LOGINNayaka mahir memainkan sumpit. Dia membolak-balik ikan, udang. cumi, ayam serta slice daging untuk dibakar.
“Ih enggak. Biar aku ambil sendiri,” tolak Nisha sambil menggeleng.
“Sudah buka mulutmu. Di sini nggak ada orang lain,” Nayaka tak menerima penolakan Nisha.
Mau tak mau Nisha membuka mulutnya, disuapi cumi yang habis dibakar oleh Nayaka.
“Sausnya enak. Kamu pintar meraciknya,” puji Nisha. Nayaka meracik sendiri saos yang te
“Apa kamu menyebutkan itu dan dia merasa kecewa?” cecar Nayaka. Sehabis bicara dengan profesor Sihombing, Yaka sengaja mencari info apa yang terjadi siang tadi sehingga Shasi menjauhinya.“Sepertinya begitu Bang. Dia merasa kecewa karena tidak tahu jati diri Abang siapa,” ucap Naura. Dia menyesal mengatakan apa yang selama ini ditutupi oleh Yaka.“Kamu kan tahu dia itu tidak silau sama harta. Aku yakin setelah dia tahu bahwa aku pemilik hotel ini dan hotel yang lain, aku pemilik tiga tambang batu bara dan dua perusahaan dia akan mundur!”“Aku yakin itu!”“Dia tidak seperti perempuan lain yang malah maju begitu mengetahui siapa diriku. Aku yakin dia akan mundur dan kamu yang bikin gara-gara!” ucap Nayaka marah bercampur sedih.***“Kamu kenapa sedih begitu?” tanya Ilham pada Naura sehabis Naura bicara dengan abang kembarnya.“Aku telah salah ucap saat tadi bicara pada Shasi,” sesal Naura.“Maksu
“Aku nggak mengerti apa yang kamu katakan, tapi aku tahu kalian sedang membicarakan aku,” ucap Nayaka.“Benar. Kami memang sedang membicarakan Abang. Kami bilang sangat berterima kasih karena Abang bisa membuat anak-anak tertawa,” jawab Ujang dengan cepat.“Ya, itu yang kami sedang bicarakan. Kami bahagia melihat Zahran dan Naffa tertawa bahagia,” Nisha melengkapi apa yang Ujang katakan.“Aku tetap nggak percaya. Kalau kalian membicarakan seperti yang kalian katakan, mungkin nggak menggunakan bahasa yang aku nggak mengerti. Itu bahasa dari daerah mana?”“Itu sama saja dengan kamu bicara dengan Naura, sesekali kamu masih menggunakan bahasamu yang walaupun bahasa Melayu, kadang aku nggak mengerti juga. Ada beberapa kata yang nggak aku mengerti. Di rumah kami kebiasaan menggunakan bahasa Sunda, sehingga ya otomatis kalau kamu berdua bicara pasti pakai bahasa Sunda,” jawab Nisha.Ujang l
“Hari ini kita ke kita ke Science Centre Singapore ya,” ajak Naura.“Biar anak-anak puas bermain di sana satu harian, jadi tidak ke banyak tempat. Next kita ke tempat lain lagi, seperti itu. Jangan satu hari kita jadikan mereka dua atau tiga tempat wisata. Bikin mereka tak nyaman.”“Aku ikut saja. Aku malah senang ada turis guide gratis. Padahal tadinya aku dan Ujang sudah cari-cari lokasi mana yang akan baik buat anak-anak,” jawab Nisha.“Kamu mau ke mana?” tanya Ilham. “Aku ngebayangin bawa anak anak ke S.E.A. Aquarium Sentosa dan Adventure Cove Water park, Singapore Zoo serta Jurong Bird Park,” jawab Nisha.“Kalau begitu besok kita ke SEA dan Aquarium Sentosa dan Adventure karena kan mereka berdekatan. Lalu setelah kalian selesai sidang, besoknya kita ke Singapore Zoo dan lusanya kita ke Jurong Bird Park. Jadi kamu tidak bisa langsung pulang sehabis sidang nanti,” Naura menyarankan Nisha tunda kepulangannya ke Jakarta.“Memang rencananya seperti itu. Aku dan Ujang memang tidak
