LOGINMelarikan diri dari perjodohan mengerikan dengan seorang sosiopat, putri miliarder Ruby Sinclair nekat menyusup ke markas klan mafia Castellano sebagai pelayan rendahan. Ia mengira tempat itu adalah persembunyian paling aman, sampai suatu malam ia terjebak di bawah kungkungan Tuan Muda mafia yang mematikan, Nikolai Castellano. Dalam keadaan mabuk berat, Nikolai mengira Ruby adalah Bianca—mantan kekasih yang telah mengkhianatinya. Alih-alih mengusir Ruby saat identitas aslinya terungkap, Nikolai justru menjerat wanita itu dalam sebuah kesepakatan. Sang mafia bersedia memberikan perlindungan dari kejaran ayah Ruby dan keluarga Ivanov, dengan satu syarat: Ruby harus menyerahkan tubuhnya, menghabiskan malam demi malam di ranjang pria itu sebagai boneka pengganti untuk memuaskan obsesi dan dendam masa lalunya.
View MoreRuby menatap telapak tangannya yang memerah dan mulai kapalan. Ada perih yang menjalar setiap kali ia mengepalkan jemarinya, sebuah sensasi yang sama sekali tidak pernah ia kenal sepanjang dua puluh dua tahun hidupnya.
Dulu, tangan itu hanya tahu bagaimana cara memegang tas branded, atau menggesek kartu kredit tanpa batas di butik-butik mewah. Dulu, ia adalah Nona Ruby Sinclair, putri bungsu dari seorang miliarder real estat yang hidupnya dilayani oleh puluhan pelayan.
Namun, roda nasib berputar terlalu cepat dan kejam. Hanya dalam kurun waktu beberapa hari, kehidupan mewahnya runtuh tak bersisa.
Ayahnya dengan kejam mengorbankan Ruby demi ambisi bisnis, berniat menjodohkannya dengan putra sulung keluarga Ivanov, seorang sosiopat dengan rekam jejak kelam yang gemar menyiksa wanita di balik pintu tertutup.
Puncaknya, seminggu sebelum hari pertunangan itu, Ruby memilih melarikan diri.
Ia pergi dengan uang tunai yang tidak seberapa, menjadi buronan ratusan pengawal sewaan yang dikerahkan ayahnya untuk menyeretnya pulang.
Ruby tidak akan pernah lupa malam di mana pintu apartemen murah tempatnya bersembunyi digedor paksa oleh sekelompok pria berwajah sangar suruhan ayahnya.
Ia nyaris diseret dan diserahkan pada keluarga Ivanov jika saja ia tidak berhasil melarikan diri lewat tangga darurat di tengah malam.
Ketakutan, putus asa, dan pelariannya yang membawanya menyusup ke sebuah klub malam bising, mengubah jalan hidupnya.
Di sanalah ia mencuri dengar tentang sebuah lowongan pelayan di kediaman keluarga Castellano, sindikat mafia penguasa dunia gelap yang bahkan membuat ayahnya gemetar ketakutan. Perasaan terdesak itu membuat Ruby membuang jauh-jauh harga dirinya.
Itulah sebabnya, malam ini, ia berada di sini. Di paviliun sempit yang hanya diterangi lampu temaram, tidur beralaskan kasur tipis sebagai seorang pelayan.
"Baru mencuci piring segitu saja sudah lambat! Bagaimana mau bekerja beres kalau gayamu seperti nyonya besar, hah?"
Ruby memejamkan mata, berusaha mengabaikan rasa sakit di pinggangnya. Kalimat sinis dari Martha, salah satu pelayan senior di rumah ini, masih terngiang di telinganya.
Baru dua hari Ruby bekerja di sini, tapi rasanya seperti berada di neraka. Pelayan-pelayan senior yang melihat dengan mudah gelagat Ruby yang tidak terbiasa melakukan pekerjaan kasar langsung menjadikannya sasaran empuk.
Ia disuruh mencuci, mengepel seluruh area belakang, hingga menyikat lantai kamar mandi sampai larut malam.
Ruby menelan ludahnya yang terasa pahit. Bertahanlah, Ruby. Kediaman Castellano dijaga ketat oleh puluhan penjaga bersenjata. Ayahmu dan pria Ivanov itu tidak akan berani menyentuhmu di sini, batinnya menguatkan diri.
Ia baru saja terlelap selama kurang dari dua jam ketika gedoran keras di pintu kamarnya membuatnya terlonjak kaget.
"Ruby! Bangun! Heh, anak baru, bangun!"
Ruby buru-buru menyibakkan selimut tipisnya dan membuka pintu. Di ambang pintu, Martha dan Edith—dua pelayan senior yang paling sering menindasnya—berdiri dengan wajah pucat namun berusaha terlihat congkak sambil melipat tangan di dada.
"Ada apa, Martha? Ini... ini sudah jam satu pagi," ucap Ruby dengan suara serak, masih setengah sadar.
"Jangan banyak alasan. Tadi sore jadwalnya kamu bersihkan kamar Tuan Nikolai di lantai tiga, kan? Kenapa belum dibersihkan?" bentak Edith.
Ruby mengerutkan kening. "Tapi... tadi sore Edith yang menyuruhku memotong rumput di halaman belakang sampai malam, lalu Martha menyuruhku menyetrika seprai—"
"Berani menjawab kau?!" Martha memelototkan matanya. "Tuan Nikolai sebentar lagi pulang! Kalau dia melihat kamarnya berantakan, kita semua bisa mati malam ini! Sana cepat bersihkan kamarnya sekarang. Ganti seprainya, pel lantainya, pastikan wangi! Kalau sampai ada debu sedikit saja, aku pastikan besok pagi kau dilempar keluar dari gerbang ini!"
Ruby menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Ia sangat butuh persembunyian ini. Dibuang dari rumah ini sama saja dengan menyerahkan nyawanya pada Ivanov di luar sana.
"Baik. Aku ke atas sekarang," jawab Ruby akhirnya, menundukkan pandangan.
Ia bergegas mengambil alat kebersihan dan berjalan menuju lorong. Tanpa Ruby ketahui, tepat setelah ia membalikkan badan, Martha dan Edith saling melempar pandangan. Keduanya menyeringai licik, menahan tawa bercampur ketakutan yang hampir meledak.
"Biar mampus anak baru itu," bisik Edith, matanya berbinar licik. "Orang-orang keamanan di depan bilang Tuan Nikolai sedang mabuk berat malam ini. Dia pasti mengamuk kalau ada pelayan yang berani masuk kamarnya jam segini."
"Biarkan saja. Aku muak melihat wajah sok cantiknya itu," balas Martha sambil terkekeh pelan.
Di sisi lain, Ruby sama sekali tidak menyadari jebakan mematikan yang telah disiapkan untuknya.
Sambil membawa keranjang berisi seprai bersih dan perlengkapan pel, jantung Ruby berdebar kencang saat melangkah menyusuri lorong lantai tiga yang sepi, remang-remang, dan dijaga oleh pria-pria berjas hitam yang menatapnya dengan pandangan mengintimidasi.
Selama dua hari bekerja di sini, Ruby belum pernah sekalipun bertatap muka dengan Tuan Nikolai.
Sang Tuan muda jarang ada di rumah. Ruby hanya mendengar selentingan dari pelayan lain bahwa pria itu sangat dingin, tak kenal ampun, dan memiliki temperamen yang mematikan, terutama akhir-akhir ini.
Ruby mendorong pintu kayu berukir itu perlahan. Kamar itu sangat luas, didominasi warna gelap yang maskulin dan mengancam. Aroma maskulin dari parfum mahal dan samar bau mesiu menguar lembut.
Interiornya sekilas mengingatkan Ruby pada kamar mewahnya dulu sebelum pelariannya menghancurkan segalanya. Menepis kenangan pahit itu, Ruby segera bergerak cepat. Ia mengganti seprai, merapikan bantal, dan memastikan tidak ada debu di meja nakas.
Tepat ketika ia sedang menata gelas kristal dan sebotol air di atas meja kecil di sudut ruangan, suara langkah kaki yang berat dan tidak beraturan terdengar mendekat dari arah lorong.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka dengan kasar. Angin dingin seolah ikut masuk menembus ruangan, membawa serta aroma alkohol yang sangat pekat.
Ruby membeku di tempatnya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Sosok pria jangkung berdiri di ambang pintu.
Kemeja gelapnya berantakan, beberapa kancing teratasnya terbuka paksa. Rambutnya berantakan, namun tidak bisa menutupi rahangnya yang keras dan wajahnya yang luar biasa tampan bak pahatan iblis. Pria itu adalah Nikolai Castellano.
Nikolai melangkah terhuyung masuk ke dalam kamar, menutup pintu di belakangnya dengan bantingan keras.
Teringat akan posisinya sebagai pelayan, Ruby buru-buru menundukkan kepala. Mencoba bersikap seprofesional mungkin meski tangannya gemetar, Ruby segera menuangkan air putih ke dalam gelas kristal yang baru saja ia bersihkan.
"Selamat malam, Tuan. Maaf saya—"
Ruby melangkah maju, berniat menyodorkan segelas air putih untuk meredakan mabuk majikannya itu. Namun, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, pergerakan Nikolai terjadi begitu cepat.
Prang!
Gelas di tangan Ruby terlepas dan pecah berkeping-keping di atas karpet tebal ketika tangan besar nan kokoh milik Nikolai tiba-tiba mencengkram pergelangan tangannya dengan sangat kuat.
Ruby mendongak dengan napas tertahan, matanya membulat panik menatap langsung ke dalam sepasang manik mata legam milik Nikolai.
Tatapan pria itu sayu akibat alkohol, memerah, namun menyiratkan kilat keputusasaan, amarah, dan kerinduan yang mendalam.
Tangan Nikolai yang bebas kini terangkat, menyentuh rahang Ruby dengan sentuhan kasar yang membuat sekujur tubuh Ruby meremang.
"Bianca...?"
Ruby menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah ketika jari tengah Nikolai menekan lebih dalam, mengusap titik sensitifnya dengan gerakan lambat dan sengaja. Tubuhnya menegang di antara dinding dingin dan dada bidang pria itu. “Tuan… tunggu—” suaranya serak, masih terasa sisa cairan asin di tenggorokannya.“Tidak,” jawab Nikolai datar. Jari keduanya ikut masuk, meregangkannya perlahan. “Kau sudah basah sekali. Tubuhmu lebih jujur daripada mulutmu.”Ruby menggeleng, tapi pinggulnya secara tidak sadar mendorong maju, mengejar gesekan itu. Nikolai tertawa pelan, napasnya terasa hangat di telinga Ruby.“Lihat. Bahkan sekarang kau masih menggesekkan diri ke jariku.” Ia menarik jari-jarinya keluar, lalu memasukkan lagi lebih dalam, kali ini dengan tiga jari. “Katakan. Apa kau ingin aku di dalammu, Bianca?”Ruby menunduk, wajahnya terbakar. “Saya… tidak…”“Bohong.” Nikolai menggigit cuping telinganya keras. “Bianca tidak pernah menolakku. Ulangi. Dengan benar.”Ruby terlonjak. Jari-jar
Mata Ruby mulai berkaca-kaca karena rasa penuh di mulutnya. Ia mencoba menahannya, tapi setiap kali ujung kejantanan itu menyentuh bagian belakang tenggorokannya, ia merasa tersedak.Tubuhnya berguncang, membuat Ruby memegang paha Nikolai untuk menahan diri agar tidak jatuh mundur.Tapi Nikolai tidak peduli. Ia menarik kepala Ruby lebih dekat, memaksa hampir seluruh panjang kejantanan itu masuk. Ruby tersedak keras, hidungnya hampir menempel di perut pria itu. Napasnya tersumbat. Detik-detik itu terasa sangat panjang hingga Nikolai menarik keluar sedikit kejantanannya, memberi ruang.“Bernapas,” perintahnya serak. “Lalu masukkan lagi.”Ruby menarik napas kasar, dada naik-turun cepat. Air matanya mengaburkan pandangan. Ia merasa begitu terhina, tapi juga… entah mengapa, ada getaran aneh di perut bawahnya setiap kali Nikolai mengerang pelan karena gerakannya.Ruby membuka mulut lagi. Kali ini lebih patuh mengikuti perintah Nikolai. Lidahnya bergerak di bawah kejantanan itu, mencoba me
Ruby menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya kering, detak jantungnya bergemuruh kencang di telinga. Perintah itu menggantung di udara, berat dan tak terbantahkan.Gadis itu memandang Nikolai. Mata legam itu tak berkedip, menunggunya. Panas tubuh pria itu masih terasa di kulitnya yang terbuka. Jubah hitam yang tadi Ruby kenakan sudah tergeletak di lantai, meninggalkannya hanya dengan lingerie merah marun yang nyaris tak menutupi apa pun.Ruby belum pernah melakukan ini. Tidak pernah. Bibirnya belum pernah menyentuh kejantanan pria mana pun. Bayangan harus berlutut di depan Nikolai, membuka mulut, dan melakukan itu membuat perutnya bergejolak hebat. Rasa malu, takut, dan sesuatu yang lebih gelap bercampur aduk.Tangannya terkepal di sisi tubuh. Napasnya memburu.Nikolai tidak mengulangi perintahnya. Ia hanya menatap Ruby, rahangnya mengeras. Ibu jarinya masih mengusap pelan tengkuk Ruby.“Aku tidak suka diulangi, Bianca,” bisiknya rendah, serak. “Berlutut.”Nama itu lagi. Bi
Ruby menelan ludah dengan susah payah, membiarkan keheningan yang mencekam menggantung di udara kamar mandi yang beruap itu. Matanya terpaku pada kotak beludru dan gaun tidur sutra di tangan Elena."Secepat ini?" bisik Ruby nyaris tanpa suara. Wajahnya yang semula memerah karena air hangat perlahan memucat.Ia kira setidaknya ia akan punya waktu beberapa hari, atau paling tidak satu malam penuh untuk mengistirahatkan tubuhnya sebelum pria itu manggilnya kembali. Namun, di dunia Castellano, waktu rupanya berjalan sesuai dengan kehendak sang Tuan Muda.Melihat kepanikan yang terpancar dari mata Ruby, Elena menundukkan pandangannya. "Tuan Nikolai masih memiliki pertemuan tertutup dengan beberapa petinggi keluarga di ruang kerja utama malam ini, Nona. Pertemuan itu diperkirakan akan berlangsung cukup alot.""Lalu... kenapa kau membawa pakaian itu sekarang?""Tuan Nikolai memberikan waktu dua jam untuk anda bersiap," jelas Elena dengan nada hati-hati. "Beliau secara khusus memerintahkan ag






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.