แชร์

Bab 11: Pisang Bersejarah

ผู้เขียน: TifanyPujiLestari
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-27 16:20:14
"SAYA GAK BISA TOLERANSI!"

Bu Berta sudah berdiri tegak di tengah ruangan dengan mata melotot. Suara melengking tantenya itu sukses membuat suasana kantor seketika hening mencekam.

"SIAPA YANG BERANI MAKAN ES KRIM DURIAN DI KANTOR?!" bentak Bu Berta lagi. "Kalau tidak ada yang mengaku, saya minta Akmal putarkan CCTV sekarang!"

Erina melirik Akmal yang tentu saja tidak balas menatapnya.

Iyalah, selera Akmal kan wanita dewasa. Mungkin yang modelannya seperti Bu Berta. Tapi hari ini Akmal pakai ke
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 27: Curhat Kakak Beradik

    "AAA!"Erina berteriak kegirangan sembari menutup mulutnya rapat-rapat di dalam kamar mandi.Beberapa jam terakhir terasa bagai mimpi indah. Sensasi melayang dan bayangan pelangi seakan tak mau hilang dari pandangannya. Usai berendam di bathtub berbusa merah muda wangi bunga, barulah kesadarannya pulih utuh.Jadi, semua ini nyata? Akmal benar-benar sudah resmi menjadi miliknya?Erina buru-buru membilas tubuhnya di bawah shower. Ia memilih memakai piyama satin putih, lengkap dengan skincare, maskara, dan

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 26: Cinta Ditengah Sawah

    "Selamat sore para karyawan dan karyawati PT Ang Siwa Pintar Indonesia!" Rendy Kharisma, pria bertubuh gempal sang MC acara, menyambut lebih dari lima puluh peserta family gathering yang duduk di rumput empuk."Saya senang sekali bisa hadir di sini, bertemu rekan-rekan yang luar biasa bersemangat. Ya iyalah semangat, masa liburan gak semangat sih?" lanjut Rendy disambut sorakan tunggal Steve yang membuat semua orang tertawa."Nah, yang suaranya paling kencang biasanya tekanan kerjanya paling berat. Betul gak, Pak?" goda Rendy. Steve kembali berseru menyetujui, memancing gelak tawa untuk kedua kalinya.Rendy lantas membacakan susunan acara sore hingga malam nanti: pembukaan, game anak, game kekompakan, istirahat, lalu dilanjutkan pengumuman hadiah, penampilan band Bridgewall, api unggun, dan makan bersama. Ia juga mengingatkan peserta yang memiliki kendala fisik untuk melapor ke staf bertopi atau berkaos putih."Siap semuanya?" seru Rendy memandu. Jawaban serentak mengudara di area ter

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 25: Lembang We're In Love

    "Mas Akmal? Tidur?"Ridwan menyenggol lutut Akmal dengan lututnya."Gak," sahut Akmal singkat sambil menggulir layar ponselnya sampai ke bagian bio Instagram Erina. Highlight di instastory-nya kosong.Bus family gathering Ang Siwa Learning Center sudah masuk area pegunungan.Jalanan berkelok, pepohonan rimbun, dan sawah membentang luas membuat Akmal mual. Pura-pura tidur pun tak membuatnya berhasil tidur betulan.Apalagi dia harus duduk di kursi bus paling pojok kanan. Nasib lajang, bus depan dipenuhi karyawan yang membawa keluarga. Nyanyian karaoke ibu-ibu bersahutan dengan tangis bayi. Harapan Akmal duduk di samping Erina pupus karena Nathan yang dipaksa ikut Pak Rudolf takut mabuk dan memilih duduk bersama Jessica, adik Xavier. Sementara Xavier dan Erina di tiga bangku depan tampak membuang muka sepanjang jalan.Sambil memeluk perut dengan bantal Arsenal milik Ridwan, Akmal membuka maps di ponselnya. Masih ada empat puluh lima menit lagi menuju villa di atas gunung. Semakin meliha

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 24: Simulasi Pacaran

    "Sabar ya, sebentar lagi sampe busnya," bisik Akmal.Erina mendelik ke arah Akmal. Kencan romantis dengan perjalanan panjang yang dibayangkan Erina tak seindah kenyataan. Karena beberapa menit kemudian dia sudah berdiri di halte TransJakarta bersama belasan orang lain tanpa jarak. Berbagai aroma parfum bercampur menohok hidungnya hingga ia susah payah menghirup udara malam Jakarta.Akmal sih enak hanya membawa dompet di kantong kemeja, sementara Erina harus memeluk erat tas tangan besarnya yang berisi powerbank, hand sanitizer, dan perintilan lainnya.Lampu TransJakarta dari kejauhan membuat semua orang bersiap dan agak mendorongnya maju. Erina yang belum pernah naik ini sama sekali tak kebayang harus berdiri berdempetan di dalam. Belum sempat melamun, tangan kanannya tiba-tiba digenggam erat.Kejadiannya sangat cepat. Bus berhenti, pintu terbuka, tangannya ditarik sekuat tenaga, dan tubuhnya terpontang-panting menubruk seseorang. Tau-tau dia sudah duduk di bangku kanan, di samping se

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 23: Pindah?

    "Lama amat di sini, Cok. Gak takut kesambet?"Muka lonjong dengan dahi berminyak milik Steve menyembul dari balik pintu hitam Studio Enam. Ia bersandar di kusen, bersidekap dengan senyum tengil yang selalu membuat Akmal ingin melemparnya pakai mouse.Tak biasanya Studio Enam dijadikan ruang kerja. Bau besi menguap di seluruh sudut, AC-nya berisik, dan ada rumor penampakan kuntilanak di pojok ruangan. Tapi Akmal tak peduli. Pilihan lainnya cuma mendengar ocehan Steve soal keberhasilannya mendapat ijin dari bos pusat untuk sewa ruko sebelah sebagai proyek perluasan kantor.Akmal melambai ramah ke sudut ruangan yang kosong.` "Nggak. Udah jadi bestie gue sama si Mbaknya.""Oh ya, mirip sih kalian," kekeh Steve ikut melambai ke arah kosong itu. "Anyway, gue mau meeting sama vendor aplikasi, titip kantor ya. Ada tiga studio aktif shooting dan dua studio webinar. So far aman.""Meeting sama yang mana lagi? Bukannya vendor yang gue pilih kemarin katanya gak cocok semua?" tanya Akmal heran. Bu

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 22: Sisi Gelapnya Cinta

    "Astaga Gio. Gimana mau jadi anak band? Denger lagu rock segitu kerasnya dia malah tidur."Fiki masuk ke rumah sembari menggendong Gio, anak Fiki dan Kia yang baru berusia satu tahun, setelah menonton pertandingan badminton di lapangan depan. "Tolong ditidurin di kamar aja, Mas. Aku masih masak sebentar," sahut Kia sambil membalik lima potong tahu di penggorengan."Sambalnya udah ada?""Di kulkas, Mas. Baru dateng sambal cumi kecombrang kesukaan Mas.""Oh wow, thank you ya.""Anytime, Mas," jawab Kia tersenyum kecil. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak berbicara dengan nada santai seperti ini.Kia memindahkan tahu goreng, nasi, dan piring ke meja makan. Fiki yang sudah duduk santai menyambut hidangan tersebut."Oh ya, Bu Berta dua hari lalu hubungin aku. Dia minta band aku manggung di acara family gathering kantor kamu nanti," ujar Fiki.Tangan Kia terhenti saat hendak menyendokkan sambal. "Hubungi langsung ke kamu? Family gathering?""Iya, yang dua minggu lagi itu.""Terus kamu j

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status