LOGINGhea Paramita baru saja mengakui kehamilannya kepada Arishen Mahendra. Tanpa membuang waktu, sang CEO langsung membawanya ke Kantor Catatan Sipil hari itu juga. Malamnya, Ghea resmi pindah ke mansion mewah milik keluarga Mahendra yang luasnya lebih dari 1.000 meter persegi. Sebagai sekretaris utama, Ghea sangat mengenal tabiat bosnya. Ia sadar betul bahwa di dunia bisnis Arishen, tidak ada yang namanya makan siang gratis. "Setelah anak ini lahir, kita akan bercerai. Hak asuh sepenuhnya ada di tangan saya," ucap Arishen dingin. Ghea, yang saat itu berada dalam posisi sulit, sadar ia tak punya kekuatan untuk melawan dominasi sang CEO. Ia tahu Arishen tidak akan pernah melepaskan darah dagingnya, jadi ia hanya bisa mengangguk setuju. Namun, seiring pertumbuhan bayi di kandungannya, sikap CEO Mahendra itu berubah drastis dari hari ke hari: Bulan Pertama: "Sekretaris Ghea, jangan lupa jadwal pemeriksaan kandungan bulan ini. Minta seseorang menemani Anda." Bulan Ketiga: "Ghea, tanggal berapa jadwal kontrolmu bulan ini? Kabari saya, jangan sampai lupa." Bulan Keenam: "Ghea, aku sendiri yang akan menemanimu ke dokter tanggal 15 nanti." Menjelang Persalinan: "Sayang, aku sudah siapkan semua kebutuhan untuk pemeriksaan besok. Kamu tidak perlu khawatir apa pun." Saat Arishen pertama kali merasakan gerakan bayi dalam perut Ghea, ekspresi gembira dan haru di wajah sang CEO yang biasanya kaku membuat Ghea merasa sedikit konyol. Arishen kemudian menatap Ghea dalam-dalam dan berkata, "Istriku, jangan pernah berpikir soal cerai lagi. Kamu boleh mengasuh anak kita, asalkan aku juga tetap bisa bersamamu."
View MoreGhea Paramita berdiri mematung di depan pintu kayu mahoni besar yang menuju ke ruang kerja CEO. Di tangannya, sebuah map putih terasa seberat bongkahan batu. Telapak tangannya berkeringat, membuat kertas di dalam map itu sedikit lembap. Berkali-kali ia merapikan rok span hitamnya, mencoba mencari ketenangan yang entah lari ke mana.
Jam dinding di lobi sekretariat menunjukkan pukul 12.15 WIB. Koridor lantai 25 Menara Mahendra itu sunyi senyap. Rekan-rekan sekretarisnya yang lain sudah menghilang ke kantin bawah atau mal di seberang gedung untuk mencari makan siang. Inilah satu-satunya kesempatan Ghea. Ia tidak mungkin membicarakan hal ini di tengah hiruk-pikuk pekerjaan, apalagi di bawah tatapan tajam para staf yang gemar bergosip.
Ghea menunduk, membuka sedikit isi map tersebut. Di sana, selembar kertas hasil USG dari klinik bersalin menatapnya balik. Kalimat di baris paling bawah seolah berteriak di depan wajahnya: Kehamilan intrauterin, embrio tunggal hidup, usia 6 minggu 4 hari.
Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam yang bergetar. Pikirannya melayang pada malam badai sebulan lalu. Malam yang seharusnya hanya menjadi tugas lembur biasa. Sebagai asisten pribadi, ia menemani Arishen Mahendra ke sebuah jamuan makan malam dengan investor asing. Arishen yang biasanya dingin dan terkontrol, malam itu minum jauh lebih banyak dari biasanya.
Saat Ghea memapahnya masuk ke dalam suite hotel untuk memastikan sang bos aman, segalanya berubah dalam sekejap. Arishen menarik lengannya, membisikkan sebuah nama yang bukan namanya, dan memeluknya dengan intensitas yang meruntuhkan seluruh pertahanan Ghea. Di bawah pengaruh alkohol dan aroma maskulin pria itu, Ghea kehilangan akal sehatnya. Ia membiarkan hal yang seharusnya tidak pernah terjadi, terjadi.
Esok paginya, Arishen terbangun dengan sikap yang jauh lebih dingin dari biasanya. Tidak ada kata maaf, tidak ada penjelasan. Hanya instruksi untuk segera menyiapkan jadwal rapat pukul sembilan pagi. Ghea pun menelan pahitnya kenyataan itu bulat-bulat, hingga dua garis merah muncul di alat tes kehamilan minggu lalu.
Tok! Tok!
Ghea akhirnya mengetuk pintu.
"Masuk," suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari dalam.
Ghea mendorong pintu perlahan. Aroma kayu cendana dan parfum mahal langsung menyambut indra penciumannya. Di balik meja kerja marmer yang luas, Arishen Mahendra duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak sangat tampan, namun aura otoritasnya selalu membuat Ghea merasa kecil.
Arishen mendongak, matanya yang tajam menatap Ghea. "Ada apa, Ghea? Kenapa belum makan siang?"
Ghea tidak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan kaki yang terasa lemas. Dengan tangan gemetar, ia meletakkan map itu di atas meja dan mendorongnya perlahan ke arah pria itu.
"Pak Aris... ada sesuatu yang harus saya laporkan. Tapi ini bukan soal pekerjaan," suara Ghea nyaris pecah.
Arishen mengerutkan kening. Ia mengambil map itu, membukanya, dan terdiam. Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman keras. Ekspresi Arishen yang semula datar berubah menjadi tegang. Rahangnya mengeras saat matanya membaca hasil pemeriksaan dokter kandungan tersebut.
"Ini milikmu?" tanya Arishen dengan suara rendah yang sulit diartikan.
"Iya, Pak," jawab Ghea, menunduk dalam-dalam. "Hasilnya keluar pagi ini. Usianya sudah enam minggu lebih."
Arishen meletakkan kembali kertas itu ke meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesaran miliknya. Ia memijat pangkal hidungnya, tampak frustrasi. "Malam di hotel itu..."
"Iya, Pak. Kejadian malam itu adalah satu-satunya..." Ghea menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang. "Saya datang ke sini bukan untuk memeras Bapak. Saya hanya berpikir, sebagai ayahnya, Bapak harus tahu. Sejujurnya, saya sendiri... saya tidak tahu harus bagaimana."
Arishen menatap Ghea dengan pandangan yang sulit dibaca. Ada kilat penyesalan di matanya, namun juga ada ketegasan khas seorang pemimpin. "Kamu tahu kan, Ghea? Saya tidak pernah merencanakan ini. Saya bahkan tidak pernah berniat menjalin hubungan asmara dengan siapa pun di kantor ini."
Ghea merasakan hatinya seperti diremas. "Saya tahu, Pak. Saya tahu posisi saya hanya seorang sekretaris."
"Saya menghargai kejujuranmu," lanjut Arishen. "Beri saya waktu untuk berpikir. Kita bicarakan lagi setelah jam kantor selesai. Sekarang, pergilah makan. Jangan sampai kamu jatuh pingsan di kantor saya."
Ghea mengangguk lemah. Ia mengambil kembali mapnya, berbalik, dan berniat segera keluar dari ruangan yang menyesakkan itu. Namun, tepat saat ia membuka pintu, sesosok wanita paruh baya yang tampak sangat elegan dan modis berdiri di sana, hendak masuk.
Nyonya Sarah Mahendra. Ibu dari Arishen sekaligus pemegang saham besar di perusahaan ini.
"Oh! Ghea?" Nyonya Sarah tersenyum ramah. "Kebetulan sekali kamu ada di sini. Arishen ada di dalam, kan?"
Karena terkejut, Ghea tersentak dan map di tangannya terlepas. Kertas-kertas di dalamnya berserakan di lantai, tepat di depan kaki Nyonya Sarah. Ghea panik setengah mati. Ia segera berjongkok untuk memungutnya, namun Nyonya Sarah lebih cepat.
"Biar Tante bantu, Sayang..." Nyonya Sarah mengambil selembar kertas yang jatuh paling dekat dengannya.
Waktu seolah berhenti bagi Ghea. Ia melihat mata Nyonya Sarah menyipit saat membaca tulisan di kertas USG tersebut. Sedetik, dua detik... lalu mata wanita itu melebar sempurna.
"Ghea... kamu hamil?" Nyonya Sarah menatap Ghea dengan ekspresi yang sulit dipercaya, lalu beralih menatap putranya yang kini sudah berdiri dari kursi kerjanya dengan wajah pucat. "Arishen! Jelaskan pada Mama, apa maksudnya ini?!"
"Ma, itu bukan urusan Mama," Arishen mencoba menyela, melangkah mendekat untuk mengambil kertas itu dari tangan ibunya.
Namun, Nyonya Sarah justru menjauhkan kertas itu. Ia malah mendekati Ghea dan memegang kedua bahu gadis itu. "Ghea, katakan pada Tante. Ini anak Arishen, kan? Jangan takut, katakan saja yang sejujurnya."
Ghea gemetar hebat. Ia melirik Arishen yang menatapnya dengan tatapan memperingatkan, namun ia juga melihat harapan di mata Nyonya Sarah. Akhirnya, Ghea hanya bisa mengangguk pelan sambil terisak.
"Ya Tuhan!" Nyonya Sarah memekik gembira, ia memeluk Ghea dengan sangat erat hingga membuat Ghea terkejut. "Akhirnya! Mama akan punya cucu! Arishen, kamu benar-benar hebat! Mama pikir kamu sudah tidak tertarik pada wanita, ternyata kamu malah memberikan kejutan sebesar ini!"
"Ma, kecilkan suaramu! Staf bisa dengar!" Arishen mendesis, ia segera menutup pintu ruangan rapat-rapat.
Nyonya Sarah melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tangan Ghea. "Aris, tidak ada rahasia-rahasiaan lagi. Ghea sedang mengandung keturunan Mahendra. Tidak mungkin Mama membiarkan calon cucu Mama lahir tanpa status yang jelas. Kita harus segera mengurus pernikahan kalian!"
"Pernikahan?!" seru Ghea dan Arishen hampir bersamaan.
"Nyonya, mohon maaf, tapi kami tidak berniat menikah..." Ghea mencoba menjelaskan dengan suara bergetar.
"Apa?! Tidak berniat?!" Nyonya Sarah menoleh ke arah putranya dengan wajah merah padam. Ia berjalan menghampiri Arishen dan langsung memberikan pukulan keras di lengan pria itu. "Kamu mau jadi laki-laki pengecut, Aris? Kamu sudah menghamili gadis sebaik Ghea dan mau lepas tangan begitu saja? Mama tidak pernah mendidikmu menjadi berandalan!"
Arishen meringis kesakitan namun tidak berani melawan ibunya. "Bukan begitu, Ma. Tapi ini terlalu mendadak."
"Tidak ada kata mendadak untuk tanggung jawab!" Nyonya Sarah berbalik kembali pada Ghea, suaranya melembut, penuh kasih sayang. "Ghea, Sayang. Dengarkan Tante. Tante tahu semuanya tentang kamu. Tante tahu kamu anak yang berbakti, dan Tante tahu ibumu sedang berjuang di rumah sakit karena sakit keras, kan?"
Ghea tertegun. Ia tidak menyangka Nyonya Sarah mengetahui detail pribadinya sejauh itu.
"Tante sudah lama ingin membantumu, tapi Tante tidak punya alasan yang pas. Sekarang, Tuhan memberimu jalan," Nyonya Sarah mengusap pipi Ghea. "Menikahlah dengan Arishen. Begitu kalian mendaftarkan pernikahan di Catatan Sipil siang ini, Tante pribadi yang akan melunasi seluruh biaya rumah sakit ibumu. Tante akan memindahkan ibumu ke kamar VVIP dan mendatangkan dokter spesialis terbaik dari luar negeri. Ibu kamu akan mendapatkan perawatan nomor satu sampai dia benar-benar sembuh."
Ghea merasa dunianya berputar. Tawaran itu... itu adalah sesuatu yang sudah lama ia impikan. Selama dua tahun terakhir, ia bekerja keras hanya untuk membayar cicilan biaya rumah sakit ibunya yang tidak sedikit. Ia sering melewatkan makan hanya agar bisa membeli obat-obatan ibunya.
Ghea menatap Arishen. Pria itu tampak pasrah, namun ada sorot kemarahan yang tertahan di matanya. Ghea tahu, jika ia menerima tawaran ini, ia mungkin akan dibenci oleh Arishen selamanya. Tapi jika ia menolak... ia mungkin akan kehilangan ibunya.
Kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
Ghea menghapus air matanya, menarik napas panjang, dan menatap Nyonya Sarah dengan tekad bulat. "Baik, Nyonya. Saya... saya bersedia menikah dengan Pak Aris."
Nyonya Sarah tersenyum penuh kemenangan. "Pintar! Nah, Aris, ambil kunci mobilmu. Kita berangkat ke Catatan Sipil sekarang juga sebelum jam istirahat berakhir!"
Arishen hanya bisa mendesah berat, mengambil jasnya dengan kasar, dan berjalan melewati Ghea tanpa sepatah kata pun. Namun Ghea tahu, hidupnya sebagai sekretaris yang tenang baru saja berakhir, dan hidupnya sebagai istri kontrak sang CEO baru saja dimulai.
Ghea terkejut membaca pesan singkat dari Arishen. Ia menduga pasti ada masalah krusial di kantor yang membuat pria itu murka lagi. Tanpa membantah, ia meminta sopir taksi untuk berputar balik menuju gedung Mahendra Group. Begitu melangkahi pintu masuk lantai kantor sekretariat, ia sudah bisa mendengar suara bentakan Arishen yang menggelegar dari dalam ruangan Presiden Direktur."Mbak Ghea, akhirnya Mbak kembali! Cepat masuk ke dalam dan bicarakan ini dengan Pak Aris," bisik Siska sambil berlari mendekat dengan wajah yang pucat pasi. "Gita baru saja dimarahi habis-habisan di dalam."Ghea mengerutkan kening. "Apa yang terjadi?"Hana Pratiwi kemudian berjalan mendekat dan berkata dengan nada cemas, "Pekerjaan rutin Mbak Ghea diserahkan kepada Gita tadi pagi, tetapi dia salah memasukkan data krusial dalam laporan keuangan proyek baru. Pak Aris benar-benar kecewa.""Mbak Ghea, Mbak tahu sendiri betapa sulitnya melayani standar kerja Pak Aris yang perfeksionis," tambah Siska dengan raut teg
Ghea menarik napas dalam-dalam begitu melangkah keluar dari ruangan Arishen. Ia tidak ingin membiarkan kata-kata tajam Aruna merusak ketenangannya. Dengan langkah konstan, ia kembali ke meja kerjanya dan fokus menyelesaikan sisa serah terima jabatan demi keprofesionalannya.Sesuai instruksi tertulis dari Arishen, Ghea menyerahkan semua berkas penting dan akses data krusial perusahaan kepada Rara, sekretaris senior yang ditunjuk untuk menggantikan posisi sementaranya. Proses pemindahan tugas berjalan cepat dan formal. Begitu semua urusan administrasi rampung, Ghea menyambar tas kerjanya, meninggalkan area kantor sekretariat tanpa menoleh lagi, lalu memesan taksi menuju rumah sakit.Sesampainya di gedung Rumah Sakit Pusat Jakarta, Ghea melangkah menyusuri koridor bangsal dengan ritme yang sudah sangat akrab baginya selama delapan bulan terakhir. Sebelum masuk ke ruang perawatan utama, ia menyempatkan diri mampir ke meja jaga perawat untuk meletakkan kantong berisi buah-buahan segar yang
Sepanjang pagi itu, Ghea mendampingi Arishen dalam dua pertemuan maraton yang sangat krusial bagi masa depan Mahendra Group. Ia duduk tegak selama tiga jam penuh tanpa jeda, mencatat risalah dengan ketelitian tinggi. Sebelumnya, ia tidak pernah merasa seletih ini, tetapi sekarang dalam kondisi hamil, stamina fisiknya terasa jauh lebih cepat terkuras.Saat keluar dari ruang rapat kedua, Arishen berjalan di depan dengan langkah tegap yang cepat. Ghea memeluk tumpukan dokumen, berusaha menyamai langkah pria itu. Bunyi gemerincing sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer koridor dengan ritme yang terburu-buru.Tiba-tiba, Arishen berhenti mendadak dan menoleh. Tatapannya tajam menembus manik mata Ghea.Ghea yang kebingungan menghentikan langkahnya dengan canggung. "Pak Aris? Apakah ada poin rapat yang terlewat?"Arishen tidak menjawab. Ia melirik sekilas ke arah para eksekutif lain yang berjalan di belakang mereka, lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju lantai atas tanp
Sesampainya di gedung Mahendra Group, Ghea segera melangkah menuju lift untuk naik ke lantai eksekutif. Begitu ia melangkahi pintu masuk kantor sekretariat, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi dingin dan tidak bersahabat."Heh, mentang-mentang jadi kesayangan Pak CEO, sekarang bisa ambil cuti mendadak sesuka hati," sindir Siska dengan volume suara yang sengaja dikeraskan agar seluruh staf di ruangan itu bisa mendengar. "Siapa sih di kantor ini yang tidak tahu kalau jadwal cuti sekretaris itu wajib mengikuti jadwal bos? Ini malah menghilang tanpa kabar jelas."Siska mencibir sambil merapikan tumpukan kertas di mejanya dengan kasar. "Kalau memang berniat mau cuti panjang, setidaknya lakukan proses serah terima pekerjaan yang benar dong. Jangan merepotkan orang lain. Memangnya dia pikir bapaknya yang punya perusahaan ini?""Sst, Siska, sudah diam saja. Jangan terlalu keras bicaranya," bisik Gita, sekretaris senior lainnya, mencoba menenangkan meski tatapan matanya sendiri tida






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.