LOGIN“Iya. Lidah mereka kasar sekali,” rintih Aurin sembari meringis menahan perih, tangannya refleks mencengkeram lengan sofa. “Perih rasanya.”
“Kasar?” Rayden melangkah mendekat, keningnya berkerut heran. “Apa tidak selembut lidahku saat menghisap dadamu?” Spontan, Aurin lmendelik tajam mendengar celotehan Rayden yang sama sekali tidak penting itu. Wajahnya seketika memerah, antara menahan perih dan malu yang bercampur aduk. “Ini suasa“Iya. Lidah mereka kasar sekali,” rintih Aurin sembari meringis menahan perih, tangannya refleks mencengkeram lengan sofa. “Perih rasanya.” “Kasar?” Rayden melangkah mendekat, keningnya berkerut heran. “Apa tidak selembut lidahku saat menghisap dadamu?” Spontan, Aurin lmendelik tajam mendengar celotehan Rayden yang sama sekali tidak penting itu. Wajahnya seketika memerah, antara menahan perih dan malu yang bercampur aduk. “Ini suasana rumah sakit! Jangan bicara sembarangan!” bisiknya setengah mendesis, melirik cemas ke arah pintu kalau-kalau ada suster yang tiba-tiba masuk dan mendengar percakapan konyol mereka. “Saya bertanya serius. Apa salahnya? Bukankah biasanya kamu keenakan saat saya menghisap dada kamu?” sahut Rayden dengan wajah datar tanpa dosa, seolah kalimat tabu itu hanyalah pertanyaan bisnis biasa. “Salah! Pertanyaanmu tidak berfaedah! Jangan membahas hisap-menghisap di
Waktu berjalan begitu cepat di lingkungan rumah sakit yang serba steril. Selama empat belas hari itu pula, rutinitas Rayden dan Aurin sepenuhnya tersedot di ruang NICU. Perjuangan mengantar stok ASI setiap beberapa jam sekali, melakukan metode kanguru, dan doa-doa yang tak putus mereka panjatkan akhirnya membuahkan hasil yang manis.Pagi itu, dokter spesialis anak yang menangani Triplets datang menghampiri Rayden dan Aurin yang sedang berdiri di depan inkubator ruang NICU. Dokter tersebut membawa selembar papan rekam medis dengan senyum cerah yang terulas di wajahnya, lalu mulai menjelaskan perkembangan ketiga bayi kembar mereka.“Tuan, Nyonya, kondisi Triplets jauh lebih baik. Berat badan mereka sekarang sudah naik masing-masing 400 gram. Detak jantung dan tekanan darah juga sudah stabil. Kalau mereka bisa bernapas tanpa ventilator, besok siang kami sudah bisa melepas seluruh peralatan medis ini dari tubuh mereka.”“Benarkah, Dok?” Rayden bertanya demikian hanya untuk memastikan. I
“Yakin hanya mau tiga anak?” tanya Aurin dengan nada setengah menggoda, meskipun guratan lelah masih tercetak jelas di wajah cantiknya.“Melihat perjuanganmu seberat ini, saya yakin hanya mereka saja.” Rayden menimpali tanpa keraguan sedikit pun.Matanya menatap lekat ke arah Aurin, menyampaikan seluruh rasa bersalah sekaligus kagum yang membuncah di dadanya sejak kemarin. “Bagi saya, melihat kamu bertaruh nyawa di ruang operasi sudah lebih dari cukup untuk membuat jantung saya berhenti berdetak. Tiga malaikat kecil yang kini hadir di antara kita sudah sangat melengkapi hidup saya. Saya tidak akan sanggup jika harus melihat kamu melewati proses kritis itu sekali lagi.”“Terima kasih, Rayden.” Aurin ikut tersenyum tipis. Benar, mengandung dan melahirkan taruhannya adalah nyawa. Tiga anak ini baginya juga sudah lebih dari cukup, mengingat bagaimana ia harus berjuang melewati masa-masa kehamilan yang berat hingga operasi caesar yang menegangkan demi menyelamatkan nyawa si kembar tiga.
