Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu

Sepuluh Tahun Menunggumu Ceraimu

Por:  Alisha AvandraActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
No hay suficientes calificaciones
50Capítulos
27vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Jihan Maharani selalu merasa bahwa sebesar apa pun cinta dan ketulusan yang mengawali pernikahannya dengan Jevan Adiwangsa, sebesar itu pula tragedi dan menggelikannya akhir hubungan mereka. Dan prosesnya, bagaikan daging yang diiris perlahan dengan pisau tumpul. Rasa sakit itu begitu menyiksa, seolah kulitnya dikoyak dan tulangnya dicabuti. Hingga akhirnya, dia benar-benar menjadi mati rasa. Maka, dia memilih untuk membebaskan dirinya sendiri dan berkata kepada pria itu, "Ayo kita bercerai." … Kemudian. Jihan menikah lagi. Di tengah kerumunan tamu, Jevan duduk di sudut paling pojok. Melihatnya mengenakan gaun pengantin bertabur berlian termahal di dunia, dengan senyum bahagia yang dahulu begitu dikenalnya. Bersama sahabat terbaiknya. Mereka berpelukan dan berciuman dengan penuh ketulusan. Bersumpah untuk saling mencintai. Bersatu selamanya dalam ikatan pernikahan. … Hal yang paling disesali Sean Adinata adalah kehilangan gadis yang dulu pernah begitu mencintainya saat mereka masih muda. Padahal, dialah yang lebih dulu mengenalnya. Namun, dia juga yang menyaksikan kisah cinta wanita itu dan merestui pernikahannya dengan pria lain. Sean mengira dirinya akan menjadi seperti seorang pria tidak waras yang sepanjang hidupnya hanya bisa mengintip kebahagiaan wanita yang dicintainya dari kejauhan. Tetapi kemudian. Sean akhirnya menjadi orang yang memberikan kebahagiaan itu kepadanya.

Ver más

Capítulo 1

Bab 1

Saat Jihan pulang ke rumah, terdengar suara pancuran air dari kamar mandi.

Seorang wanita muda sedang menuruni tangga dari lantai dua sambil membawa pakaian dalam milik Jevan.

Begitu melihatnya, wanita itu memperkenalkan diri dengan hati-hati, "Halo, Bu Jihan, saya Nadya Larasati, asisten baru Pak Jevan."

Jihan tersenyum tipis.

"Aku tahu, kau pacar barunya. Minggu lalu dia bahkan mengajakmu berlibur ke luar negeri."

Nadya segera mengibaskan tangan dan membantah, "Bu Jihan, Anda salah paham. Anda itu istrinya Pak Jevan, beliau nggak akan pernah mengkhianati Anda."

Jihan tidak tahu apakah Nadya benar-benar tidak tahu, atau hanya berpura-pura polos.

Semua orang di lingkungan mereka tahu bahwa dia dan Jevan sudah lama berubah dari pasangan idaman kampus yang dahulu membuat banyak orang iri menjadi sepasang suami istri menyedihkan yang hanya tampak harmonis di luar, padahal hati mereka telah lama terpisah.

Perselingkuhan Jevan dan kebiasaannya berganti-ganti perempuan sudah menjadi hal biasa. Sementara itu, dia yang dulu dipuja dan dihargai setinggi langit olehnya, kini telah berubah menjadi istri yang diabaikan dan dicampakkan.

Dari usia delapan belas hingga dua puluh delapan tahun, sepuluh tahun hubungan mereka sudah lama berubah menjadi puing-puing kehancuran.

Jihan berkata, "Kau sangat istimewa. Jevan belum pernah membawa wanita lain pulang."

Rumah di Griya Cendana ini adalah rumah yang dibeli olehnya dan Jevan sebagai tempat tinggal setelah menikah, lima tahun lalu.

Sebersit kejutan melintas di mata Nadya sebelum dia menjelaskan dengan suara lembut, "Pak Jevan mabuk, jadi saya mengantarnya pulang."

Menemani atasan menghadiri jamuan bisnis, atasannya mabuk, tetapi dirinya sendiri sama sekali tidak menyentuh alkohol?

Terlebih lagi, Jevan memiliki sopir pribadi.

Jihan tidak membongkar kebohongan Nadya.

Dia dan Jevan sudah dua bulan tidak bertemu.

Dua bulan lalu, tepat pada hari ulang tahunnya yang kedua puluh delapan, Jihan sedang makan malam sendirian di restoran hotel bintang lima, secara tak sengaja bertemu Jevan yang sedang menikmati makan malam romantis ditemani cahaya lilin bersama seorang model muda.

Dia menghampiri Jevan, menamparnya, lalu memakinya dengan wajah penuh amarah, menyebutnya menjijikkan dan tidak tahu malu.

Jevan hanya tersenyum dingin, lalu berkata, "Jihan, bagaimana kalau kau bercermin dan melihat seperti apa dirimu sekarang?"

Kemudian, sambil merangkul pinggang model muda tersebut, dia berbalik dan pergi ke kamar suite di lantai paling atas untuk bercinta.

Malam itu, Jihan kembali ke rumah yang kosong ini dan menghancurkan semua barang yang bisa dihancurkannya.

Kemudian, saat melihat pantulan dirinya yang tampak begitu berbeda dan berantakan di cermin, dia tiba-tiba menangis sejadi-jadinya.

Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin dia berubah menjadi wanita penuh kebencian yang histeris seperti ini?

Setelah hari itu, Jihan pindah dari rumah tersebut, dan Jevan sama sekali tidak pernah mencarinya lagi. Namun, tak lama kemudian, dia mendengar kabar bahwa Jevan telah putus dengan model muda tersebut.

Tak disangka, pria itu begitu cepat mendapatkan kekasih baru lagi.

Hari ini, Jihan pulang dengan membawa surat perjanjian perceraian.

Jevan masih mandi ketika Nadya menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya. Dengan suara manja yang begitu lembut, dia memanggil, "Pak Jevan." Dari sudut matanya, Jihan melihat pintu kamar mandi terbuka dan Nadya menyerahkan pakaian kepada pria itu dengan wajah memerah.

Jihan berbalik dan menaiki tangga ke lantai atas.

…

Saat sedang membereskan barang-barangnya, Jihan menemukan cincin pernikahan mereka di dalam laci.

Lima tahun lalu, Jevan mengangkat cincin ini sambil berlutut dengan satu kaki untuk melamarnya.

Hari itu adalah ulang tahunnya yang kedua puluh tiga, Jevan bersumpah dengan penuh kesungguhan dan antusias, "Sayang, aku pasti akan memberimu kebahagiaan seumur hidup."

Jihan saat itu tidak pernah membayangkan bahwa pada hari ulang tahunnya lima tahun kemudian, hubungannya dengan Jevan akan sampai pada titik ketika mereka saling membenci dan bahkan merasa muak hanya dengan berbicara satu sama lain.

Jihan tidak membawa cincin itu.

Saat turun ke lantai bawah, Jevan mengenakan piyama longgar, menyilangkan kaki panjangnya, dan bersandar dengan santai di sofa.

Nadya membawa teh pereda mabuk ke hadapan pria itu. Jevan melingkarkan lengannya pada pinggang ramping wanita tersebut, sementara pipinya memerah seperti buah yang matang di puncak musim panas.

Jihan berkata dengan tenang, "Jevan, tandatangani surat perjanjian perceraian ini."

Gerakan pria itu saat minum teh terhenti sejenak, dia lalu memalingkan kepala dan menatap Jihan.

Dia melepaskan tangannya yang melingkar erat di pinggang Nadya, baru kemudian melirik dokumen di atas meja, lalu tertawa sinis dan berkata, "Trik apa lagi yang kau mainkan kali ini?"

Jihan menjawab, "Aku sudah nggak berminat membuang-buang waktu untukmu. Tandatangani saja surat itu, dan kita bisa berpisah baik-baik."

"Berpisah baik-baik?"

Jevan seolah mendengar lelucon yang paling konyol, dia membalas, "Kau nggak bisa melahirkan anak, sudah membuang waktuku selama bertahun-tahun, dan sekarang mau pergi begitu saja cuma dengan menandatangani surat perjanjian cerai?"

Jihan menjawab tanpa ekspresi, "Kalau punya anak denganmu, aku justru takut anak itu lahir langsung bawa paket lengkap penyakit kelamin darimu."

Dalam hal saling menyerang dengan kata-kata paling menyakitkan untuk melukai harga diri satu sama lain, Jihan dan Jevan memang selalu seimbang. Tak ada yang mau mengalah, dan tidak memberi sedikit pun belas kasihan kepada lawan.

Jihan pun sudah lama mati rasa hingga tidak lagi merasakan gejolak emosi apa pun.

Jevan juga menatapnya dengan dingin.

"Pak Jevan."

Nadya yang berdiri di samping tiba-tiba berbicara dengan nada ragu dan takut, "Saya nggak akan mengganggu Anda dan Bu Jihan, saya pergi dulu."

Jevan melirik salju lebat yang memenuhi pemandangan di balik jendela besar, lalu berkata, "Saljunya lebat dan jalanan licin, nggak aman kalau kau pulang menyetir sendiri. Cari saja kamar di sini untuk menginap semalam."

Nadya melirik Jihan, lalu berkata dengan ragu, "Ini … apa nggak berlebihan? Bu Jihan …."

"Nggak ada yang berlebihan."

Jevan memotong perkataannya, lalu menatap Jihan tanpa ekspresi dan berkata, "Perjanjiannya aku mau baca dulu dan hubungi pengacara. Kau boleh pergi sekarang."

…

Saat Jihan keluar dari rumah, angin salju seolah menerpa matanya. Salju yang mencair terasa begitu dingin menusuk tulang hingga ujung hidung dan matanya memerah.

Dia teringat masa-masa awal hubungannya dengan Jevan. Tahun itu, salju juga turun selebat ini.

Saat itu, sekolah sedang libur. Malam sebelumnya, Jihan mengirim pesan pada Jevan, [Jevan, aku sangat merindukanmu.] Keesokan paginya, di bawah apartemennya, dia melihat Jevan berdiri dengan tubuh dipenuhi salju, tersenyum sambil merentangkan kedua tangan ke arahnya.

Pria itu bahkan membuatkan sebuah boneka salju untuknya.

Boneka salju itu putih, gemuk, dan bulat menggemaskan, mengenakan topi bisbol yang pernah dia berikan kepada pria itu.

Tetapi, bagaimana sekarang?

Boneka salju dari tahun itu telah mencair, dan Jevan yang mencintainya pun telah menghilang.

Salju tebal menghalangi jalan, sementara permukaan jalan menjadi basah dan licin.

Jihan mengemudi dengan sangat hati-hati. Namun, ketika nasib buruk datang, bahkan saat minum air pun bisa membuat seseorang tersedak. Dia tetap saja tanpa sengaja menabrak bagian belakang sebuah mobil Bently.

Setelah turun dari mobil, Jihan melihat sopir Bently itu membuka pintu belakang dengan hormat. Seorang pria berbalut setelan jas hitam pekat kemudian turun dari mobil.

Saat melihat wajah pria itu dengan jelas, fiturnya tegas dan tampak sedikit familiar, Jihan tertegun sejenak.

"Sean?"

Sean adalah salah satu sahabat terdekat Jevan.

Berbeda dengan anak-anak pejabat dan orang kaya yang dibesarkan dalam kemewahan sejak kecil, Sean berasal dari keluarga miskin. Saat kuliah, meskipun menerima beasiswa prestasi dan dana bantuan pendidikan, dia tetap harus bekerja di beberapa tempat sekaligus demi mencukupi kebutuhan hidup.

Tak ada yang menyangka, Sean yang dulu tak memiliki apa-apa dan sama sekali tidak punya koneksi atau latar belakang kuat, kini justru menjadi miliarder baru dengan kekayaan paling mencolok di antara para pewaris keluarga elite tersebut, dengan harta mencapai ratusan triliun.

Saat pernikahannya dan Jevan dulu, Sean juga hadir, bahkan sebagai pendamping pengantin pria utama. Dengan wajahnya yang terkesan sopan sekaligus dingin, dia hanya mengucapkan satu kalimat kepadanya

“Selamat atas pernikahan kalian.”

Setelah lima tahun, aura yang terpancar dari Sean semakin dingin dan tajam. Pria itu berjalan menembus angin dan salju hingga tiba di hadapan Jihan. Tatapannya yang tenang dan acuh tak acuh tampak begitu hitam dan tajam di tengah hamparan salju putih.

"Kenapa kau keluar sendirian? Di mana Jevan?"

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
50 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status