LOGIN“Apa kubongkar saja semuanya pada Tuan Rayden?”
Aurin masih terngiang tentang ucapan Dea malam tadi.Bahkan sampai pagi ini, tangan Aurin mengepal di samping tubuh. Ada bagian dalam dirinya yang retak lagi. Tapi retak kali ini berubah menjadi tekad dingin yang membara.“Baiklah. Kalau Nyonya tidak bisa menghargai dan selalu memojokkanku, aku akan melakukan satu hal yang membuat posisiku tak tergoyahkan.”Aurin akan mengambil perhatian Rayden sepenuhnya. De“Apa? Dia sudah ada di Indonesia? Bagaimana bisa dia meninggalkanku seperti ini?”Di tempat lain, suasana hati Dea benar-benar hancur. Ia muring-muring alias marah-marah tidak karuan. Kata marahnya ya luapkan pada salah satu anak buah suaminya yang kebetulan memang tinggal di Singapura ini, pria itu ditugaskan untuk mengawasi proyek yang ada di sini.*Mohon maaf, Nyonya. Tuan mengira setelah Anda marah dan pergi ke bandara bersama Aurin, Anda memutuskan langsung terbang pulang. Jadi, beliau juga melakukan hal yang sama untuk segera menyusul Anda. Beliau khawatir pada Anda, Nyonya,” jawab anak buah itu dengan kepala tertunduk. Ia berusaha menahan rasa sakit meskipun Dea sejak tadi menamparnya tanpa henti.“Astaga! Kenapa bodoh sekali dia langsung pergi begitu saja tanpa tanya padaku lebih dulu.”Mata anak buah itu memicing. “Maaf, Nyonya. Kata beliau, Anda tidak menghubunginya kalau Anda kembali ke hotel lagi. Apa benar?”Dea terdiam sejenak, merasa gelagapan karena itu memang benar.
“Hasilnya USG-nya dua kembar identik, dan satu tidak kembar. Yang tidak kembar berjenis kelamin perempuan.”Rita melepaskan tautan tangannya dari Rayden. Ia sangat terkejut dengan pernyataan itu, pun sangat penasaran dengan bayi kembar identik itu.Pertanyaannya yang terlontar amat menekan, “Perempuan? Lalu … bagaimana dengan dua bayi lainnya … yang kembar identik? Apakah … laki-laki?” harapnya.Rayden menggeleng. Dan saat itu pula, harapan Rita pupus. Wanita itu memegangi dadanya … lalu pingsan.Usai sang ibu pingsan, Rayden memutar bola mata jengah. “Drama Queen!” katanya.Tanpa membuang waktu lagi, ia memberi isyarat pada kedua anak buahnya yang menerobos masuk dan bertanya, “Ada apa, Tuan?”“Bawa ke kamar tamu.” Rayden memerintah singkat.Setelah sang anak buah membawa wanita itu ke kamar tamu, Rayden melangkah ke dapur—berniat mengambil air dingin untuk mendinginkan kepalanya.Di sana, ia melihat Aurin sedang berjalan tergesa ke arahnya sambil memperbaiki sweater oversize merah
“Kamu menggebrak pintu seolah-olah kamu sedang mengkhawatirkan pembantumu itu.” Rita menginterogasi, matanya setajam silet. “Ada apa sebenarnya? Kamu bilang ‘jangan seperti ini pada saya’ saat memanggil Aurin. Itu artinya … kamu khawatir padanya, ‘kan?” Rayden bukan pria yang bodoh. Ia memiliki self control yang sangat kuat dan tidak akan membiarkan ibunya mencurigai apapun mengenai perasaannya terhadap Aurin. Dengan wajah yang sangat datar, ia segera memutar otak dan memberikan alasan yang logis, “Aku tidak mengkhawatirkannya. Aku justru sedang mengkhawatirkan istriku,” tegas Rayden. Rita tak percaya. “Dea? Kenapa dengan dia?” Rayden mengembus panjang, seolah-olah ia lelah dengan sikap Dea seperti biasanya. Ia tunjukkan raut kesal itu pada mamanya. “Tadi, kami sempat bertengkar hebat hanya karena strolle. Dea marah besar sampai dia nekat pergi ke bandara dan menyeret Aurin untuk pulang ketik itu juga. Tapi, satu jam kemudian, anak buahku yang menyusul ke bandara melapor
