Mag-log inElle harus menelan pil pahit ketika hamil, tetapi pria yang menghamilinya pergi . Terpaksa ia melahirkan anak tanpa suami dan membesarkannya sendiri. Enam tahun berlalu, ia kembali dipertemukan dengan pria yang pernah tidur dengannya. “Apa kamu tidak mengenali aku?” tanya Elle. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” Leo yang tidak mengenali membuat Elle terluka. Ia merasa jika pasti ada yang salah. Tidak mungkin Leo melupakan masa lalu begitu saja. Kecuali ...
view more“Aku hamil, Pa.”
Elle akhirnya memberanikan diri mengatakan pada papanya. Dia tidak punya pilihan lain. Tak sanggup menahan sendiri beban hidupnya. Varel membulatkan matanya. Rahangnya mengeras ketika mendapati putri semata wayangnya hamil sebelum menikah. “Siapa pria yang menghamilimu?” “Aku tidak tahu, Pa.” Elle menundukkan kepalanya. Berdiri dengan cemas di depan meja kerja sang papa. Dia merasa benar-benar takut melihat papanya yang duduk di kursi kerjanya. Jari jemarinya saling bertautan berharap dapat menguatkan dirinya sendiri. “Apa kamu bilang?” Varel memukul meja. Kemarahannya meluap ketika mendapati jawaban sang putri. “Bagaimana bisa kamu tidak tahu siapa pria yang menghamilimu?” Dia masih tidak habis pikir dengan anaknya. Sejujurnya Elle tahu dengan siapa dia tidur malam itu. Leonardo Hardin, anak dari pemilik restoran Italia yang didatangi waktu itu. Malam itu, dia bergabung minum dengan Leo. Saat mabuk, karyawan Leo mengantarkan mereka ke apartemen Leo. Malam itu mereka berdua menghabiskan malam bersama. Elle sadar jika ini kesalahannya juga, karena mau minum dengan pria asing. Karena itu akhirnya dia memilih melupakan semua, pulang dan tak mencari pria itu lagi. Sebulan berlalu, ternyata dia hamil. Hal itu membuatnya berubah pikiran. Dia mencari kembali pria yang tidur dengannya itu. Sayangnya, restoran Italia itu kini bukan milik Leo lagi. Restoran itu sudah beralih tangan pada kakak tiri Leo. Saat Elle menanyakan keberadaan Leo. Tak ada satu pun yang tahu. Kakak tiri Leo juga sudah berusaha mencari Leo. Namun, tetap tidak menemukan. Leo hilang bak ditelan bumi. “Aku tidak tahu, Pa. Waktu itu aku mabuk, dan saat aku bangun, pria itu sudah tidak ada.” Saat Leo tak dapat ditemukan, terpaksa Elle mengatakan jika dia tidak tahu siapa pria yang tidur dengannya. Biarlah hanya dirinya saja yang tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya itu. Dari pada harus susah payah mencari lagi. Verel mengepalkan tangannya. Anaknya benar-benar menguji kesabarannya. Dia sudah berkali-kali melarang anaknya untuk mabuk, tetapi anaknya tidak mau mendengar. “Kalau begitu gugurkan.” Anaknya baru saja bekerja di perusahaan. Jika sampai hamil, tentu saja itu akan mengganggu kariernya. Elle membulatkan matanya. Begitu terkejut mendengar permintaan papanya. “Kenapa harus digugurkan?” Elle menatap sang papa, masih tidak habis pikir dengan pikiran papanya. “Kamu baru bekerja. Masa depanmu masih panjang. Jadi lebih baik kamu gugurkan saja agar tidak mengganggu kariermu. Lagi pula kamu tidak tahu siapa ayah bayi itu. Untuk apa kamu pertahankan.” Pria memang selalu berpikir dengan logikanya. Begitulah pikiran Elle dengan apa yang dipikirkan papanya. Berbeda dengannya yang berpikir dengan hati. Elle merasa jika dia sudah melakukan kesalahan sekali. Jadi dia tidak mau menggugurkan kandungannya dan membuat kesalahan lagi. “Aku tidak bisa menggugurkannya, Pa.” Elle menggelengkan kepalanya, menolak tegas permintaan papanya. Varel segera berdiri dari kursi yang didudukinya dan segera menghampiri putrinya. “Apa kamu sadar dengan yang kamu katakan, Velle?” Varel menarik tangan putrinya untuk membuat putrinya menatap ke arahnya. “Aku tidak mau menggugurkan kandungan ini, Pa.” Cairan kristal lolos begitu saja dari mata indah Elle. Membasahi pipinya. “Apa kamu gila? Apa kamu mau melahirkan anak tanpa suami?” Varel menggoyang-goyangkan lengan putrinya. Berharap putrinya sadar dengan ucapannya itu. “Aku sudah melakukan kesalahan dengan tidur dengan pria itu, lalu apa aku harus melakukan kesalahan lagi dengan menggugurkan anak tak berdosa ini?” Elle memberanikan diri menatap papanya. Varel mengembuskan napasnya kasar. Sungguh anaknya tidak bisa berpikir jernih sama sekali. “Menggugurkannya adalah keputusan paling benar, karena kamu akan menghilangkan kesalahanmu. Ini hanya semacam kamu menulis sesuatu di kertas, lalu saat salah kamu menghapusnya.” Varel masih terus meyakinkan anaknya. “Apa kamu mau hidup dengan melihat kesalahanmu seumur hidup. Melihat anak yang entah siapa ayahnya? Apa kamu mau hidup seperti itu?” Varel memegangi bahu putrinya. Berusaha meyakinkan putrinya. Elle hanya bisa menangis. Dia ragu dengan yang akan dilakukannya. Rasanya berat jika harus menggugurkan kandungannya. Namun, membayangkan membesarkan anak tanpa ayah, dia juga tidak sanggup. “Dengar, papa akan siapkan semuanya. Papa akan carikan dokter terbaik agar kamu tidak merasa sakit. Setelah itu hiduplah dengan baik. Lupakan semua yang terjadi.” Elle kembali terisak. Dia akhirnya mengangguk. Setuju dengan yang diminta papanya. Varel langsung membawa sang anak ke dalam pelukan. Berusaha untuk menenangkannya. Dia harus mengambil keputusan ini agar masa depan anaknya tidak terganggu. *** Setelah sepakat untuk menggugurkan kandungan, akhirnya hari ini Elle pergi ke klinik. Papanya tidak bisa menemani, karena itu dia ditemani oleh asisten sang papa. Ternyata klinik tempatnya akan melakukan aborsi adalah klinik bersalin. Beberapa ibu hamil tampak datang untuk memeriksakan kandungan. Melihat ibu-ibu dengan perut besar itu membuat Lavelle memikirkan apakah dia juga akan seperti itu jika anaknya tidak digugurkan. Refleks Elle memegangi perutnya. Merasakan kehadiran anak di dalam kandungannya itu. “Atas nama Levelle Aleyah.” Asisten berdiri dan menghampiri perawat untuk menyelesaikan administrasi. Saat sang asisten sedang bicara dengan perawat, Elle melihat sekitar. Memerhatikan ibu hamil di sekitarnya. Mereka tampak begitu bahagia sambil memegangi perutnya. “Mari.” Perawat langsung mengantarkan Elle dan asisten ke ruangan belakang. Elle mengikuti perawat. Ternyata ruang aborsi berada di ruang paling belakang. Jauh dari keramaian ibu hamil yang tadi dilihatnya. “Tunggu di sini dulu. Saya akan beri tahu dokter.” Elle duduk menunggu. Sepanjang menunggu, jantungnya berdegup kencang. Rasanya takut harus menggugurkan kandungannya. “Aku mau ke toilet dulu.” Elle yang gugup membuat kandung kemihnya terasa penuh. “Silakan.” Elle segera mencari toilet di klinik tersebut. Karena tidak tahu ruangan di klinik, dia justru tersesat ke ruangan bayi. Dia menghentikan langkahnya. Tangannya memegangi kaca pembatas di ruang. Bayi-bayi itu tampak menggemaskan. Hatinya seketika merasa sakit, membayangkan jika anaknya harus digugurkan. Anak tak berdosa itu harusnya tidak menanggung kesalahan orang tuanya. “Aku tidak mau menggugurkannya.” Elle memegangi perutnya. Seketika berubah pikiran. Tak mau membunuh anaknya sendiri. Dengan langkah cepat, dia segera pergi dari klinik tersebut. Mengurungkan niat untuk menggugurkan anaknya. Dia ingin melahirkan dan merawat anaknya. Asisten merasa Elle begitu lama sekali ke toilet. Sampai perawat meminta masuk pun Elle belum kembali. Dengan segera sang asisten mencari keberadaan Elle. Dia mencari ke toilet. Sayangnya ternyata Elle tidak ada di sana. Sang asisten pun mencari ke seluruh klinik. Siapa tahu memang Elle sedang ke ruangan lain. Namun, sayangnya Elle tidak ada di klinik. Sang asisten pun terpaksa memberitahu Varel jika putrinya pergi. “Pak, Nona Elle kabur.” “Cari dia sampai dapat. Seret dia kembali ke klinik.” Suara Varel di seberang terdengar tegas. Dia benar-benar murka. Lagi dan lagi, anaknya tidak mendengarkannya.Leo membuka ponselnya. Dilihatnya pesan dari Jack yang memintanya untuk datang ke apartemennya lebih awal.Dengan segera Leo bersiap. Kemudian menjemput Jack di apartemen Jack. Beruntung kos milik Leo tak jauh dari apartemen Jack. Berada di belakang pemukiman di belakang apartemen Jack. Jadi dia bisa sampai dengan cepat ke apartemen. Leo juga hanya tinggal berjalan kaki ke apartemen Jack. Saat sampai, Leo harus melihat ruang tamu begitu berantakan sekali. Sambil menunggu Jack keluar, dia membersihkan ruang tamu. Membuang kaleng-kaleng soda ke tempat sampah dan merapikan beberapa sisa makanan ringan.