LOGIN"Jadilah aku untuk sementara waktu." Permintaan itu datang dari Sheli, saudari kembar Shela yang ingin kabur dari pernikahannya demi mengejar karir modeling di luar negeri. Tak memiliki pilihan lain dan demi keselamatan ibunya, Shela terpaksa menerima tawaran tersebut. Ia hidup dengan nama Sheli. Tinggal serumah dengan Revan. Menjalani peran sebagai istri pria yang bukan suaminya. Namun, semakin lama bersama, semakin sulit Shela menjaga batas. Di balik sikap dinginnya, Revan menyimpan kelembutan yang membuatnya jatuh cinta. Hingga sebuah malam mengubah segalanya. Saat Sheli belum juga kembali, Shela mendapati dirinya hamil benih Revan. Bagaimana jika Revan mengetahui wanita yang dicintainya bukanlah istrinya yang asli? Dan bagaimana nasib bayi yang tumbuh dari sebuah kebohongan?
View MoreMata Shela terpejam saat menatap pantulan dirinya di cermin. Mencoba mengubur kenangan kelam itu. Saat ia harus menjual kue sepulang sekolah. Kepanasan, kedinginan terkena hujan. Dicemooh dan dihina teman sebayanya. Namun, semakin Shela ingin melupakan. Kenangan itu justru semakin menajam dan begitu juga kepalan tangannya semakin kuat. Shela menghembuskan napas, lalu membuka matanya, tersenyum pada pantulan dirinya di cermin. Senyum penuh dengan kegetiran. “Sayang, Ayah sudah mau pulang!”Suara teriakan Revan melebarkan mata Shela, tatapannya bergeser pada gelang yang melingkar manis di pergelangan tangan. Hadiah dari ayahnya semalam. Berat, seperti membawa beban dan kebencian. “Sayang?” panggil Revan dengan disusul Ketulan pintu. Shela berbalik badan. “Iya, Mas! Sebentar!”Sebelum keluar dari kamar mandi, Shela kembali memeriksa penampilannya di cermin. Lalu, membuka pintu kamar mandi. “Kamu lama banget.”“Maaf, Mas. Aku sedikit mulas,” jawab Shela dan disertai cengiran kecil.
Shela menarik napas dalam-dalam. Situasi seperti ini membuat dirinya tidak nyaman. Ia beringsut bangkit, meraih gaunnya yang ada di lantai. Dia memang lolos dari Revan, tetapi bertemu ayahnya? Shela menarik napas dalam-dalam. “Sayang, ayah menunggu kita di bawah.” Wajah Revan tampak kusut. Malamnya kembali terganggu. Shela mengangguk. Ia merapikan rambutnya yang berantakan dengan jari, lalu menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia dan Shela memang sama persis, hanya gaya mereka yang berbeda. “Ayo!” Revan mengecup pucuk kepala Shela, lalu menggandengnya keluar kamar. Shela diam saja. Jujur, ia tak siap bertemu dengan Henry. Pria yang sama sekali tidak pernah menayangkan tentang kabarnya. “Darling, Sheli!”Wajah sumringah itu mengingatkannya pada air mata sang Ibu. Betapa ibunya terisak saat ditinggal pergi dan memilih bersama wanita lain. Ia turut susah dengan keadaan, menyaksikan Damayanti banting tulang demi kehidupannya. Shela benci itu, tetapi ia tak berdaya. “Ayah!” Shela b
Shela merasa senang, setidaknya Revan berada di luar kota untuk beberapa hari ini. Ia akan mencoba baju baru yang tadi dipilihkan Hilda untuknya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Seksi dan sangat pas di tubuh rampingnya. Namun, mendengar suara pintu yang dibuka, ia langsung menoleh dengan cepat. Matanya mendelik saat melihat siapa yang datang. Spontan, Shela langsung menutupi dadanya yang menonjol. “Mas … kamu pulang?”Revan tersentak melihat ekspresi kaget Shela. “Sayang?” Ia maju usai menutup pintu kamar, menghampiri Shela. “Kamu cantik sekali pakai gaun itu.”Shela kelabakan. Ia pikir, ia akan bebas hari ini. Tetapi, kehadiran Revan mengacaukan segalanya. Pria itu memeluknya, mengecup bahunya singkat. “Mas ….” Shela memejamkan mata, merasakan gelenyar aneh dalam dirinya. Sudah lama ia tidak disentuh. Hanya saja, kewarasan mulai menguasai ia sedikit menjauh. “Mas, aku buatkan teh hangat dulu. “Revan menggelengkan kepala. Tangannya menahan lengan Shela. “Aku gak mau t
Tubuh Shela menegang, saat sebuah tangan memeluknya dari belakang. Ia harus terbiasa disentuh oleh pria yang tak memiliki ikatan pernikahan dengannya itu. “Sayang, apa sudah?” ucap Revan dengan suara berat, pria itu perlahan mengecup pundak Shela, napas hangatnya menyapu leher jenjang Shela. “Sudah, Mas,” jawab Shela dengan suara tertahan. Sudah lama tak disentuh, ia merasa ada gelenyar aneh di dadanya. Dengan cepat, Revan memutar tubuh Shela, hingga tubuh mungil itu membentur dada bidangnya. “Aku harus pergi dua hari, tapi rasanya kaya lama banget.” Shela mencoba untuk tidak gugup, jemari lentiknya menyusuri dada bidang Revan, gerakannya lembut, nyaris membuat Revan putus asa. “Mas, cuma dua hari loh.” Revan mengangkat Shela, mendudukkan wanita yang ia anggap istri itu dalam pangkuan, mata sayunya menatap bibir ranum Shela. “Dia pasti kangen banget.” Tatapan Shela turun kebawah, tepat pada benda keras yang menggelitik pantatnya. Ia menahan napas, pipinya pasti sudah merona


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.