Masuk“Hey little brother, wanna get married? Here are nine bucks, it’s on me!”Just like that, Cecelia Shayne gave herself away with nine bucks.Consequently…The random cutie she dragged off the street? He’s a poor good-for-nothing who needs her to tend to his every need.However, there’s nothing she can do.This is a husband she bought, and she needs to swallow this somehow.But… But…Why does his name seem to be the same as the owner of a certain conglomerate…?What?Asset transfer?Cecelia was shocked. “Why’re you giving me all this money?”William Sandler looked her dead in the eye, “Money’s yours, you’re mine!”
Lihat lebih banyakAKU DI ANTARA KALIAN
- Aku Tidak Pulang Author's POV "Aku nggak pulang malam ini?" ucap Manggala tanpa menoleh pada perempuan yang sedang sibuk mencuci botol susu di kitchen sink. "Kiara ...." "Iya. Aku sudah dengar," jawab Kiara seraya meniriskan botol di wadah dekat rak piring. Ia pun tanpa menoleh pada sang suami. "Nanti kalau ibu datang bertanya, bilang aku ke Surabaya." Kiara mengangguk. Kemudian sibuk mengambil piring di rak lantas menatanya di atas meja makan. Sedangkan Manggala yang baru saja duduk, merogoh ponselnya di saku celana. Pria itu lantas bangkit menerima telepon di teras samping. Setiap menerima telepon dari wanita itu, Manggala selalu menjauh darinya. Entah demi menjaga perasaannya atau memang tidak ingin perbincangan dengan istrinya di sana, didengar Kiara. Istrinya? Ya. Manggala menikahi kekasih hatinya tiga bulan yang lalu. Kiara ini Perempuan yang ditinggalkan sang kakak dalam keadaan hamil dua bulan. Dan kedua orang tua Manggala memaksa sang putra untuk menikahi gadis malang yang telah ternoda. Kiara menarik napas dalam-dalam. Menghalau sesak yang meremas dada. Kemudian tergesa masuk kamar saat bayi lelakinya terbangun dan menangis. Digendongnya bocah umur enam belas bulan itu, lalu kembali ke belakang membuat susu. "Aku pergi kali ini agak lama." Manggala masuk dan kembali bicara. Kiara hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Kalau ayah atau ibu datang bertanya, bilang aku sedang ngurusi pekerjaan di Surabaya." Kembali Kiara hanya mengangguk. Ingin rasanya dia bilang, cerai saja. Pernikahan ini menyakiti Manggala. Dia harus bertanggungjawab terhadap perbuatan kakaknya yang sekarang menghilang tanpa kabar berita. Tidak hanya Manggala, dirinya juga sakit. Berharap mendapatkan obat setelah ditinggal, nyatanya dia harus merasakan luka yang berbeda. Manggala sudah rela menutupi aibnya, sampai siapapun tidak ada yang tahu kalau anak yang dilahirkan Kiara sebenarnya anak Narendra. Sebagai balasan, Kiara menutupi pernikahan kedua Manggala dari keluarga mereka. Tiga bulan, ia selalu berbohong pada sang mertua yang menanyakan Manggala pergi ke mana. Kenapa sampai berhari-hari. Padahal pekerjaan pria itu ada di kota kecil mereka. Setelah kakaknya minggat, Manggala yang mengambil alih usaha keluarganya. Padahal sebenarnya dia mendapatkan tawaran pekerjaan yang menjanjikan dan beasiswa untuk melanjutkan S3 di luar negeri. Mimpi pria itu pupus. Manggala makan dengan cepat. Sedangkan Kiara masih sibuk memberikan susu pada Arsha sambil melayani perasaan yang amat menyesakkan. "Aku pergi dulu." Manggala berdiri sambil meraih ponselnya di atas meja. Mendengar suara ayahnya, Arsha langsung menoleh dan minta duduk. Bayi itu memandang Manggala. Kemudian merengek minta gendong sambil mengulurkan tangan. "Ayah buru-buru. Arsha, sama ibu saja." Kiara langsung menggendong anaknya ke belakang. Menghentikan langkah Manggala yang hendak mendekat. "Pergilah, Mas. Kalau ibu tanya, aku tahu harus menjawab apa," teriak Kiara dari belakang, disela tangisan Arsha yang merengek ingin ikut ayahnya. Yang Arsha tahu, Manggala adalah ayahnya. Tak terasa air mata merambat di pipi Kiara. Ia menyeka air mata anaknya, juga menyeka air matanya sendiri. Setelah mobil Manggala terdengar meninggalkan rumah, Kiara kembali ke dalam. Melepaskan gendongan, menaruh Arsha si lantai dan memberinya mainan. "Arsha nggak usah cengeng ya. Nggak boleh nakal juga. Nggak usah rewel. Ingat, Arsha hanya punya ibu. Dan ibu hanya punya Arsha." Kiara bicara seraya mengambil nasi untuk menyuapi anaknya. Mata wanita itu masih memerah. Sedangkan Arsha terus bermain, karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan ibunya. "Kapan ya kita punya uang yang banyak, Ar? Kita bisa pergi jauh." Sambil menyuapi anaknya, Kiara kembali bicara. Tangis yang terhenti tadi, kini tumpah kembali. Isaknya membuat Arsha kebingungan dan ikut menangis lagi. Bocah itu berdiri dan memeluk ibunya. Dia tidak paham ibunya bicara apa, tapi dia takut melihat Kiara yang terisak. Buru-buru Kiara mengusap air mata dan menenangkan sang anak. "Jangan nangis. Bukankah kita harus kuat. Kamu yang membuat ibu kuat, Arsha. Yuk, sarapan lagi. Setelah itu mandi dan kita jalan-jalan." Disela sesaknya dada, Kiara tersenyum memandang sang anak yang sudah terdiam. Namun pikirannya berlari pada kenangan tiga bulan yang lalu, ketika Manggala mengajaknya bicara serius tentang rencananya menikahi Nada. "Kita bisa bercerai secara baik-baik. Ayah dan ibu pasti mengerti." Kiara memberikan pilihan meski sebenarnya sangat berat. Bercerai sungguh tak mudah baginya. "Kalau cerai, siapa yang akan nanggung hidup kamu dan Arsha? Kamu akan pulang ke mana?" Hening. Ya, dia akan pulang ke mana. Kedua orang tuanya meninggal ketika pandemi melanda. Kakak perempuannya juga. Yang selamat hanya dirinya dan kakak ipar yang kini entah tinggal di mana. Mungkin sudah menikah lagi. Ayah Kiara seorang pegawai puskesmas, ibunya bidan, sang kakak juga perawat. Mereka sebenarnya keluarga yang cukup mampu. Namun setelah ketiga keluarganya tiada, Kiara bukan siapa-siapa. Dia melanjutkan kuliah dengan perjuangan sendiri. Lulus dengan pencapaian terbaik. Tapi sepintar dan secerdas apapun, kalau tidak bisa menjaga diri, hancurlah semuanya. Ijazah sudah tak bermakna. Tidak punya pilihan terpaksa ia menerima hidup dimadu. Namun belum pernah sekali saja Kiara bertemu wanita bernama Nada itu. Wajahnya seperti apa, ia pun belum pernah melihat fotonya. Ah, pasti cantik. Dia gadis kota. Kiara bangkit dari duduknya ketika mendengar suara deru mobil berhenti di depan. Digendongnya sang anak untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Ibu mertuanya yang di antar sopir. Dibukanya pintu dan mencium tangan wanita itu. "Gala mana? Kenapa di telepon nggak bisa?" "Barusan keluar, Bu. Ke Surabaya untuk beberapa hari." "Kenapa nggak pamit ke rumah. Padahal besok Pak Syarifuddin mau datang untuk membicarakan kontrak kerjasama. Kamu telepon dia, Ki. Kasih tahu suruh pulang dulu." Kiara mengangguk. "Untuk apa sih dia ke Surabaya?" "Urusan pekerjaan, Bu." Kiara menjawab tanpa berani memandang sang mertua. Dahi wanita itu mengernyit tajam. Pekerjaan apa? Apa Manggala ada bisnis baru. Tapi kenapa tidak memberitahu. Bu Puri meraih Arsha dan menggendongnya. Bercanda sebentar dengan sang cucu, lalu pamit. "Ibu mau belanja. Nanti jangan lupa telepon Gala." "Iya, Bu." Setelah ibu mertuanya pergi, Kiara mengunci pintu. Apa dia harus menyampaikan amanah mertuanya? Sedangkan Manggala sudah mewanti-wanti, agar tidak menghubunginya selagi sang suami pergi ke tempat Nada. Padahal dirinya bisa saja memberitahu lewat media sosialnya sang suami. Ia tahu sepenting apa kerjasama ini. Kiara diam dalam dilema. Manggala sudah berjasa, sudah menutupi aib, dan memberikan kehidupan untuk dirinya dan Arsha. Apa dia tega kalau sampai kerjasama ini gagal? Tapi .... Next .... Selamat membaca 🫶🏻This question, full of doubts and cold voice, attracted everyone's attention.Everyone looked in the direction of the sound and saw William, who was a little sleepy.Cecelia couldn't believe her eyes. She grabbed Natalie, who was standing next to her, and said, "Na, Natalie, did I have an illusion? Is that really your brother?"There were many times when Cecelia had an illusion.Sometimes he was in the company, sometimes he was in the middle of the night, and sometimes he could even see him on the road.Therefore, when Cecelia suddenly saw William, Cecelia thought it was his illusion again, so Cecelia couldn't believe his eyes.She had experienced so many hallucinations before, and she was afraid that it would be the same this time.No one could understand what kind of blow it would be to Cecelia every time he returned to reality from an illusion.Those who had never experienced such a painful feeling before couldn't feel it at all.Natalie also couldn't believe that she actua
