MasukSeumur hidup, ini pertama kalinya Jane mendapat tamparan. Apalagi yang melakukannya adalah ayahnya. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut dan juga kecewa. Air matanya menetes perlahan.
Harusnya Jane lebih jeli dan mengingat bagaimana hubungan Irish dengan ayahnya. Harusnya Jane bertanya kepada kedua pelayan tadi bagaimana karakter seorang Kanselir Arlo Stone ini.
Saat berbalik, Jane baru menyadari kalau sang kanselir tidak sendiri di ruangan ini. Seorang wanita paruh baya memakai pakaian senada dengan Kanselir Arlo, menatap Jane datar.
Dugaan Jane, wanita itu adalah Ibu Irish. Namun, tidak ada wajah iba atau pun kata-kata pelipur lara melihat sang anak mendapat perlakuan kasar.
“Bukankah menikah dengan Kapten Leon adalah keinginanmu, Irish?” tanya Ibu Irish. Suaranya dingin, sedingin tatapannya.
“Kamu telah menolak lamaran Tuan Harrington dan memilih Kapten Leon.” Suara berat itu keluar dari mulut Kanselir Arlo.
“Dan sekarang kamu ingin membatalkannya? Apa kamu ingin membuat keluarga kita menjadi bahan gunjingan seluruh kerajaan? Raja dan Ratu sedang dalam perjalanan untuk menyaksikan pernikahanmu. Bahkan jika kamu membayar dengan nyawamu pun, itu tidak sepadan.”
Jahat. Ucapan itu sungguh jahat dan sangat menyakitkan. Jane mengusap air matanya. Tubuhnya terasa lemas karena tamparan dan perkataan dari kedua orang itu.
Dengan langkah pelan, Jane menuju pintu untuk keluar ruangan itu. Namun, suara sang ayah kembali terdengar.
“Segera siapkan dirimu, hari semakin siang. Pernikahanmu sudah tertunda beberapa jam karena menunggumu siuman. Jika kamu kembali pingsan pun, pernikahan ini akan tetap terjadi,” tegas Kanselir Arlo.
Tahu bahwa tidak ada harapan dari kedua orang tua itu, Jane melangkah keluar ruangan. Meg dan Tilly yang menunggu tampak khawatir. Pintu itu tidak tertutup sempurna sehingga mereka melihat saat kanselir Arlo menampar Irish.
“Kita kembali ke kamar, Nona,” ajak Meg pelan.
Jane tidak membantah. Ia mengangguk patuh.
“Kamu harus mengobati pipimu, Lady Irish.” Sebuah suara membuat Jane menoleh.
Seorang lelaki muda dengan jas panjang hitam berdiri tak jauh dari Jane.
“Tuan Julian, sepupu kapten Leon,” bisik Meg pada Jane.
“Tuan … Julian?” Jane mengulangi ucapan Meg.
Dia tahu sosok itu dalam novel. Julian. Satu-satunya orang yang bersedih saat Irish meninggal. Lelaki yang diam-diam mencintai Irish, tetapi hanya dianggap teman oleh Irish.
Julian tersenyum dan berjalan mendekat. “Senang melihatmu telah siuman, Lady Irish.”
“Te-terima kasih … Tuan Julian,” ucap Jane sedikit tergagap.
Wajah Julian cukup tampan. Sekilas, mirip Leon, hanya saja perawakannya lebih kurus dan rambutnya sedikit ikal.
Lelaki itu tidak buruk dan juga sangat baik. Akan tetapi, Irish sama sekali tidak menaruh hati padanya, gadis itu sudah dibutakan dengan cintanya pada Leon.
“Meg, kamu harus segera mengompres pipi Lady Irish dengan air dingin agar tidak semakin merah.” Julian menoleh pada Meg yang langsung diiyakan oleh sang pelayan.
Jane cukup kaget karena Julian tahu bahwa dirinya baru saja ditampar oleh sang ayah. Jane segera pamit dan melangkah menuju kamarnya.
“Apa … Julian sering ke sini? Dia tampak tidak sungkan berkeliaran di rumah ini,” kata Jane saat Meg mulai menempelkan kain yang sudah dibasahi air dingin ke pipinya. Rasa panas bekas tamparan tadi mulai berganti dengan rasa dingin.
“Tuan Julian sudah sering ke sini, hampir setiap hari Minggu datang berkunjung setelah pulang dari tempat ibadah.” Meg pelan-pelan menekan kain itu.
