分享

Teka-Teki 2

作者: Syamwiek
last update publish date: 2026-11-02 10:08:50

Raksa kembali menatap Pak Rudi. “Saya tanya sekali lagi. Apa Bapak mengenal Arunika?”

Pak Rudi tampak ragu sebelum akhirnya menggeleng. “Tidak, Pak. Saya hanya mengenal Pak Bayu. Beliau rekan kerja saya dulu.”

Arunika sontak terdiam. Matanya membesar, tidak percaya dengan jawaban yang baru saja didengarnya. “Pakde, ini saya, Arun,” ujarnya mencoba mengingatkan.

Namun, Pak Rudi tetap memasang wajah seolah tidak mengenalnya.

Arunika semakin bingung. Bagaimana mungkin pria itu tidak mengenalinya?
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (20)
goodnovel comment avatar
Fatmawati
eh siapa itu yang ada diteras, apakah Raksa...
goodnovel comment avatar
yesi
Eh siapa itu? Pak raksa pasti
goodnovel comment avatar
yesi
Arun malah mau bikin toko kue, berfaedah banget melampiaskan kekesalannya
查看全部評論

最新章節

  • Luka yang Bernama Cinta   Obsesi Mengerikan 2

    Pintu ruangan kembali terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah ragu, lalu diarahkan oleh salah satu anak buah Raksa untuk duduk di kursi kosong di sebelah Angkasa.Wanita itu bernama Kirana.Begitu melihat wajahnya, Arunika sontak terpaku. Matanya membulat, sementara tubuhnya seolah kehilangan kemampuan untuk bergerak.Bagaimana mungkin ada seseorang yang memiliki wajah hampir sama persis dengannya?Bentuk mata, hidung, bibir, hingga garis rahangnya begitu mirip. Bahkan, jika keduanya berdiri berdampingan, orang-orang mungkin akan mengira mereka saudara kembar.Arunika masih belum mampu mengalihkan pandangan. Dia menatap Kirana lekat-lekat, seolah sedang bercermin dan melihat sosok lain yang berdiri di balik bayangannya sendiri.“Dia… benar-benar mirip denganku,” bisiknya.Kirana yang menyadari tatapan Arunika perlahan mengangkat wajah. Mata keduanya bertemu. Untuk beberapa saat, tak ada seorang pun yang bersuara.Sementara itu, Angkasa justru tersenyum tipis melihat reaksi Arunik

  • Luka yang Bernama Cinta   Obsesi Mengerikan

    Angkasa akhirnya berhasil diringkus oleh anak buah Raksa. Sebelum dibawa ke markas, dia sempat menjadi sasaran amukan Bagas yang tak mampu menahan kemarahannya karena pria itu telah merenggut nyawa Pak Bayu.Pria itu kemudian dimasukkan ke sebuah ruangan yang sama dengan tempat Damar dan Pak Rudi sebelumnya diinterogasi.Namun, kali ini suasananya sedikit berbeda. Tidak ada pria bertubuh besar yang akan mengajukan pertanyaan dan membongkar semua kejahatannya.Sebaliknya, seseorang yang akan duduk di hadapannya adalah Arunika.Gadis itu berdiri di depan pintu dengan wajah tegang. Kedua tangannya mengepal, berusaha menahan segala emosi yang sejak tadi berkecamuk di dalam dada.Begitu melihat kedatangan Arunika, Angkasa mengangkat wajahnya.“Arun,” sapa Angkasa dengan senyum merekah. Matanya bahkan tampak berbinar saat melihat gadis itu. “Apa kabar?”Arunika tidak langsung menjawab. Dia me

  • Luka yang Bernama Cinta   Psikopat

    Hampir dua jam berlalu, Angkasa dan istrinya belum juga kembali. Arunika yang sejak tadi duduk di ruang tamu mulai kehilangan kesabaran. Begitu pula dengan Lila. Keduanya ingin segera bertemu dengan pria itu dan meminta penjelasan mengenai semua hal yang baru saja mereka temukan.“Lama banget, sih! Mereka sebenarnya pergi ke mana?” gerutu Lila sambil melirik jam di ponselnya.“Aku juga udah gak sabar, Lil. Rasanya ingin langsung bertanya sama Mas Angkasa kenapa dia menyimpan banyak fotoku,” sahut Arunika.“Kalau aku jadi kamu, bakal aku cakar sih wajahnya yang sok kegantengan itu, Run.”“Dengerin dulu penjelasannya, Lil. Masa iya langsung main cakar saja, sih?”Raka yang sejak tadi memperhatikan keduanya akhirnya angkat bicara. “Lebih baik kalian pulang dulu. Biar aku dan Bagas yang menunggu di sini.”Arunika langsung menoleh. “Tapi, Mas Raka, aku ingin bertemu Mas Angkasa.”“Iya, aku t

  • Luka yang Bernama Cinta   Titik Terang

    Arunika bahkan tidak diberi kesempatan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Belum selesai dia mencerna semua kenyataan pahit yang baru saja terungkap, Raka sudah datang menjemput dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.Sepanjang perjalanan, Arunika lebih banyak diam. Dia duduk di samping Lila, memeluk lengan kanan sahabatnya itu sambil menyandarkan kepala di bahunya. Tidak banyak yang bisa dikatakan Lila. Dia hanya sesekali mengusap tangan Arunika, berusaha memberikan sedikit ketenangan.Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, mobil mereka akhirnya berhenti. Dari balik kaca jendela, pandangan Arunika tertuju pada seorang wanita yang sedang berdiri di halaman. Seketika, matanya membesar. Wajah wanita itu begitu mirip dengannya."Siapa dia?" gumam Arunika.Bagas yang duduk di samping Raka ikut menoleh ke arah wanita itu. "Dia menantu Pak Lurah. Istri Angkasa," jelasnya.Arunika kembali memperhatikan wanita itu. Ada sesuatu yang terasa janggal. Wajahnya begitu mirip, bahkan sekila

  • Luka yang Bernama Cinta   Oasis di Tengah Luka

    Arunika akhirnya kembali ke rumah. Begitu masuk kamar, dia langsung mengunci pintu dan menolak menemui siapa pun, termasuk Lila.Beberapa kali Lila mencoba mengetuk pintu dan memanggil sahabatnya, tetapi tidak ada jawaban. Gadis itu bahkan tidak diizinkan masuk.Akhirnya, Lila memilih menunggu di ruang keluarga yang letaknya tidak jauh dari kamar Arunika. Sesekali, dia melirik pintu kamar sahabatnya dengan perasaan cemas.Dia tahu Arunika sedang terpukul. Namun, Lila tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu sampai sahabatnya itu bersedia membuka pintu.Sementara itu, di dalam kamar, ponsel Arunika terus berdering di dalam tas yang tergeletak di sampingnya. Gadis itu hanya melirik sekilas. Sejak tadi, dia memilih duduk di lantai daripada berbaring di ranjang.Karena ponselnya tak kunjung berhenti berdering, Arunika akhirnya mengambilnya. Dia berniat menolak panggilan itu, tapi gerakannya terhenti saat melihat nama yang tertera di layar.Beberapa detik dia terdiam sebelum akhirnya m

  • Luka yang Bernama Cinta   Mulai Terungkap 3

    Bagas berdiri di dekat Arunika yang masih duduk dengan wajah pucat. Dia ingin segera membawa sahabatnya pulang agar gadis itu bisa beristirahat. Namun, Raka justru tidak setuju.Keduanya kemudian keluar dari ruangan agar tidak mengganggu Arunika."Gas, Arun harus tetap ada di sini," ujar Raka.Bagas menoleh dengan wajah kesal. "Buat apa? Dia sudah mendengar cukup banyak hal hari ini. Aku mau membawanya pulang.""Pak Rudi sebentar lagi sampai. Dia yang akan membawa kita pada pelaku utama.""Raka, tolong pikirkan kondisi Arunika. Aku khawatir mentalnya terguncang kalau dia harus menerima kenyataan pahit lagi.""Tapi, ini permintaan Pak Raksa, Gas. Maaf, kali ini aku nggak bisa membantumu."Bagas mengacak rambutnya dengan frustrasi. Dia benar-benar khawatir dengan kondisi Arunika. Sahabatnya itu sudah terlalu banyak mengalami hal buruk. Dia tidak ingin gadis itu kembali terluka.Saat keduanya masih bersitegang, pin

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status