Share

BAB 2

Author: Dini Nuraeni
last update publish date: 2026-10-10 22:22:43

Naya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Layar monitor di hadapannya menampilkan jarum jam digital yang terus bergulir. Dua menit lima puluh detik. Damian bukan tipe atasan yang menoleransi keterlambatan, bahkan untuk hitungan detik.

Dengan jemari yang sedikit gemetar namun sigap, Naya mengklik tombol simpan, mematikan komputer, dan menyambar draf laporan yang masih hangat dari mesin cetak. Ia merapikan Blazernya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mantap menuju pintu kaca buram yang sedikit terbuka.

Keheningan di dalam ruang kerja Damian terasa berbeda. Bila koridor di luar terasa dingin, ruangan seluas delapan puluh meter persegi ini menyimpan kerapatan udara yang menghimpit diisi oleh wangi samar kayu cendana, kehangatan pendingin udara, dan aura dominasi pria yang bertengger di balik meja kerjanya.

Naya melangkah masuk dengan ketukan tumit sepatu yang pelan di atas karpet tebal. Di tangannya, selembar draf laporan yang baru saja dicetak terasa seperti lempengan besi yang berat.

Damian duduk tenang di kursi kulit hitamnya. Jas mewahnya tersampir rapi di sandaran kursi.

Kemeja putih pria itu tampak sedikit kusut di bagian siku, satu-satunya petunjuk bahwa sosok perfeksionis itu juga telah bekerja tanpa henti sejak pagi.

"Taruh di meja saya, Naya," perintah Damian tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor di hadapannya. Suaranya mengalun datar, menguasai ruang.

Naya maju beberapa langkah. Ia meletakkan kertas cetakan itu tepat di sudut kanan meja mahoni gelap yang tertata sangat rapi. Tidak ada tumpukan berkas berantakan, hanya sebuah bolpoin berujung emas dan cangkir espresso yang sudah kosong.

Naya mengambil satu langkah mundur, menjaga jarak aman sejauh dua meter. "Semua data verifikasi dari divisi pemasaran sudah disesuaikan dengan laporan riil sore tadi, Pak. Angka perbandingannya turun tiga persen dari estimasi awal, tapi jauh lebih akurat."

Damian meraih draf itu, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Pria itu memegang lembaran kertas dengan satu tangan. Manik mata hitamnya yang dalam menyapu angka demi angka dengan ketelitian yang menakutkan.

Sepuluh detik berlalu dalam kesunyian yang tebal. Hanya ada bunyi detik jam dinding dan embusan napas mereka yang teratur.

"Kamu melewatkan koma di catatan kaki halaman dua," tutur Damian datar, memutus keheningan tanpa sedikit pun nada tinggi.

Naya sedikit terkejut, alisnya bertaut tipis. "Saya sudah memeriksa dua kali, Pak "

"Lihat sendiri."

Damian tidak menyodorkan berkas itu kembali. Pria itu hanya menegakkan tubuhnya, bertumpu pada kedua siku di atas meja mahoni yang lebar, dan menatap Naya lurus-lurus. Tatapannya dingin, terkunci rapat pada sepasang mata cokelat jernih milik asisten barunya.

"Kamu bekerja cepat, Naya. Itu nilai tambah," lanjut Damian tenang, intonasinya mengalun pelan namun penuh bobot. "Tapi kecepatan tanpa ketelitian adalah cacat terbesar dalam pekerjaan eksekutif. Satu koma yang hilang di lembar ini bisa mengubah arti klausul hukum saat kita berhadapan dengan investor besok pagi."

Naya merasakan sengatan halus di dada bukan karena marah, melainkan karena sadar pria di hadapannya ini benar. Pria ini tidak sedang mencari kesalahan untuk menjatuhkannya, melainkan menuntut standar yang sama tingginya dengan yang ia terapkan pada dirinya sendiri.

"Saya minta maaf, Pak. Saya perbaiki sekarang," sahut Naya mantap, berusaha menutupi getar tipis di suaranya.

"Tidak usah," potong Damian pendek. Pria itu meraih bolpoin emasnya, lalu dengan gerakan jemari yang tenang dan tegas, ia menambahkan tanda koma di atas kertas itu sendiri. "Saya sudah memperbaikinya."

Damian menumpuk berkas itu dan memasukannya ke dalam map kulit hitam di sampingnya. Selesai. Pria itu lalu menegakkan tubuh, meraih jam tangan bajanya yang tergeletak di meja, dan melingkarkannya kembali di pergelangan tangan kirinya yang kokoh.