“Ya sudah yuk, kita sarapan. Itu anak-anak sudah kembali, artinya meja ini bisa mereka duduki dan kita gantian ambil sarapan,” ajak Nayaka. Dia masih tak percaya luka yang Naffa alami. Dia pikir Naffa hanya sedih akibat berpisah dengan ayahnya saja. Nayaka akan bertanya hal selengkapnya pada profesor Sihombing, orang yang pasti tahu keseluruhan kisruh rumah tangga Nisha. Sebagai pembela Nisha tentu harus tahu detail perkara yang ditangani.Nayaka ingat, informannya bilang soal Naffa yang sakit dan harus ditangani oleh dokter jiwa, tapi dia tak pernah berpikir penyebabnya. Dia pikir informannya salah info.“Kamu kan langsung makan berat, makan bareng anak-anak saja, aku hanya akan ngopi,” jawab Nisha sambil mulai berdiri menuju meja kopi dan roti.“Enggak, aku sama dengan kamu saja. Aku akan ngopi dulu, jadi nanti saat kamu makan, aku juga ikutan makan,” jawab Yaka.“Terserahlah,” jawab Nisha. Dia
“Daddy!” teriak Zahran ketika Ujang membuka pintu saat Nayaka datang untuk mengajak mereka semua sarapan. Ujang baru mendengar panggilan daddy yang mereka diskusikan tadi malam. Ternyata memang anak-anak lebih senang memanggil Nayaka dengan sebutan daddy karena membuat mereka mempunyai nilai lebih daripada keponakan seperti Rean dan Asya.Nayaka langsung berdiri di lututnya untuk menerima Zahran yang berlari memeluknya.Saat itu Naffa belum bisa langsung berlari menghampiri Nayaka karena dia sedang dibantu untuk diikat rambutnya oleh Nisha.Nisha mengikat rambut Naffa sebab hari ini takutnya anak-anak bergerak bebas sehingga nanti kepanasan bila rambutnya tidak diikat.“Bukan teriak seperti itu, tapi salim dulu kan?” kata Nayaka. Dia ingat kedua anak Nisha itu selalu diajarkan salim lebih dulu.Zahran tersenyum. Dia langsung mengambil tangan Nayaka menciumnya serta mengucap, “Assalamu'alaykum. I love you, Daddy
“Kalau panggilanku papa Yaka, mereka statusnya sama dengan Rean dan Asya. Sedang buat Naffa aku bukan pamannya. Jadi wajar dong dia panggil DADDY, pada daddynya sendiri,” jawab Nayaka tenang.“Awas ya sampai menyakiti hati putriku. Aku gantung kamu!” ancam Nisha geram. Naura yang mendengar itu tersenyum simpul. Dia tahu Nayaka tidak akan mungkin meninggalkan Naffa karena dia memang mencintai Nisha sebelum mereka bertemu.“Kan aku bilang, aku dan anak-anak win-win solution.Anak-anak punya daddy, aku punya anak. Kalau bundanya nggak mau ya sudah nggak apa-apa. Tapi semoga bundanya mau jadi MOMMY.”“Iiiiiih,” jawab Nisha dia langsung masuk ke kamar tempat anak-anak mandi.Nisha membereskan pakaian anak-anak, dipisah pakaian kotor dan bersih. Ternyata Naura tidak hanya beli satu setel pakaian untuk tidur, tapi banyak model dan banyak warna. Terlebih untuk Zahran. Sangat banyak baju y
“Selamat pagi,” sapa Nisha pada Nayaka dan beberapa orang tim atau pegawainya yang hari itu ikut ke pengadilan untuk persidangan yang Nisha bela. Nisha terlihat fresh dengan kemeja casual bertangan 3/empat atau di bawah siku, berwarna cream salur dan rok span di bawah lutut berw
“Tidak, putri saya tidak menginap di sini. Dia kan punya anak dua. Pagi-pagi tentu sibuk meladeni mereka bersiap sekolah. Mungkin sebentar lagi menantu saya yang ke sini menjemput saya sehabis dia mengantar anak-anak sekolah.”“Mengapa Ibu tidak tinggal bersama mereka?&rd
‘Ibunda ratu sudah di hotel!’itu pesan yang baru saja Nayaka terima dari Naura. Tentu saja dia keki karena dia sudah meninggalkan hotel menuju bandara. Kalau tahu begitu kan tadi dia nggak perlu menuju ke arah bandara! Sekarang dia harus mencari jalan keluar untuk memut
“Aku rasa untuk sidang pertama besok aku siap, semoga sidang berikutnya waktunya lebih fleksibel. Aku kalau harus pulang pergi terus rasanya tidak enak karena kamu terlalu besar beban biayanya. Aku ingin sidang marathon langsung selesai, beres. Besok aku akan usulkan pada hakim ketuanya biar bisa m







