/ Romansa / MAS IT & MBAK SECRETARY / Bab 7: Kebab Untuk Erina

공유

Bab 7: Kebab Untuk Erina

last update 게시일: 2026-07-22 22:10:45
"Mari kita deketin cowok itu."

Erina membisikkan kalimat tersebut pada bayangannya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kantor sepi, hanya suara langkah Akmal yang sesekali terdengar naik turun tangga.

Dalam proses menunggu, Erina mulai ragu.

Kok dia harus sampai segininya hanya untuk mendapatkan perhatian seorang lelaki? Biasanya satu kedipan saja sudah cukup membuat lelaki rela diseret ke kasur. Jangan-jangan semesta sedang memberitahunya bahwa Akmal memang tidak layak
TifanyPujiLestari

Siapa yang gemes dengan (calon) couple ini? SAYAAAAAA. Maksudku, ayo lahh mas Akmal kalo naksir jujur aja hihi. Gak sabar deh untuk liat keputusan final Erina soal milih Akmal sebagai incarannya. Soalnya sejauh ini masih imbang nih poin red dan greennya. Yukk komen prediksi kamuu. Follow author @Instagram: @Tifanypujilestari

| 좋아요
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 8: Keputusan Erina

    "Gue ngajak lo karena club-nya baru renovasi."Erina buru-buru menjelaskan sebelum Akmal memakinya lagi. Suasana pantri mendadak begitu hening. Bahkan Erina merasa bisa mendengar bunyi jangkrik di dalam kepalanya."Jadi interiornya bagus. Lebih bagus dari pantri ini." Erina meracau. Dia membayangkan menjitak kepalanya sendiri karena ucapan asal itu. Apa-apaan membandingkan pantri dan klub malam?Akmal masih menatapnya dengan kernyitan yang sama. Lelaki itu menggaruk kepalanya.Namun Erina belum menyerah."Tempatnya nggak jauh dari sini." Erina tersenyum. "Pilihan musiknya juga enak banget. Lo nggak akan nyesel."Erina memiringkan kepalanya sedikit."Yuk?""Gue..."Erina menahan napas. Ia sudah membuat keputusan.Kalau Akmal bersedia, dia akan melanjutkan proses pengejarannya. Kalau lelaki itu menolak, Erina akan melepaskannya. Capek juga mendekati orang yang tidak mau memberikan celah."Ini malam Minggu." Akmal akhirnya menjawab. "Jadwal gue pulang ke rumah orang tua di Tangerang. Gue

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 7: Kebab Untuk Erina

    "Mari kita deketin cowok itu."Erina membisikkan kalimat tersebut pada bayangannya sendiri. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Kantor sepi, hanya suara langkah Akmal yang sesekali terdengar naik turun tangga.Dalam proses menunggu, Erina mulai ragu.Kok dia harus sampai segininya hanya untuk mendapatkan perhatian seorang lelaki? Biasanya satu kedipan saja sudah cukup membuat lelaki rela diseret ke kasur. Jangan-jangan semesta sedang memberitahunya bahwa Akmal memang tidak layak diperjuangkan.Ah, sudahlah.Semuanya harus dibuktikan terlebih dahulu.Erina berdiri dari kursinya lalu memeriksa penampilannya melalui pantulan monitor yang sudah mati. Dia mengenakan kemeja floral berlengan panjang dan rok merah gelap yang nyaris ungu. Kebetulan, warna kemeja Akmal hari itu hampir senada dengan roknya.Bisa jadi pertanda mereka memang serasi.Selalu ada kemungkinan.Erina berkaca melalui layar iPhone 13 pro max miliknya. Riasannya masih bagus, bulu mata ekstensi tetap rapi,

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 6: Si Rajin Erina

    "Pantri untuk apa?" seru Bu Berta."Makan, Bu ... " jawab semuanya serentak.Erina juga ikut menjawab. Dia menunduk sok patuh. Padahal dalam hatinya ngakak, karena dia tahu tantenya itu penggila sambal terasi. Jangan-jangan, dia ngamuk mencium sambal terasi di area kantor karena tidak ditawari."Kantor untuk apa?""Bekerja, Bu.""Kalau makan di mana?""Di pantri, Bu.""Kalian mau ulangi seperti ini gak?""Tidak, Bu."Bu Berta memperhatikan wajah karyawan-karyawannya seolah bisa membaca ekspresi siapa yang kurang meyakinkan. Namun akhirnya ia mengangguk, "Erina dan Kia, buat klasifikasi makanan yang diperbolehkan dimakan di area kerja dan yang tidak. Saya tunggu laporannya hari ini.""Baik, Bu," Erina dan Kia menjawab hampir bersamaan."Xavier, tolong pantau lantai dua. Pastikan gak ada yang mukbang juga di studio."Lelaki sipit berkacamata itu mengangguk patuh, "siap, Bu.""Silakan kembali bekerja." Bu Berta kemudian menuju tangga turun, disusul Xavier yang selalu jadi buntutnya.Erin

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 5: Misi Mengenal Akmal

    “Lo lagi bikin sekte, Mas?”Mata Erina menatap tajam ke Akmal. Mereka berdua berdiri di depan pintu studio enam lantai dua yang terbuka. Studio itu dibilang kosong karena memang tak digunakan untuk shooting keperluan e-learning perusahaan edukasi ini. Namun Erina tak menyangka ajakan Akmal adalah untuk meeting bersama tim IT enam orang yang semuanya lelaki.“Itu anggota sekte pengabdi Erina katanya. Buruan masuk, mereka butuh bantuan susun proposal pengajuan tambahan manpower ke Bu Berta,” jawab Akmal datar.“Emang urusan gue? Penambahan karyawan tuh urusan Mbak Kia.” Erina melirik ke para lelaki yang sudah senyum-senyum menunggunya.“Kia aja angkat tangan. Cuma lo yang diharapkan bisa bujuk Bu Berta. Lo kan karyawan kesayangannya.”Hanya karena Erina tak terlihat sibuk dan punya ruangan sendiri, itulah yang orang pikirkan. Tak ada yang tahu bahwa ini karena Erina memang punya ikatan keluarga dengan Bu Berta.“Gak mau! Masa gue cewek sendiri?” bisik Erina kesal.“Ya gimana lagi? Ini m

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 4: Dialog Kakak Beradik

    "Aduh, si Non ...."Malam hari di tengah kompleks perumahan mewah, sopir berseragam hitam-hitam itu kelimpungan. Badan kecilnya agak susah kalau harus membopong tubuh Erina.Dia menelepon Nathan, adik Erina. Yang harusnya malam ini menemani Erina, tapi memutuskan berduaan bersama pacarnya di rumah mumpung kedua orang tua mereka sedang staycation di Bogor.Pemuda itu masih mengucek-ngucek mata waktu melihat kakaknya dibiarkan tergeletak."Padahal masukin aja, Pak.""Ah, gak berani, Mas."Nathan berjongkok, menepuk-nepuk pipi kakaknya. "Kak Erin! Bangun dong! Lo janji loh gak keterlaluan mabuknya. Heh!"Dengan sekali guncangan di bahu, gadis itu membuka mata. Dia menyingkirkan rambut tebalnya yang menghalangi pandangan. Saat melihat Nathan, dia tersenyum lebar. “Dikit kok, Nate.""Tai lah, ganggu aja. Ayo bangun!"Dari halaman luas keluarga Rudolf yang bisa menampung enam mobil, mereka masuk ke ruang tengah raksasa dengan lampu kuning menggantung tinggi dari lantai tiga. Harum kayu dan

  • MAS IT & MBAK SECRETARY   Bab 3: Cincin Akmal?

    “Akmal Lucius Winarto.”Erina membaca nama pada label alamat, lalu meletakkan paket plastik hitam seukuran kotak sepatu itu di meja Akmal.Lelaki itu membuka sebelah headphone-nya, “Kenapa lo bawain ke sini?”“Sekalian naik aja.” Erina tersenyum.“Oh. Thank you.” Akmal meletakkan paket itu ke kolong meja, memakai kembali headphone-nya, lalu menatap komputer seolah Erina sudah tak ada di depannya.“Anytime, Mas Akmal.” Erina tak peduli Akmal tak meliriknya lagi. Sejujurnya dia sedang mencari alasan untuk menyebut nama itu. Nama yang akhir-akhir ini muncul di otaknya, sesering wajah Akmal yang tak bisa lepas dari mimpi di tidurnya.Di ruangan pengap yang hanya menjadi hunian bagi Erina, kursi putarnya yang sering macet dan meja besar yang berhimpitan dengan lemari arsip, dia hanya bisa memperhatikan keramaian di luar ruangan dari suara-suara yang terdengar. Pintunya memang tipis, jadi ruangannya tak kedap suara sama sekali.Minimal dua jam sekali pasti nama Akmal disebut.Ketika mendada

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status