Se connecterTout a commencé lorsque je faisais du cheval à cru avec mon petit ami, Tommy, au sommet d'un rocher au milieu de nulle part, dans le Nevada. C'est alors qu'est entré ce loup, comme si c'était ma mère en plein trip de meth, nous fixant et grognant comme un mari surprotecteur. Pire encore, selon Tommy, je grognais en retour. La minute d'après, Tommy était à l'autre bout du désert et je me retrouvais dans une académie d'élite pour Sorcières, Métamorphes, Vampires et Fées, l'air d'avoir été arrachée du parc à roulottes local. Oh, attendez, c'était le cas. L'Académie Bloodwood pour le Surnaturel n'a qu'une seule règle : ne pas se mêler aux étudiants en dehors de sa race. Alors, bien sûr, c'est la première chose que je fais. Comment dire non à un mâle Fae aux yeux dorés, un Loup-garou lunatique avec des problèmes de meute, et un Vampire aux doigts magiques. Non seulement mes hommes mettent tout sens dessus dessous, mais maintenant ma vie est en danger. Il s'avère que si je ne retourne pas dans ma caravane, des femelles jalouses vont me trancher la gorge. Je dois comprendre pourquoi je suis liée à tous mes compagnons, et pourquoi le directeur m'en veut, avant de me retrouver six pieds sous terre. Ce n'est pas juste Rae Fox, c'est Rae Foxx. Il y a trop de « x » ici pour un seul x.
Voir plus“Saya terima nikahnya dan kawinnya Anisa Azahra Khumaira binti Abdul Qodir Jaelani dengan maskawin nya yang tersebut dibayar tunai.”
Hari ini, hari dimana aku dan pria itu akan bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Aku yang tak mengenalnya, harus ikhlas menerima perjodohan ini. Keinginan orang tua tak bisa ku tolak.Aku masih di dalam kamar bersama umi dan calon ibu mertua, menunggu ijab kabul selesai. Aku mendengar suara lantang itu menggema begitu indah menyentuh hati ini.SAH.Mendengar ijab dan qabul itu membuat hati dan pikiran ini tak dapat bereaksi dengan seimbang. Pikiranku menolak sedangkan hatiku begitu tersentuh akan dirinya.Aku dan pria itu sudah sah menjadi sepasang suami—istri sehingga sudah halal untuk dipertemukan. Umi dan mertuaku menuntun tangan ini, ke luar dari kamar.Kini, aku dan dia berdekatan. Aku belum berani menatapnya, apalagi mencium punggung tangannya, hanya bisa memperhatikan kedua kakinya saja.“Ning, kamu ini bagaimana, sih? Ini suami kamu didiemin. Ayo, cium punggung tangannya!” titah umi yang bernama Salamah.“Iya, Ning. Sudah boleh kok, mencium tangannya—menatapnya. Ayo, silakan kalian berdua saling lihat!” tambah mertuaku yang bernama Aisyah.Abiku dan yang lain tak ikut bicara, hanya menjadi saksi semata. Abi kandung suamiku sudah tiada. Orangtuaku bilang, mendiang abinya dimakamkan di Kudus sudah lima tahun lamanya.Malu-malu sembari mengucap bismillahirrahmanirrahim dalam hati, aku menatapnya dan memberikan senyum yang bagiku cukup untuk menyambutnya.“Assalamualaikum, suamiku,” ucapku lirih.Pria itu pun menatapku dengan senyuman yang luar biasa indah. Dia semakin mendekat. Ku cium punggung tangannya dengan hormat.“Iya, waalaikumussalam, istriku,” jawabnya.Pria itu bernama Yusuf Al-qaradawi, seorang Gus muda yang begitu salih—tampan di kalangan kaum muda. Itu kata umiku ketika bercerita.Tiba-tiba ….CupDia mencium keningku, bahkan berkali-kali aku membelalakkan mataku ini. Semuanya begitu bahagia melihatnya, berbeda denganku yang sangat gugup.Mereka pun pergi dan membiarkan kami masuk ke dalam kamar.Kamar ini tadinya hanya aku yang menempati. Kini, ada suami yang tengah menatap tanpa henti. Hatiku tak karuan, detak jantung makin kencang seperti habis maraton.“Ning, kamu lelah, ya?” tanyanya.Aku mendengar suara itu. Ku beranikan diri untuk menatapnya.“I-iya, aku lelah, Bang.”Dia tertawa kecil mendengar ku. Kenapa dia tertawa? Aku lucu, ya?“Kok, panggilnya, Bang? Panggil saja Gus atau Mas, setuju?” usulnya.“Baik, maaf tadi aku ….”Ucapan ku terhenti. Dia begitu manis menatapku tak henti-hentinya. Aku pun berusaha untuk tenang dan kembali normal seperti tadi, tak gugup lagi.“Aku izin bersih-bersih di kamar mandi, ya, Gus,” ucapku.