Setelah menunggu selama 2 jam lebih, akhirnya jet pribadi milik Rayden lepas landas membelah langit Singapura yang saat itu sudah petang.Namun, ketinggian puluhan ribu kaki itu tidak sedikitpun memberi ketenangan bagi nya. Kabar terbaru dari anak buahnya yang berada di rumah terus mengusik pikiran. Katanya, Aurin masih mual dan beberapa kali muntah. Itulah yang membuat Rayden tidak tenang. Rayden lantas menatap nanar nomor Dokter Ken yang memang ia miliki sejak beberapa hari yang lalu. Jemarinya gatal sekali ingin memencet icon telepon genggam untuk memanggil pria itu. Ia ingin menurut penjelasan sejauh mana mabuk udara itu menyiksa ibu dari calon anak-anaknya. Sayangnya, ego dan logika segera mengambil alih. Ia menahan diri dan berusaha sabar, sebab ia belum ingin melibatkan Ken lebih jauh ke dalam urusan pribadinya saat itu. Selama 2 jam lebih sekian menit, keresahan itu ia pendam rapat-rapat dalam hatinya. Ia biarkan membusuk menjadi amarah yang siap meledak hingga roda pesa
“Pulang!” potong Rayden cepat. Hatinya tidak tenang sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri Aurin benar-benar sehat. “Saya harus memastikan triplets aman. Baru saya bisa tenang.”Rega terbelalak, ia melangkah lebar menyamai langkah sang tuan. Bukan masalah mereka kembali ke Indonesia sekarang, ada jet pribadi, dan mereka tak perlu bingung soal tiket. Tapi yang jadi masalah, bagaimana kalau Dea mengamuk lagi karena ditinggal sendiri di sini?“Lalu, bagaimana dengan Nyonya Dea, Tuan? Beliau sudah menunggu di hotel dan—”“Apa peduli saya?” tanggap Rayden cepat. “Dia yang marah, dia sendiri yang nekat ingin pulang sendiri, dan dia juga yang ingin kembali ke hotel tanpa memberitahu saya. Jadi kalau saya tinggal dia di sini sendiri, bukan salah saya, ‘kan?”Rega membenarkan itu. Jadi, ia segera menghubungi pihak bandara agar jet pribadi tuannya bersiap.Saat perjalanan menuju ke bandara, Rayden menimbang-nimbang ponselnya. Dia ingin menghubungi sang anak buah, meminta mereka membaw
“Mengapa Anda bersama asisten rumah tangga Tuan saya, Dokter?”Dua jam kemudian, mereka mendarat dengan mulus di bandara. Aurin, yang masih pusing dan mual, langsung dipapah oleh kakak kandungnya, Ken.Namun, baru saja melangkah keluar dari lobby bandara, langkah mereka terhenti. Dua pria berbadan tegap dengan wajah sangar, datar dan juga dingin langsung menghadang di depan—menghalangi langkah mereka. Dua orang tersebut telah menatap sengit, sehingga membuat Aurin menelan ludah dengan susah payah. Ia mengenali mereka, jelas ini anak buah Rayden yang pasti curiga melihatnya bersama pria asing.Sebenarnya, mulut Aurin terbuka untuk menjelaskan. Namun, Ken lebih cepat bertindak. Ucapan Aurin tertahan di ujung lidah saat kakak kandungnya itu bicara lebih dulu.“Saya kebetulan satu pesawat dengannya. Tadi, dia hampir pingsan di pesawat, saya hanya membantunya,” potong Ken datar, dingin, tapi tatapannya menusuk pada dua pria itu.Dua pria itu saling bertukar pandang, kedua alis mereka tera
Langkah Aurin mendadak tertahan di ambang pintu. Di hadapannya, berdiri Rita Wisesa—ibunya Rayden. Meski belum pernah bertemu Rita sebelumnya, tapi Aurin pernah melihat sosok wanita ini ada di foto dekat ruang keluarga. Ia pun menebak demikian.“Mengapa wajahmu merah?” tanya wanita itu s
“Sssssh. Bagaimana ini?” Seketika, rasa panik menyerang Aurin. Ia terpaku menatap cairan hangat berwarna putih kemerahan kental yang mengalir di paha dalamnya dengan perasaan takut membuncah. Benaknya pun langsung dipenuhi dengan pikiran buruk. Bagaimana jika benih R
“Mengapa tubuhku berkhianat?” Mulanya, Aurin menolak. Tapi lama kelamaan, mengalami tubuhnya semakin menginginkan? Pada saat yang sama, keduanya dilingkupi kabut gairah yang terasa makin tebal di ruangan itu. Rayden membalikkan posisi Aurin menjadi di atas. Dengan napas yang memburu di ceruk
“Bagaimana? Laki-laki atau perempuan?” Aurin menggigit bibir bawahnya di balik tembok ketika diperiksa oleh Ken. Hari ini, adalah minggu ketujuh kehamilannya, ia sedang melakukan USG yang kedua di klinik milik Ken. Beruntung, embrio dalam kantong kehamilannya berkembang seperti harapannya. T