“Ayo, berangkat.” Suara Jack terdengar ketika keluar dari kamarnya. “Pak Jack, tidak sarapan dulu?” Leo menatap Jack. Dia belum sempat membuatkan sarapan, tetapi Jack sudah mengajaknya pergi.“Tidak, aku akan sarapan di tempat Elle.” Jack berjalan mengambil kunci mobil. “Jadi kita akan ke tempat Bu Elle, Pak?”“Iya, sudah jangan banyak bertanya.” Jack melemparkan kunci mobil pada Leo. “
Mendapati jawaban itu membuat hati Elle merasa sakit. Dia tidak menyangka jika ternyata Leo tidak mengenalinya sama sekali. Padahal harusnya dia mengenali walaupun malam itu mereka mabuk. Buktinya, dirinya saja masih mengenali Leo.“Kita pernah bertemu di restoran Italia.” Elle menatap lekat sambil mencoba memberikan clue. Siapa tahu Leo ingat.“Restoran Italia?” Wajah Leo tampak bingung.“Restoran milik keluargamu.” Suara Elle kembali terdengar,mencoba menjelaskan lebih rinci.“Anda sepertinya sedang salah orang. Saya tidak punya restoran. Keluarga saya hanya keluarga dari desa. Mana bisa punya restoran.” Leo tersenyum mencela ucapan Elle.Elle berusaha mencerna ucapan itu. Kenapa bisa keluarga dari desa? Bukankah keluarga Smith berasal dari kota. Tentu saja itu membuatnya bingung.“Elle.” Jack menghampiri Elle. Dia yang menunggu merasa wanita itu terlalu lama. Karena itu dia memilih untuk menyusulnya. Alangkah terkejutnya ketika melihat Elle sedang mengobrol dengan Leo.Elle segera
“Hai, Ukas.” Leo menyapa Lukas. Senyum manis pria itu terlihat tampan sekali. Elle hanya terpaku melihat pria yang selama ini dicarinya sedang berjalan ke arahnya. Susah payah mencari pria itu, tetapi pria itu sekarang berada di depan matanya. Yang membuatnya lebih tercengang adalah pria itu menyapa anaknya. “Hai, Elle.” Jack yang berada tepat di depan Elle menyapa wanita itu. Sayangnya, Elle hanya diam saja ketika mendapatkan sapaan dari Jack. Pandangannya masih tertuju pada Leo yang berada di belakang Jack. Jack melihat ke arah belakang. Dilihatnya Leo sedang melambaikan tangan pada Lukas. Lukas sudah pernah bermain dengan Leo. Jadi wajar saja jika mereka begitu semangat saat bertemu kembali. “Shut ….” Jack memberikan peringatan pada Leo untuk diam. Tak mau mengganggu Lukas. Jack berpikir jika Elle tidak suka dengan apa yang dilakukan Leo. Seketika Leo pun menghentikan aksinya itu. Tak mau mencari masalah dengan atasannya itu. “Elle.” Jack kembali memanggil. Panggilan
Elle terus mengayunkan langkahnya mencari Leo—pria yang tidur dengannya enam tahun lalu, pria yang merupakan daddy Lukas. Dia merasa jika yang dilihatnya tidaklah salah. Walaupun sudah enam tahun berlalu, tetapi dia masih mengingat wajah Leo. Elle mencari di dalam pesta. Mencari di antara orang-orang yang sedang menikmati pesta. Sayangnya, pria yang dicarinya itu tidak ada di dalam pesta. Dia segera beralih mencari ke pintu keluar. Berpikir, siapa tahu Leo sudah keluar dari pesta. Lagi-lagi dia harus kecewa, karena di pintu depan pun, dia tidak menemukan keberadaan Leo. “Ke mana dia?” Elle mengembuskan napasnya kasar. Kesal kenapa tidak bisa mengejar dengan cepat. Hingga harus kehilangan jejak Leo. “Elle.” Jack yang mengejar Elle memanggilnya. Elle segera menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya. Dilihatnya Jack bersama dengan Lukas sedang menghampirinya. Hal itu membuatnya tersadar jika baru saja meninggalkan Lukas karena mengejar Leo. “Sayang.” Elle segera berjongk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.