Zachary was about to leave after he finished speaking when Huangfu Zi stopped him. He heard the sound of gunshots and a rough male voice outside."All of you, step back, or I'll kill this woman immediately..."They immediately looked at each other. The situation seemed to be different from what they thought.They didn't dare to delay and quickly walked out. When they got out of the villa, they saw that Chelsey's temple was pressed with a gun.As soon as Chelsey saw them, she called for help. "Natalie, Zachary, save me...""What exactly is going on?" Cecelia the one closest to them.The man replied, "The person who hijacked Miss Lu is called Scar. It was Miss Turner who sent him here five years ago to watch over Miss Lu. Just now, he was going into the room, so we didn't think much about it. But soon after, we heard gunshots. When we rushed in, he had pointed a gun at Miss Lu. We didn't know what happened inside."Hearing the man's explanation, Cecelia's eyes darkened slightly. S
Although it was just a slight movement of their fingers, it was already a great piece of good news for them.Cecelia, who was looking at Grace, noticed her at once. He was as excited as a child. "She moved. She moved. Grace's finger moved. Did you see that? Her finger moved just now."Natalie was also shocked. "Well, I saw it. Grace's fingers really moved just now.""Right!" Cecelia was even more excited. "This means that I didn't see wrongly just now. Tang is really still alive. Zi, you must save her. I beg you, you must save Grace back.""Yes, I will."Huangfu Zi didn't expect that Grace would really have a reaction when she pretended to comfort Cecelia just now.She had lost her breath and heartbeat just now, but she didn't expect that there would be a reaction after two needles.After recovering from the shock, Huangfu Zi carefully inserted needles on Grace. After a few more needles, Grace spurted out a lot of water from her mouth and nose. Then she coughed violently, but sh
As soon as he heard that Grace had been found, Cecelia didn't care about anything else and asked in a hurry, "Where is it? How is it going?"Cecelia actually wanted to ask, was he still alive?However, she could not say it out loud. What she was afraid of was an answer that she could not accept.The man looked serious. "I found him in the deepest part of the lake. He has already...""Don't say that!" Cecelia interrupted him harshly. "Grace will be fine. She will definitely not answer."She walked out, hypnotized, and her footsteps were a little weak.Natalie quickly stepped forward to help him up. "Sister-in-law, slow down."Seeing Cecelia stumbling out, Chelsey didn't feel relieved.Although he didn't have to worry about them going upstairs to find William, he could find the wound on Grace's head if he found Grace...Zachary and Huangfu Zi were both doctors, especially Huangfu Zi, who had the experience of a medical examiner. At that time, they could easily find out what Grac
Those people had gone to search the island. Grace looked at Chelsey calmly, without any panic.Grace couldn't help thinking, "Is she really not acquainted with Baby?"As for the anonymous news, could it really be like what she thought, it was a prank of that bitch, Baby?However, he had to wait for the
"Grace is on her way to the island."In the end, Zachary revealed Grace's whereabouts to her.In fact, as long as he didn't tell Baby that when Grace went to the island, she might be able to draw a line, but...It was as if Huangfu Zi was reluctant to part with him. In the end, he still couldn't bear t
She had thought Chelsey wouldn't say it. After all, she had said it. Even if she had thoroughly explained her background, she didn't expect that she wouldn't take it seriously."Well, since you have asked, I will let you die a little more clearly. In fact, there is no big force behind me, but there i
Natalie couldn't react to Grace's suspicion of Zachary. "Why do you think Brother Zachary is more suspicious?""Just now, Mr. Long asked him to go to see Chelsey, but he didn't want to. If this matter really has something to do with him, he should seize this opportunity, shouldn't he?"In any case, Na






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak