LOGINDan benar saja.Di meja seberang sana, Riven sedang menatap lurus ke arahnya. Mila langsung menunduk dan jantungnya berdetak dengan cepat. Sial, umpatnya dalam hati.Kenapa harus ketemu di sini? Kenapa harus sekarang?“Kamu yakin ngga apa-apa?”Suara Adrian membuat Mila buru-buru menarik napas sebelum mengangguk kecil.“I’m okay.”Adrian terlihat belum sepenuhnya percaya, tapi pria itu tidak bertanya lagi. Ia kembali membahas isi presentasi sambil sesekali menunjukkan beberapa data di tabletnya.Mila mencoba fokus. Benar-benar mencoba. Namun percuma.Karena beberapa meja di seberang sana, keberadaan Riven terasa terlalu jelas untuk diabaikan. Sesekali pria itu menoleh pada wanita di depannya. Mendengarkan. Menjawab seperlunya.Tapi beberapa kali pula, tanpa sengaja, mata mereka kembali bertemu. Dan setiap kali itu terjadi, Mila selalu jadi orang pertama yang mengalihkan pandangan.Aneh. Padahal yang salah bukan dia.Riven yang bilang akan menghubunginya begitu kembali dari luar kota.
Hari itu, Mila kembali menemani Adrian meeting dan seperti yang sudah ia duga, di hadapannya Hans dan Nadine duduk menatapnya tajam. Mila melirik Adrian yang tidak tahu apa-apa soal kegaduhan dalam hatinya. Pria itu sedang menjelaskan dengan serius tentang tahapan pekerjaan yang akan dilakukan oleh teamnya.“Selanjutnya akan dilanjutkan oleh Ibu Mila,” ujar Adrian seraya menyodorkan pointer.Mila mengambil pointer itu dari tangan Adrian lalu berdehem sejenak sebelum memulai presentasinya. Sekuat tenaga Mila berusaha tenang dan fokus. Awalnya suaranya sedikit pelan dan ragu namun perlahan semakin stabil.Sampai pada pertengahan, Mila menyorot sebuah garfik dengan pointernya. “Untuk fase awal, kita akan fokus di..”“Angkanya dari mana?”Suara Nadine memotong. Nadanya tidak keras, namun cukup untuk membuat kalimat Mila berhenti di tengah. Ruangan langsung terasa lebih sunyi.Mila menoleh. “Itu proyeksi dari data bulan sebelumnya…”“Bulan sebelumnya yang mana?” potong Nadine lagi, kali in
Beberapa hari setelahnya, Hans meminta Mila datang ke Seven Zone. Tanpa banyak penjelasan, Mila hanya diminta datang lebih awal. Bukan ke lantai utama. Tapi ke salah satu ruang private di lantai atas.Ruangan itu lebih tenang. Lampunya redup, tapi tidak seramai bar. Suara musik hanya terdengar samar dari bawah.Mila duduk di sofa, satu kaki menyilang, jemarinya mengetuk ringan permukaan meja.Menunggu.Ketika pintu terbuka, Mila menoleh. Hans melangkah masuk diikuti oleh seorang wanita. Wanita itu. Langkahnya tenang. Mila refleks berdiri ketika melihatnya. Tatapan mereka pun bertemu.Hans berdiri di antara mereka.“Ini Mila,” ujar Hans pada wanita itu. Mila melihatnya mengangguk pelan.“Ini Nadine.”Mila pun mengangguk dan menyambut uluran tangannya. Jabat tangan wanita itu terasa erat dan penuh percaya diri.“Hi,” sapanya ringan.Mila tersenyum. “Hallo…”Hans bergerak ke arah mini bar yang ada di ruangan itu, sengaja memberi keduanya waktu. Nadine melirik Hans sekilas sebelum kembali
Dengan napas tersenggal, Mila berusaha mengimbangi gerakan Hans yang begitu intense. Pria itu tidak menunggu untuk membuka seluruh helai kain yang ada di tubuh Mila. Masih dengan gairah yang menggebu, Hans pun menyapukan tangannya yang bersabun pada setiap jengkal kulit Mila yang terasa halus dan licin.“Hhmmm…” erang Mila ketika Hans yang kini berdiri di belakangnya menyelipkan jarinya ke dalam area intimnya. Sementara tangan yang satunya meremas buah dada Mila dan memainkan ujung-ujungnya.Mila bisa merasakan bagian tubuh Hans yang mengeras di belakangnya. Sambil menggerakkan pinggulnya, Mila sengaja merapatkan bagian belakang tubuhnya pada Hans. Membuat pria itu semakin terbuai oleh gesekan kulit mereka.Dengan satu gerakan, Hans kembali memutar tubuh Mila hingga mereka berhadapan. Mila menyapukan pandangannya ke tubuh hans sekilas. Jarinya mengusap bahu pria itu. Lalu mata mereka beradu dan tangan Hans membawa satu kaki Mila melingkar naik ke pinggulnya. Alis Hans bergerak naik ke
Wanita itu tidak membantah. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali menatap Mila. Senyum tipis itu masih ada.“See you around, Mila,” kata wanita itu pamit.Ia berbalik. Langkahnya tenang, menyusul Hans yang sudah lebih dulu bergerak ke arah pintu. Meninggalkan Mila yang masih berusaha memutar memori di otaknya.Mila yakin pernah lihat wajah wanita itu. Ia tahu ia sangat baik mengingat wajah orang. Ia mengerutkan kening. Mencoba menarik satu per satu potongan ingatan yang terasa… nyaris.“Mil.”Mila tersentak. Adrian sudah berdiri di sampingnya.“Pulang bareng? Aku drop sekalian,” tawarnya santai.Mila menggeleng kecil. “Nggak, aku sama Edo.”Adrian mengangguk, tidak memaksa. “Oke. Hati-hati ya.”“Iya.”Adrian melangkah lebih dulu meninggalkannya. Mila ikut berjalan keluar ruangan. Pikiran itu masih melayang-layang di benaknya.***Hari itu di Seven Zone sedikit lebih ramai dari biasanya. Mila duduk di bar menikmati hari-harinya yang menunggu bookingan. Toni lalu lalang dengan kening
Pesan yang diketik Riven akhirnya muncul di layar ponsel Mila.Waktu itu harusnya gue nggak biarin lo pergi gitu aja.Mila menatap layar ponselnya. Terdiam menatap tulisan di ponselnya. Jarinya sudah bergerak di atas keyboard ponselnya. Tapi ia tidak tahu harus merespon apa.Meskipun rasanya berat memutuskan tidak bertemu pria itu, tapi ada sisi lain di hatinya yang merasa rindu dan ingin bertemu.Akhirnya ia hanya meletakkan kembali ponsel di meja samping dan menarik selimut menutupi tubuhnya.**Pagi itu Mila bangun dengan pikiran yang bercabang. Ia tahu harusnya ia lebih memikirkan masalah tatonya yang ternyata menyimpan banyak informasi yang bisa menentukan kehidupannya. Tapi ia malah mengejar jawaban soal dua gelas yang dipegang Riven.Ia mengerang pelan dengan sedikit rasa frustrasi. Tidak bisa disangkal lagi sekuat apapun Mila mencoba menghindar dari pria itu, hatinya tetap mencari cara untuk kembali padanya.Seminggu, batinnya kembali mengingatkan.Seminggu itu bisa lama, bisa
Kalau bisa memilih, sebenarnya Mila lebih suka melayani tamu yang jelas maunya apa. Mau curhat, mau menggoda, mau nyanyi tanpa di-judge, mau mabuk. Mila bisa terima itu semua. Sudah beratus-ratus tamu dia lewati.Tapi kali ini, tamunya membuat Mila harus menahan sabar.
Mila berbaring dengan Alex di atas tubuhnya. Bibir pria itu menelusuri setiap jengkal lehernya sebelum bertemu dengan bibirnya. Gerakannya pasti, seolah tahu apa yang diinginkannya. Ciuman Alex semakin dalam, menuntut Mila untuk membalas gerakannya sebelum menariknya lebih dekat dan melepasnya tiba-
Kening Mila berkerut ketika ia membuka lipatan kertas itu. Di dalamnya hanya ada satu baris tulisan tangan. Nomor telepon dan huruf R di bagian bawahnya. Mila menatap kertas itu beberapa detik.Lalu mendengus kecil. “Kurang kerjaan banget.”Namun perlahan, senyumnya merekah. Mila melipat kembali ke
Mobil hitam Riven melaju santai di jalanan utama yang mulai lengang. Langit malam tampak kelabu dengan awan yang menggantung rendah, membuat cahaya lampu kota terlihat lebih redup dari biasanya.Mila menoleh ke luar jendela.Deretan gedung perkantoran berdiri tinggi di sisi jalan. Sebagian lampunya







