LOGINDijual oleh ayahnya sendiri demi melunasi utang, Freya, seorang Omega tanpa serigala yang diakui, terpaksa menjadi barang tawar-menawar bagi Raja Logan, Alpha penguasa Northridge yang dikenal kejam dan haus darah. Di bawah kekuasaan sang Raja, Freya bukan dibawa untuk diselamatkan, melainkan untuk dijadikan pembiak—wadah hidup bagi garis keturunan yang terkutuk. Lemah, terasing, dan tanpa hak atas tubuhnya sendiri, Freya dihadapkan pada pilihan kejam: tunduk sebagai properti sang Alpha, atau menggali kekuatan serigala yang tersembunyi jauh di dalam dirinya. Akankah Freya hancur sebagai budak tak bernilai, atau justru berubah menjadi satu-satunya kelemahan Raja Logan yang tak pernah terkalahkan?
View More"Dia harus segera berangkat ke Kawanan Northridge. Beta Xavier akan tiba sebentar lagi. Kita tak bisa membuatnya menunggu."
Bisikan tajam Lycril terdengar samar dari luar dapur. Freya membeku. Tangannya masih terendam air sabun yang dingin. Pergi? Kawanan Northridge? Beta Xavier? Jantungnya berdebar kencang. Seharusnya ia tak mendengar percakapan seperti ini, tapi ia tak kuasa berhenti mendengarkan. Perlahan, ia meletakkan piring yang sedang dicucinya, mengelap tangan yang basah ke celemeknya, lalu berjingkat mendekati pintu. "Semoga saja mereka menepati janji mereka," geram Richard. Suara ayahnya penuh keserakahan. "Kesepakatan ini akan melunasi semua utang kita dan akhirnya mengisi kantongku dengan uang." Napas Freya tersendat. Janji? Utang? Uang? Perutnya terasa mual. Ia mendekat lagi, menempelkan telinga ke celah pintu kayu yang sedikit terbuka. Lycril mendesah pelan. "Kau yakin dia akan menerima tawaran ini? Gadis itu bahkan tak memiliki serigala." "Justru itu," Richard menyeringai. "Dia bosan dengan omega-omega biasa. Yang langka akan menarik perhatiannya. Lagipula, bukankah kau sendiri yang bilang dia hanya beban?" Beban. Kata itu menusuk lebih dalam dari pisau. "Menguping pembicaraan dua orang dewasa?" Geraman rendah di belakangnya membuatnya terkejut. Freya berbalik dan mendapati Enzo, putra Lycril, menatapnya dengan penuh kebencian. Bau alkohol samar tercium dari napasnya. "Ada apa, Kakak?" suara Amanda menyela dengan nada mengejek saat ia bergabung. Bibirnya menyungging sinis. "Apa omega tanpa serigala ini berulah lagi?" "A-aku tidak menguping." Freya tergagap, mundur selangkah. "Aku hanya lewat—" "Levat?" Enzo mencengkeram lengannya, kukunya mencakar kulit. "Dapur ada di ujung, dasar bodoh." "Amanda, tolong—" "Apa yang terjadi di sini?" Suara Lycril menusuk seperti cambuk. Ia baru keluar dari ruang tamu, matanya langsung menyipit begitu melihat Freya terjepit. "Kakak menangkapnya sedang menguping," lapor Amanda cepat. Darah Freya seolah mengalir menjauh dari wajahnya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tahu persis apa yang akan terjadi setelah tuduhan itu. Hukuman. Selalu hukuman. "Aku tidak bermaksud—" Plak!!! Tamparan Lycril memotong kalimatnya. Rasa sakit meledak di pipi kirinya, kepalanya terpelanting. Sebelum ia sempat menahan diri, tamparan kedua mendarat di pipi kanan... Plak!!! "Dasar anak tak tahu aturan!" Lycril meludah tepat di samping wajahnya. "Berani-beraninya kau menguping kami? Dan kau pikir aku akan percaya kebohonganmu daripada anak-anakku sendiri?" Air mata Freya tumpah deras, panas dan asin di bibirnya yang pecah. "Maafkan aku, Lycril. Tolong, aku tidak bermaksud..." Tawa Enzo dan Amanda menyambut permohonannya. Tawa kejam yang membuat luka di dadanya semakin dalam. "Richard yang akan menentukan hukumannya." Lycril berbalik dengan tatapan yang tajam. "Kalian jaga dia!" --- Freya meringkuk di lantai, menyiapkan diri menghadapi badai. Lututnya berdarah, bercampur dengan pecahan piring. Rasa sakit itu nyata, tapi tak seberapa dibanding ketakutan yang mencengkeram dadanya. Enzo dan Amanda duduk di kursi dekat pintu, sesekali berbisik dan tertawa, sesekali meliriknya dengan tatapan puas. "Menurutmu, berapa cambuk yang akan diberikan Ayah?" bisik Amanda. "Sepuluh? Dua puluh?" Enzo mengangkat bahu. "Atau mungkin dia akan menjualnya lebih cepat. Lebih baik dapat uang daripada repot-repot menghukumnya!" "Kau benar. Lagipula, tak ada yang mau membeli omega dengan tubuh penuh luka." Mereka tertawa lagi. Freya memejamkan mata. Ia ingin menutup telinga, tapi tangannya terlalu gemetar untuk diangkat. Ia hanya bisa membiarkan air mata mengalir, berharap bumi menelannya hidup-hidup. Pikirannya melayang pada ibunya—wanita yang hanya ia kenal dari potret usang yang ia sembunyikan di bawah kasur. Ibunya tersenyum dalam potret itu, tangannya di atas perut yang membesar. Freya... Nama yang berarti kebahagiaan. Ironis. Karena sejak ibunya meninggal saat melahirkannya, tak ada kebahagiaan dalam hidupnya. Ayahnya tak pernah memaafkannya karena ia bisa bertahan hidup. Baginya, Freya bukan anak perempuan, melainkan kutukan. Pembunuh satu-satunya istri yang berarti. Dan Lycril—selingkuhan Richard—dengan mudah mengambil alih tempat ibunya, membawa serta Enzo dan Amanda. Langkah kaki berat terdengar. Richard masuk. Cambuk panjang tergantung santai di tangannya, ujungnya menjuntai hampir menyentuh lantai. Tampak Lycril berdiri di belakangnya dengan senyum puas. Richard berhenti di depannya. Ia hanya berdiri, memandang Freya dari atas dengan tatapan dingin yang tak berbeda dengan saat ia memandang setumpuk sampah. "Kau tahu," Richard memulai, suaranya lambat dan tenang, "aku sudah sangat lelah dengan ulahmu. Berapa kali kau kuperingatkan untuk tetap di tempatmu? Berapa kali kukatakan bahwa kau tak punya hak atas apa pun di rumah ini?" "A-aku minta maaf, Ayah—" "Jangan panggil aku ayah!" Potongannya tajam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun. Freya membuka mulut, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya isak tangis yang tertahan. Richard menghela napas panjang. Ia mengangkat cambuknya, dan Freya menutup mata, bersiap—tapi pukulan itu tak kunjung datang. "Namun," Richard melanjutkan, "kali ini kita lewatkan. Aku punya rencana lain untukmu. Rencana yang lebih menguntungkan daripada sekadar menghukummu di sini." Freya membuka mata. Rencana? Ia melihat Lycril di belakang Richard mengerutkan dahi, sama terkejutnya. Richard berjongkok, kini wajahnya sejajar dengan Freya. Jarak sedekat itu membuat Freya bisa melihat kehitaman di matanya—bukan hitam normal, tapi hitam pekat seperti lubang tanpa dasar. "Beta Xavier datang untuk satu hal," bisik Richard. "Dia suka barang langka. Dan kau, gadis tanpa serigala yang hidup di tengah kawanan serigala, kau adalah barang langka itu." Perut Freya berputar. Barang. Lagi-lagi barang. "Apa maksudmu?" bisiknya, meski ia sudah tahu jawabannya. Richard tersenyum. Senyum yang tak pernah ia berikan pada Freya sebelumnya—bukan senyum sebagai ayah, tapi senyum pedagang yang baru saja mendapat untung besar. "Kau akan pergi bersamanya