Mag-log in“Hahaha, tidak apa Jaka, kau memang memiliki banyak talenta, aku bisa melihatnya, keberadaan dirimu akan sangat dibutuhkan oleh banyak mahluk di dunia ini, jadi berbanggalah jangan pernah malu,” ungkap Galuh membuat Bawana senang.“Namun ingat, jangan pernah puas dengan ilmu, teruslah belajar dan kembangkan karena ilmu tidak akan ada habisnya, hanya jangan sekali-kali ada terbesit kesombongan karenanya, dimana setiap kekuatan akan membawa tanggung jawab yang besar,” sambung Galuh.Tidak hanya Bawana, tetapi semua orang kini merenung mendengar kata-kata itu, termasuk Lintang putranya sendiri.Kabar tentang sosok Galuh sebagai pemimpin yang bijak ternyata memang benar adanya, Lintang dapat merasakan itu dari kata-kata yang dia ucapkan. Membuat Lintang menjadi semakin bangga karena telah dilahirkan sebagai putranya.“A-aku mengerti tuan Galuh, petuah anda tidak akan pernah aku lupakan,” ucap Bawana sopan.“Hahaha, kau memang pemuda baik, Jaka,” ujar Galuh memuji, namun sama seperti Linta
“Hahaha, tentu saja bisa, aku bisa saja terluka, tapi akan selalu pulih dengan sendirinya,” Galuh tertawa kecil mamandangi wajah terkejut Lintang dengan hati bahagia.Semua orang masih membelalakan mata terkejut bukan buatan, terlebih Bawana yang paham akan kondisi luka Galuh.Dia hampir lupa bernafas menyaksikan Galuh kini telah berdiri dengan tubuh pulih secara sempurna.“Tidak mungkin! benar-benar mahluk yang mengerikan?” gumam Bawana dalam hati, dia semakin yakin saja bahwa Galuh merupakan seorang dewa.Kelenting Sari dan Anantari juga tidak kalah terkejutnya dari Bawana, terlebih Kelenting Sari dimana dia yang baru saja membersihkan luka Galuh.Sementara Madu Lanang dan Samhu mematung tidak berdaya, mereka tidak dapat berkata-kata tidak mengerti dengan apa yang terjadi.Mendapati ayahnya telah pulih, Lintang segera mendekat dan memeluknya dengan erat.Kali ini dia bena-benar menumpahkan segala rasanya di pundak Galuh, air matanya meniti menjadi sebuah tangisan pilu mengungkapan p
“Sial, kakak benar, kita bujuk saja tuan Galuh agar menikahkannya di sini, aku yakin manusia di dunia ini juga pasti pandai memasak,” ucap Si Hawuk.“Hahaha, kalau itu aku setuju,” ujar Si Bodas tertawa riang.Tidak ada lagi yang lain di pikiran mereka selain makanan, dan jika Galuh bangunpun pasti dia akan ikut bergabung dengan perbincangan itu.ketiganya belum tahu bahwa Lintang adalah seorang koki terbaik yang tiada duanya, andai mereka merasakan masakan Lintang, maka kemungkinan selama satu tahun penuh Galuh dan kedua kucing buntal akan terus mengikuti kemana Lintang pergi.Sifat ketiganya dalam hal menggilai makanan memang tidak bisa dibuang dan sudah mandarah daging, sehingga semua orang di pulau Andalas mengetahui kebiasaan mereka.Lepas dari percakapan Si Hawuk dan Si Bodas, bawana sudah mulai meracik ramuan, dia dibantu oleh Samhu yang bertugas menumbuk semua bahan tanaman obat.Raja raksasa itu sangat antusias membantu Bawana dimana dia begitu tertarik ingin belajar alkemis.
“Aku sudah membersihkan semua lukanya, Wana, kakang Lintang akan aku baringkan pada alas batu es agar tida terkena debu tanah,” ucap Kelenting Sari pada Bawana.“Itu sangat bagus, Sari, terimakasih,” ujar Bawana, saat ini dia sedang memilih tanaman obat yang tepat untuk menyembuhkan luka Lintang.“Baiklah, aku akan merawat luka ayah kakang Lintang, jika perlu sesuatu hanya tinggal meminta,” ungkap Kelenting Sari.“Aku hanya memerlukan air, nanti saja setelah selesai Madu Lanang membuat lubang, kau rawat terlebih dahulu tuan pendekar, di sini sudah lebih dari cukup,” ucap Bawana.“Baiklah, terimakasih telah mau menolong kakang Lintang,” kata Kelenting Sari, selanjutnya dia menciptakan bongkahan es persegi dan membaringkan tubuh Lintang di atasnya.“Senior adalah segalanya bagiku, jadi jangan mengucapkan terimakasih,” sergah Bawana membuat Kelenting Sari tersenyum.“Aku mengerti,” ucap Kelenting Sari seraya berlalu menuju tempat tubuh Galuh dibaringkan.“Apa yang kalian lakukan, tolong
“Kakang!” seru Anantari dan Kelenting Sari secara bersamaan.Mereka terkejut melihat Lintang tidak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka.Sebagian besar kulitnya hangus terbakar, 3 jarinya putus, serta di dadanya terdapat lubang akibat ledakan energi panas.“Ayah!” seru keduanya kepada Galuh, mereka tambah terkejut saat melihat kondisi ayah Lintang yang digendong oleh Madu Lanang.Kondisi Galuh sangat memprihatinkan, lukanya lebih barah puluhan kali lipat dari Lintang.Kulit kedua tangannya terkelupas hingga hanya menyisakan tulang, sebagian wajahnya robek, begitu juga kaki dan tubuhnya banyak mengucurkan darah.Yang lebih parah adalah luka pada punggung, dimana semua kulit dan daging pada punggung Galuh habis terkikis energi Lintang, setelah terkikis, punggung itu juga hangus terbakar energi panas dari ledakan.Membuat seluruh tulang punggung Galuh berubah warna menjadi hitam.“Wana, bagaimana keadaan mereka?” tanya Kelenting Sari khawatir, terlebih dia khawatir pada keadaan calon ay
Sebagai murid tentu dia tahu bagaimana kemarahan Galuh, tidak ada seorang pun yang dapat menahan kemarahan itu kecuali Raden Buana.Galuh di sana segera mengalirkan energi kegelapan dan energi biru pada tubuh Lintang, membuat tubuh bayi itu dibungkus oleh semacan kepompong energi yang melindungi tubuhnya dari batas ruang dan waktu.“Pelindung energi ini akan terbuka setelah 200 tahun berlalu, jagalah dia, setelah dua ratus tahun di alam Narapada aku akan menjemputnya kembali,” jelas Galuh.“Baik guru,” jawab Asep mengerti.Galuh segera menyerahkan Lintang pada muridnya, ada rasa sakit di dalam hati ketika melakukan itu, membuat air matanya meniti kembali.Asep tentu mengerti perasaan gurunya, dia tidak berkata apa-apa selain menerima Lintang dengan tangannya.Setelah menerima Lintang, dengan cepat Asep segera membentuk segel tangan menciptakan gerbang dimensi yang menuju ke alam Narapada.Galuh hanya dapat menyaksikan itu dengan perasaan sedih dan hati tersayat-sayat.Si Bodas dan Si