“Iya, silakan. Nanti gantian, ya. Sekarang saya ke luar dulu, masih banyak tamu.”Aku pun mengangguk. Setelah dia benar-benar pergi dari kamar, aku menghela napas panjang.Ya Allah, apa ini? Perasaan apa ini? Bahkan, mengenalnya saja belum. Melihatnya saja baru hari ini. Dia tiba-tiba dijodohkan denganku dan langsung menikahi ku hari ini. Dia begitu baik dan lembut tutur katanya.Malam sudah semakin larut, tapi kenapa pria yang sudah resmi menjadi suamiku belum kembali ke kamar juga? Bukan karena aku tak sabar menanti malam pertama kami. Namun, ada rasa tak enak hati, sedangkan aku terus-menerus berdiam diri di dalam kamar saja.Aku pun memutuskan untuk ke luar dari kamar, mengintip di balik pintu untuk memastikan, kemudian ku langkahkan kedua kaki ini menuju ruangan yang ku rasa mungkin semua ada di sana.“Umi? Umi?” Aku panggil umi dan mertuaku, tapi tidak ada yang menjawab.Sampai akhirnya, ku dengar suara tangisan seorang wanita dan suara pria yang terdengar seperti menenangkan.“Itu, kan, suara?” Tak ingin soouzon, aku langsung dengarkan saja di balik tembok, suara itu terdengar di dapur.Aku dengarkan semuanya, daripada berprasangka buruk, lebih baik membuktikan sendiri.“Gus, kamu tega! Katanya, kamu ... kamu mau lamar aku?”“Tapi, kenapa kamu justru nikah sama Ning Anisa? Kenapa? Apa karena dia anak orang kaya?”“Marwah, jangan bicara seperti itu. Kamu, tetaplah bidadari surgaku, jangan khawatir,” ucapan Gus Yusuf, aku sangat yakin itu suaranya.Mendengar perkataan itu kenapa begitu sakit ya Allah? Padahal aku belum mencintai dia, apa jangan-jangan aku yang sebenarnya orang ketiga diantara mereka?Aku harus gimana ya Allah?“Pulanglah ke Kudus bersamaku malam ini, kalau kamu nggak mau berarti ....”“Baik, saya akan ikut pulang bersamamu, tapi tidak malam ini, ingatlah, kalau kita pergi bersama malam ini, bukan hanya Ning Anisa yang curiga tapi umi juga,” jawab Gus Yusuf lagi.Brak.Tak sengaja aku menyenggol vas bunga milik umi, langsung ku bekap mulutku dengan kedua tangan ini, rasanya rapuh, sakit, dan juga patah hati, patah sebelum mencintai.“Suara apa itu?” tanya wanita itu.Gus Yusuf pun memastikan ke sumber suara, untung saja aku pindah ke tembok yang sebelah, kalau aku sampai ketahuan mendengarkan percakapan mereka tadi, aku bisa terlihat tidak sopan.Semoga Gus Yusuf nggak tahu kalau ada aku, cukup sudah aku menjadi benalu diantara mereka berdua.Ku putuskan untuk kembali ke kamar saja, entah harus bagaimana setelah tahu semua ini, ternyata pria yang saat ini sudah menjadi suamiku, mencintai wanita lain. Bukan, wanita itu bukan pelakor, tapi aku. Aku yang menjadi penghalang cinta mereka berdua.Guling, dan bantal menjadi saksi bisu tangisan ku di malam pertama, rasanya percuma bercerita pada semua orang, semuanya tidak akan percaya begitu saja padaku, karena yang semuanya tahu Gus Yusuf itu baik, padahal hanya bersandiwara.***“Ning, bangun, hei, sudah azan subuh.” Ku dengar suara seorang pria tengah berusaha terus-menerus membangunkan diriku.Tanpa menunggu lama, kedua mata ini terbuka lebar menatap pria yang sudah menjadi suamiku.“Maaf, Gus eh hmm. Aku telat bangun, sampai harus dibangunkan seperti ini,” ucapku.“Nggak papa, Ning. Sudah, ayo, kita salat berjamaah,” jawabnya.“Maksudnya?” tanyaku yang belum mengerti apa maksudnya.Gus Yusuf pun tersenyum, “Iya, kita salat berjamaah untuk yang pertama kalinya sebagai suami—istri, nanti juga ke Masjid kok,” jawabnya lagi.Aku rasanya ingin sekali salat berjamaah bersama suamiku, tapi? Aku harus bersikap biasa saja, jangan berlebihan.“Sebaiknya Gus ke Masjid saja, nanti terlambat berjamaah, aku salat sendiri aja dulu,” tolak ku dengan halus.“Baiklah, kamu ternyata wanita yang baik, mengerti agama, tahu bagaimana seharusnya seorang pria salat, yasudah, saya ke Masjid dulu, assalamualaikum,” ucapnya.“Iya, Gus, maaf juga aku belum mempersiapkan ....”Aku terkejut, ternyata persiapan untuk salat ke Masjid sudah siap, apa tadi dia sengaja mengujiku? Jelas aku tahu, seorang pria itu salatnya di Masjid, kalau di rumah ya harus pakai mukena huft, apa sih Anisa.“Mandi, ambil wudu, dan salat lah, sekali lagi assalamualaikum,” ucap Gus Yusuf, mencium keningku, aku pun menyalaminya dengan baik.