"Ini sudah hampir pukul sembilan malam," kata Damian seraya berdiri dari kursi kebesarannya.

Postur tegap setinggi 185 centimeter itu seketika memotong jarak pandang Naya, melemparkan bayangan tegap yang menaungi tempat Naya berdiri. "Pekerjaanmu selesai untuk hari ini."

"Baik, Pak. Terima kasih. Saya permisi dulu," ujar Naya lega, perlahan membalikkan badan menuju pintu.

"Naya."

Langkah Naya terhenti tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu kaca buram. Ia menolehkan kepala sedikit, mendapati Damian sedang meraih jas mewahnya dari sandaran kursi.

"Kamu pulang naik apa jam segini?" tanya Damian datar. Tidak ada nada menggoda, murni pertanyaan lugas dari seorang atasan.

Naya mengedipkan mata, sedikit canggung. "Taksi daring, Pak. Biasanya masih ada di area depan gedung."

Damian berjalan mendekati pintu, menghentikan langkahnya tepat dua langkah di belakang Naya. Pria itu tidak menyentuhnya, tidak juga merapatkan jarak secara tidak sopan. Namun aroma kayu cendana dan suhu tubuhnya yang hangat terasa jelas memagari ruang di sekitar Naya.

"Area depan sudah sepi di atas jam delapan malam. Kurang aman untuk perempuan yang membawa dokumen kantor," ucap Damian rendah dari balik punggung Naya.

"Bereskan mejamu dalam tiga menit. Saya turun ke basemen sekarang dan saya tidak suka menunggu."

Naya menoleh penuh, matanya terbuka lebar menatap sosok bosnya yang dingin. "Bapak mau mengantar saya?"

Damian menatapnya sekilas dari balik bahu, sudut bibirnya terangkat amat tipis sebuah guratan samar yang teramat dingin namun sanggup mengacak-acak fokus Naya dalam sekejap.

"Saya tidak mengantar, Naya. Saya hanya memastikan asisten pribadi saya sampai di rumah dengan selamat agar besok tidak ada alasan terlambat rapat pleno." Damian memutar gagang pintu, membukanya lebar-lebar. "Dua menit lima puluh detik lagi, Naya."

Pria itu melangkah keluar menuju koridor sepi, meninggalkan Naya yang terpaku di ambang pintu dengan senyum tipis yang mendadak terbit tanpa ia sadari.

Di sepanjang koridor yang gelap, Damian melangkah santai dengan tangan di saku celana. Ada desir aneh yang memercik di dadanya saat mengingat mata cokelat jernih Naya yang berusaha keras menatapnya tanpa gentar.

Gadis itu beda dari orang-orang kantor yang selalu membungkuk patuh. Naya punya ketenangan yang memikat sebuah mainan baru yang tampak terlalu menarik untuk tidak ia acak-acak pertahanannya.

"Kita lihat seberapa tahan kamu di samping saya, Naya," batin Damian dingin, mengulas senyum tipis yang sarat akan dominasi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 5

    Pagi itu, sinar matahari yang menembus dinding kaca lantai belasan Gedung Arka Holding terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Namun, bagi Naya, udara di ruang kerja eksekutif justru menyerap dingin yang merayap hingga ke tulang.Di meja kerjanya, Naya menatap tumpukan folder berkas rapat pleno yang sudah tersusun rapi. Ia mengenakan blus sutra berwarna biru pastel yang berpadu dengan rok pensil hitam, memoles penampilan profesionalnya. Wajahnya tenang dan anggun, tetapi dadanya berdesir tak karuan sejak mendengar hiruk-pikuk yang memenuhi lorong eksekutif sejam lalu.Suara ketukan sepatu hak tinggi berirama manja menggema dari arah lift khusus."Damian! Kamu selalu saja tenggelam di antara kertas-kertas membosankan ini," sebuah suara melengking penuh nada kepemilikan memecah kesunyian koridor.Naya mendongak pelan. Sosok Clarissa Mahardika melangkah masuk bagaikan seorang ratu. Gaun terusan berwarna merah menyala membungkus tubuh semampainya, dipadu tas bermerek yang mengilap di l

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 4

    Derum halus mesin sedan hitam milik Damian perlahan memudar, menyisakan keheningan malam yang mendadak terasa teramat pekat di koridor kompleks perumahan sederhana itu. Naya berdiri mematung di pinggir jalan yang hanya diterangi pendar redup lampu merkuri berwarna kekuningan. Angin malam merayap dingin, mengibaskan helai rambut bergelombang di leher jenjangnya. Namun, desiran hangat dari suara berat Damian dan aroma kayu cendana yang memenuhi kabin mobil tadi seolah masih tertinggal, memagari memorinya dari sisa kelelahan hari itu.Naya menghela napas panjang, menatap bayangan dirinya yang memanjang di atas aspal retak. Ia menarik tali tas kulitnya lebih erat, lalu memutar kunci pagar besi rumah yang berderit pelan. Langkah tumit sepatunya di atas jalan semen yang dingin menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian malam.Rumah berlantai dua milik keluarga bibinya itu tampak sepi dari luar, namun dari celah tirai jendela ruang tamu, pendar biru dari layar televisi yang menyala t

  • Lembur Malam Bersama CEO   Bab 3

    Naya masih terpaku di ambang pintu kaca buram saat gema langkah kaki Damian menghilang di belokan koridor utama. Detak jantungnya berdebar kencang, memukul dadanya dengan irama yang tak beraturan. Ucapan sang CEO terus berulang di kepalanya. Dua menit lima puluh detik.Tersadar dari keterpakuannya, Naya berbalik cepat menuju kubikelnya. Dengan gerakan cekatan yang sedikit terburu-buru, ia mematikan lampu meja, merapikan cangkir kopinya, dan menyambar tas sandang kulitnya. Ia melangkah menyusuri koridor eksekutif yang kini tenggelam dalam keremangan lampu malam. Langkah tumit sepatunya memecah kesunyian lantai belasan yang sepi, menciptakan irama yang beradu dengan debar dadanya sendiri.Ia menekan tombol lift turun. Dinding stanlis yang mengilap memantulkan sosok dirinya blus kremnya masih rapi, namun sepasang mata cokelatnya memancarkan ketegangan yang tertahan. Begitu pintu lift terbuka di area parkir basemen lantai bawah, hembusan udara dingin beraroma bahan bakar dan beton menyamb

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 2

    Naya memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Layar monitor di hadapannya menampilkan jarum jam digital yang terus bergulir. Dua menit lima puluh detik. Damian bukan tipe atasan yang menoleransi keterlambatan, bahkan untuk hitungan detik.Dengan jemari yang sedikit gemetar namun sigap, Naya mengklik tombol simpan, mematikan komputer, dan menyambar draf laporan yang masih hangat dari mesin cetak. Ia merapikan Blazernya, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah mantap menuju pintu kaca buram yang sedikit terbuka.Keheningan di dalam ruang kerja Damian terasa berbeda. Bila koridor di luar terasa dingin, ruangan seluas delapan puluh meter persegi ini menyimpan kerapatan udara yang menghimpit diisi oleh wangi samar kayu cendana, kehangatan pendingin udara, dan aura dominasi pria yang bertengger di balik meja kerjanya.Naya melangkah masuk dengan ketukan tumit sepatu yang pelan di atas karpet tebal. Di tangannya, se

  • Lembur Malam Bersama CEO   BAB 1

    Suasana lantai belasan Gedung Arka Holding begitu eksklusif. Dinding kaca raksasa di lorong eksekutif memperlihatkan megahnya pemandangan kota di pertengahan hari. Di toilet karyawan yang sunyi, Naya berdiri menatap pantulan dirinya sendiri di balik cermin. Ia merapikan kerah blus sutra berwarna krem yang terbalut pas di balik blazer hitamnya. Rambut hitamnya yang bergelombang lembut dibiarkan terurai melewati bahu, membingkai wajah oval berwajah bersih dengan kulit kuning langsat yang halus. Sepasang mata cokelat jernih miliknya memancarkan ketenangan, walau di balik dadanya ada rasa canggung yang belum sepenuhnya menguap. Dua minggu sudah ia menginjakkan kaki di gedung megah ini sebagai asisten pribadi baru di jajaran eksekutif puncak—sebuah posisi dingin yang menuntut kesempurnaan. "Pagi, Naya! Rapi banget hari ini," sapa Maya yang baru melangkah masuk, memecah kesunyian dengan senyum hangat seraya membawa tumpukan kuitansi. Maya, staf senior divisi keuangan, adalah satu-satun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status