malam ini juga." Dunia seolah berhenti. Freya menggeleng cepat. Seolah membaca pikirannya, Richard menambahkan, "Kau tak punya pilihan. Seharusnya kau bersyukur, bisa sedikit berguna untuk keluarga ini," pria itu berdiri, melipat cambuknya. "Lycril, beri dia pakaian yang layak. Setidaknya buat dia terlihat sedikit berharga." Lycril mengangguk, meski wajahnya menunjukkan ketidakpuasan. "Baiklah." --- Setelah Richard pergi, Lycril segera menarik Freya berdiri. "Kau dengar dia. Cepat ganti baju. Beta Xavier bisa datang kapan saja." Freya limbung, saat Lycril dengan kasar menyeretnya ke sudut dapur, melemparkan segumpal kain ke pangkuannya. Gaun sederhana berwarna abu-abu, sedikit lebih bersih dari kain compang-camping yang biasa ia kenakan. "Ganti, cepat!" Dengan tangan gemetar, Freya melepas celemeknya yang robek. Gaun itu longgar di tubuhnya yang kurus, tapi setidaknya menutupi bekas luka di lengannya. Ia merapikan rambutnya dengan jari sebisanya, meski tetap kusut. Lycril menyapunya sekilas. "Cukup. Sekarang kau tunggu di sini. Jangan bergerak dari dapur. Aku akan memanggilmu saat Beta Xavier tiba." "Tapi—" "Tapi apa?" Lycril melotot. "Kau mau mempermalukan kami di depannya? Duduk diam dan bersyukur kau masih diizinkan hidup." Ia pergi tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Freya sendirian di dapur yang sunyi. Freya duduk di bangku kayu dekat tungku, lututnya ditarik ke dada, dagu bertumpu di lutut. Matanya kosong menatap api yang meredup di perapian. Pikirannya kacau. Beta Xavier. Northridge. Kesepakatan...? Siapa Beta Xavier? Alpha macam apa ia? Apakah ia kejam seperti Richard? Atau lebih buruk? Akankah ia memperlakukan Freya seperti budak, seperti barang, seperti sampah? Freya menggigit bibirnya yang pecah hingga terasa logam darah. Jangan bermimpi. Dunia tak pernah baik padanya. Mengapa sekarang harus berbeda? Dan Freya melihatnya, pria itu.. Beta Xavier! Duduk di kursi tamu, kaki disilangkan dengan santai, satu tangan memegang gelas anggur. Cahaya lampu minyak jatuh di wajahnya, mengukir bayangan di tulang pipinya yang tajam. Rambut hitamnya sedikit berantakan, tapi justru itu yang membuatnya terlihat berbahaya. Richard berdiri di sampingnya, tersenyum lebar. Beta Xavier langsung menoleh. Matanya langsung terpaku pada Freya, lalu tanpa di duga pria itu tersenyum. Detik itu juga dunia berhenti berputar. Dan Freya tahu jika hidupnya sebentar lagi akan berubah. ---Suara dentingan perak beradu dengan porselen seketika lenyap begitu tatapan Alpha Logan mendarat tepat pada Freya. Sorot mata gelapnya yang penuh wibawa tak memberi isyarat apa pun, namun mampu membuat Freya terpaku bagai kupu-kupu yang tersemat dalam kotak kaca. Untuk sesaat, perempuan itu mengira hanya hayalan—mustahil pria sepertinya berbicara padanya di hadapan semua orang. "Bagaimana kabarmu selama ini, Freya?" tanyanya, nada bicaranya datar namun tetap dibalut wibawa yang tak terbantahkan. Tenggorokan Freya langsung tercekat. Ia bisa merasakan beban tatapan semua orang, keheningan yang menekan dadanya begitu dalam. Dengan susah payah, ia mengangkat wajah, menatap Logan sejenak sebelum segera menunduk lagi. "Aku... baik-baik saja, Alpha," jawabnya lirih. Suaranya bergetar meski sudah berusaha tenang. Logan mengangguk sekali—gerakan singkat namun penuh perhitungan. "Bagus. Karena sebentar lagi kau akan menemaniku ke sebuah pertemuan. Aku harap kau siap saat kupanggil nanti.