“Hmm, waalaikumussalam, Gus.” Setelah Gus Yusuf benar-benar pergi, aku pun tak berpikir lama lagi, bergegas bersiap untuk salat.Sebentar ... tadi dia mencium keningku? Itu modus? Atau tulus?— Pourquoi es-tu ici ? Pas que ça me dérange, dit-il en levant les yeux vers moi avant de chasser les Vampires qui s'attardaient, espérant clairement goûter à mon sang.— Cette salope de Nicky m'a foutue dehors de l'Académie Bloodwood, dis-je, la poitrine serrée comme dans un étau. Bon sang, le dire à voix haute me frappait beaucoup plus fort que je ne m'y attendais.— Quoi ? Sa main se resserra autour de mon poignet avec inquiétude et réconfort, mais je serrai la mâchoire, refusant de laisser les jeux d'esprit de Nicky prendre le dessus sur moi. — Elle m'a traînée hors de la classe, a fait irruption dans ma chambre et m'a forcée à jeter mes affaires dans des sacs. Je n'arrivais pas à joindre Howl par télépathie et Finn ne me répondait pas, alors je suis venue ici.— Je suis content que tu l'aies fait, ma rose, dit Saxon en appuyant son front contre le mien. Son visage se tordit de colère alors qu'il laissait échapper un grognement. — Nous allons arranger ça. Je vais appeler les garço
J'ai fermé ma valise et fait face à la diablesse souriante qui m'avait regardée tout ce temps. Ou du moins, c'est ce que je croyais. Elle regardait la lettre de l'Alpha.Je suppose que j'ai évité cette balle si je me faisais virer d'ici.— Qu'avons-nous là ? Oh, Pater a omis de me mentionner cela. Elle a parcouru la chose avant de l'agiter devant moi comme si elle pensait que j'allais la frapper comme un chat. — Eh bien, j'ai été occupée. J'ai hâte de te voir au défi si tu y arrives.Les gorilles ont ricané et se sont tapé dans la main comme les abrutis qu'ils étaient. Eh bien, s'il y avait une chose qui ne me manquerait pas, c'était de me faire tabasser par ces connards poilus.Encore avec les trous du cul des gorilles. J'avais besoin de me laver le cerveau à l'eau de Javel.J'ai roulé des yeux et fait un pas vers la porte, seulement pour être arrêtée par la main plate de Nicky.— Pas si vite, l'uniforme est la propriété de l'école. Donne-le-moi. Ses dents brillaient si fort dans la
— C'est des conneries ! Elle n'attaquait personne. C'est comme elle l'a dit, elle se défendait contre vous et contre ces deux monstres, dit-elle en désignant les deux hommes musclés, dont les narines s'élargirent tellement que je pouvais voir leurs poils de nez. Nous avons dû nous échapper après qu'ils—— Ça suffit ! rugit Nicky, la coupant net.La dissimulation continuait.Entre Scarlet et moi, nous étions à deux doigts de faire tomber Nicky. Si nous pouvions passer les frères gorilles en tout cas. J'étais plutôt fière de Scarlet, qui tenait tête à Nicky comme ça. Ç'aurait été mieux si elle n'avait pas l'air sur le point d'exploser comme une locomotive à vapeur. Nicky se tourna vers Scarlet si lentement que j'aurais juré qu'elle était à court de piles. Enfin, jusqu'à ce qu'elle fixe ma colocataire d'un regard qui aurait pu tuer des bébés lapins et s'avance avec un claquement résonnant de ses fichues chaussures.— Si tu souhaites suivre l'exemple d'Ivy et quitter l'école, je serais r
Putain de merde, Nicky était toujours dans l'école.Ce qui signifiait qu'elle était toujours aux commandes.J'étais prête à bondir de mon bureau, ma louve grondante prête à lui arracher le visage. Un seul regard paniqué de Scarlet suffit à calmer mon côté humain ; bien que ma louve n'ait aucune envie de le faire. Elle grondait si fort que tout le monde se retourna, y compris Nicky, qui pivota vers moi, son visage s'étirant en un lent sourire malicieux.— Excusez-moi, Mme Frawn, dit Nicky à la vieille femme qui avait l'air aussi confuse que tout le monde. Je suis désolée de faire irruption comme ça, mais il y a une affaire urgente qui doit être traitée.— Oui ? La femme était enseignante et même elle tremblait sous le regard visqueux de Nicky.— Ivy Potter ! Nicky appela mon nom comme si elle était juge, jury et bourreau. Ou plutôt, comme si elle allait me malmener et me dévorer. Sa louve me regardait, et bon sang, la garce avait faim. C'était difficile de me retenir de me transformer
Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.