Masuk“Pernikahan kita hanya formalitas saja. Aku tidak mencintaimu dan tidak akan pernah mencintaimu, Irish.” Setelah menyaksikan pengkhianatan kekasihnya, Jane tertabrak mobil dan bertransmigrasi ke dalam tubuh Irish, wanita kejam yang ditakdirkan mati di tangan suaminya, Leon. Leon membenci Irish, sementara Jane hanya ingin melarikan diri demi menyelamatkan hidupnya. Namun, ketika Jane membalikkan keadaan dengan menuntut kebebasan yang sama untuk mencari pria lain, Kapten Leon yang kaku justru mulai terusik oleh pesona baru istrinya yang dianggap asing.
Lihat lebih banyak“Setelah menikah, kamu akan ikut denganku dan tinggal di ibu kota. Tapi, kita akan tidur terpisah. Selain itu … jangan melarangku untuk dekat dengan wanita lain. Aku berhak mencintai wanita mana pun yang membuatku jatuh cinta,” tegas Kapten Leon Edward Roche.
Jane yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi, hanya mengerjap bingung. Ingatan terakhirnya, Jane memergoki Henry, sang kekasih, berselingkuh.
Dengan rasa kecewa dan amarah, Jane berlari meninggalkan apartemen Henry. Saat menyeberang, tiba-tiba sebuah mobil menabraknya. Dan ketika terbangun, Jane sudah berada di kamar asing ini.
Belum sempat Jane mencerna apa yang sebenarnya terjadi, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang lelaki masuk dan langsung berbicara tentang pernikahan, tidur terpisah serta ibu kota, hal-hal yang sama sekali asing di telinganya.
Yang semakin membuat Jane bingung adalah, wajah lelaki di hadapannya ini sangat mirip dengan Edward, tetangganya, tetapi dengan penampilan yang berbeda.
“Lady Irish, apa kamu mendengarku?” tanya Leon melihat Irish yang terdiam dan seperti sedang berpikir. Tidak seperti Irish yang biasanya.
Jane mengerutkan dahi. “Irish?” ucapnya pelan, “siapa Irish?”
“Jangan bercanda atau pura-pura hilang ingatan, Lady Irish.” Suara Leon sedikit meninggi. Dia sudah muak dengan sandiwara gadis di hadapannya. Sialnya, gadis itu akan menjadi istrinya.
Mata sang kapten menatap tajam perempuan yang hari ini akan resmi menjadi istrinya. Bukan karena cinta atau perjodohan, Leon terpaksa menikah dengan Irish karena jebakan perempuan itu.
Jane semakin tidak mengerti kenapa namanya menjadi Irish. Tidak ada satu pun alasan yang masuk akal di pikirannya selain bahwa … ini semua adalah mimpi. Ya, Jane yakin ini hanyalah mimpi.
“Maaf, Edward, aku sedikit pusing … bisakah kita bicara nanti?” pinta Irish memegang keningnya. Dia ingin tidur dan segera bangun dari mimpi aneh ini.
Bagaimana tidak aneh, saat ini Jane berada di kamar luas dengan kasur besar yang ditutupi seprai mewah dan klasik. Di dinding terdapat beberapa lukisan cat minyak yang menampilkan potret sebuah keluarga dan juga bangunan istana atau … kerajaan. Pernak-pernik di kamar ini tampak antik dan mewah.
Jangan lupakan pakaian yang dikenakannya, gaun panjang putih yang memiliki potongan leher berbentuk persegi yang rendah, dibingkai oleh renda-renda rumit dan tipis. Rambut Jane yang sebelumnya hitam sebahu, kini tergerai panjang sampai melewati pinggang dengan warna cokelat sedikit ikal.
Kedua alis Leon terangkat mendengar ucapan Irish. Apa tadi Irish memanggilku dengan sebutan Edward? Meskipun itu adalah nama tengahnya, tentu saja panggilan itu sangat janggal dan tidak wajar.
“Sepertinya kamu memang butuh istirahat, Lady Irish. Tapi jangan lupa kalau siang ini kita akan menikah,” ujar Leon, “seperti ucapanku sebelumnya, pernikahan ini hanyalah formalitas saja.”
Jane mengangguk agar lelaki di hadapannya itu segera pergi. Tidak akan ada pernikahan karena setelah ini Jane yakin akan terbangun di kehidupannya yang sesungguhnya.
Setelah kepergian Leon, Jane segera menuju kasur. Belum sempat dia merebahkan tubuhnya, pintu kembali terbuka. Kali ini dua orang wanita dengan baju yang sama berjalan ke arahnya.
“Nona, Anda sudah sadar?” ucap salah satu wanita itu.
“Syukurlah Anda sudah siuman, Nona,” ujar yang satunya lagi.
“Cepat beritahu Nyonya dan Tuan,” ucap wanita yang pertama.
Jane terdiam beberapa saat. “Kalian siapa?” tanyanya.
Kedua wanita itu saling berpandangan. Lalu, wanita kedua berkata, “Ka-kami pelayan Anda, Nona. Saya Meg, dan ini Tilly. Apa Nona lupa pada kami?”
Jane tidak menjawab. Dia merasa aneh karena bisa berkomunikasi dalam mimpi dan terasa begitu nyata. Jane coba menggigit ibu jarinya sendiri. “Aw!” serunya begitu merasakan sakit.
“Ini nyata,” batin Jane. Matanya membelalak. “Ini bukan mimpi?”
“Sebenarnya, ini di mana? Kenapa aku ada di sini?” Jane bertanya penuh kebingungan.
“Ini masih di rumah Anda, Nona. Hari ini Nona akan segera menikah dengan Kapten Leon,” sahut Meg.
“Kapten Leon? Apakah yang kamu maksud itu adalah laki-laki yang barusan datang ke kamar ini?” tanya Jane memastikan.
“Iya Nona. Lelaki yang berbicara dengan Anda barusan adalah Kapten Leon, calon suami Nona,” jelas Meg lagi, “apa Nona tidak ingat apa pun?”
Jane menggeleng. Dia coba berpikir tentang keberadaannya saat ini. Jujur, janggal.
“Kemarin sore Nona tenggelam di danau belakang, entah berapa lama Anda di sana, yang pasti Nona ditemukan dalam keadaan pingsan. Untunglah sekarang Anda sudah sadar, Nona.” Kali ini Tilly yang berbicara.
Jane semakin bingung. Dia langsung turun dari kasur hendak mencari apa pun yang bisa menjadi jawaban dari apa yang terjadi. Jane menatap cermin, dia baru menyadari kalau wajahnya kini … berbeda. Kulit putih pucat, mata cokelat, hidung mancung dan rahang yang membentuk wajahnya menjadi sangat cantik.
“Ini bukan wajahku,” ujarnya dalam hati, “Jika ini bukan mimpi, apa aku ….”
“Siapa nama panjangku?” tanya Jane saat sebuah pemikiran gila hinggap di kepalanya.
“Lady Irish Jane Stone, Nona adalah anak dari Kanselir Arlo yang sangat berpengaruh di kerajaan ini,” jawab Meg.
“Apa nama kerajaan ini?” tanya Jane lagi.
“Nona berada di Kerajaan Dorne.” Tilly menjawab.
“Tahun berapa sekarang?” Jane masih bertanya sebelum menyimpulkan semuanya.
“Tahun 1567, Nona,” sahut Meg. Pelayan itu menduga kalau sang nona telah kehilangan ingatan karena tenggelam beberapa hari lalu.
“Kapten Leon, Celia, Julian, Tristan, apakah mereka ada di sini?” Jane menyebutkan beberapa nama tokoh dalam sebuah buku yang dibacanya.
Meg mengangguk pelan dan berkata, “Kapten Leon adalah calon suami Nona. Tuan Julian adalah sepupu dari Kapten Leon, Lady Celia … adalah ….”
“Wanita yang dicintai Leon, bukan?” tebak Jane.
Meg menunduk, tidak berani menjawab. Hal itu justru membuat Jane semakin yakin satu hal, dirinya berada di dunia novel berjudul “The Captain’s Love”. Novel yang sudah dibacanya beberapa kali.
Sialnya, dia bukan menjadi pemeran utama, tetapi menjadi Irish, sang antagonis yang mati di tangan suaminya sendiri, Leon. Jane membulatkan mata saat menyadari akhir dari buku itu.
“Aku tidak ingin mati di sini,” ucapnya pelan. Jane harus menyelamatkan dirinya dan mencari cara kembali ke dunianya. Namun sebelum itu, dia harus membatalkan pernikahan ini.
Jane menatap lukisan keluarga yang menampilkan sepasang orang tua dan dua orang putri. “Apakah lelaki itu adalah ayahku?” tanyanya pada Tilly dan Meg.
Kedua pelayan itu mengangguk.
“Antarkan aku ke ruangan ayahku, aku harus mengatakan sesuatu padanya.” Jane langsung membuka pintu dan melangkah di lorong panjang.
Meg dan Tilly mengarahkan Jane ke sebuah ruangan yang berada di paling ujung. Melihat pintu ruangan itu sedikit terbuka, Jane langsung mengetuk. Saat terdengar suara dari dalam, dia langsung membuka pintu.
Jane berjalan menuju seorang lelaki paruh baya yang mengenakan jubah beludru bersulam benang emas khas pakaian resmi seorang kanselir. Tidak ada raut ramah sama sekali di wajah lelaki itu. Jane tidak peduli, dia memberanikan diri membuka suara.
“Ayah, aku tidak ingin menikah dengan Kapten Leon. Tolong batalkan pernikahan ini, Ayah, aku mohon,” pinta Jane dengan wajah memelas, berharap sang ayah mau mengabulkan permintaannya. Namun—
PLAK!
Jane memegang pipi kirinya yang terasa panas. Matanya berkaca-kaca. Sang ayah menjawab bukan dengan ucapan, melainkan dengan tamparan keras.
***
Bersambung
Setelah kepergian Tuan Tobias, Irish langsung merebahkan tubuhnya pada ranjang kayu yang ada di sana. Bangunan itu hanya memiliki satu ruangan kecil dengan dua ranjang kayu yang saling berhadapan. Bukan tempat tinggal warga, tetapi lebih mirip gudang penyimpanan obat-obatan dan makanan.Leon memandang Irish yang tampak tak terganggu dengan keadaan di ruangan itu. Irish sama sekali tak mengeluh meski tubuhnya harus tidur di atas ranjang kayu yang keras, tanpa kasur empuk atau selimut tebal.“Kamu tidak tidur?” tanya Irish melihat pada Leon yang masih duduk di tempatnya semula.Tidak ada lampu, penerangan tempat itu hanya dari perapian yang kini menyala kecil. Meski begitu, perapian itu cukup memberi hangat di saat cuaca malam mulai terasa dingin.“Apa kamu merasa tak nyaman tidur di tempat seperti ini?” Irish yang sudah berbaring, kembali duduk di pinggir ranjang. Ia tak tahu seperti apa kehidupan Leon, tetapi sebagai tentara harusnya lelaki itu tidak masalah dengan kondisi tempat ini.
“Kamu pulang saja, aku akan sedikit lama di sini,” ucap Irish mengusir Leon begitu mereka tiba di depan kedai Julian. Kereta yang mereka tumpangi sudah berhenti. Kedua tangan Irish memegang kotak kayu dan bersiap untuk turun.“Sudah kukatakan kalau aku akan menemanimu, Irish.” Leon turun lebih dulu tanpa mempedulikan wajah Irish yang tampak keberatan.Dalam hatinya, Leon pun tak tahu mengapa dirinya bersikap seperti itu. Ingin berada dekat dengan Irish. Lebih tepatnya, ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Irish dan Julian. Leon tak akan membiarkan Irish berduaan dengan Julian.Irish menghela napas kasar. Padahal dirinya hanya ingin berterima kasih pada Julian dan meminta bantuan pada lelaki itu. Irish ingin menggunakan hadiah dari Ratu untuk membeli obat-obatan dan memberikannya pada Tuan Tobias di perkampungan hutan.Dengan berat hati, Irish turun dari kereta dan berjalan menuju kedai. Leon mengikutinya dari belakang.Suasana kedai cukup ramai, Irish yang tak melihat Julian di lant
Ratu tersenyum melihat tingkah laku pasangan suami istri di hadapannya itu. Irish yang begitu antusias menerima tawaran Ratu, dan Leon yang tampak keberatan tetapi tak bisa berbuat apa-apa.“Bagaimana menurutmu, Kapten Leon? Apakah kamu setuju jika Lady Irish bekerja di markas? Tenang saja, Lady Irish akan mendapat bayaran yang layak atas pekerjaannya itu.” Ratu menatap Leon yang masih berwajah muram, seperti ada yang sedang dipikirkan oleh lelaki itu.Karena tak mendengar jawaban dari Leon, Irish menoleh ke arah samping, Leon pun langsung menatap sepasang mata istrinya itu. Irish mengerutkan dahi, tak mengerti maksud tatapan sang suami.Bukan hanya Irish, Ratu pun menunggu Leon membuka suara. Ingin mendengar apa yang menjadi keresahan lelaki itu. Bukankah jika Irish bekerja di markas maka Leon bisa memantaunya dari dekat?Tiba-tiba, sebuah pemikiran lain terlintas di benak Irish. Leon tidak ingin Irish bekerja di markas karena akan membuat Leon sulit untuk bertemu Celia. Gerak-gerik
Bab 51-“Sandiwaramu sungguh bagus, Leon,” cibir Irish menoleh pada Leon saat mereka telah meninggalkan ruangan itu. Dia sangat lega karena sang ayah tidak akan memaksanya untuk menikah dengan Tuan Harrington.“Sepertinya kamu salah paham, Irish. Aku tidak bersandiwara.” Leon meyejajarkan langkah Irish yang berjalan cepat di depannya.Sebelum keluar ruangan, Tuan Arlo menyuruh Irish dan Leon untuk menemui Ratu. Katanya, ada yang ingin Ratu sampaikan terkait kejadian semalam.Irish menoleh sekilas, mengerutkan dahi dan menatap Leon penuh selidik. “Jangan katakan kalau kamu benar-benar jatuh cinta padaku, Leon. Aku tidak mengharapkan itu. Kamu sudah memiliki kekasih, begitu juga denganku. Mari kita lanjutkan pernikahan formalitas ini dengan damai. Aku akan mencabut gugatan pembatalan pernikahan kita, dan sebagai imbalannya … jangan melarangku melakukan apa pun yang kuinginkan.”Setelah mengatakan itu, Irish melanjutkan langkahnya. Leon segera mengejar Irish. Saat sudah dekat, dia menari
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.