MasukLuna Rising (The Elemental Wolves Book 1) - Completed * Abused. Forgotten. Hidden. Seren has lived her entire life as an omega no one wanted—beaten by her pack, blamed for every failure, and locked away when she became inconvenient. When Alpha Duncan enters Blood Moon Pack for a mating ball, fate binds them together—and exposes a truth meant to stay buried. Seren is not weak. She is not ordinary. And those who sold, tortured, and discarded her are about to pay. A dark paranormal romance filled with fated mates, hidden royalty, pack betrayal, and a Luna who rises from the ashes. ----------------------------------------------------------- Astral Eclipse (The Elemental Wolves Book 2) - Ongoing * She came to him in dreams. Gavin Ravenscroft has spent his life preparing to become Alpha—until the night a stranger appears in his mind. The dreams turn real when he starts waking with her injuries. And then she’s gone. When the royal court confirms human hunters are capturing Luminar, Gavin knows the truth: the girl from his dreams is being held somewhere—and she’s in danger. Because Elara Dawn isn’t just powerful. She’s becoming something the world has never seen—a mind that can bend reality.
Lihat lebih banyakPuncak Gunung Sumbing pagi itu nampak berkabut akibat hujan yang turun cukup lebat tadi malam. Hampir keseluruhan dedaunan pepohonan di gunung itu masih tampak basah dan berembun.
Arya yang tengah asyik berlatih, lantas berhenti lalu melangkah ke arah pondok begitu mendapat panggilan sang guru.
Pondok itu berukuran tidak terlalu besar, tetapi memiliki anak tangga yang tingginya sekitar 5 kaki. Arya pun menaiki tangga itu di mana di dalam pondok Nyi Konde Perak tengah duduk bersila.
Setiba di atas pondok itu Arya pun ikut duduk bersila di depan Nyi Konde Perak, tak lama kedua mata perempuan tua di depannya terbuka setelah beberapa saat yang lalu ia picingkan.
“Kenapa tiba-tiba saja Eyang memanggil saya? Padahal saya belum selesai berlatih pagi ini,” tanya Arya.
“Saya rasa sudah cukup kamu berlatih, semua ilmu yang saya wariskan sepertinya telah kau kuasai dengan baik. Saya memanggilmu ingin memberi tahu bahwasanya sudah waktunya kamu untuk turun gunung muridku,” tutur Nyi Konde Perak yang ternyata guru dari Arya.
“Lantas apa tugas yang akan saya lakukan karena Eyang memintaku segera turun gunung? Apakah saya ke Pulau Andalas dulu mencari keberadaan Ibu Saya itu?” Arya bertanya kembali.
“Hemmm, tentu saja tidak harus terlebih dahulu mencari Ibumu ke Pulau Andalas sana. Di Tanah Jawa ini banyak sekali permasalahan yang terjadi, perampokan, penindasan serta pemerkosaan yang dilakukan para manusia bejad. Pertempuran di mana-mana berebut kekuasaan dan itu menyebabkan banyaknya manusia-manusia tak berdosa yang menjadi korban, kau harus bisa memilah mana yang harus kamu bela mana yang musti kamu tumpas nantinya,” tutur Nyi Konde Perak.
“Tapi saya nanti diizinkan juga untuk mencari Ibu saya di Pulau Andalas sana kan Eyang?”
“Tentu saja Arya, sebab di Pulau Andalas juga kerap terjadi kekacauan oleh tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Mereka umumnya para pendekar-pendekar dari golongan hitam yang selalu suka berbuat kejahatan demi mencapai keinginannya, kamu harus berhati-hati mereka bukan saja tega membunuh siapa saja tapi juga pandai menyusun siasat licik.”
“Baik Eyang, nasehat dari Eyang akan selalu saya ingat.”
“Di dalam rimba persilatan sosok pendekar selalu memiliki julukan di samping nama yang melekat pada dirinya, julukan itu biasanya diberikan oleh sosok yang dihormati seperti Raja ataupun Guru. Untuk itu kamu saya beri julukan Rajawali Dari Andalas, tujuannya bukan untuk memamerkan diri karena memiliki ilmu tinggi melainkan sekedar julukan yang akan memudahkan bagi siapa saja yang pernah kamu tolong untuk mengingatmu nantinya,” tutur Nyi Konde Perak.
“Oh, seperti halnya Eyang yang dijuluki Nyi Konde Perak, begitu?” tanya Arya.
“Ya benar, tapi julukan saya ini bukan dari Guru saya melainkan dari seorang Raja yang dulu pernah saya bantu mempertahankan Kerajaannya dari serangan musuh.”
“Lalu apakah Brahma akan saya bawa serta dalam memulai perjalanan menegakan kebenaran di muka bumi ini, Eyang?”
Pemuda itu teringat pada seekor burung rajawali yang sangat besar berwarna putih. Sejak kecil, Arya selalu bermain dan dijaga oleh burung rajawali itu saat Nyi Konde Perak berpergian sejenak meninggalkan puncak Gunung Sumbing. Saking besarnya burung rajawali itu, Brahma bahkan mampu membawa beberapa orang dewasa di punggungnya sambil terbang dan mampu pula menjinjing dua ekor induk kerbau ke udara.
Brahma juga akan dengan mudah membunuh siapa saja yang ia lihat saat terbang di udara membuat keonaran di muka bumi, meskipun dia tak pandai bicara layaknya manusia namun ia faham setiap kata-kata yang diucapkan Nyi Konde Perak dan Arya.
Nyi Konde Perak terdiam, sebelum akhirnya ia berbicara, “Hemmm, kamu tidak boleh manja. Brahma bisa saja kamu panggil kapanpun kamu mau asal dalam keadaan benar-benar terdesak seperti halnya menggunakan Pedang Rajawali Putih,” jawab Nyi Konde Perak.
Arya pun mengangguk. “Baik Eyang, saya tidak akan sembarangan menggunakan Pedang Rajawali Putih atau juga memanggil Brahma.”
“Sekarang berangkatlah muridku. Selalu ikuti kata hatimu dalam setiap menentukan arah langkah, jika kau telah melangkah jangan pernah menoleh lagi ke belakang. Ingat Arya selalulah berpegang teguh pada amanah untuk menegakan kebenaran membasmi keangkaramurkaan di muka bumi ini,” Nyi Konde memberi nasehat.
“Baik Eyang, ilmu yang Eyang wariskan ini akan saya gunakan untuk membela kebenaran. Terima kasih selama ini saya Eyang asuh dan gembleng menjadi seorang pendekar, saya tidak tahu dengan apa akan membalas budi baik Eyang ini,” ucap Arya.
“Saya tak pernah mengharapkan balas budimu Arya, dengan kamu tetap berpegang teguh menggunakan ilmu yang kau miliki di jalan yang benar itu sudah cukup membuatku senang.”
“Saya pamit Eyang,” ucap Arya seraya membungkuk dan mencium kedua tangan Gurunya, Nyi Konde Perak tersenyum lalu mengusap-usap pundak muridnya itu.
Setelah Arya turun dari pondok ia pun langsung langkahkan kakinya menuruni lereng Gunung Sumbing itu sambil bersiul-siul.
Seperti yang tadi disarankan Gurunya, Arya tak sekalipun menoleh ke belakang ke arah pondok di mana di sana Nyi Konde Perak yang masih duduk bersila memicingkan kedua matanya kembali seperti orang yang sedang bersemedi.
Yang namanya seorang pendekar berilmu tinggi tentu tidak sama cara menuruni lereng gunung dengan manusia biasa pada umumnya, tubuh Arya seperti kapas yang ringan berkelebat dari atas ujung dahan pepohonan ke ujung dahan pepohonan lainnya hingga dalam sekejab saja ia telah tiba di lembah.
*****
Tak lama, Arya pun tiba di lembah Gunung Sumbing.Anak sungai berbatu-batu membuatnya melompat dan menjejakan kedua kakinya di batu yang satu ke batu yang lainnya Arya pun tiba di seberang.
Seakan tantangan belum berhenti, setelah menyeberangi anak sungai berbatu-batu, Arya dihadapkan dengan hutan belantara, pepopohan di hutan itu sangat rapat dan berdaun rimbun.
Anehnya, dia merasakan hawa tak mengenakan saat menyelusuri hutan belantara itu.
Perkataan sang guru untuk menegakan kebenaran di manapun ia berada tiba-tiba terlintas.
Sebagai Pendekar, ia telah berjanji untuk menyelesaikan semua tugas menumpas segala keangkaramurkaan dari orang-orang jahat atau para pendekar dari golongan hitam yang selalu membuat keonaran di Pulau Jawa. Setelahnya, ia baru akan mencari Ibunya di Pulau Andalas.
Diam-diam, pemuda itu pun berdoa dalam hati. "Semoga perjalananku selancar ketika aku menuruni Gunung Sumbing."
Declan POV
Allie POVThe skirt was so soft. After years of scratchy, basic scrubs that were dirty more often than not, it was like a cloud touching my legs. I felt so…free. Grandma Gwen—she’d insisted I call her that, though it still felt odd to me—had added another three styles to the pile as we’d walked back to the fitting rooms. It felt excessive, but at the same time, I couldn’t deny that I loved all the options. I loved the idea of having a choice. And every one of the selections she picked had the same loose, soft quality, whether it was winter wear or formal dresses. Somehow, she’d instinctually understood what made me comfortable. Which was far different from what Elara was comfortable in. She had looked badass in the jeans and leather, and one-hundred percent herself. She had a spark in her eye that hadn’t been there when she was simply focused on keeping us alive in that hellhole. I hoped that meant she was starting to heal.I was. I couldn’t point to why it was…easier…for me to com
Gavin POVThe women left with the same energy they came in with, except this time they had Allie and Elara in the middle of them. The girls looked a bit overwhelmed, but I trusted Mom and Grandma to see them through it. They needed a day where they were completely spoiled. And they needed the time with other women, with people who cared about them like daughters. The suite was quiet now that they were gone, and I turned to Ross. “Ready to get to work?”He nodded. “Dimitri and Declan should have updates for us. Let’s get to it.”We met with the group in the conference room we’d designated as a sort of headquarters for the duration of the investigation. Dimitri was setting up the projector while Declan was booting up his laptop. The others were looking through paperwork scattered across the desk. Uncle Gideon looked up when we came in. “The women get off okay?”“I think the idea of shopping with a group of females may have terrified Elara more than being strapped to that torture tabl
Elara POVMorning sunlight stretched across my face. The warmth pulled me out of sleep. I'd left the curtains open when I came to bed last night. I couldn't stand the idea of sleeping in a completely dark room again, and the moon had been full and bright when I finally turned in.I blinked my eyes open, the clean white ceiling coming into view. The soft, plush mattress underneath me still felt unusual, but I could definitely get used to it. For the first time I could remember, I slept through the night and didn't dream.I wasn't entirely sure what that meant. Still, I felt rested, clear-headed. And I was already craving a shower, so I tossed the covers back and headed to the bathroom. I hesitated for a brief second before I turned on the towel warmer, then opened the glass door and started the spray as hot as it would go. I stayed under the stream until my fingers wrinkled and my skin was pink. When I stepped out and wrapped one of the fluffy towels around me, I couldn't help the sm






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasanLebih banyak