Jane sedikit meringis.
“Saat kemarin Nona pingsan, hampir setiap hari Tuan Julian datang dan melihat keadaan Nona,” lanjut Meg.
“Benarkah? Julian sangat baik dan perhatian padaku … mungkin seharusnya aku menikah dengannya alih-alih dengan Kapten Leon yang dingin itu. Bukankah begitu, Meg?” Jane meminta pendapat pelayannya itu.
Meg hanya tersenyum kecil. Tidak berani mengatakan segila apa Irish mengejar Leon sebelumnya.
Setelah merasa baikan, Jane segera membersihkan diri. Acara pernikahannya akan diadakan di tempat ibadah yang tidak jauh dari rumahnya.
Jane duduk di depan cermin. Meg dan Tilly mulai merias wajahnya. Jane terpaku. Wajah di hadapannya sangat cantik, tetapi tampak kesepian. Irish memang digambarkan sebagai gambaran kecantikan yang menakutkan.
“Apakah ada warna lain yang lebih alami?” tanya Jane saat Meg akan menyapukan pewarna merah menyala ke bibirnya, Warna itu terlalu berani dan sangat aneh bagi Jane.
Meg dan Tilly saling berpandangan. “Ini adalah warna kesukaan Nona, bahkan gaun pengantin pun berwarna merah seperti permintaan Nona,” ujar Tilly.
Jane melihat gaun yang menggantung. Warna merahnya seperti darah segar. Akan sangat kontras di kulit Irish yang putih.
“Aku ingin warna lain,” pinta Jane, “dan tolong segera gulung rambutku. Aku merasa geli dengan rambut sepanjang itu. Ah, bagaimana kalau digunting saja? Apakah di sini ada orang yang bisa menggunting rambutku?”
Permintaan Jane semakin membuat Meg dan Tilly kebingungan. Mereka kira Irish hanya hilang ingatan tentang beberapa kejadian, tidak menyangka selera gadis itu juga berubah.
Meg yang sedang menyisir rambut majikannya itu berkata, “Nona sangat suka rambut panjang yang tergerai. Selama ini Nona tidak mau mengikat rambut karena—“
“Karena apa?” Jane penasaran.
“Karena Nona tidak ingin berpenampilan yang sama dengan Nona Celia yang selalu mengepang rambutnya.” Tilly yang melanjutkan ucapan Meg.
Jane tidak terkejut mendengarnya. Irish memang sangat membenci Celia dan tidak mau disamakan dengan perempuan itu. Jane jadi penasaran akan sosok wanita yang menjadi cinta sejati Leon itu.
Tanpa pikir panjang, Jane mengambil gunting dan dengan susah payah dia memotong asal rambut tebal itu. Meg dan Tilly berteriak histeris melihat tindakannya.
Jane menggunting sisi kanan dan kiri rambutnya sehingga rambut panjang itu kini menjadi sebahu. Tampak berantakan dan tidak teratur, membuat Meg dan Tilly melongo tak percaya.
“No-Nona …,” ucap mereka bersamaan.
Jane mengikat rambutnya ke atas, menampilkan leher jenjangnya yang indah. Lalu mengambil sebuah hiasan rambut dan memakainya di kepala. Karena tidak ada pewarna bibir lain, terpaksa dia menyapukan sedikit pewarna merah pada bibirnya itu.
“Sudah selesai. Cukup seperti ini saja. Sekarang, ayo kita pakai gaun berwarna darah itu,” kata Jane berdiri dan melangkah menuju tempat gaun tergantung.
Saat memakai gaun panjang itu, Jane merasa tak nyaman karena dadanya sangat rendah dan punggungnya terbuka. “Irish sialan, apa kamu ingin memamerkan tubuhmu di hari pernikahanmu ini?” umpatnya dalam hati.
Akan tetapi, Meg dan Tilly tampak terpukau dengan penampilan baru Irish. Mereka merasa Irish tampak lebih cantik dan memesona.
Setelah selesai, Jane meminta Meg dan Tilly menunggu di kamar, dia berdalih akan menemui ayahnya. Tidak merasa curiga, kedua pelayan itu mengangguk. Jane dengan cepat mengambil kunci yang menggantung di pintu dan menguncinya dari luar.
Terdengar suara Meg dan Tilly yang menggedor pintu dari dalam. “Maafkan aku Meg, Tilly,” ucap Jane.
Suasana lantai dua sangat sepi, Jane berlari meninggalkan kamar itu. Saat akan menuruni tangga, dia melihat banyak orang di bawah. Terpaksa Jane berbalik dan mencari jalan lain. Namun ternyata, tak ada cara lain untuk turun selain melewati tangga.
Saat melihat jendela besar, Jane mendekat dan melihat ke bawah. Jendela itu persis berada di atas rerumputan di taman belakang.
“Sepertinya jatuh ke atas rumput itu tidak akan terlalu sakit,” ucapnya pelan sambil mengukur ketinggian dari jendela ke bawah.
Jane mengumpulkan keberanian. Dia naik ke bingkai jendela dengan hati-hati. Dengan mata tertutup dan merapal doa, pelan-pelan Jane melompat ke bawah.
Bruk!
“Aw!” ringis Jane. Dia menyingkap sedikit roknya dan mendapati kakinya lebam.
Tak menghiraukan rasa sakit di tubuhnya, gadis itu bangkit dan berlari sedikit tertatih. Jane mencari tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun. Saat melihat sebuah pintu kayu di belakang rumah, dia segera membukanya dan masuk ke bangunan itu.
Setelah menutup pintu dari dalam, Jane merasa lega. “Aku akan sembunyi di sini sampai situasi di luar aman. Aku tidak ingin menikah dengan Leon. Aku tidak boleh menikah dengan lelaki itu,” ucapnya.
“Aku juga tidak ingin menikah denganmu, Lady Irish ….”
Jane langsung melotot. Dia membalikkan tubuh. Wajahnya langsung pucat begitu melihat Leon berdiri di hadapannya.
***
Bersambung
Setelah kepergian Tuan Tobias, Irish langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang kayu yang ada di sana. Bangunan itu hanya memiliki satu ruangan kecil dengan dua ranjang kayu yang saling berhadapan. Bukan tempat tinggal warga, tetapi lebih mirip gudang penyimpanan obat-obatan dan makanan.Leon memandang Irish yang tampak tak terganggu dengan keadaan di ruangan itu. Irish sama sekali tak mengeluh meski tubuhnya harus tidur di atas ranjang kayu yang keras, tanpa kasur empuk atau selimut tebal.“Kamu tidak tidur?” tanya Irish melihat pada Leon yang masih duduk di tempatnya semula.Tidak ada lampu, penerangan tempat itu hanya dari perapian yang kini menyala kecil. Meski begitu, perapian itu cukup memberi hangat di saat cuaca malam mulai terasa dingin.“Apa kamu merasa tak nyaman tidur di tempat seperti ini?” Irish yang sudah berbaring, kembali duduk di pinggir ranjang. Ia tak tahu seperti apa kehidupan Leon, tetapi sebagai tentara harusnya lelaki itu tidak masalah dengan kondisi tempat ini.
“Kamu pulang saja, aku akan sedikit lama di sini,” ucap Irish mengusir Leon begitu mereka tiba di depan kedai Julian. Kereta yang mereka tumpangi sudah berhenti. Kedua tangan Irish memegang kotak kayu dan bersiap untuk turun.“Sudah kukatakan kalau aku akan menemanimu, Irish.” Leon turun lebih dulu tanpa mempedulikan wajah Irish yang tampak keberatan.Dalam hatinya, Leon pun tak tahu mengapa dirinya bersikap seperti itu. Ingin berada dekat dengan Irish. Lebih tepatnya, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Irish dan Julian. Leon tak akan membiarkan Irish berduaan dengan Julian.Irish menghela napas kasar. Padahal dirinya hanya ingin berterima kasih pada Julian dan meminta bantuan pada lelaki itu. Irish ingin menggunakan hadiah dari Ratu untuk membeli obat-obatan dan memberikannya pada Tuan Tobias di perkampungan hutan.Dengan berat hati, Irish turun dari kereta dan berjalan menuju kedai. Leon mengikutinya dari belakang.Suasana kedai cukup ramai, Irish yang tak melihat Julian di lant
