Jadi Istri Pura-pura Suami Kembaranku

Jadi Istri Pura-pura Suami Kembaranku

last updateLast Updated : 2026-10-02
By:  Lin YueUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Jadilah aku untuk sementara waktu." Permintaan itu datang dari Sheli, saudari kembar Shela yang ingin kabur dari pernikahannya demi mengejar karir modeling di luar negeri. Tak memiliki pilihan lain dan demi keselamatan ibunya, Shela terpaksa menerima tawaran tersebut. Ia hidup dengan nama Sheli. Tinggal serumah dengan Revan. Menjalani peran sebagai istri pria yang bukan suaminya. Namun, semakin lama bersama, semakin sulit Shela menjaga batas. Di balik sikap dinginnya, Revan menyimpan kelembutan yang membuatnya jatuh cinta. Hingga sebuah malam mengubah segalanya. Saat Sheli belum juga kembali, Shela mendapati dirinya hamil benih Revan. Bagaimana jika Revan mengetahui wanita yang dicintainya bukanlah istrinya yang asli? Dan bagaimana nasib bayi yang tumbuh dari sebuah kebohongan?

View More

Chapter 1

Bab. 1 Bertukar Identitas

“Sayang, gimana urusan ibu? Sudah selesai? Katamu, kembaranmu akan ke sini untuk meminta tolong buat jagain Ibu?”

Shela nyaris saja menjatuhkan ponsel di tangan, mendadak wajahnya berubah merah. Ada getar halus di tangannya itu. “Dia ….”

“Ada apa denganmu? Kamu sakit? Kenapa wajah kamu merah?” Revan mengangkat tangannya, menyentuh kening Shela dengan lembut.

Shela menggeleng cepat. Bingung harus menjawab apa. “A-aku tidak apa-apa. A-aku hanya sedikit mulas,” ujarnya cepat. “Aku mau ke toilet dulu ya, Mas.”

Revan belum sempat menjawab, Shela sudah berlari ke toilet dekat ruang tamu. 

Napas Shela menderu. Ia mengurut dadanya dengan perlahan dengan punggung bersandar di belakang pintu.

Lalu, ingatan tentang ucapan Sheli kembali terlintas.

 “Jadilah diriku untuk sementara waktu. Maka aku bisa membantu pengobatan ibu.”

“Shela, kamu pasti bisa!” Ia meyakinkan dirinya sendiri, dengan mengepalkan tangannya kuat-kuat. 

Shela sudah berjanji, akan menjadi Sheli. Demi kelangsungan hidup ibu kandung mereka. Kalau bukan dia, lantas siapa lagi? Bukankah selama ini hanya dirinya dan sang ibu yang bertahan dalam kerasnya hidup? 

Semua sudah ia pelajari, bagaimana bersikap ke depannya. Ia yakin, semua tidak akan sulit demi kelancaran misinya. 

Andai mereka tidak terpisah karena perceraian orang tua, ah sudahlah. Shela tidak mau mengingat hal pahit itu lagi. 

Shela maju dua langkah, menatap pantulan dirinya di cermin. Haruskah ia membenci rupa itu? Rupa yang sama tetapi memiliki nasib yang jauh berbeda 

“Sayang. Apa kamu baik-baik saja?” Suara gedoran dari luar membuat Shela terperanjat. Ia langsung menyalakan keran wastafel dan menjawab, “aku enggak apa-apa, Mas! Sedikit mulas aja.”

“Aku tunggu di kamar ya!”

“Iya!” jawab Shela cepat, ada sedikit getaran. 

Begitu banyak pantangan yang tidak boleh dilanggarnya. Terlihat kampungan dan bergaul dengan orang-orang yang tak selevel dengan Sheli. Sangat jauh berbeda. Shela akan mengingat itu. Harapannya hanya Sheli. Tidak ada yang lain. 

Meminta bantuan ayah mereka? Jelas tidak mungkin. Ia tahu, betapa ibu tirinya sangat membenci sang ibu. Untuk biaya hidupnya sejak kecil saja hanya ditanggung sang ibu seorang diri. Hanya Sheli yang berhak menerima kemewahan dari Henry. 

Shela membasuh wajahnya dengan air dingin. Berharap dinginnya mampu menenangkan kalut dan gelisah. Berharap pula, ia tak ketahuan kalau dirinya bukanlah Marsheli Maheswari. Ia kembali meyakinkan diri, kalau ia bisa menjadi Sheli. Demi Sang ibu. 

Shela menarik napas, menuju kamar. Ia yakin, Revan sudah menunggunya. 

“Kamu gila, Sheli. Sungguh. Wanita mana yang sudi menyerahkan suaminya pada orang lain.” Shela menggerutu. 

“Apanya yang orang lain?”

Shela tersentak, wajahnya pucat pasi. Revan berdiri di depan pintu dengan alis nyaris bertaut. Ia menggeleng cepat, memaksakan diri untuk tersenyum. “Kamu ngagetin, Mas! Aku…  hanya berpikir, aku sangat beruntung ketimbang wanita lain.”

“Kenapa?” tanya Revan dengan dahi mengkerut. 

“Karena aku punya suami tampan dan mapan sepertimu.”

Wajah Revan berubah merah, hidungnya bahkan sampai berkedut. “Ayo masuk!”

Shela mendesah pasrah. Matanya menyisir ke penjuru ruangan, besar, rapi dan banyak diidamkan para wanita. Ada bingkai besar foto pernikahan Revano dan Marsheli di sana. Rambut pirang yang di gelung, sangat elegan dan anggun. 

Mendadak, Shela teringat dengan rambut hitam lurusnya. Yang harus ia relakan. 

“Kamu sudah berhenti kan?” tanya Revan membuat lamunan Shela buyar. 

“Ha? Berhenti?” Mata Shela mengerjakan beberapa kali, tanda tak paham. 

Revan menarik tangan Shela, tubuh ramping itu membentur dada bidangnya. “Sheli, aku sudah puasa lama. Jangan  sok lupa,” ucapnya tertahan. 

Mata Shela membelalak, jantungnya berdegup tak karuan. Menjadi istri Revan, tentu ia juga harus melayaninya, bukan? 

Apa Shela harus melakukannya sekarang? 

“Sheli, jangan menguji kesabaranku,” desis Revan tertahan, sarat akan penekanan. 

“Mas… aku….” Belum selesai Shela berucap, tangan Revan langsung menyentuh milik pribadinya, ia memekik kaget. 

“Astaga, Sayang! Kenapa lama banget?! “

Shela menelan ludahnya, cepat. Merasa aman dan kasihan secara bersamaan. 

'Maafkan aku, Mas. Aku terpaksa bohongi kamu. Aku belum siap.’ Shela hanya tersenyum canggung, menatap suami kembarannya itu frustasi. 

Dengan tangan bergetar, Shela Menyentuh bahu Revan. “Mas, aku minta maaf. Aku janji, kalau sudah selesai, aku bilang ke kamu. Hormon ku sepertinya sedang kacau. ”

Shela ingin mengutuk dirinya sendiri, kenapa ia harus mengatakan hal seperti itu? Setidaknya ini cara untuk menghibur Revan kan? 

Revan menghela napas, ia langsung bangkit dan menyambar ponselnya. Wajahnya memang masih menunjukkan rasa kecewa, meski tidak seperti tadi. “Kamu istirahat dulu. Pasti capek. Aku mau urus sedikit kerjaan ya.”

Shela mengangguk, ternyata pemikirannya mengenai Revan salah. Pria itu cukup pengertian. Bahkan pria itu masih mengusap pucuk kepalanya dengan lembut sebelum pergi. 

“Oh, ya. Tadi kamu belum jawab.” Revan berhenti saat di ambang pintu, Shela sempat menegang. “Kembaranmu jadi datang hari ini?”

“Oh Shela ya? ” jawab Shela cepat. “Dia gak jadi datang, Mas. Dia harus keluar negeri untuk urusan kerjaan.”

“Kerjaan?”

“Dia bekerja di dunia fashion.” Tangan Shela mencengkeram erat seprai. Jangankan berpose di depan kamera, diperhatikan banyak orang saja ia sudah gemetaran. 

“Lalu soal ibu?”

“Tadi aku sempat bertemu dia di rumah sakit. Tanpa dia minta, aku akan menjaga ibu, Mas.”

Revan hanya mengangguk, tak begitu mempedulikan. “Ya sudah, aku ke ruang kerja. Jangan lupa istirahat. Bukankah kamu baru menemani Ibu di rumah sakit?”

Shela mengangguk. Senyumnya mengembang. Ternyata Revan adalah pria yang pengertian. 

Shela menghembuskan napas dengan panjang, seolah baru saja lolos dari ancaman maut. 

Baru ingin melangkah ke kamar mandi, untuk membersihkan diri, ponsel Sheli yang ia simpan di saku rok berdering. Namanya tertera di layar. Ia langsung mengunci pintu kamar, takut obrolannya dengan Sheli terdengar oleh orang lain. 

“Halo, Sheli, “ jawab Shela setengah berbisik. 

“Hai, kembaranku!” Terdengar suara bising di sana. Shela sampai mengerutkan dahi. Berpikir mengenai keberadaan saudarinya itu. “Gimana keadaan? Aman?”

“Sheli, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin terus berpura-pura. Suamimu tentu akan minta haknya. Dan gak mungkin aku terus alesan haid dan ini itu aku–”

“Shela, aku hanya ingin mengabarkan, aku mungkin akan lebih sebulan di sini. Gak tahu kapan tepatnya aku akan pulang,” potong Sheli terdengar santai. 

Shela sudah mondar-mandir sambil menyugar  rambutnya. Gelisah dan frustasi, “Sheli, kamu harus mikir. Bagaimana kedepannya?”

“Sepintar-pintarnya kamulah Shela. Lagian, suamiku tidak buruk kan? Dia banyak uang. Lagian, kalau dia memang mau minta, kasih aja. Apanya yang sudah? Bukankah kamu sudah lama menjanda? Lagipula, kamu bisa minta apapun. Mas Revan itu royal. Kamu juga bisa memintanya membiayai Ibu.”

Demi apapun, ia ingin menenggelamkan Shela ke Samudera Hindia. Wanita mana yang rela berbagi dengan wanita lain? 

“Kamu gila! Aku tidak bisa….” Belum selesai Shela berucap, Sheli sudah mematikan sambungan teleponnya. “Sheli! Sheli!”

Shela mengerang frustasi. Meminta pelipisnya yang mendadak nyeri. “Ya Tuhan… gimana ini? Sheli sudah tidak waras!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status