“Coba Tir!!” pekik Mila. “Bilang sama gue, kalau lo ngga akan baper.”Sahabatnya itu, Tiara, menatap Mila dengan mata berbinar seolah dia sendiri yang mengalaminya. Siang itu, Mila sudah tidak sanggup lagi menahan semua gejolak dalam hatinya. Begitu mereka bertemu untuk makan siang bareng, Mila pun langsung mencurahkan semua kegundahannya itu.“Riven ya..” gumam Tiara, “Dari namanya sih aura bad boy-nya ada banget.”Mila menggeleng, “Sebelum ciuman itu, pegang tangan gue aja dia engga..”“Jadi,” ujar Tiara mencoba menyimpulkan, “Dia harusnya sih normal ya..”“Dari ciumannya sih, iya banget” jawab Mila setuju dengan kesimpulan Tiara.“Tamu baper sama lo sih, wajar ya,” komentar Tiara.“Tapi kalau lo, baper sama tamu…” lanjutnya sambil menunjuk Mila dengan sendok, “lo perlu berpikir ratusan kali sih, Mir.”Mila mengaduk minumannya tanpa menjawab. Mila berkali-kali menghela napas berat ketika bayangan Riven berkelibat di benaknya. Biasanya dia tidak mudah merasa GR. Tapi, entah kenapa, k
Magbasa pa