis dengan kencang. "Eh, dia kenapa?" Ariana mulai bosan melihat si Nyonya yang hobinya menangis bombay tersebut. Bersambung ....John menganga sejenak, telinga dan pipinya tampak memerah saat melihatgadis cantik splendid shimerling dengan rambutnya pirang panjang yang diikat ekor kuda. Mata emasnya menyala. Gaunnya dari sisik emas yang berkilau, transparan di bagian bawah, melayang tanpa menyentuh lantai. Dia menelan salivanya secara perlahan dengan pandangan yang tidak lepas dari sosok hantu cantik nan seksi tersebut.Ariana melangkah maju, satu tangannya di angkat ke udara, dagunya diangkat. Senyumnya lebar sampai gigi kecilnya terlihat."Halo Nenek. Aku, cucu moyangmu, Ariana," sapanya, percaya diri."Cucu?" Gadis Cantik itu mengerutkan dahi kinclongnya."Hem." Ariana mengangguk cepat."Aaah, benarkah?" Hantu yang penasaran itu melayang turun. Hidungnya hampir menyentuh pipi sang putri. Dia mengendus, sekali, dua kali. Lalu berputar mengelilingi gadis kecil itu, jubahnya tersibak angin, mengeluarkan aroma harus bunga Jasmine. Mata emasnya menelisik dari ujung rambut sampai ujung sepatu Ariana."Bagaimana?
Serpihan kerikil dan bebatuan dari dinding, lantai, langit-langit yang hancur dan berjatuhan ke bawah kawah, tiba-tiba melayang, membuat pusaran angin panas, kemudian menyatu. Kretek!Kretek!Wush!Gadum!Satu, dua, tiga, lima ... sepuluh Golem mulai bangkit. Tubuh mereka terbuat dari batu lahar dengan merah menyala. Setiap langkah mereka membuat lantai retak."Anjiiir ...." Ariana melongo dengan mulut terbuka. Ini pertama kalinya dia melihat penampakan Golem, itu pun dari batuan yang panas."Putri, Anda yakin ini jalan keluar yang benar?" tanya John yang sigap membuat barrier dan segera mencabut pedang Red Dragon dari sarungnya.Siiiiing!Bilahnya mendengung pelan, menjawab mana yang berkumpul di udara. "Hem, seharusnya sih ... tapi aku juga tidak menyangka akan ada Golem sekeren itu di sini," ungkapnya dengan mata berbinar seperti melihat sebuah mahakarya."Ke-keren?" John sampai tergagap.'Apa mental orang jenius itu memang sedikit terganggu?' batinnya karena bisa-bisanya sang pu
"Kamu yang mengatur kebutuhan batu mana ini untuk anak-anak angkatku dan orang-orang di mansion. Gunakan dengan bijak karena laporannya harus jelas.""Baik Putri, saya akan melakukan sebaik mungkin.""Akan aku lihat progresmu nanti dan berjanjilah, rahasiakan ini dari orang tuaku karena kadang mereka terlalu naif. Kamu itu orangku, bukan lagi orangnya Ayahku. Ingatlah, aku ini calon Kaisar di masa depan.""Baik, Putri."John kembali terkejut dengan pemikiran tajam majikan kecilnya. Walaupun bersikap super santai setiap hari, tetapi ternyata dia bisa melihat masalah terbesar yang dihadapi kedua orang tuanya. Mereka memang terlalu naif hingga bahkan tidak bisa melindungi anaknya sendiri dan terpaksa mengungsikan sang putri ke tempat terpencil."Lakukan dengan perjanjian sihir!" tegas Ariana."Baik, Putri."John meletakkan pedangnya di lantai dan berlutut. Dari saku dalam jubahnya, dia mengeluarkan gulungan kecil dan memberikan pada pengawalnya.John membuka segel gulungan sihir itu deng
"Satu ... dua ... tiga ... cepat, ikuti langkahku John!" Ariana tampak tidak terpengaruh dengan kericuhan yang dihadapi pengawalnya.Dia bergeser satu langkah ke kiri, lalu berhenti sejenak, membiarkan belasan panah beracun lewat dengan jarak sejengkal dari pipinya, kemudian melompat dan mendarat di batu yang tampak rapuh namun justru memicu mekanisme yang menghentikan bola batu api di tengah jalan. "Weis, hampir aja, selamat ... selamat," ucapnya sambil mengelus dadanya.John yang menganga, langsung mengedip-ngedipkan kedua matanya dan berusaha menyusul majikan kecilnya dengan cepat, melalui rute yang sama.Dia kembali mengakui kekalahan telaknya dari gadis yang bahkan belum sampai setengah usianya. Setelah itu sang putri menunduk dan bilah kapak yang muncul dari dinding berdesing di atas kepalanya, memotong beberapa helai rambut pirang yang melayang pelan ke lantai."Mayan kaget juga, huuuh ... fokus Ria," gumamnya.John menelan salivanya kembali, speechless.Tidak ada mantra. Ti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.