“Anak saya menangis! Bagaimana ini? Apa dia tidak nyaman? Atau infusannya menusuk terlalu dalam? Atau kau tadi mencubitnya?” Suster itu terkejut, tubuhnya tegang begitu dicecar oleh Rayden. “Hah?” "Kamu apakan anak saya tadi sampai dia menangis seperti ini?” Rayden terus mendesak. Bayi-bayi ini mulai rewel dan ia takut, selang-selang di tubuhnya, pun jarum infus di tangan mungil itu menyakiti mereka. Sang perawat hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar hal tersebut. “Tuan, kalau menangis itu wajar bagi bayi yang baru lahir. Itu adalah cara mereka berkomunikasi dengan dunia luar,” jelas perawat itu dengan senyum sabar, berusaha meredakan kepanikan berlebih dari ayah baru di hadapannya. “Tapi tangisannya terdengar tidak nyaman, Sus! Bagaimana kalau mereka kesakitan?” cecar Rayden lagi, matanya bergerak gelisah menatap Reinhard yang berada di atas dada bidangnya. Napas pria itu memburu, dan tubuh tegapnya mendadak kaku bak patung. Dia takut gerakan sekecil apa pun akan memper
“Tuan, ada yang salah?” tanya perawat itu lembut, menyadari perubahan ekspresi di wajah Rayden yang tiba-tiba tak seantusias tadi. Setelah mendekat ke arah inkubator, rasa ragu memang mendadak merayap di hati Rayden. Ia menatap lekat-lekat bayi mungil di dalamnya yang tampak begitu lemah dan rapuh di bawah sorotan lampu medis. Ada ketakutan besar yang tiba-tiba melumpuhkan keberaniannya. “Saya takut, Sus,” beritahu Rayden jujur. “Apa ini pengalaman pertama Anda?” perawat itu kembali bertanya dengan nada yang sangat menenangkan, sama sekali tidak menghakimi. Rayden mengangguk gugup. “Benar. Saya baru pertama kali memegang bayi. Bayi prematur pula.” “Tidak apa, Tuan. Itu hal yang wajar bagi setiap orang tua baru. Mari, saya akan ajarkan Anda dan Nyonya step by step-nya,” ucap perawat itu meyakinkan, sembari memberikan gestur agar Rayden tidak perlu cemas. Sebelum memulai, Rayden memandang istrinya lama sekali. Di atas kursi rodanya, Aurin balik menatap Rayden dengan pandangan
“Kuno?” Rayden mengernyitkan alis, tidak terima dengan julukan itu di tengah situasi genting seperti ini. “Kuno bagaimana maksudmu, Ko?”“Ya memang kuno. Kamu itu cerdas, tapi di saat-saat tertentu kamu mendadak bodoh,” sahut Ken santai sembari melipat kedua tangan di dada. “Dengar, Rayden! Tes DNA tidak perlu pakai darah bayi-bayimu yang masih sekecil itu. Hanya menggunakan tali pusar atau bahkan sampel usap pipi bagian dalam saja sudah cukup dan sama sekali tidak menyakiti mereka.”Rayden tertegun. Ketegangan di pundaknya sedikit mengendur mendengar penjelasan Ken yang begitu tenang. “Oh ... jadi, menunggu tali pusar mereka kering dulu?” tanya Rayden, memastikan info yang baru saja didengarnya.“Benar. Setelah tali pusarnya lepas dan mengering, sampel itu bisa langsung diserahkan ke lab tanpa harus mengganggu kenyamanan si kembar yang sedang berada di inkubator,” jelas Ken dengan anggukan mantap. “Jadi, jangan takut, karena Triplets tidak akan disakiti.”Mendengar hal itu, helaan na
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
Aurin menahan nafas dengan tangan gemetar saat memegang gagang pintu dengan gerakan yang sangat lambat. Ia hanya ingin segera keluar dari kamar yang masih kental dengan aroma gairah dan dosa itu sebelum Rayden terbangun. Namun, baru saja pintu kamar itu sedikit terbuka dan celah cahaya dari kori
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Apa itu artinya ... kamu tidak mencintaiku lagi dan memilih merelakanku untuk wanita lain?”Rayden terpaku. Ketegangan di antara mereka benar-benar terasa menyesakkan dada. Satu pemikiran pahit menyelinap dalam benak, membuatnya melontarkan pertanyaan yang paling ia takuti itu.







