เข้าสู่ระบบ"Jangan salah paham, Ghea. Aku menikahimu hanya demi anak ini." Kalimat dingin Arishen Mahendra di hari pernikahan mereka menjadi benteng yang dipasang Ghea Paramita rapat-rapat. Sebagai sekretaris utama yang rasional, Ghea sadar diri. Pernikahan ini hanyalah transaksi di atas kertas demi membiayai pengobatan ibunya yang koma. Begitu bayinya lahir tahun depan, Ghea berjanji akan menghilang dari kehidupan sang CEO. Tapi, manusia boleh berencana, kelakuan sang CEO yang malah bikin geleng-geleng kepala. Arishen yang terkenal bagai balok es tanpa celah mendadak melanggar seluruh aturan dinginnya sendiri: 🚫 Aturan 1: Jangan campur adukkan urusan pribadi. Tapi pria itu malah sibuk mengatur jam makan, membelikan es teh lemon, hingga melarang Ghea lembur. 🚫 Aturan 2: Jaga jarak sosial. Tapi Arishen malah terbakar cemburu setengah mati setiap kali melihat Ghea tersenyum pada sahabatnya. 🚫 Aturan 3: Rahasiakan hubungan. Tapi Ibu Mertua justru membongkar status Ghea sebagai menantu mahkota di hadapan seluruh keluarga besar! Saat rahasia besar mereka terancam oleh masa lalu yang kembali atau saingan yang cemburu, akankah pernikahan kontrak ini hancur... atau justru berubah menjadi satu-satunya tempat Arishen berlabuh?
ดูเพิ่มเติมGhea Paramita berdiri mematung di depan pintu kayu mahoni besar yang menuju ke ruang kerja CEO. Di tangannya, sebuah map putih terasa seberat bongkahan batu. Telapak tangannya berkeringat, membuat kertas di dalam map itu sedikit lembap. Berkali-kali ia merapikan rok span hitamnya, mencoba mencari ketenangan yang entah lari ke mana.
Jam dinding di lobi sekretariat menunjukkan pukul 12.15 WIB. Koridor lantai 25 Menara Mahendra itu sunyi senyap. Rekan-rekan sekretarisnya yang lain sudah menghilang ke kantin bawah atau mal di seberang gedung untuk mencari makan siang. Inilah satu-satunya kesempatan Ghea. Ia tidak mungkin membicarakan hal ini di tengah hiruk-pikuk pekerjaan, apalagi di bawah tatapan tajam para staf yang gemar bergosip.
Ghea menunduk, membuka sedikit isi map tersebut. Di sana, selembar kertas hasil USG dari klinik bersalin menatapnya balik. Kalimat di baris paling bawah seolah berteriak di depan wajahnya: Kehamilan intrauterin, embrio tunggal hidup, usia 6 minggu 4 hari.
Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam yang bergetar. Pikirannya melayang pada malam badai sebulan lalu. Malam yang seharusnya hanya menjadi tugas lembur biasa. Sebagai asisten pribadi, ia menemani Arishen Mahendra ke sebuah jamuan makan malam dengan investor asing. Arishen yang biasanya dingin dan terkontrol, malam itu minum jauh lebih banyak dari biasanya.
Saat Ghea memapahnya masuk ke dalam suite hotel untuk memastikan sang bos aman, segalanya berubah dalam sekejap. Arishen menarik lengannya, membisikkan sebuah nama yang bukan namanya, dan memeluknya dengan intensitas yang meruntuhkan seluruh pertahanan Ghea. Di bawah pengaruh alkohol dan aroma maskulin pria itu, Ghea kehilangan akal sehatnya. Ia membiarkan hal yang seharusnya tidak pernah terjadi, terjadi.
Esok paginya, Arishen terbangun dengan sikap yang jauh lebih dingin dari biasanya. Tidak ada kata maaf, tidak ada penjelasan. Hanya instruksi untuk segera menyiapkan jadwal rapat pukul sembilan pagi. Ghea pun menelan pahitnya kenyataan itu bulat-bulat, hingga dua garis merah muncul di alat tes kehamilan minggu lalu.
Tok! Tok!
Ghea akhirnya mengetuk pintu.
"Masuk," suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari dalam.
Ghea mendorong pintu perlahan. Aroma kayu cendana dan parfum mahal langsung menyambut indra penciumannya. Di balik meja kerja marmer yang luas, Arishen Mahendra duduk dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Ia tampak sangat tampan, namun aura otoritasnya selalu membuat Ghea merasa kecil.
Arishen mendongak, matanya yang tajam menatap Ghea. "Ada apa, Ghea? Kenapa belum makan siang?"
Ghea tidak menjawab. Ia melangkah mendekat dengan kaki yang terasa lemas. Dengan tangan gemetar, ia meletakkan map itu di atas meja dan mendorongnya perlahan ke arah pria itu.
"Pak Aris... ada sesuatu yang harus saya laporkan. Tapi ini bukan soal pekerjaan," suara Ghea nyaris pecah.
Arishen mengerutkan kening. Ia mengambil map itu, membukanya, dan terdiam. Ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi, hingga suara detak jam di dinding terdengar seperti dentuman keras. Ekspresi Arishen yang semula datar berubah menjadi tegang. Rahangnya mengeras saat matanya membaca hasil pemeriksaan dokter kandungan tersebut.
"Ini milikmu?" tanya Arishen dengan suara rendah yang sulit diartikan.
"Iya, Pak," jawab Ghea, menunduk dalam-dalam. "Hasilnya keluar pagi ini. Usianya sudah enam minggu lebih."
Arishen meletakkan kembali kertas itu ke meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesaran miliknya. Ia memijat pangkal hidungnya, tampak frustrasi. "Malam di hotel itu..."
"Iya, Pak. Kejadian malam itu adalah satu-satunya..." Ghea menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mulai menggenang. "Saya datang ke sini bukan untuk memeras Bapak. Saya hanya berpikir, sebagai ayahnya, Bapak harus tahu. Sejujurnya, saya sendiri... saya tidak tahu harus bagaimana."
Arishen menatap Ghea dengan pandangan yang sulit dibaca. Ada kilat penyesalan di matanya, namun juga ada ketegasan khas seorang pemimpin. "Kamu tahu kan, Ghea? Saya tidak pernah merencanakan ini. Saya bahkan tidak pernah berniat menjalin hubungan asmara dengan siapa pun di kantor ini."
Ghea merasakan hatinya seperti diremas. "Saya tahu, Pak. Saya tahu posisi saya hanya seorang sekretaris."
"Saya menghargai kejujuranmu," lanjut Arishen. "Beri saya waktu untuk berpikir. Kita bicarakan lagi setelah jam kantor selesai. Sekarang, pergilah makan. Jangan sampai kamu jatuh pingsan di kantor saya."
Ghea mengangguk lemah. Ia mengambil kembali mapnya, berbalik, dan berniat segera keluar dari ruangan yang menyesakkan itu. Namun, tepat saat ia membuka pintu, sesosok wanita paruh baya yang tampak sangat elegan dan modis berdiri di sana, hendak masuk.
Nyonya Sarah Mahendra. Ibu dari Arishen sekaligus pemegang saham besar di perusahaan ini.
"Oh! Ghea?" Nyonya Sarah tersenyum ramah. "Kebetulan sekali kamu ada di sini. Arishen ada di dalam, kan?"
Karena terkejut, Ghea tersentak dan map di tangannya terlepas. Kertas-kertas di dalamnya berserakan di lantai, tepat di depan kaki Nyonya Sarah. Ghea panik setengah mati. Ia segera berjongkok untuk memungutnya, namun Nyonya Sarah lebih cepat.
"Biar Tante bantu, Sayang..." Nyonya Sarah mengambil selembar kertas yang jatuh paling dekat dengannya.
Waktu seolah berhenti bagi Ghea. Ia melihat mata Nyonya Sarah menyipit saat membaca tulisan di kertas USG tersebut. Sedetik, dua detik... lalu mata wanita itu melebar sempurna.
"Ghea... kamu hamil?" Nyonya Sarah menatap Ghea dengan ekspresi yang sulit dipercaya, lalu beralih menatap putranya yang kini sudah berdiri dari kursi kerjanya dengan wajah pucat. "Arishen! Jelaskan pada Mama, apa maksudnya ini?!"
"Ma, itu bukan urusan Mama," Arishen mencoba menyela, melangkah mendekat untuk mengambil kertas itu dari tangan ibunya.
Namun, Nyonya Sarah justru menjauhkan kertas itu. Ia malah mendekati Ghea dan memegang kedua bahu gadis itu. "Ghea, katakan pada Tante. Ini anak Arishen, kan? Jangan takut, katakan saja yang sejujurnya."
Ghea gemetar hebat. Ia melirik Arishen yang menatapnya dengan tatapan memperingatkan, namun ia juga melihat harapan di mata Nyonya Sarah. Akhirnya, Ghea hanya bisa mengangguk pelan sambil terisak.
"Ya Tuhan!" Nyonya Sarah memekik gembira, ia memeluk Ghea dengan sangat erat hingga membuat Ghea terkejut. "Akhirnya! Mama akan punya cucu! Arishen, kamu benar-benar hebat! Mama pikir kamu sudah tidak tertarik pada wanita, ternyata kamu malah memberikan kejutan sebesar ini!"
"Ma, kecilkan suaramu! Staf bisa dengar!" Arishen mendesis, ia segera menutup pintu ruangan rapat-rapat.
Nyonya Sarah melepaskan pelukannya, namun tetap menggenggam tangan Ghea. "Aris, tidak ada rahasia-rahasiaan lagi. Ghea sedang mengandung keturunan Mahendra. Tidak mungkin Mama membiarkan calon cucu Mama lahir tanpa status yang jelas. Kita harus segera mengurus pernikahan kalian!"
"Pernikahan?!" seru Ghea dan Arishen hampir bersamaan.
"Nyonya, mohon maaf, tapi kami tidak berniat menikah..." Ghea mencoba menjelaskan dengan suara bergetar.
"Apa?! Tidak berniat?!" Nyonya Sarah menoleh ke arah putranya dengan wajah merah padam. Ia berjalan menghampiri Arishen dan langsung memberikan pukulan keras di lengan pria itu. "Kamu mau jadi laki-laki pengecut, Aris? Kamu sudah menghamili gadis sebaik Ghea dan mau lepas tangan begitu saja? Mama tidak pernah mendidikmu menjadi berandalan!"
Arishen meringis kesakitan namun tidak berani melawan ibunya. "Bukan begitu, Ma. Tapi ini terlalu mendadak."
"Tidak ada kata mendadak untuk tanggung jawab!" Nyonya Sarah berbalik kembali pada Ghea, suaranya melembut, penuh kasih sayang. "Ghea, Sayang. Dengarkan Tante. Tante tahu semuanya tentang kamu. Tante tahu kamu anak yang berbakti, dan Tante tahu ibumu sedang berjuang di rumah sakit karena sakit keras, kan?"
Ghea tertegun. Ia tidak menyangka Nyonya Sarah mengetahui detail pribadinya sejauh itu.
"Tante sudah lama ingin membantumu, tapi Tante tidak punya alasan yang pas. Sekarang, Tuhan memberimu jalan," Nyonya Sarah mengusap pipi Ghea. "Menikahlah dengan Arishen. Begitu kalian mendaftarkan pernikahan di Catatan Sipil siang ini, Tante pribadi yang akan melunasi seluruh biaya rumah sakit ibumu. Tante akan memindahkan ibumu ke kamar VVIP dan mendatangkan dokter spesialis terbaik dari luar negeri. Ibu kamu akan mendapatkan perawatan nomor satu sampai dia benar-benar sembuh."
Ghea merasa dunianya berputar. Tawaran itu... itu adalah sesuatu yang sudah lama ia impikan. Selama dua tahun terakhir, ia bekerja keras hanya untuk membayar cicilan biaya rumah sakit ibunya yang tidak sedikit. Ia sering melewatkan makan hanya agar bisa membeli obat-obatan ibunya.
Ghea menatap Arishen. Pria itu tampak pasrah, namun ada sorot kemarahan yang tertahan di matanya. Ghea tahu, jika ia menerima tawaran ini, ia mungkin akan dibenci oleh Arishen selamanya. Tapi jika ia menolak... ia mungkin akan kehilangan ibunya.
Kesempatan ini tidak akan datang dua kali.
Ghea menghapus air matanya, menarik napas panjang, dan menatap Nyonya Sarah dengan tekad bulat. "Baik, Nyonya. Saya... saya bersedia menikah dengan Pak Aris."
Nyonya Sarah tersenyum penuh kemenangan. "Pintar! Nah, Aris, ambil kunci mobilmu. Kita berangkat ke Catatan Sipil sekarang juga sebelum jam istirahat berakhir!"
Arishen hanya bisa mendesah berat, mengambil jasnya dengan kasar, dan berjalan melewati Ghea tanpa sepatah kata pun. Namun Ghea tahu, hidupnya sebagai sekretaris yang tenang baru saja berakhir, dan hidupnya sebagai istri kontrak sang CEO baru saja dimulai.
Ghea Paramita tertegun sejenak, bertanya bingung, "Tidak sederhana bagaimana maksudmu?""Latar belakang keluarganya terbilang sangat rumit; jangan terlalu dekat dengannya," Arishen Mahendra mewanti-wanti istrinya.Sambil mengunyah sepotong roti bunga kukus, Ghea berujar penuh pertimbangan, "Selama setengah tahun bekerja bersama, aku merasa gadis itu terbilang sangat baik—membumi dan tidak punya iktikad buruk. Tapi aku memang tidak tahu banyak soal kondisi keluarganya; dia tidak pernah cerita, dan aku pun tidak pernah bertanya. Dia memang sering tiba di kantor pas-pasan jelang jam masuk, dan waktu kutanya beberapa kali, dia cuma bilang ada urusan keluarga yang harus ditangani. Selain itu, semuanya kelihatan baik-baik saja."Arishen meneguk sedikit air putih lalu berujar, "Sifat kepribadiannya memang tidak ada masalah, jadi kamu tidak perlu khawatir; kalau tidak, mana mungkin dulu kuterima dia bekerja. Dia itu cukup kasihan. Begitu lahir, Keluarga Handoko membuangnya ke desa dan mengaba
Grup obrolan utama kantor mendadak ramai. Semua staf sibuk membahas rencana acara team building yang akan datang. Melihat jam istirahat siang yang sudah makin dekat, para manajer tingkat bawah pun memilih untuk memejamkan mata dan membiarkan kehebohan tersebut berlalu.Hana dan dua rekan kerjanya juga tak henti-hentinya mengobrol bersemangat, semuanya tampak sudah tidak sabar.Ghea Paramita sendiri justru tidak merasakan antusiasme berlebih; ia malah merasa hal itu mungkin bakal agak kurang praktis. Ia tidak bisa berbagi kamar dengannya, tidak bisa bergandengan tangan saat berjalan bersama, dan tidak bisa beraktivitas secara bebas di hadapan orang banyak."Lihat deh, mereka bahkan mengundang anak perusahaan dan mitra kerja buat ikut gabung!" seru Hana menunjuk pesan di grup."Makin ramai kan makin seru bermainnya. Bakal lebih mantap lagi kalau banyak cowok gantengnya!" timpal Winda."Setuju, setuju, setuju! Ya ampun, aku jadi heboh banget!" Hana menangkup wajahnya dengan kedua tangan,
Di jam kerja pagi hari, Arishen Mahendra kembali usai menghadiri rapat bersama Winda. Saat melewati Divisi Sekretariat, ia melirik ke dalam, menatap mata Ghea Paramita, lalu mengedipkan sebelah matanya.Hati Ghea mendadak berdesir, dan ia menundukkan kepala sembari menahan senyum.Beberapa menit kemudian, sebuah pesan darinya muncul di aplikasi pesan internal kantor Ghea: "Sekretaris Ghea, capek tidak? Ayo mencuri waktu santai sebentar."Ghea tidak menyangka pria itu bakal mengirimkan pesan seperti itu dan hampir saja tertawa terbahak-bahak.Ia membalas: "Pak Aris, mau santai ke mana?"Pak Aris: "Ruang istirahatmu?"Sekretaris Ghea: "Kurang bagus ah, takut ada yang lihat."Pak Aris: "Kalau begitu ke ruanganku saja; tidak bakal ada yang curiga."Sekretaris Ghea: "Kalau begitu mohon-mohon dulu padaku."Pak Aris: "Aku memohon padamu, aku kangen padamu."Pesan itu disusul oleh stiker bebek memelas yang sedang berlutut.Pundak Ghea berguncang menahan tawa. Stiker itu dulu dialah yang mengi
Bianca berujar tanpa kata-kata, "Aku mencubit lenganmu itu buat mengingatkanmu supaya jangan bicara sembarangan. Kamu beneran tidak paham atau sengaja mau bikin aku emosi sih?""Siapa yang bikin emosi siapa?" tanya Jason berang. "Dia sekarang sudah menikah, dan istrinya sedang hamil. Kamu merasa tidak nyaman kan sesudah melihat itu? Kamu menyesal kan?"Dada Bianca naik turun menahan amarah, lalu ia berteriak pada sopir, "Berhenti! Pak, berhentikan mobilnya!"Sopir melirik mereka berdua lewat kaca spion tengah lalu perlahan menepikan mobil ke pinggir jalan.Bianca bergerak hendak membuka pintu mobil dan keluar, namun pergelangan tangannya langsung dicekal oleh Jason. "Kamu mau ke mana? Mau balik mencari Arishen?""Kamu gila ya?" semprot Bianca seraya menghentakkan tangannya kuat-kuat, lalu membanting pintu mobil hingga tertutup rapat.Jason menjulurkan kepalanya dari jendela mobil lalu berteriak ke arah punggung Bianca, "Bianca, kuhitung sampai tiga! Kalau kamu tidak balik sekarang, se
Ghea menarik napas dalam-dalam begitu melangkah keluar dari ruangan Arishen. Ia tidak ingin membiarkan kata-kata tajam Aruna merusak ketenangannya. Dengan langkah konstan, ia kembali ke meja kerjanya dan fokus menyelesaikan sisa serah terima jabatan demi keprofesionalannya.Sesuai instruksi tertuli
Sepanjang pagi itu, Ghea mendampingi Arishen dalam dua pertemuan maraton yang sangat krusial bagi masa depan Mahendra Group. Ia duduk tegak selama tiga jam penuh tanpa jeda, mencatat risalah dengan ketelitian tinggi. Sebelumnya, ia tidak pernah merasa seletih ini, tetapi sekarang dalam kondisi hami
Sesampainya di gedung Mahendra Group, Ghea segera melangkah menuju lift untuk naik ke lantai eksekutif. Begitu ia melangkahi pintu masuk kantor sekretariat, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah menjadi dingin dan tidak bersahabat."Heh, mentang-mentang jadi kesayangan Pak CEO, sekarang bisa ambil
Ghea tidak bisa tidur dengan nyenyak di tempat baru yang terlalu mewah ini. Akibatnya, ia terbangun keesokan paginya dengan sepasang lingkaran hitam yang cukup jelas di bawah matanya. Setelah membasuh wajah dan membersihkan diri, ia berganti pakaian dengan kaus santai dan celana kain yang nyaman, la






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
ความคิดเห็น