LOGINPerjuangan Arum menurunkan berat badan terasa sia-sia saat ia mengetahui suaminya selingkuh. Ia pun meminta berpisah, tetapi Enggar justru mengancam akan mengambil segalanya dari Arum, termasuk hak asuh anak kembar mereka. Arum yang sudah tak tahan dengan semuanya, memilih pergi meninggalkan rumah. Dibantu Lee, Arum yang sempat menyerah untuk bisa kurus, akhirnya kembali bersemangat. Hingga ia pun mendapatkan berat badan ideal dan membalas kejahatan sang suami!
View More[120]
Arum menelan ludah dengan bersusah payah saat melihat angka yang tertera pada timbangan digital di bawah kakinya.
"Halah, paling timbangan kamu naik lagi. Nggak perlu ditimbang juga udah keliatan dari bentuk perut kamu."
Suara seseorang dari belakang terdengar seperti ejekan, membuat Arum semakin tertekan dan sesak.
Itu suara Enggar_suami Arum. Entah darimana datangnya pria itu, tiba-tiba saja dia sudah ada di dalam kamar, padahal Arum sudah mewanti-wanti agar suaminya tidak melihat ia menimbang badan.
"Aku 'kan udah bilang jangan sering makan malam, naik lagi 'kan berat badan kamu. Nggak usah ditimbang juga udah keliatan dari lemak di perut kamu yang menggelambir itu," sindir Enggar melirik sinis.
Arum menghela napas panjang. Sudah sering ia mendengar penghinaan itu dari mulut suaminya sendiri, tepatnya setelah ia melahirkan anak kembar mereka tiga bulan yang lalu.
Sebagai seorang suami, Enggar tidak pernah mendukung Arum memberi ASI Ekslusif pada anak kembar mereka, pria itu justru sering mengejek bodi Arum yang makin hari makin melar karena nafsu makan Arum melonjak drastis.
"Diet dong!" lanjut Enggar. Dengan santainya ia merebahkan tubuh ke atas ranjang tanpa memedulikan reaksi Arum setelah mendengar sindiran itu.
Urat-urat di leher Arum menegang, geram mendengar ucapan suaminya yang seolah berpikir semuanya mudah. "Kalau aku diet, si kembar gimana Mas? ASI aku nggak akan keluar. Harusnya kamu mendukung aku dong ngasih ASI ke anak kita selama enam bulan," balas Arum dengan nada kesal.
Enggar melirik ke arah Arum, menatap wanita bertubuh subur yang memakai daster jumbo bermotif bunga-bunga itu. Sangat berbeda dengan Arum yang dia kenal dulu.
Sebelum menikah, bentuk tubuh Arum sangat langsing, wajahnya oval, hidung mancung dengan mata bulat indah. Namun sekarang, semuanya tertutup oleh lemak. Arum terlihat seperti sapi perah di mata Enggar.
"Kalau bentukan kamu begini, suami kamu bisa berpaling, Rum!" ucap Enggar lalu memalingkan wajah seolah jijik.
Mendengar itu, dada Arum seperti dihantam palu raksasa, sakit, sesak, hingga membuatnya nyaris kehabisan napas.
"Jahat banget mulut kamu, Mas!" isak Arum menahan tangis. "Aku gendut begini juga karena melahirkan anak kamu. Kenapa kamu ngomong begitu sih?"
Enggar berdecak, "Julia juga ngelahirin anaknya Anton, tapi badan dia masih bagus. Nggak gendut kayak kamu. Harusnya kamu belajar dong dari dia. Tanya dia diet apa aja."
Deg!
Lagi-lagi Enggar menyebut nama mantan pacarnya itu. Wanita yang menikah dengan sepupu Arum yang bernama Anton. Sejak beberapa bulan ini Enggar memang sering membahas Julia, bahkan sering menyebut nama wanita itu saat mereka sedang berhubungan suami-istri.
Arum sempat curiga Enggar dan Julia menjalin hubungan terlarang di belakangnya, namun Anton selalu menyangkal itu karena ia yakin Julia wanita yang setia.
"Kalau begitu nikah aja sama Julia! Kenapa kamu malah nikah sama aku?" tangis Arum pecah. Ia melangkah cepat keluar dari kamar dan membanting pintu.
Baru saja ingin menenangkan diri di kamar si kembar, langkah Arum terhenti saat melihat ibu mertuanya datang membawa dua botol susu.
"Kamu kenapa, Rum?" tanya Yanti melihat menantunya menangis tersedu-sedu.
"Ibu tanya aja sama anak Ibu. Aku capek dihina terus sama dia," jawab Arum dengan suara parau. "Mas Enggar udah keterlaluan Bu. Kalau terus kayak begini, mending aku cerai aja sama dia!"
Mata Yanti membulat, syok mendengar ucapan menantunya. "Ssthh! Nggak baik ngomong begitu, Rum. Jangan gampang minta cerai. Memang Enggar ngomong apa sama kamu? Kalau masalahnya sepele, nggak usah sedikit-sedikit minta cerai. Emang kamu pikir enak jadi janda? Belajar dari rumah tangga orang tuamu. Jangan sampai anakmu merasakan hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua seperti kamu!"
Arum terdiam. Mengingat lagi masa lalunya yang menyakitkan. Orang tuanya bercerai saat ia kecil. Ibunya menikah lagi dengan pria asal Jepang dan menetap di sana. Sementara ayahnya menghilang bagai ditelan bumi.
Ia dibesarkan oleh sang Kakek yang dikenal sebagai juragan tanah dan memiliki pabrik tekstil besar di Bogor.
Setelah kakeknya meninggal dunia, seluruh kekayaan sang Kakek jatuh ke tangan Arum termasuk pabrik yang sekarang dikelola oleh Enggar.
Arum tidak pernah tahu apapun tentang urusan pabrik, bahkan tanah warisan kakeknya. Selama menikah dengan Enggar, ia tidak memedulikan soal itu, ia hanya ingin hidup bahagia bersama suami dan anak-anak mereka.
Sudah empat tahun pernikahan, Arum dan Enggar baru dikaruniai anak kembar perempuan yang diberi nama Aria dan Arsy. Namun, sejak Arum mengandung sikap Enggar padanya berubah dan semakin hari semakin dingin. Hingga Arum merasa tidak sanggup mempertahankan rumah tangga mereka.
"Biar Ibu yang ngomong sama Enggar. Kamu urus anak kamu dulu." Yanti memberikan botol susu pada Arum, kemudian melangkah ke kamar utama.
Arum masuk ke kamar, melihat anak kembarnya tertidur pulas di dalam baby box.
Tangisan Arum tak tertahankan saat melihat wajah anak kembarnya yang tidak tahu apa-apa itu.
Ada perasaan takut kedua anaknya akan merasakan hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua seperti dia dulu.
"Maafin Mama dan Papa ya, Nak," isak Arum membelai wajah anak kembarnya dengan lembut.
Arum menjatuhkan tubuh di pinggir ranjang. Matanya yang sembab melirik nakas di samping, melihat tumpukan cemilan yang sengaja ia siapkan untuk mengganjal perut saat lapar.
"Aku harus diet!" tekad Arum. Ia berdiri mengambil cemilan itu dan membawanya ke tempat sampah.
Namun, tiba-tiba Arum terdiam, menelan ludah sambil melihat biskuit dan coklat kesukaannya. Seolah makanan itu tengah berteriak memanggil nama Arum dan meminta untuk secepatnya dimakan.
"Aaaakkk! Kenapa sulit sekali?" jerit Arum. Akhirnya menyerah dan kembali membawa cemilan itu, kemudian duduk di tepi ranjang.
Arum memakan biskuit itu dengan lahap. "Besok, besok aku pasti diet. Ya, besok aja. Sekarang aku harus memompa ASI untuk si kembar, kalau aku nggak makan nanti ASI aku dingin. Kasihan si kembar."
Tanpa rasa bersalah sedikitpun, Arum menghabiskan satu bungkus biskuit, disusul satu kotak coklat dan minuman manis yang juga ia siapkan di kamar itu.
Mission Failed!
Lagi-lagi rencana diet Arum gagal total karena tergoda biskuit dan coklat batangan.
Setelah menghabiskan cemilan yang baginya hanya bikin gatal tenggorokan, Arum mengambil ponsel di atas meja.
Deg!
Mata Arum berbinar saat melihat unggahan temannya yang tengah merintis usaha jual makanan.
~Ready Dimsum Mentai satu box 50k aja. Isi lima. Daging tebal, ukuran gede. Cuss order sebelum kehabisan~
Menelan ludah. Tanpa sadar jari Arum yang bulat-bulat menekan satu per satu huruf di layar ponsel lalu mengirimnya.
Arum [Antar ke komplek Permai 10 box. Cepet ya]
Balasan [Rum, kamu mau bikin selametan? Perasaan di rumah kamu cuma ada tiga orang. Si kembar 'kan belum bisa makan]
Arum [Udah sih anter aja. Itung-itung ngelarisin dagangan kamu, hehehe]
"Pesanan nasi kuning empat bungkus dan es semangka susu atas nama Bu Arum." Seorang pria berjaket hijau dan helm bertuliskan logo perusahaan antar jemput barang online berdiri di depan pintu kaca gym milik Lee.Pria berkumis tebal itu celingak-celinguk, memperhatikan bagian dalam gym lewat pintu kaca. Namun, ia tidak melihat penampakan wanita yang dia kenal sebagai sahabat istrinya."Permisi! Spada! Bu Arum, ini kiriman makanan udah sampai." Takut kena marah istri di rumah karena pergi terlalu lama, pria itu nekat membuka pintu kaca tersebut dan melangkah masuk. Melihat seorang pria berwajah oriental yang sangat tampan, mirip seperti artis di drama China menghampiri, pria itu langsung menghentikan langkah kakinya. "Permisi Ko, maaf saya mengantar makanan atas nama Bu Arum. Katanya suruh antar ke sini," ucap pria bernama Toto itu sambil menunjukkan paperbag besar di tangannya. Lee menatap paperbag itu, lalu mengalihkan pandangan ke luar pintu. "Arum?" Ia tahu nama itu, tetapi apa be
Setelah mendapat telepon itu, Arum buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Yanti masih duduk di sofa dengan pandangan kosong keluar jendela.Rasa penasaran itu kian membuncah, membuat Yanti tidak tenang. Apalagi tadi dia mendengar nama Anton disebut. Sudah pasti ada sesuatu."Kamu ditelepon siapa tadi? Kamu mau pergi ya?" tanya Yanti menyelidik.Arum tidak menjawab, karena di dalam kamar mandi memang tidak boleh mengeluarkan suara apapun. Selesai mandi, wanita bertubuh subur itu mendekati baby box anak kembarnya."Kamu mau ke mana? Kok pake baju rapih?" Yanti melirik Arum dari ujung kepala sampai kaki. Wanita subur yang biasanya hanya mengenakan daster XXL itu kini memakai stelan formal sambil menenteng tas cukup besar. "Enggar udah tahu kamu mau pergi?""Ini aku mau minta antar Mas Enggar. Dia belum berangkat kerja 'kan, Bu?"Mendengar jawaban itu, Yanti menghela napas lega. Hampir saja ia terkena serangan panik melihat menantunya akan pergi seorang diri menemui Anton.Selama
Tepat jam sembilan malam, baru saja ingin menutup mata, tiba tiba cahaya lampu dari luar masuk ke dalam kamar yang bercahaya temaram.Pintu kamar terbuka lebar, disusul suara langkah kaki mendekati baby box di samping sofa panjang tempat Arum berbaring.Arum membuka mata sedikit, melihat siapa yang masuk ke kamar anak kembarnya. Ternyata itu Enggar, ia pun langsung memejamkan mata rapat. Berpura-pura tidur."Bawa anak-anak ke kamar," kata Enggar melirik ke arah sofa, melihat Arum meringkuk dan menutupi seluruh tubuh gemuknya menggunakan selimut tipis. "Ngapain kamu ikut tidur di sini? Pindah ke kamar! Kamu belum tidur 'kan?"Arum hanya diam, pura-pura tidak mendengar. Biar saja Enggar menganggapnya tuli, yang jelas ia masih kesal dan tidak akan mau tidur di kamar utama."Oh, jadi sekarang kamu mau kita pisah ranjang?" tanya Enggar sinis.Arum tetap diam. Malas meladeni sikap dingin suaminya. Toh selama beberapa bulan sejak anak mereka lahir ia juga tidak pernah disentuh. Apa bedanya d
Paket!Arum yang sejak satu jam lalu menunggu di teras rumah langsung menerima kiriman makanan dari temannya itu. "Udah ditransfer ya, Bang," kata Arum pada suami dari sahabatnya."Iya, makasih ya. Semoga jadi langganan terus."Arum hanya tersenyum. Setelah pria berkumis tebal itu pergi, ia buru-buru masuk ke dalam rumah sambil membawa bungkus makanan. Matanya mengedar, memastikan tidak ada yang melihat. Seingatnya Enggar ada di dalam kamar dan belum keluar sejak pulang kerja tadi.Aman!Arum berlari kecil dan masuk ke dalam kamar si kembar lalu menutup pintu rapat.Senyum di bibirnya merekah saat melihat makanan kesukaannya ada di depan mata. Ia membuka satu per satu box berisi dimsum dengan saus mentai itu.Satu box berisi lima dimsum berukuran besar. Bagi perut manusia normal satu atau dua porsi saja cukup, tapi bagi Arum ... ia sanggup menghabiskan sepuluh porsi seorang diri."Besok aku diet dan olahraga," ucap Arum menyemangati diri sendiri lalu melahap dimsum satu per satu. Ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews