LOGINWhen fate binds a gentle Thornshade healer to the ruthless Alpha of Ironfang, love becomes the cruelest battle of all. Elara Everstorm fled Ironfang with more than just heartbreak—she fled with the Alpha's heir. For two years, she hid in the shadows of Thornshade, raising her son in silence while Draven—a merciles Alpha who rejected their bond, tore through kingdoms searching for her. But one can't outrun destiny. When Draven descends upon Thornshade demanding peace—or blood—Elara is forced to face him again, their secret child in her arms... unmistakably his. Old wounds ignite. Desire burns hotter than vengeance. But, an ancient evil from the past rises, and hunts their child. In order to save their son, they must confront the truth they both denied: that love may be the only power left to save them. Two sworn enemies must fight side by side for the future of their world, and for the son who carries both their blood.
View More"Lepaskan aku!" jerit Anastazja memberontak.
Ia menggoyangkan tubuhnya keras ke samping, berharap tambang kasar yang mengikatnya kendur dan melepaskan jeratannya. Sayang, dengan sigap dua petugas polisi Alastor kembali mengencangkan ikatan tambang yang melingkari tubuh Anastazja.
"Kalian tidak boleh memperlakukanku seperti ini!" Kembali ia mempertahankan dirinya.
Namun, bukannya berubah lembut, para polisi justru menamparnya dengan keras. "DIAM!" balas salah satu dari mereka keras.
Anastazja terdiam menunduk. Pasrah dengan keadaannya sekarang. Ia hanya berharap, Helio sudah sampai ke tempat asalnya dengan selamat. Dua petugas kepolisian menarik simpul yang mengikat tubuh dan tangannya sehingga Anastazja mengaduh kesakitan.
"Jalan!" Perintahnya kasar. Petugas itu mendorong pundak kiri Anastazja, memberinya isyarat untuk jalan menuju sky ship yang sudah menunggu mereka. Anastazja memulai langkahnya dengan terseok-seok. Andai tubuhnya tidak melemah, mungkin ia bisa menggunakan sedikit sihir untuk kabur saat itu juga.
***
Segalanya bermula saat Anastazja berusia sembilan tahun. Usia yang cukup dewasa untuknya sebagai pelajar kelas tiga sekolah dasar. Hari itu adalah hari bahagia baginya. Ketika Miss Hers menyatakan bahwa lukisan karya Anastazja mendapatkan peringkat karya terbaik pada kompetisi melukis nasional tingkat sekolah dasar.
Lukisan yang diberi judul 'hijau' oleh Anastazja tersebut, menggambarkan sebuah bangunan klasik yang terletak di sudut kota yang ramai akan masyarakat yang berlalu-lalang melewati sebuah jalan besar di depannya. Bangunan dengan gaya klasik itu memiliki sebuah papan nama bertuliskan 'house of green' di depannya. Di sampingnya, terdapat sebuah kafe dengan payung-payung untuk meneduhi meja pelanggan di bawahnya.
Tidak lupa, ia juga melukiskan toko roti yang turut mengapit house of green. Sebuah toko roti yang juga klasik, tetapi memancarkan suasana hangat yang berasal dari senyum sang pemilik toko. Tidak ada yang istimewa memang kalau melihat lukisan tersebut. Anastazja sendiri tidak mengerti, kenapa lukisannya bisa menjadi juara favorit. Yang ia tahu, ia bisa membanggakan orang tuanya dengan piala penghargaan yang akan dibawa pulangnya.
Miss Hers mengumumkan di depan seluruh siswa di kelas. Meskipun tidak mendapatkan respons yang layak dari mereka, Anastazja tetap merasa bahagia saat namanya dipanggil dan diberikan medali juga piala penghargaan padanya. Miss Hers tersenyum senang.
"Aku tahu lukisanmu sangat indah, Anastazja. Karena itu, kau harus percaya pada dirimu sendiri. Jangan kalah dengan pandangan orang lain," pesannya seraya menepuk bahu Anastazja lembut.
Anastazja kecil sangat bersemangat. Ia mengangguk gembira dan berjalan dengan riang menuju kursinya kembali. Ia tidak peduli meski tatapan teman-teman kelasnya sangat menusuk. Dari dua puluh lima orang yang berada di kelas, hanya Cleon dan Miss Hers yang memberikan tepuk tangan untuknya.
Cleon bahkan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Anastazja. Pertanda bahwa apa yang berhasil diraihnya adalah sebuah prestasi membanggakan. Anastazja sangat senang, sahabatnya itu ikut merasa bangga akan prestasi yang sudah diraihnya. Ia mengangguk dan kembali duduk di kursinya dengan tenang.
***
"Kau hebat sekali, Anastazja! Aku benar-benar bangga padamu!" Mata Cleon berbinar tanpa henti-hentinya memandang piagam Anastazja.
"Hehehe, aku hebat, kan?" Anastazja mengangkat kepalanya tanda berbangga.
"Ya, kau benar-benar hebat! Sepertinya aku akan memintamu untuk mengajariku melukis di kelas kesenian semester depan," ucapnya seraya mengembalikan piagam milik Anastazja.
"Kau bercanda? Bayaranku akan sangat mahal, Cleon."
Cleon tertawa renyah menanggapi lelucon menyebalkan Anastazja. Ia kemudian mengeluarkan sebuah kartu dari kantongnya. "Kau sedang berbicara dengan siapa, Tuan Putri?" tanyanya menunjukkan kartu tanpa batas limit pembayaran.
"Ups, aku lupa kalau kau adalah pangeran yang hidup di dalam kastil mewah." Anastazja terkikik dengan kesombongan Cleon.
"By the way, dari mana kau mendapat inspirasi untuk melukiskan sudut kota yang bernuansa hangat seperti itu? Yah, kau tahu maksudku, kan? Tidak ada sesuatu yang 'ramah' seperti sudut kotamu di sini."
Pertanyaan Cleon sukses membuat langkah Anastazja terhenti. Ia tidak menyangka, dari sekian banyak pertanyaan yang dapat diajukan, Cleon memilih pertanyaan itu untuknya.
"A-aku ... mmmh ..." Anastazja berusaha untuk memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan yang Cleon ajukan. Ia tidak bisa menjawabnya begitu saja. Pasalnya, meski mereka bersahabat, sesungguhnya, Cleon bukanlah orang yang pantas untuk bersahabat dengannya. Atau mungkin bisa dikatakan yang tidak pantas adalah dia, bukan Cleon.
"Ah, k-kau akan pulang bersamaku? Apa tidak masalah?" Anastazja mencoba mengalihkan arah pembicaraan Cleon. Apa yang dilakukannya sudah tepat. Karena, tidak lama kemudian, Cleon menepuk keningnya pelan. Pertanda bahwa ia lupa supir pribadinya sudah menunggu ia keluar sekolah sejak dua puluh menit yang lalu.
"Sampai jumpa, Anastazja. Sampai bertemu besok!" Cleon melambaikan tangannya ceria. Ia melangkah pergi meninggalkan Anastazja yang masih membereskan barang-barangnya.
Melihat Cleon makin menjauh dari jarak pandangnya, seulas senyum menyungging dari bibir mungil Anastazja. Baginya, pertarungan sesungguhnya barulah dimulai. Ia membalut pialanya dengan kertas-kertas bekas. Ia tidak ingin piala itu rusak ditengah jalan nanti, seperti ia merusak segala sesuatu miliknya. Tidak lupa, ia menyelipkan selembar piagam itu dalam buku pelajaran sejarah yang terkenal tebal agar tidak kusut.
Prediksi Anastazja tidak pernah meleset untuk yang satu ini. Namun, kali ini bukan hanya siswa perempuan yang menghadang, siswa laki-laki pun turut menghadang Anastazja di depan gerbang sekolah. Mungkin ini memang akhir bagiku, tapi aku tidak akan kalah. Aku harus pulang! Aku harus menunjukkan kebanggaan ini pada keluargaku.
"Kau sudah berani ya, sekarang, hah?" Celine, gadis sekaligus kakak kelas—yang selalu langganan menjadi ketua tim pelabrak orang yang dilihatnya memiliki hubungan dengan Cleon—sudah beraksi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Bersiap untuk melawan sekaligus menerima perlawanan yang selalu diberikan oleh Anastazja.
"Kau tidak bosan terus menerus melakukan hal ini padaku? Mungkin sebaiknya kau melakukannya di depan wajah Cleon, agar ia bisa mengetahui hatimu yang busuk," ucap Anastazja menyulut amarah dalam diri Celine.
Kemarahan Celine memuncak. Tanpa mengatakan apa pun lagi, Celine memberikan aba-aba pada teman-temannya untuk menyerang Anastazja. Namun, seperti biasa, ia dapat menghindari segala serangan yang Celine berikan. Bukan tanpa sebab memang. Semua itu karena Anastazja tumbuh dalam lingkungan yang mengharuskannya untuk bertahan hidup layaknya hewan lemah di tengah rimba.
"Maafkan aku, Celine. Hari ini aku sibuk, aku tidak bisa meladenimu. Aku pulang dulu, ya," ucap Anastazja melambaikan tangannya pada Celine.
"Hei! Jangan lari, kau black blood!" jerit Celine memandang Anastazja.
Sayangnya, Anastazja melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan teriakan-teriakan Celine. Ia berlari penuh semangat menuju pasar, tempat ibunya berjualan sayur dan buah hasil panen dari kebun mereka sendiri. Namun, semangatnya mendadak lenyap tersapu angin. Melihat kedai sang ibu hancur berantakan karena ulah sekelompok polisi Alastor.
***
I just want to say a big thank you to everyone who followed the Draven and Elara’s story. Thank you so much for reading. If you enjoyed the Mated To The Enemy Alpha, please consider leaving a review. Thank you so much. With love, Raven Jay 🖤
ElaraDraven angled his cock just at the entrance of my pussy as rubbed it up and down slowly, his breathing deepening like mine. I was getting closer again, the knot deep inside of me trying to unravel.He brought his tip to my opening and pushed in a bit. I clenched at the intrusion. Draven groaned, licking his thumbs and pressing it down on my clit, drawing circles as he began to thrust into me with gentle thrusts.“God, you’re so tight, little wolf,” he said, grunting as his pace increased, sinking his cock more into my pussy. He was halfway in and pushed deeper with every new thrust until he finally filled me completely. So, I grabbed his firm ass and flexed it with every thrust. “Fuck…fuck…baby…” he hissed through clenched teeth, his hips and shaft stretching me wide. “Oh, too good.”The feel of Draven, his hips parting me for him, his abs tensing and the harsh lust on his gorgeous face made my body exploded with electricity and fireworks that couldn’t be described, blood pound
ElaraDraven didn’t stop until we got to his master bedroom. Then I noticed the change, the vibe of the room was different—all my belongings were in place—my dresses hung alongside his. My little knife alongside the board his weapons were. My books stacked beside his maps. Even the small things—my brushes, my oils—were arranged like they’d always belonged there.Like I had always belonged here.My chest tightened slightly, “It’s perfect,” I said, quietly.“I had it done like this. Do you like it?" Draven replied.I turned to look at him. He hadn’t moved closer yet. So I moved closer to him. His focus on me unrelenting remained focused.“It fits,” I added, softer now. “Just… right.”Silence stretched for a second. Then, he said, “You walked up to Aerin.”There it was.I crossed my arms slightly, raising a brow. “And you entertained half the women in that hall.”His jaw ticked, “So, you saw…That was different.”I smirked, “Of course it was.”His eyes narrowed slightly, “You were trying
Elara"I’m not wearing this,” I squealed. “Yes, you definitely are,” Elysia said. “Draven might start a war if he sees me in this.”Elysia stepped back, folding her arms, and giving me a slow once-over like an artist admiring her work, “That,” she said, smirking, “is exactly the point.”I turned toward the mirror again and even I…had to pause. The outfit was bold. Not overly revealing but Maris crafted it in a way to suggest more than it showed.“This was your idea. I know I shouldn’t have let you design an outfit for me.”Elysia rolls her eyes, “It’s beautiful.”That she was right…it is a beautiful gown—a fitted midnight-black gown that hugged my frame and shimmered faintly. The left side, a slit high enough to that it exposed my thigh with every step, the other structured with sharp, elegant lines that screamed authority.The neckline dipped and the sheer sleeves wrapped around my arms threaded with faint silver detailing that caught the light every time I moved around. “At this
DravenThe earth closed over me with much violence as fog thickened everywhere.I landed on solid ground, my boots sank slightly into damp soil, the air thick and unmoving. Above me, roots twisted like ribs, arching into a hollow chamber lit by a dim, colorless glow.I straightened slowly, I didn’t
Draven Elara began packing supplies— potions, elixirs, weird books that look like Astra’s grimoires. I watched as she moved around their house.Her mother’s words echoed in my mind. “The rash will worsen if Lior isn’t treated with the Bloodbloom Petal and it grows only in—““… the Hollowed Vale,”
ElaraThe nursemaids had taken Lior to Draven. He didn’t want to be away from the child. I had come from the infirmary as I went to seek Astra. I wanted to apologize for how I left that day. Granted—she might not care but I wanted to do it either way but I didn’t see her. I felt so lonely here. I
ELARA'S POVIt was so sunny this morning as I sat with my back against the wall, watching my son wobble across the room. He almost trips…“Careful, Lior,” I murmured, smiling as he giggled before falling onto his bottom. He didn’t cry. He rarely cries. He only looked up at me with those too-knowing






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.