Enam bulan sudah berlalu sejak Freya dibawa paksa memasuki wilayah Northridge Pack. Perlahan, dengan rasa perih yang masih menganga di dadanya, ia mulai menerima kenyataan pahit tentang keberadaannya di sini. Di minggu-minggu awal, ia masih memeluk erat secercah harapan yang mulai rapuh. Berandai-andai, mungkin saja pak lamanya menjemputnya kembali. Tapi hari demi hari berlalu tanpa kabar, tanpa kepastian. Kamar mungilnya, dengan dinding bercat putih pudar dan jendela kayu yang sedikit berderit saat dibuka, perlahan-lahan berubah menjadi satu-satunya benteng pertahanan jiwanya. Berjam-jam ia habiskan hanya dengan duduk memeluk lutut di ambang jendela, membiarkan pandangannya menerawang jauh ke area pak yang terbentang luas di bawah sana. Alpha Logan sendiri nyaris tak pernah menyapanya. Bicara pun seperlunya, dengan kalimat-kalimat pendek yang tegas namun tak pernah bernada kasar, tak pernah mengandung racun kebencian seperti yang selalu ia bayangkan. Sebaliknya, pria itu justru
Selama dua hari, Freya tidak keluar dari kamarnya sama sekali. Dia menatap langit-langit kamar sampai matanya terasa panas dan terbakar, lalu membenamkan wajahnya ke bantal hingga napasnya terasa pendek dan sesak. Namun, tak peduli seberapa lama dia menangis, tak peduli seberapa keras dia mencoba mengubur pikirannya dalam kegelapan, kenyataan itu tetap melekat padanya seperti rantai yang membelit kuat. Dia sudah memohon. Dia sudah menangis. Dia sudah meratap. Namun Alpha Logan tetap melangkah pergi tanpa peduli. Pada pagi ketiga, beban itu menjadi tak tertahankan. Duduk dalam keheningan terasa lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Dia tidak bisa terus terkurung di kamar ini seperti seekor anak domba yang hanya menunggu waktu untuk disembelih. Dia harus mencoba sesuatu—apa pun itu. Samantha menyadari perubahan sikap gadis itu. Perawat muda tersebut mulai merasa iba dan terikat dengan Freya selama beberapa hari terakhir, melihat bagaimana Freya perlahan layu dan menghilang ke
Mansion Northridge menjulang megah sekaligus mengerikan, jauh lebih besar dari apa pun yang pernah dibayangkan Freya. Dinding batu yang kokoh itu memancarkan aura dingin saat bayang-bayang senja mulai memanjang. Bagi Freya, tempat ini tidak terasa seperti rumah; ini adalah penjara mewah yang siap menelannya hidup-hidup.Beta Xavier mengawalnya melewati gerbang besi tanpa banyak bicara. Begitu tiba di dalam, Xavier langsung menyerahkannya kepada para pelayan tanpa menoleh lagi.Wanita-wanita itu bekerja sangat efisien namun terasa berjarak. Mereka memandikan Freya, menggosok tubuhnya hingga bersih, lalu memakaikannya linen sederhana sebelum mengantarnya ke sebuah kamar di sayap barat.Untuk pertama kalinya, Freya mendapatkan tempat tidur layak, namun kehangatan itu justru terasa menekan hatinya. Ia sadar, dirinya tetaplah barang jaminan yang dimiliki oleh seseorang.Salah satu wanita, seorang perawat bernama Samantha, tinggal lebih lama di kamarnya. Berbeda dengan yang lain, Saman
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.