ログインMeskipun malam itu Mila sedikit aneh dengan reaksi Riven, tapi setelah beberapa hari berlalu, Mila sudah lupa pada kejadian itu. Pikirannya masih lebih tertarik pada tatonya. Kalau pun pria itu punya masalah yang berat atau masa lalu yang kelam, bagi Mila sebenarnya tidak masalah karena hidupnya sendiri pun sama rumitnya.
Sore itu Toni menatapnya dengan wajah ragu lalu berkata, “Mil, lo dibooking seminggu untuk minggu depan.”
Kening Mila berkerut. “Seminggu?”
Toni menangg
Mila hanya ingin melupakan apa yang Riven lakukan padanya.Oleh karena itu, Mila hanya pasrah ketika Hans membuat tubuh Mila berlutut di atas kasur. Pria itu pun lalu mendekat, memposisikan diri dibelakang Mila dan mendorong tubuh Mila pelan sehingga tangannya di atas kasur menopang tubuhnya.Hans mendekati Mila dari belakang, Mila harus memejamkan mata menahan sensasi ketika kedua tangan pria itu mengusap sisi tubuh Mila lembut sebelum mencengkram pinggangnya. Menempatkan posisinya sambil condong ke depan.“Lo mau yang keras?” bisik Hans di telinga Mila dengan nada dingin.Mila hanya mengangguk, tidak mampu menjawab. Matanya terpejam ketika bagian bawah tubuhnya merasakan dorongan itu. Otot-otonya menegang lagi ketika perlahan milik Hans yang sudah mengeras itu masuk dengan cepat ke bagian intimnya.Hans mengerang pelan di belakang Mila. Mila ingin menarik tubuhnya ketika ada rasa perih yang sebenarnya sudah biasa. Tapi tangan Hans menahannya dengan kencang. Napas Mila tertahan ketik
Namun, sesaat setelah Mila mengatakan itu, Riven menjulurkan tangannya secara perlahan ke belakang kepala Mila, jemarinya menyelip diantara rambutnya yang halus. Mila diam tapi matanya menatap lekat pada pria itu. Gerakan Riven berhenti sebentar untuk memastikan Mila memberinya ijin.Lalu dengan lembut bibir pria itu bertemu dengan bibir Mila. Menekannya dalam. Refleks, Mila membuka mulutnya, membalas ciuman Riven dan membiarkan lidahnya bertaut.Mila bisa merasakan, tangan Riven perlahan turun ke bahunya lalu ke lengannya, dan berhenti. Mila meraih tangan pria itu, tanpa melepaskan ciumannya, lalu membawanya ke depan dadanya. Perlahan Mila membiarkan tangan pria itu meremasnya pelan, menekannya lembut, lalu mengusapnya.Hal itu membuat napas Mila tercekat dan membalas ciuman Riven semakin dalam. Dengan hati yang penuh, Mila menarik iramanya, membelai pria itu dengan gerakan bibirnya. Ketika ritmenya semakin intens, tangan pria itu pun turun dan menyusup ke balik kaos yang Mila pakai.
Udah beres Mil? Gue jemput ya.Mila melirik jam tangannya. Malam sudah larut, memang ini jamnya ia biasa selesai kerja. Mila pun membalas pesan dari Riven.Ok, gue tunggu.Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya. Mila melangkah mendekat, membuka pintu, lalu duduk di kursi penumpang.“Tumben tadi pesan gue langsung lo balas,” kata Riven tanpa menoleh, tangannya tetap di setir.Mila menarik sabuk pengaman. “Gue sebenernya lagi libur.”Riven akhirnya melirik sekilas. “Libur?”“Iya,” jawab Mila santai. “Lagi sering malah.”Mobil mulai melaju membelah jalanan yang mulai lengang.“Sering?” ulang Riven, nadanya tipis, seperti menimbang sesuatu. “Enak dong.”Mila mengangkat bahu. “Harusnya sih. Tapi… ya aneh aja. Biasanya gue yang ngejar jam kerja, sekarang malah kayak disuruh libur mulu.”“Lo udah tanya?”Mila mendengus pelan. “Males. Selama masih digaji, ya udah.”Riven tidak langsung membalas. Tatapannya masih lurus ke depan. Namun Mila bisa melihat perubahan raut wajahnya men
Pria itu menjulurkan tangannya yang disambut Mila sambil tersenyum.“Lex,” sapa Mila singkat.Senyum Alex semakin lebar lalu menoleh pada Hans, “Ini sih sayang kalau dilepas.”Hans tidak menjawab, hanya mengangkat alisnya sambil mengangguk setuju.“Kita mulai sekarang?” ajak Hans pada Alex seraya gesture pada pria itu untuk melangkah bersamanya.“Bye, Mila,” lambai Alex.Sementara Hans pamit dengan menepuk bahunya sekilas sebelum melangkah dengan Alex di sampingnya menuju ruang meeting di lantai dua. Mila pun kembali memutar kursinya menghadap ruang dansa. Pikirannya yang sudah lama tidak bisa berhenti bertanya seolah semakin penuh.***Sebenarnya Mila masih mau menunggu Hans selesai meeting.“Lo mending pulang,” saran Toni ketika tempat itu sudah menjelang tutup. Pengunjung sudah hampir pulang semua ,tinggal beberapa yang terlihat masih bercanda dengan temannya
Malam itu Mila kembali ke apartementnya dengan pikiran yang bercampur aduk. Malam belum terlalu larut namun ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya Mila tidak keberatan, malah rasanya ringan kalau hanya seperti tadi. Yang berat baginya hanya ketika ia harus menjaga ucapannya.“Aneh juga sih ya,” kata Mila. Akhirnya ia menelepon sahabatnya Tiara yang sudah lama tidak berbincang-bincang.Di ujung sana, Tiara menarik napas panjang, “Tapi kalau bayarannya besar sih gue ngga nolak.”“Jangan tanya, Tir…” ujar Mila, “Pensiun dini bisa lebih awal kalau kerjaannya kayak gini sih.”Lalu mereka tertawa.“Menurut lo, bahaya ngga sih Mil?” tanya Tiara ketika tawanya mereda.MIla mengangkat bahu. “Entahlah. Tamu gue tadi bilang, gue yang berbahaya. Kok jadi gue ya yang bahaya?”“Jadi tadi lo cuman nemenin makan malam doang?” tanya Tiara lagi.“Iya, makan malam, ngobrol sama ibu-ibu sosialita. Udah gitu aja. Gue buka baju depan dia aja engga.. Hahhaa” cerita Mila sambil mengunyah cemilannya.
“Mila,” ujar pria di hadapannya sambil mengulurkan tangan. “Kamu ingat aku?”Mila memiringkan kepalanya sedikit, rambutnya bergerak pelan jatuh dari bahunya. Matanya menatap pria itu lalu menyambut uluran tangannya.“Rahasia,” jawabnya ringan sambil tersenyum penuh arti.Tentu saja ia ingat. Pria itu yang menjadi tamunya setelah ciuman pertamanya dengan Riven.Alex terbahak sambil mengangguk-angguk.“Iya, waktu itu kamu juga bilang rahasia. Aku suka rahasia.”Mila tidak ingat kalau dulu ia bilang rahasia. Tapi hatinya lega karena tampaknya Alex suka dengan jawaban itu. Sementara di belakang, Edo sudah keluar dari ruangan, tidak ingin mengganggu.“Kamu tambah cantik, Mil,” ujar Alex sambil menelusuri tubuh Mila dengan tatapannya.Mila tersenyum sambil sedikit mengerakkan kepalanya, membiarkan tatapan Alex jatuh lebih lama. Perlahan ia melangkah mendekat.“S
Ketika Mila sudah sampai apartementnya dan membiarkan pikirannya lebih tenang, sambil mendekatkan bahunya ke cermin wanita itu menatap tatonya dengan seksama. Detailnya, angkanya.Ponselnya sudah ditangan tapi Mila masih ragu untuk menghubungi Hans.Kalau memang ia ingin tahu makna
“Tanya pacar lo deh, dia pasti tau.”Kalimat itu masih menggantung di kepala Mila.Sepulang dari Bali, butuh beberapa hari sampai tubuhnya benar-benar terasa kembali normal. Tiga hari istirahat cukup untuk mengembalikan energinya.Tapi tidak dengan pikira
“Coba Tir!!” pekik Mila. “Bilang sama gue, kalau lo ngga akan baper.”Sahabatnya itu, Tiara, menatap Mila dengan mata berbinar seolah dia sendiri yang mengalaminya. Siang itu, Mila sudah tidak sanggup lagi menahan semua gejolak dalam hatinya. Begitu mereka bertemu untuk makan siang bareng, Mila pun
Mobil hitam Riven melaju santai di jalanan utama yang mulai lengang. Langit malam tampak kelabu dengan awan yang menggantung rendah, membuat cahaya lampu kota terlihat lebih redup dari biasanya.Mila menoleh ke luar jendela.Deretan gedung perkantoran berdiri tinggi di sisi jalan. Sebagian lampunya