Ratu tersenyum melihat tingkah laku pasangan suami istri di hadapannya itu. Irish yang begitu antusias menerima tawaran Ratu, dan Leon yang tampak keberatan tetapi tak bisa berbuat apa-apa.“Bagaimana menurutmu, Kapten Leon? Apakah kamu setuju jika Lady Irish bekerja di markas? Tenang saja, Lady Irish akan mendapat bayaran yang layak atas pekerjaannya itu.” Ratu menatap Leon yang masih berwajah muram, seperti ada yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu.Karena tak mendengar jawaban dari Leon, Irish menoleh ke arah samping, Leon pun langsung menatap sepasang mata istrinya itu. Irish mengerutkan dahi, tak mengerti maksud tatapan sang suami.Bukan hanya Irish, Ratu pun menunggu Leon membuka suara. Ingin mendengar apa yang menjadi keresahan lelaki itu. Bukankah jika Irish bekerja di markas maka Leon bisa memantaunya dari dekat?Tiba-tiba, sebuah pemikiran lain terlintas di benak Irish. Leon tidak ingin Irish bekerja di markas karena akan membuat Leon sulit untuk bertemu Celia. Gerak-gerik
Bab 51-“Sandiwaramu sungguh bagus, Leon,” cibir Irish menoleh pada Leon saat mereka telah meninggalkan ruangan itu. Dia sangat lega karena sang ayah tidak akan memaksanya untuk menikah dengan Tuan Harrington.“Sepertinya kamu salah paham, Irish. Aku tidak bersandiwara.” Leon meyejajarkan langkah Irish yang berjalan cepat di depannya.Sebelum keluar ruangan, Tuan Arlo menyuruh Irish dan Leon untuk menemui Ratu. Katanya, ada yang ingin Ratu sampaikan terkait kejadian semalam.Irish menoleh sekilas, mengerutkan dahi dan menatap Leon penuh selidik. “Jangan katakan kalau kamu benar-benar jatuh cinta padaku, Leon. Aku tidak mengharapkan itu. Kamu sudah memiliki kekasih, begitu juga denganku. Mari kita lanjutkan pernikahan formalitas ini dengan damai. Aku akan mencabut gugatan pembatalan pernikahan kita, dan sebagai imbalannya … jangan melarangku melakukan apa pun yang kuinginkan.”Setelah mengatakan itu, Irish melanjutkan langkahnya. Leon segera mengejar Irish. Saat sudah dekat, dia menari
Irish dan Leon terus melangkah menuju paviliun paling ujung. Langkah kaki mereka menelusuri koridor yang panjang di istana samping. Meski hari libur, tampak beberapa petugas yang berlalu lalang. Ada juga para kerabat kerajaan dari luar kota yang menginap di istana setelah pesta semalam.Begitu tiba di depan ruangan Kanselir Arlo, Irish langsung membuka pintu. Di dalam, kedua orang tua Irish sudah menunggu. Kanselir Arlo tampak tak senang saat tahu kalau Irish tak datang sendiri. Wajahnya yang dari tadi menahan kesal, tampak semakin masam.Irish langsung masuk dan menyapa kedua orang tuanya singkat. Leon yang mengikuti dari belakang, hanya mengangguk dan berdiri di samping Irish.“Kemasi barangmu sekarang. Siang ini kamu harus ikut kami pulang dan menyelesaikan pembatalan pernikahanmu,” ujar Kanselir Arlo dengan suara lantang. “Sudah cukup kamu mempermalukan keluarga kita, Irish. Setelah pembatalan selesai, kamu akan segera menikah dengan Tuan Harrington. Jangan membantah lagi!”Kata-ka
Matahari sudah bersinar cerah saat Irish membuka mata. Sebuah tangan yang melingkar di perutnya membuat Irish terkesiap. Dia menoleh perlahan ke samping. Wajah tampan Leon yang terlelap begitu dekat dengannya. Embusan napas teratur sang kapten menyapu lembut pucuk kepalanya.Mengingat apa yang terjadi semalam, kening Irish berkerut. Rasa pusing yang berdenyut di pelipisnya seketika menyadarkan Irish akan kebodohannya sendiri. Dia ingat rasa manis anggur ungu yang diberikan Tuan Harrington di balkon, ingatan samar tentang tatapan lapar pria paruh baya itu, lalu ... suara bentakan seseorang sebelum semuanya menggelap.Irish berusaha menggeser lengan kekar Leon yang mengunci pinggangnya, namun gerakan kecil itu justru membuat pelukan sang suami semakin mengerat. Leon melenguh pelan, lalu perlahan membuka kelopak matanya dan langsung menatap lurus pada Irish.“Sudah bangun?” seru Leon serak. Alih-alih melepaskan tangannya, Leon justru menarik tubuh Irish sedikit merapat.“Lepaskan, Leon,







