登入“Kabarnya Pak Fajar sudah cerai ya sama istrinya?” rumpi seorang pegawai saat makan siang di warung makan depan kantor baru. Di kantor tak ada kantin. Saat itu beberapa karyawan Fajar sedang makan siang bersama.
“Lalu kalau sudah cerai, kamu mau deketin dia begitu? Berharap jadi nyonya besar?” tanya karyawan kedua.
“Why not? Bisa saja kan kita memperbaiki taraf hidup?” jawab karyawan pertama tadi.
“Enggak usah mimpi ketin
“Sebaiknya kamu pulang Jang, ambil semua barang tetehmu, nanti kita langsung ketemu di Rumah Sakit Jakarta saja. Kalau bisa bawa Zahran ke rumah Jakarta, sehingga kita tidak sulit ketemu dia. Nanti sesekali Zahran bisa aku tengok atau dibawa ke rumah sakit untuk bertemu dengan mommynya. Mungkin kita bisa lihat di parkiran. Yang penting dia tidak dibawa masuk ke ruang rawat,” Nayaka langsung mengambil alih kepemimpinan agar semua berjalan baik.Dalam kondisi seperti ini memang harus ada yang bisa membuat keputusan, saat yang lain blank.“Benar, sebaiknya kami pulang saja,” jawab Lastyanto.“Nanti biar Bapak dan ambu juga ikut ke Jakarta. Kami juga harus packing dulu tentunya,” ucap lelaki itu memutuskan. Dia tak mau putrinya menghadapi kesulitan ini sendiri.“Kalau begitu kami pulang dulu Bang. Kita langsung bertemu di Jakarta saja. Saya akan taruh Zahran di rumah dulu baru ke rumah sakit ya,” ucap Ujang.“Kamu bawa mobil tetehmu,” ucap Lastyanto pada Ujang. Dia tahu Nisha akan bersama
“Teteh minum dulu, ini teh panasnya. Jangan sampai perut Teteh kosong. Nanti bisa bahaya,” Ujang memberikan teh hangat yang dia beli barusan.“Bagaimana kondisinya?” tanya seorang lelaki gagah saat tiba di IGD. Nisha mengangkat wajahnya mendengar suara itu suara yang dia hafal.“Bapak, ini Abang Yaka. Dia teman kami di Singapura dan buat Naffa dia adalah daddynya,” Ujang memperkenalkan Nayaka kepada bapaknya. Dengan takzim Nayaka langsung memberi salam pada orang tua tersebut.“Kapan kamu datang dari Singapura? Kok tiba-tiba sudah bisa di sini?” tanya Lastyanto.“Saya datang kemarin pagi Pak, saya cari ke rumahnya, kata orang rumah anak-anak belum kembali dari Singapura. Makanya saya bingung. Saya tidak tahu alamat di Banten sehingga saya hanya menunggu kabar dari Ujang saja. Dua jam lalu Ujang mengabari bahwa Naffa kecelakaan,” jawab Yaka.“Maaf saya bertemu dengan Shasi dulu,
”Ambu, tolong bilang ke bapak dan Ujang. Kasih tahu kondisi Naffa saat ini,” pinta Nisha lirih.Tanpa disuruh dua kali Raihana langsung menghubungi suaminya.Lastyanto yang sedang menunggu Ujang membaca berkas, menerima telepon itu di luar ruang tamu rumah ibu notaris yang mereka datangi.Tentu saja Lastyanto tak percaya saat ini Raihana dan Nisha sedang membawa Naffa ke rumah sakit. Yang menyetir memang Nisha. Raihana memangku Naffa yang sudah tak sadarkan diri akibat tertabrak motor. Itu sebabnya yang menelepon Raihana.≈≈≈≈≈“Jangmaaf sepertinya kamu harus cepat-cepat tanda tangan,” ucap Lastyanto ketika masuk kembali.“Kenapa Pak?” tanya Ujang.“Naffaketabrak dan saat ini dia sedang dibawa Nisha ke rumah sakit,” ucap kakeknya Naffa dengan lirih. Dia memikirkan cobaan yang kembali mendera Nisha.“Kalau begitu kita sudahi saja dulu Bu,” kata Ujang pada notaris yang mereka datangi.“Baik …. baik, seles
Ujang dan Lastyanto memang datang ke rumah notarisnya bukan hari kerja. Mereka datang hari Sabtu dan hari Minggu karena baru semalam Ujang datang dari Singapore.Besok mereka tetap harus datang hari Senin tapi Ujang akan minta hari ini selesai tanda tangan jadi besok biar bapaknya saja yang urus ke kantor notaris saat hari Senin. Dia kasihan sama Naffa dan Zahran yang sudah dua minggu tidak sekolah walau sebelumnya memang Naffa juga beberapa kali tidak masuk karena dia tidak suka dengan lingkungan teman-temannya.Naffa merasa sekolah itu berarti akan bertemu Menik. Walau sudah diberitahu bahwa dia sudah pindah sekolah, tidak satu sekolah dengan Menik lagi, tetapi dalam benak Naffa sekolah itu identik dengan Menik. identik dengan perebut ayahnya!”Itu sebabnya Ujang ingin selalu membantu kakaknya, jangan sampai kakaknya merasa sendirian menghadapi kesulitan hidupnya saat ini.≈≈≈≈≈Ujang
“Jang, besok pagi kita sarapan, lalu beli koper dan mainan anak-anak serta tambahan oleh-oleh untuk mamah, ambu dan bapak. Lalu kita packing dan langsung pulang ke Banten,” malam menjelang tidur Nisha memberitahu rencana perjalanan mereka besok.Ujang tak kaget. Dia sudah bisa menduga sejak malam tetehnya bicara dengan Yaka, sikap tetehnya tambah berubah. Awalnya sejak kakak perempuannya itu tahu kalau Yaka pemilik banyak usaha selain perusahaan yang dia bela kasusnya.“Iya Teh,” sahut Ujang. Dia tahu tak boleh memberitahu Yaka apa pun yang terjadi. ≈≈≈≈≈“Daddy!” panggil Naffa ketika mereka masuk ruang makan hotel untuk sarapan. Dia lihat sang daddy sudah lebih dulu di sana. Sedang makan kwetiauw dengan sedikit kuah dan irisan ayam merah.“Hai, kalian baru turun mau sarapan,” sapa Yaka tersenyum manis.“Iya, mommy bilang habis sarapan kami mau beli mainan dan oleh-oleh untuk enin,” balas Naffa antusias. Untung Nisha tak menyebutkan habis itu mereka akan pulang ke Banten.“Daddy engg
Yang ajaib adalah Zahran belum selesai mengunyah, dia sudah tertidur di sofa di depan TV.“Adek … Adek, telan dulu makanannya, baru bobo,” kata Ujang menepuk pipi keponakannya pelan, agar makanan di dalam mulutnya ditelan dulu. nanti bisa tersedak malah lebih bahaya.Dengan malas Zahran mengunyah sedikit, lalu menelan makanan yang ada dalam mulutnya. Kemudian anak itu melanjutkan tidurnya.Tak lama Naffa pun juga ikut tertidur di sofa. Mereka benar-benar lelah.“Wah bagus tadi Bang Yaka bilang kita nggak usah keluar karena dia akan makan di sini bersama kita. Kalau kita keluar kayak apa coba anak-anak terlalu capek kayak begini,” kata Nisha. Dia bahagia anak-anaknya sehat.“Nanti pas makanan datang saja mereka baru dibangunkan, tapi nggak dibangunin juga nggak apa-apa lah Teh, mereka sudah kenyang kok,” kata Ujang sambil tersenyum melihat video yang dia buat sejak Zahran makan dimsum, Naffa menegur Zahran
“Selamat pagi,” sapa Nisha ketika bertemu Nayaka di lobby pengadilan tempat mereka akan bersidang. Naffa dan Zahran berlari memeluk papa Yaka mereka.Nayaka menciumi kedua anak Nisha, setelah mereka puas dia ciumi baru dia menerima salim kedua anak itu. Nayaka memeluk Naffa erat.“Ini baby sitterny
Fajar makan dengan malas, tapi dia tak mau sakit sehingga memaksakan diri makan malam. Fajar memandang dinding rumahnya. Rumah yang dia beli, walau sewa paviliun dekat kantor dia bayar enam bulan, tapi ketika dia sudah membeli rumah ini, dia langsung pindah dan mengisinya sedikit-sedikit.
Nayaka memperhatikan kedua anak Nisha, dia menanyakan apa mereka suka makan di tempat tinggi ini. Dia tunjukkan kota Singapore di waktu malam.“Tapi di sini ada sate kok, kalian kalau mau menu kambing juga ada sop iga kambing atau iga sapi ada,” ujar Nayaka saat ingat ada masak
“Teteh ini nggak salah fasilitas yang dia kasih buat lawyernya? Dari tiket pesawat saja sudah bukan yang kelas ekonomi, hotelnya kayak begini. Seberapa besar sih usahanya dia? Belum lagi bayaran Teteh yang dia iya-in tanpa tawar padahal Teteh sengaja sudah kasih nominal jauh diluar angka bi







