Mag-log in"Jangan salah paham, Ghea. Aku menikahimu hanya demi anak ini." Kalimat dingin Arishen Mahendra di hari pernikahan mereka menjadi benteng yang dipasang Ghea Paramita rapat-rapat. Sebagai sekretaris utama yang rasional, Ghea sadar diri. Pernikahan ini hanyalah transaksi di atas kertas demi membiayai pengobatan ibunya yang koma. Begitu bayinya lahir tahun depan, Ghea berjanji akan menghilang dari kehidupan sang CEO. Tapi, manusia boleh berencana, kelakuan sang CEO yang malah bikin geleng-geleng kepala. Arishen yang terkenal bagai balok es tanpa celah mendadak melanggar seluruh aturan dinginnya sendiri: 🚫 Aturan 1: Jangan campur adukkan urusan pribadi. Tapi pria itu malah sibuk mengatur jam makan, membelikan es teh lemon, hingga melarang Ghea lembur. 🚫 Aturan 2: Jaga jarak sosial. Tapi Arishen malah terbakar cemburu setengah mati setiap kali melihat Ghea tersenyum pada sahabatnya. 🚫 Aturan 3: Rahasiakan hubungan. Tapi Ibu Mertua justru membongkar status Ghea sebagai menantu mahkota di hadapan seluruh keluarga besar! Saat rahasia besar mereka terancam oleh masa lalu yang kembali atau saingan yang cemburu, akankah pernikahan kontrak ini hancur... atau justru berubah menjadi satu-satunya tempat Arishen berlabuh?
view moreGhea Paramita masih terbaring kaku di atas kasur, berusaha menanti beberapa saat dengan harapan Arishen Mahendra akan tersadar dan melepaskan dekapannya. Namun, pria tegap di sampingnya itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun. Rasa sesak di kandung kemihnya kian mendesak, memaksa Ghea untuk memberanikan diri membuka suara kembali."Pak Aris... apakah Bapak sudah bangun?" bisik Ghea dengan nada suara yang mulai diliputi kepanikan halus. "Bisakah Bapak melepaskan genggaman tangan ini? Aku... aku harus ke kamar mandi sekarang."Arishen sama sekali tidak bergeming. Jemari tangannya yang besar dan kokoh justru kian mengunci telapak tangan mungil Ghea tanpa celah.Ghea menggerakkan pergelangan tangannya perlahan, mencoba mengguncang lengan pria itu demi mengusik tidurnya. "Pak Aris? Pak Arishen... tolong lepaskan sebentar, aku benar-benar harus ke toilet."Kali ini, usahanya membuahkan reaksi. Arishen melepaskan erangan berat dan serak dari balik tenggorokannya, tampak
Sepanjang perjalanan membelah arus lalu lintas sore, Arishen Mahendra terus bergumam tidak jelas di kursi belakang. Meskipun Ghea Paramita berusaha menajamkan pendengarannya sembari fokus menyetir, dia tetap tidak bisa menangkap untaian kalimat yang meluncur dari bibir suaminya."Ugh—"Tiba-tiba, suara erangan tertahan dan gerak tubuh yang mendadak tegak terdengar dari kabin belakang, seolah pria tegap itu hendak memuntahkan seluruh isi perutnya.Ghea yang mendengarnya seketika panik setengah mati. "Jangan! Tolong jangan muntah di dalam mobil!"Mendengar jeritan panik itu, Arishen yang tubuhnya setengah membungkuk mendongak dengan mata sayu. Tangannya terulur ke depan, menyenggol pelan area pinggang belakang Ghea sembari mengerang terganggu, "Kenapa... kenapa kamu berteriak begitu keras?""Pak Aris, kalau Bapak mau muntah, tahan sebentar sampai aku menemukan kantong plastik!" seru Ghea menegakkan punggungnya kaku bagai tersengat aliran listrik akibat sentuhan di pinggangnya tadi.Aris
Aruna berdiri mematung di lorong selama beberapa saat sembari menimbang-nimbang sesuatu. Gadis itu lalu memutar kepalanya menatap Ghea Paramita dan bertanya dengan nada angkuh, "Siang ini kamu makan apa?"Ghea menyahut tenang, "Orang rumah mengantarkan bekal makan siang khusus untukku.""Bekal dari rumah?" Aruna memutar bola matanya lagi, lalu bergumam pelan, "Mama pernah cerita kalau masakan Mbak Dewi di apartemen kakakku itu sangat lezat."Melihat tingkah adik iparnya yang tampak menahan rasa lapar, Ghea terkekeh geli. "Kalau begitu, apakah kamu mau makan siang bersamaku?"Aruna mengangkat dagunya tinggi-tinggi, memasang ekspresi gengsi khas wanita bangsawan. "Yah... karena kamu yang memohon padaku, aku terpaksa bersedia menemanimu makan."Ghea menahan senyum di bibirnya. "Kalau begitu tunggulah di ruang pantry eksekutif, biasanya aku makan siang di sana. Mbak Dewi seharusnya sudah tiba di lobi bawah, aku mau turun sebentar untuk mengambil kotak bekalnya.""Aku tidak mau makan di pa
Ghea Paramita tiba di gedung Mahendra Group bersama Arishen Mahendra. Dua staf baru yang akan menjalani masa percobaan di divisi sekretariat eksekutif ternyata sudah hadir lebih awal. Bersama Hana Pratiwi, mereka serentak membungkuk memberi hormat, "Selamat pagi, Pak Arishen."Ghea segera membagikan area kerja untuk kedua staf baru tersebut dan memberikan pengarahan mendasar mengenai alur tugas harian sekretariat."Untuk sementara alurnya seperti itu ya. Kalau ada berkas yang kurang dipahami, silakan langsung tanyakan padaku," ujar Ghea ramah.Keduanya mengangguk patuh. "Baik, Mbak Ghea."Berniat melatih mental Hana, Ghea menyuruh gadis itu menyeduh kopi hitam lalu membawanya ke dalam ruangan Arishen.Wajah Hana seketika meringis memelas. "Mbak Ghea... aku takut banget berhadapan langsung dengan Pak Arishen.""Cuma mengantarkan cangkir kopi dan meletakkannya di atas meja, Pak Arishen tidak bakal memakanmu kok. Sana cepat masuk, jangan buang-buang waktu!" dorong Ghea tegas namun lembut
Arishen Mahendra menatap Ghea Paramita datar. Kerutan di dahinya perlahan memudar setelah mendengar kata setuju keluar dari bibir sekretarisnya itu. Atmosfer di ruang tamu apartemen Cloud Sea yang luas ini mendadak terasa semakin dingin dan sepi.Arishen menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat tan
Ghea Paramita berdiri terpaku di tengah ruang tamu kecilnya yang terasa semakin menyesakkan. Kata-kata Lukman, ayahnya, masih terngiang-ngiang di telinganya, memicu gelombang amarah dan kesedihan yang sulit dibendung. Ia merasa jantungnya berdenyut nyeri setiap kali mengingat betapa ayahnya itu men
Sore itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Sinar matahari yang mulai meredup justru terasa menyengat, memantul di aspal panas di depan gedung Kantor Catatan Sipil. Ghea Paramita berjalan beberapa langkah di belakang Arishen Mahendra, menatap punggung tegap pria itu yang terbungkus setelan jas custo
Ghea Paramita berdiri mematung di depan pintu kayu mahoni besar yang menuju ke ruang kerja CEO. Di tangannya, sebuah map putih terasa seberat bongkahan batu. Telapak tangannya berkeringat, membuat kertas di dalam map itu sedikit lembap. Berkali-kali ia merapikan rok span hitamnya, mencoba mencari k












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu