LOGIN"Demi Tuhan, Shaluna! Bukan Ragan yang gak bergairah, tapi tubuh kamu gak bikin nafsu!" Tiga tahun Shaluna dituntut memiliki anak, tapi bahkan Ragan sendiri jarang menyentuhnya. Perlahan, kebenaran mulai terkuak. Shaluna tahu Ragan bukanlah pria yang menyukai perempuan. Keiran, adik tiri suaminya, orang yang seharusnya dijodohkan dengannya dari awal, datang mengisi tubuhnya. Pria itu menuntut haknya yang sejak awal dicurangi, ia ingin mengambil kembali Shaluna untuk dijadikan istrinya. "Shaluna, sudah saya bilang tubuh kamu nggak salah. Lihat, sekarang kamu hamil anak saya."
View More"Kamu belum juga hamil?"
Pertanyaan Maria, ibu mertuanya, membuat Shaluna menghentikan gerakan sendoknya. Ia hanya menggeleng pelan, tak mampu bersuara. Ragan tidak lagi tidur satu ranjang dengannya. Suaminya lebih sering menginap di apartemen dengan alasan dekat dari kantor. "Kamu tuh bener-bener gak guna jadi istri!" cibir Maria sambil memijat pelipisnya. "Kemarin anak teman Ibu menikah, satu bulan kemudian udah hamil. Segampang itu loh, Luna!" Shaluna menghela napas dengan berat. Bagaimana bisa ia hamil jika selama tiga tahun ini Ragan jarang menyentuhnya? Bahkan malam itu, meski Shaluna sedang dalam masa subur sekalipun, kehamilan tidak akan pernah terjadi. "Berisik sekali, Maria! Jangan ganggu waktu sarapan saya!" Suara dingin Keiran yang tiba-tiba memotong perbincangan seketika membungkam mulut Maria. Adik tiri Ragan itu meletakkan garpunya dengan tenang, lalu melayangkan tatapannya pada Maria yang kini tampak tersedak kata-katanya sendiri. Keiran mengalihkan pandangannya, menatap Shaluna yang masih menunduk kaku. Dengan gerakan santai, ia menggeser segelas green juice segar miliknya ke hadapan Shaluna. "Minum. Jangan dengar Maria," titah Keiran datar. Sebagai anak satu-satunya pemilik rumah ini, Shaluna paham bahwa suara Keiran adalah hukum yang tidak bisa dibantah, bahkan oleh Maria sekalipun. Shaluna yang tidak ingin memperpanjang ketegangan hanya bisa mengangguk malu-malu, lalu meraih gelas tersebut dan meminumnya dalam diam. “Keiran, Ibu cuma mau Shaluna cepet hamil.” Maria masih mencoba membela diri, Shaluna pikir mertuanya menolak menyerah untuk menyudutkannya di meja makan. “Emang Shaluna harusnya udah hamil kalau jadi nikah sama saya. Maria, perlukah saya ingetin lagi kalau kamu merebut calon istri saya?” Mendengar kalimat itu, Shaluna mendadak lupa cara bernapas. Gelas berisi green juice yang baru saja menyentuh bibirnya tertahan di udara. Maria sendiri sudah tersedak. “Keiran, Ibu mohon jangan bahas itu terus!” “Saya bahas karena kamu gak memperlakukan Shaluna dengan baik.” Shaluna meremas jemarinya di bawah meja, merasa suasana sarapan berubah menyebalkan. Ia hanya ingin menghilang dari ruangan ini sekarang juga. Tepat saat itu, Keiran menatapnya sekali lagi. “Pergi aja.” Shaluna pikir mungkin Keiran menyadari ketidaknyamanannya. Tanpa menunggu dua kali, ia segera bangkit dari kursi dan bergegas meninggalkan meja makan, melangkah cepat menuju kamarnya demi menghindari ketegangan yang tertinggal di bawah. *** Siang itu, Shaluna melangkah menyusuri koridor kantor papa mertuanya dengan perasaan harap-harap cemas. Namun, begitu membuka pintu ruang manajer tempat Ragan bekerja, sepasang alisnya langsung bertaut rapat. Di dalam sana, seorang lelaki asing tampak duduk santai di atas meja kerja suaminya. Pemandangan itu membuat Shaluna merasa tidak nyaman. Itu tidak sopan. Suara pintu yang terbuka membuat kedua pria itu menoleh serentak ke arahnya. Shaluna bisa melihat Ragan langsung mendesah pelan dengan raut wajah yang seketika berubah keruh. Sementara itu, si pria asing langsung turun dari meja dan melenggang pergi begitu saja melewati Shaluna tanpa menyapa. Meninggalkan keheningan canggung yang seketika menghimpit dada Shaluna. "Ada apa, Lun?" tanya Ragan datar. Shaluna mencoba menepis rasa heran di kepalanya. Ia mengangkat tas lunch box di tangan, memaksakan sebuah senyum tipis di bibir agar terlihat segar. "Aku nganterin kamu makan siang." "Di kantin banyak makanan, kalau bosen aku bisa pergi ke kafe depan. Kamu gak usah ke sini," tolak Ragan langsung, bahkan tanpa melirik kotak makanan yang dibawa Shaluna. Hati Shaluna serasa dicubit nyeri mendengar penolakan yang begitu cepat. "Kenapa? Aku cuma mau kita lebih deket, Mas." "Kita gak bisa deket." "Mas, aku salah apa sih?" Suara Shaluna mulai bergetar. Dadanya mendadak terasa sesak melihat tatapan dingin yang selalu ia terima dari suaminya sendiri. "Daripada kamu ganggu istirahat aku, lebih baik kamu pergi, Lun. Demi Tuhan, aku gak pengen diperhatiin sambil dianterin makanan!” Rasa sakit hati yang teramat seketika menghantam dada Shaluna. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan bergegas pergi dari ruangan itu dengan langkah terburu-buru. Kepalanya menunduk dalam-dalam demi menahan air mata yang sudah mendesak keluar. Karena pandangannya yang mengabur oleh genangan air mata, Shaluna tidak memperhatikan jalan hingga tubuhnya menabrak seseorang dengan cukup keras. "Maaf, aku gak sengaja!" ucapnya panik tanpa berani mendongak. "Kenapa ke sini?" Mendengar suara bariton yang sangat familiar itu, Shaluna tersentak dan memberanikan diri mendongak. Itu Keiran. Rasa malu seketika menjalar di sekujur tubuh Shaluna saat menyadari dirinya tertangkap basah dalam kondisi sekacau ini oleh adik tiri suaminya. "A-aku ...." Lidah Shaluna mendadak kelu, bingung harus menyusun alasan apa. Keiran tidak mendesak, pandangannya justru turun menatap tas lunch box di tangannya. "Mau makan siang bareng di ruanganku?”Asap rokok membumbung lambat di dalam kamar yang remang-remang, beradu dengan aroma parfum mahal dan keringat yang mulai mendingin. Di atas ranjang bertingkat dengan seprai satin yang kusut masai, keheningan pasca-intimidasi fisik terasa makin menghimpit.Ragan telentang dengan mata menatap kosong ke langit-langit kamar. Napasnya masih tersengal tipis, berpadu dengan ketegangan yang sama sekali tak menyurut dari otot-otot tubuhnya. Satu tangannya menyepit sebatang rokok yang apinya membara merah di kegelapan.Di sisinya, Alexander menyandarkan punggung tegapnya pada kepala ranjang. Pria itu menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan jemari yang santai. Tatapannya dingin, tajam, dan penuh dominasi saat memandangi Ragan. Kekasihnya yang selalu tampak rapuh dan kacau tiap kali topik tentang keluarga Alvareno mencuat ke permukaan.Alexander meraih rokok dari selipan jari Ragan, menyesapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan ke udara di atas mereka."Pikiran kamu masih
Shaluna menggenggam botol kaca di dadanya dengan kedua tangan yang bergetar pelan. Suasana kamar mendadak begitu senyap, hanya menyisakan deru napas Keiran yang patah-patah dan gemuruh hujan di luar jendela.Pertanyaan dingin yang baru saja dilontarkan Shaluna menghantam Keiran persis di ulu hati. Pria tegap itu membeku, lidahnya kelu, dan matanya membelalak dipenuhi rasa sakit yang teramat sangat. Pria arogan yang biasanya memegang kendali atas segalanya itu kini hanya bisa menunduk dalam-dalam di depan kaki Shaluna, menyembunyikan wajahnya yang telah dibasahi air mata."Saya—" Suara Keiran tercekat, tenggorokannya terasa tersumbat duri yang tajam. "Saya tidak akan pernah membohongi kamu lagi, Shaluna. Demi Tuhan ... tidak akan pernah lagi."Shaluna menatap Keiran tanpa kedipan. Tak ada kemarahan yang meluap-luap di matanya, hanya ada kehampaan yang begitu pekat dan keputusasaan yang telah mencapai titik dingin paling dasar."Kalau begitu," bisik Shaluna dengan nada datar yang
Tubuh Shaluna seolah hidup dalam realitas yang berbeda dengan jiwanya. Jiwanya telah membeku dan membisu, memutus seluruh akses komunikasi dengan dunia luar. Namun tubuhnya secara kejam dan alami, masih setia menjalankan perannya sebagai seorang ibu.Produksi ASI-nya tidak kunjung mereda. Malah, seolah merespons stres emosional dan jeritan batin yang terkunci rapat di dalam dadanya, cairan putih itu mengalir kian deras.Setiap beberapa jam, kain gaun yang dikenakan Shaluna akan basah di bagian dada. Rasa hangat yang menjalar diikuti nyeri hebat akibat payudara yang mengeras dan membengkak seperti terbakar kembali menghantamnya. Namun Shaluna hanya diam. Ia tidak meringis, tidak mengeluh, dan tidak meminta bantuan siapa pun.Di dalam kamar yang temaram, suara ritmis mesin pompa ASI kembali berdesung pelan.Ssst... ssst... ssst...Shaluna duduk kaku di tepi ranjang. Tangan kirinya yang tak terbalut perban memegangi corong pompa, sementara mata sembapnya menatap kosong pada cairan
Kabar burung itu menyusup halus di antara bisik-bisik kelas atas Jakarta. Meski Dastan sudah mengerahkan seluruh pengaruh dan kekuasaannya untuk membungkam media, nama besar keluarga Calvindra dan reputasi Dastan sebagai pengacara papan atas bukan hal yang mudah dihapus begitu saja. Gosip kecelakaan maut itu tetap berembus liar, menjadi rahasia umum di kalangan tertentu.Di dalam ruang kerjanya yang remang, Ragan menyandarkan tubuhnya pada kursi kulit. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu mahogany dengan ritme yang lambat dan berat. Asap rokok menyesaki udara di sekitarnya, merefleksikan pikiran yang sama pekatnya.Ia tahu berita itu. Ia tahu kecelakaan tragis yang hampir merenggut nyawa Shaluna. Dan ia juga tahu, bayi dalam kandungan wanita itu tak cukup kuat untuk bertahan hidup di dunia.Ada rasa iba dan kesedihan tipis yang menyusup di sudut hatinya saat membayangkan keadaan Shaluna. Wanita itu tidak berhak mengalami penderitaan sehebat ini. Namun, di atas segala ras






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews