LOGINWARNING: This Book Contains Explicit Sexual Content and Adult Language Do you crave hot, wild, and unapologetically erotic tales that leave you breathless and begging for more? If yes, then Lustful Desires (Erotic Shorts) is exactly what you’ve been yearning for. Brace yourself for steamy adventures that will make your heart race, your skin tingle, and your deepest desires come alive. This book is a provocative collection of short erotic stories featuring a wide range of fantasies, forbidden pleasures and dark desires, each chapter is hotter than the last.
View MorePria bersetelan jas serba hitam berkulit putih pucat, berdiri dalam jurang di kedalaman lima puluh meter. Kedua matanya menatap tajam pada seorang wanita paruh baya yang sedang berjuang antara hidup dan mati untuk mengucapkan sesuatu kepadanya.
“Tu-tuan ...” Dengan tersendat wanita itu berusaha menahan derita terjepit di dalam mobil yang terlempar ke jurang sepulang mereka dari berlibur, “aku mohon ... se-selamatkan nyawa Putriku,” isaknya pilu.
Pria berpakaian serba hitam itu hanya mematung dalam tatapannya yang tajam. Mulutnya terkatup rapat. Dia jelas melihat bahwa keluarga kecil ini memang sudah harus dijemput sekitar tujuh menit lalu.
Tapi wanita paruh baya ini menghambat tugasnya. Seorang Ibu yang memiliki kekuatan besar untuk hidup. Apa data yang sudah dibacanya salah? Kenapa wanita ini berhasil menghambat hanya dengan sebuah tekad kuat?
Ada tiga nyawa yang seharusnya dia jemput di sini. Sebuah keluarga kecil yang mengalami kecelakaan tunggal akibat kendaraan yang hilang kendali di tikungan dan terjun bebas ke jurang sedalam lima puluh meter.
Tapi sekarang, si Ibu yang entah memiliki kekuatan apa, bisa melawan kehendak si pencabut nyawa yang tak bisa membawa satu pun nyawa dari mereka bertiga.
“Apa maumu?” Si pria bersetelan jas hitam itu akhirnya membuka suara.
“Selamatkan nyawa Putriku. Jika kau memberinya kesempatan hidup, maka aku akan mempermudah tugasmu untuk membawa nyawa kami berdua,” jelasnya sambil melihat ke arah sang suami yang sudah berlumur darah di balik kemudi dalam posisi mobil yang terbalik.
“Aku tidak bisa menyalahi aturan.”
“Berarti kau tidak akan pernah bisa membawa nyawa satu pun dari kami.”
Si pria bersetelan jas hitam terdiam. Ini adalah tugas terakhirnya sebelum dia mengundurkan diri. Seharusnya berhasil, agar dia dapat dengan mudah berhenti dari pekerjaan yang terasa menyiksa ini.
“Tetap saja hidupnya tidak akan lama. Dia ditakdirkan harus mati di kemudian hari.”
“Tidak masalah. Biarkan dia hidup sejenak, asal jangan mati hari ini,” jawab wanita itu sambil diiringi batuk berdarah, “lebih baik dua nyawa daripada tidak sama sekali, bukan?”
Si pria bersetelan jas hitam kembali terdiam, tapi dia sudah memutuskan.
“Hanya ini permintaan terakhirmu?”
“Ya. Hanya itu. Kuharap, kau lah Malaikat yang kelak menjemput nyawa Putriku kembali. Tolong jaga dia ... terima kasih.”
Pria bersetelan jas hitam itu, mencoret satu nama di dalam daftar miliknya. Membawa dua nyawa bersamanya, meninggalkan satu nyawa yang kembali hidup meski secara akal sehat, gadis itu tidak mungkin selamat dalam keadaan mengenaskan seperti itu.
*****
Delapan bulan kemudian.
“Sampai kapan Anak hilang ingatan itu akan tinggal di sini?” Brandy bertanya dengan dagu menunjuk ke arah gadis yang sedang duduk melamun di tepi jendela, ruang depan.
“Pelankan suaramu, Randy.” Josie memperingatkan.
“Kita baru saja menikah, dan kau sibuk mengurusi keponakanmu itu. Apa tidak ada yang bersedia menampungnya selain kau, sayang?”
“Tidak ada. Semua menolak. Karena harta kekayaan Meda diwariskan seluruhnya ke Panti Asuhan, kerabat yang lain tidak ingin merugi dengan mengeluarkan biaya tambahan untuk seorang gadis hilang ingatan seperti Sia.” Josie ingin sekali mengeluh, tapi dia ingat, bahwa berkat Kakaknya itu—Ibunya Sia, Andromeda—dia bisa menyelesaikan kuliah kedokteran dan menjadi Dokter spesialis seperti sekarang ini.
“Hhh ... aku lelah melihatnya, walau baru tiga hari dia ada di rumah ini.”
“Berhentilah mengeluh. Aku harus berangkat sekarang, karena hari ini shift pagi. Kau bagaimana?” Josie menggeser kursi makan, bersiap dengan mantel Dokternya.
“Aku berangkat nanti, tiga puluh menit lagi. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan dulu.”
“Baiklah, sampai nanti sayang.” Josie mengecup pipi kanan Brandy. Lalu bergegas ke depan, berencana mengajak bicara keponakannya sebentar.
“Hei, Sia. Apa kau ingin jalan-jalan keluar pagi ini?” Josie menyapa si gadis yang segera tersentak dari lamunannya.
“Tidak. Aku di sini saja.” Sia tersenyum kecil. Dia masih asing pada wanita di hadapannya ini.
“Kau boleh memanggilku Sisie seperti dulu kau biasa memanggilku dengan nama itu.”
“Apa dulu, aku tidak pernah memanggilmu dengan sebutan Bibi?”
Josie tertawa pelan. “Tidak. Kau selalu menolak memanggilku dengan sebutan Bibi karena aku terlihat seperti teman bagimu.”
Sia mengangguk, berusaha mengerti tapi tidak ingin menyakiti kepalanya yang tidak bisa mengingat, meski dia berusaha keras semenjak terbangun dari koma selama delapan bulan lamanya.
“Kalau begitu, aku berangkat dulu. Jangan sungkan menghubungiku jika ada yang kau butuhkan. Sampai nanti, Sia.” Josie melambai dan tersenyum.
“Sampai nanti, Sisie.” Sia membalas lambaiannya.
Sia menghembuskan napas ketika deru mesin mobil Josie bergerak menjauh. Sekitar lima menit kemudian, Brandy berteriak minta tolong dari kamarnya.
“Akh! Sia, bisa tolong aku?”
Suara setengah merintih itu membuat Sia bergerak cepat. Dia menuju kamar utama di dekat ruang tengah. Kamar Josie dan Brandy.
Sia ragu, dia mengetuk pintu. “Apa kau baik-baik saja?”
“Masuklah, tolong aku.”
Sia membuka pintu perlahan. Dia tidak pernah mengenal siapa pria itu. Tapi tetap masuk karena khawatir suami Bibinya mengalami cedera.
Benar saja, pria itu tengah merintih sembari memegang kepalanya.
“Apa perlu kuambilkan obat?” Sia masih berdiri, menjaga jarak dari Brandy yang sedang duduk di tepi ranjang.
Brandy tidak menjawab, dia menunggu Sia mendekat padanya.
“Baiklah, akan kuhubungi Sisie sekarang. Dia pasti belum terlalu jauh.”
“Tunggu!” Brandy menarik dengan kuat pergelangan tangan Sia sehingga Sia terjatuh ke atas tubuh Brandy di atas ranjang. “Mau kemana kau?”
Sekelabat cahaya putih menyerang pandangan Sia.
Setelah cahaya menyerupai silau itu menghilang, dia melihat Brandy berlumuran darah, terkapar di lantai dengan kedua mata terbelalak.
Seketika Sia menjerit histeris. Adegan sesaat itu membuatnya ketakutan antara sadar dan tidak.
Saat dia kembali mengerjapkan kedua matanya, Brandy yang terbujur kaku di lantai sudah tidak ada.
“Hei, ada apa?” Brandy berbisik karena merasa senang melihat Sia yang masih betah berada di atas tubuhnya.
“Ah, maaf.” Sia segera berdiri. Melepas tubuhnya dari Brandy yang mendadak mendamba tubuh Sia.
Sia berbalik, mengambil langkah cepat keluar kamar. Tapi Brandy lebih cepat, dia kembali menarik pergelangan tangan Sia.
“Jangan sentuh aku!” teriak Sia ketakutan. Cahaya silau itu kembali menerpa wajah Sia dan menampilkan hal yang sama, Brandy terkapar di lantai.
Sia mulai menangis. Dia berlari ke kamarnya meninggalkan Brandy yang terheran-heran dan bingung karena melihat Sia yang berteriak kencang seperti orang gila.
“Ah, sial!” umpat Brandy sambil membanting pintu.
Setibanya di kamar, Sia mengunci pintu. Menangis ketakutan seorang diri. Apa yang terlihat di depan matanya seolah nyata.
Dia bingung, tapi dia merasa yakin bahwa kini setahap menuju pada dirinya yang sudah tak lagi memiliki kewarasan di dalam kepalanya.
Ini bukan kali pertama. Saat dia terbangun pertama kali dari komanya, Sia bisa melihat jelas beberapa hal buruk di sekitarnya.
Bersambung.
Days turned into weeks, and life began to feel strangely steady. Cade showed up on time. He texted her good morning. He remembered small things, her favorite snack, her annoying habit of humming in the shower, the way she hated silence during dinner.He was showing consistency, something she didn’t realize she’d been craving all along.Then one morning, Zara found a folded note stuck to her door. She frowned, thinking it was another of his dirty jokes.But when she opened it, her breath caught.You used to hate my notes. Now it’s my favorite way to tell you I love you.She pressed the paper to her chest, a small smile tugging at her lips.That evening, she slipped one of her own under his door.You talk too much, you tease too much, you’re impossible. But somehow, I can’t imagine a day without you.When he found it, Cade grinned so wide his cheeks hurt.He kept the note. Then the next one. Then the next. Each one a small piece of her heart left for him to find.Soon, his drawer was fu
Dinner started awkwardly. Her parents asked polite questions, Cade answered carefully, and Zara tried not to die of secondhand embarrassment. But soon, things began to ease.When her father asked about Cade’s work, he spoke openly about his passion for architecture and design, about how he’d learned to rebuild after losing everything years ago. Zara noticed the way her mother’s expression softened as he spoke.“He’s got honesty in his voice,” Mrs. Ahmed whispered later when Cade went to help clear the dishes.“Yeah,” Zara said softly, “he does.”When they finally left, her mother hugged Cade. “You take care of my daughter, young man.”“I plan to,” he said sincerely.In the car, Zara turned to him. “You did great.”Cade smiled. “I think your dad still wants to kill me.”“He probably does. But Mom likes you.”“Then I’ll take that as a win.”She laughed, resting her head against his shoulder as they drove through the quiet streets. “I can’t believe we actually did it.”Cade squeezed her
She laughed. “That’s because you haven’t seen me at my worst.”“I have,” he said. “Remember when you threw your shoe at me?”Zara burst out laughing. “You deserved it!”He grinned. “Maybe. But I still came back for more.”She looked at him, her smile fading into something more tender. “Why do you keep coming back?”He paused, meeting her gaze. "Because when I'm with you, I don't feel broke anymore."Her chest tightened. "Cade..."He reached for her hand, his voice low. "I mean it. I've messed up a lot of things in my life, but you...you make me want to do better."Zara felt tears prick her eyes. "You don't have to be perfect, you know. Just be honest.""I am," he said simply. "All right now, I'm honestly terrified of losing you."She leaned forward, pressing her forehead against his. "Then don't."He kissed her again, and it felt like a promise.The days that followed were some of the happiest Zara could remember. Cade would show up with coffee in the morning, or text her random jokes
Cade came up behind her, wrapping his arms around her waist. “You okay?”She nodded. “I just don’t want this to end.”“Then don’t let it.”“It’s not that simple.”He turned her around gently. “It is if we make it that way.”Zara searched his face, her heart twisting. “I don’t want to lose myself in this.”Cade cupped her face. “You’re not losing yourself, Zara. You’re finding the part you’ve been hiding.”She swallowed hard. “And what about you?”“I already lost myself to you,” he said quietly. “I’m fine with that.”Her breath caught, and before she could reply, he kissed her again. This time, it wasn’t wild or desperate, it was slow, filled with everything they hadn’t said.Outside, lightning flashed, and the sea roared, but inside, it felt like time had stopped.Zara clung to him, realizing that no matter how much she tried to fight it, she was already his.And this time, she didn’t want to run anymore.By the time they drove back to the city, the tension that had once existed betwe


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews