ANMELDENKakak Lilian, Alexander, akhir-akhir ini mendadak aneh. Lilian tidak ingat kapan dimulainya. Suatu hari tatapan mata Alexander menjadi lebih dingin dan acuh. Tidak ada lagi kata-kata manis dari pria ini. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar kasar. Alexander bahkan seperti berusaha menghindarinya. Lilian pikir, kakaknya menderita gangguan jiwa yang langka atau seseorang dari dimensi lain telah bertransmigrasi dan mengambil alih tubuh kakaknya. Sementara Alexander mati-matian menyangkal perasaannya pada adik angkat pengacau ini dengan bertingkah sebagai bajingan, Lilian mulai menjalankan misi penyelamatannya.
Mehr anzeigenLilian terbangun tepat sebelum mobil memasuki halaman rumah. Dia merasakan sedikit guncangan saat mobil berbelok. Setelah mengedipkan matanya beberapa kali, dia melihat wajah ibunya yang cemberut. Dia pikir ibunya masih khawatir padanya."Ibu, aku baik-baik saja."Entah sudah berapa kali Lilian mengulang kalimat itu. Nyonya William sudah tidak percaya lagi. Berdasarkan pengalamannya bertahun-tahun, setiap Lilian mengatakan itu, pasti ada sebuah masalah yang disembunyikannya."Ralph, kurasa sebaiknya kita ke rumah sakit dulu." Nyonya William berkata dengan nada gusar. Dia tiba-tiba saja teringat untuk memeriksakan Lilian.Dia tidak melihat ada luka sedikit pun pada putrinya. Tapi dia merasa ada yang tidak beres dengan Lilian."Ibu, aku benar-benar tidak apa-apa. Apa yang bisa terjadi denganku? Di luar hujan. Aku hanya tidak bisa ke mana-mana dan takut dengan suara petirnya. Sekarang aku sudah tidak takut lagi. Ada kakak dan kalian." Lilian masih berusaha meyakinkan.Sudah malam. Dia ju
Lilian mengangkat wajahnya, menatap curiga pada orang yang berjalan masuk. Dalam cahaya senter yang datang, dia akhirnya mengenali pria itu."Kakak?" Suara Lilian terdengar serak.Dia bangkit dari duduknya dengan tertatih dan merasakan kesemutan di kakinya. Langkahnya sempoyongan saat menyongsong kedatangan Alexander.Lilian ingin bergegas menyerbu ke pelukan kakaknya, tapi langkah Alexander lebih cepat. Dia menangkap tubuh gadis itu yang hampir saja terjatuh."Kakak, kenapa lama sekali? Di sini sangat gelap dan petirnya juga menakutkan." Lilian terisak. Badannya berguncang dalam tangis.Alexander merasa tubuhnya tegang sesaat. "Maaf, aku benar-benar lupa."Udara dingin dari luar menerobos masuk. Tapi Alexander malah merasa terbakar.Hujan di luar masih turun dengan derasnya. Sebuah petir menyambar melintasi langit.Tubuh Lilian tersentak. Pelukannya terasa makin kuat. Tubuhnya menggigil dalam dingin dan ketakutan.Di balik punggung Lilian, mata Alexander memerah. Tubuh Lilian teras
Sudah hampir pukul tujuh malam saat Alexander memeriksa waktu di ponsel. Dia hampir berlari saat pergi ke tempat dia memarkir mobilnya di halaman.Ketika mobil tiba di jalan besar, cuaca di atas sana terlihat buruk. Awan gelap menggulung menutupi langit.Alexander menggenggam kemudi kuat-kuat, berusaha fokus pada jalan di depan.Apa yang dipikirkan Lilian? Apa maksudnya dengan mematikan ponselnya?Sebuah pikiran buruk tiba-tiba melintas. Apakah ponselnya hilang dan berpindah tangan? Atau hanya kehabisan daya? Apa yang terjadi pada si pengacau itu? Mungkinkah sekelompok orang telah menculiknya?Dia mengatakan sekelompok orang karena dia tidak percaya jika ada yang sanggup menculik Lilian seorang diri. Itu sama saja dengan mencari kematian.Begitu mobil ke luar dari jalan yang ramai, Alexander menginjak pedal gas lebih dalam.Mungkin seorang saingan bisnis ingin menjadikan adiknya sebagai jaminan akan suksesnya suatu proyek. Tapi setelah dengan begitu kerasnya dia berpikir, Alexander
"Kakak, apa kau ingat saat nenek meninggal?" Lilian bertanya sambil terus memperhatikan perubahan wajah Alexander. Dia ingin memastikan tidak ada yang terlewat dari pengawasannya.Ini akan menjadi tes untuk memastikan 'keaslian' kakaknya.Alexander mengerutkan kening, seperti sedang mengingat. Padahal dia sedang berpikir keras untuk menemukan alasan dibalik pembicaraan acak ini.Kenapa tiba-tiba menanyakan ini?Di mata dan otak Lilian, sepertinya Alexander sudah lupa. Atau sama sekali tidak tahu."Ingat tidak?" tanyanya lagi."Tentu saja ingat." Alexander menjawab dengan tidak sabar. Bagaimana dia bisa lupa?"Itu adalah hari paling menyedihkan selama hidupku. Rasanya ingin ikut nenek saja."Lilian bicara seperti orang yang sedang melamun.Alexander tidak berkomentar apa-apa. Bagian ini dia juga masih ingat.Dia masih menunggu kalimat Lilian berikutnya."Hari itu aku pergi bersembunyi seharian dan baru kembali malam hari. Kalian semua sempat kebingungan mencariku."Lilian menatap kaka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.