Masuk“Seharusnya kau tidak membuat Arga naik darah di hari pertama,” katanya dingin. Tatapannya tajam, penuh penilaian. “Kau pikir kau bisa tinggal di rumah ini tanpa membayar harga?”
Delia buru-buru bangkit. “Aku tidak bermaksud...” “Terserah.” Maya memotong. “Tapi satu hal: keluarga Mahendra bukan tempat untuk perempuan rapuh.” Pintu ditutup lagi. Delia berdiri diam, menahan napas. Ia sadar satu hal: semua orang di rumah ini siap menelannya hidup-hidup. Ia kembali ke jendela. Hujan mulai reda, menyisakan udara yang dingin dan menusuk tulang. “Ayah…” suaranya retak. “Kalau ini balasan dari masa lalu… tolong beri aku kekuatan untuk melewatinya.” Delia menyentuh cincin di jarinya. Bukan karena cinta, bukan karena pernikahan, tapi sebagai pengingat bahwa mulai hari ini… setiap langkahnya diperhitungkan. Ia harus lebih kuat dari yang siapa pun kira. Karena di rumah ini, dia bukan hanya istri yang tidak diinginkan. Ia adalah saksi, ancaman, dan mungkin satu-satunya kunci yang bisa membuka rahasia paling gelap keluarga Mahendra. Dan malam itu, di tengah sisa hujan, Delia bersumpah satu hal: Jika Arga menganggapnya musuh… maka ia akan belajar bertahan seperti musuh. Bukan dengan kekerasan. Tapi dengan ketenangan yang mematikan. *** Pagi datang tanpa permisi. Delia membuka mata dengan kepala berat, seolah malam sebelumnya masih menempel seperti mimpi buruk yang tidak mau hilang. Gaun putih, tatapan dingin, berkas cokelat yang dilempar Arga, dan kalimat yang menghantam dadanya, “Mulai malam ini, kau bukan istri. Kau kunci.” Tenggorokannya kering saat ia menarik napas panjang. Ini benar-benar awal dari perang. Dan perang itu dimulai di rumah musuh. Tirai kamar bergoyang lembut diterpa angin. Aroma kopi hitam dan sisa hujan dini hari mengambang di udara, memberikan rasa damai yang ironisnya justru menyakitkan. Ia menoleh ke sisi ranjang. Kosong. Seprai di sebelahnya dingin, seolah menegaskan bahwa jarak antara mereka bukan cuma soal ruangan—tapi jurang. Delia duduk di tepi ranjang, menatap cincin yang masih melingkar di jarinya. Cincin itu berkilau pelan, mengingatkannya bahwa ia sekarang menjadi bagian dari keluarga yang telah menghancurkan hidup ayahnya. “Selamat pagi, Nyonya Mahendra,” sapa seorang pelayan yang masuk dengan baki sarapan. Delia memaksakan senyum. “Terima kasih. Di mana Tuan Arga?” “Beliau sudah di ruang kerja, Nyonya. Seperti biasa.” “Seperti biasa?” Nada pelayan itu berubah gugup. “Maaf… maksud saya, Tuan Arga memang selalu bangun sebelum semua orang.” Delia hanya mengangguk. Tidak heran jika lelaki itu selalu punya waktu untuk membenci lebih dulu sebelum matahari terbit. Ia mencoba menelan sarapan tapi rasanya hambar. Hatinya masih sesak oleh ancaman semalam. Namun justru karena itu, Delia tahu ia tidak bisa menyerah. Jika Arga menikahinya untuk menjadikannya kunci… maka ia akan memastikan dirinya jadi kunci yang tidak mudah dipatahkan. Ketukan kecil di pintu ruang kerja membuat Arga menoleh sebentar sebelum kembali menatap laptop. “Masuk.” Delia melangkah masuk, kini sudah mengganti gaunnya dengan kemeja putih dan celana hitam sederhana. Penampilannya bersih, tenang, tapi matanya tajam. “Ada perlu?” Arga bertanya tanpa mengangkat kepala. Delia maju dua langkah. “Tidak. Aku hanya ingin mengenal suamiku.” Arga berhenti mengetik. Tatapannya terangkat, tajam tapi penuh tanda tanya. “Kita tidak menikah karena cinta. Jangan bertingkah seolah kita pasangan sungguhan.” Delia tersenyum tipis. “Aku tidak pernah meminta cinta. Tapi aku juga tidak mau jadi kunci yang buta.” Arga memicingkan mata. “Hati-hati, Delia. Kau sedang menginjak wilayah yang bukan milikmu.” “Bukankah seluruh hidupku diambil oleh keluargamu?” balas Delia halus, tapi suaranya menusuk. “Aku hanya ingin tahu alasan sebenarnya.” Arga menatapnya lama, lalu menutup laptopnya. “Pernikahan ini tetap seperti kesepakatan awal. Kau tidak menyentuh urusanku, aku tidak menyentuh hidupmu.” Delia menegakkan tubuhnya. “Dan ancaman semalam? Kau bilang aku ‘kunci’.” Arga berdiri, mendekat. “Itu bukan ancaman. Itu kenyataan. Dan kau harus membiasakan diri dengannya.” Jantung Delia berdetak lebih cepat, tapi ia tidak mundur. “Mungkin kau salah menilai aku.” “Justru itu,” balas Arga, dingin. “Aku tidak pernah percaya dengan perempuan yang wajahnya penuh rahasia.” Beberapa jam kemudian, Delia berjalan-jalan di taman belakang. Ia butuh udara. Di sana, seorang wanita paruh baya sedang duduk memandangi kolam ikan. Aura anggunnya kontras dengan tatapan tajam yang ia arahkan pada Delia saat menyapa. “Oh, jadi ini istri Arga yang baru.” Nada bicaranya seolah menilai barang dagangan. Delia menunduk sopan. “Selamat pagi, Tante.” “Aku Maya, ibu tirinya Arga,” jawabnya tanpa senyum. “Rumah ini tidak cocok untuk orang yang lemah.” Delia menahan napas. “Maaf, Tante?” Maya berdiri, merapikan selendangnya. “Rumah ini penuh rahasia. Dan setiap rahasia punya harga.” Ia berjalan pergi tanpa menoleh. Kalimat itu menggantung seperti peringatan. Sore harinya, Delia memasuki ruang tamu dan langsung terpaku pada sebuah lukisan besar. Ayahnya. Berdiri berdampingan dengan ayah Arga. Proyek Perdana Mahendra, Adinegara, 2008. Tangannya gemetar. Kehancuran keluarganya… dimulai dari sini. “Lukisan itu sudah lama,” suara Arga tiba-tiba terdengar. Delia menoleh cepat. “Kau tahu siapa pria di sebelah ayahmu?” Arga menatap lukisan itu lama. “Ayah pernah bilang… partner-nya bunuh diri.” Delia merasa napasnya terputus. Bunuh diri? Tidak. Ayahnya tidak pernah bunuh diri. Ia dihabisi oleh fitnah. “Kau percaya begitu?” Delia bertanya dengan suara bergetar. “Aku…” Arga menghela napas. “Aku percaya ayahku, tapi rumah ini… tidak selalu jujur.”Mobil berhenti mendadak di sudut gang sempit sebelum unit 805. Arga mematikan mesin tanpa suara. Lampu kota memantul samar di kaca spion, menampakkan bayangan gedung yang terlalu sunyi untuk jam segini. “Ini terlalu tenang,” bisik Delia. Arga mengangguk. “Biasanya tanda terburuk.” Mereka turun cepat. Arga memberi isyarat agar Delia berjalan di belakangnya. Pintu unit 805 terbuka sedikit, seperti sengaja dibiarkan begitu. Bau debu dan cat lama langsung menyergap hidung. “S di dalam?” tanya Delia pelan. Belum sempat Arga menjawab, pintu tertutup sendiri di belakang mereka. Klik. Lampu menyala. Seorang pria berdiri di tengah ruangan, tinggi, bahunya tegap, wajahnya setengah tertutup bayangan. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. “Kalian lama,” katanya. Arga refleks berdiri di depan Delia. “Kau S?”
Mobil melaju tanpa lampu utama, hanya mengandalkan cahaya kota yang redup. Arga menyetir dengan rahang mengeras, sesekali melirik spion. Sejak keluar dari gedung apartemen terakhir, ia merasa mereka tidak benar-benar sendirian. Delia duduk diam di kursi penumpang, map cokelat berisi dokumen The Chairman ia peluk seperti benda hidup. Tangannya dingin. “Kita ke mana?” tanyanya akhirnya. “Safe house,” jawab Arga singkat. “Bukan milik Ayah. Bahkan bukan milikku.” Delia menoleh. “Lalu milik siapa?” “Seseorang yang pernah hampir mati karena Rendra.” Mobil berbelok tajam memasuki kawasan industri lama. Gudang-gudang kosong berjajar seperti bangkai raksasa. Tidak ada kamera aktif. Tidak ada penjaga. Arga menghentikan mobil di depan bangunan beton satu lantai tanpa papan nama. “Masuk cepat,” katanya. Mereka turun. Begitu pintu besi ditutup, suara luar menghil
Mobil berhenti mendadak di bawah jembatan layang yang setengah gelap. Mesin dimatikan. Hanya suara air menetes dari beton tua dan dengung kota yang jauh.Arga turun lebih dulu, menatap sekitar dengan waspada. “S bilang aman. Tapi kita tidak lama di sini.”Delia ikut turun, tas berisi map digenggam erat. “Tempat transit?”“Ya. Dari sini kita pecah arah.”Delia mengernyit. “Pecah?”Arga menoleh. “Kalau kita terus bersama, mereka akan lebih mudah melacak. The Chairman main di banyak lapisan. Kita harus bikin dia kehilangan ritme.”Delia menatapnya lama. “Kau mau kita berpisah?”“Untuk sementara,” jawab Arga pelan. “Aku tidak suka ini, tapi ini satu-satunya cara.”Delia ingin menolak, tapi pikirannya bekerja cepat. Mereka sudah terlalu dalam. Emosi tidak bisa lagi jadi kemudi.“Aku ke mana?” tanyanya akhirnya.Arga mengeluarkan ponsel lain, ponsel lama tanpa data pribadi. “Ke Surabaya. Ada satu nam
Pintu unit 805 terbuka sebelum Arga sempat mengetuk. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di ambang pintu, tubuhnya tinggi, rambutnya dipotong rapi, wajahnya tenang seperti orang yang sudah terlalu sering berada di situasi genting.“Masuk,” katanya singkat.Tidak ada basa-basi.Arga menarik Delia masuk lebih dulu. Begitu pintu tertutup, pria itu langsung mengunci, lalu mematikan semua lampu kecuali satu lampu kecil di dapur.“Nama saya Surya,” katanya. “Kalian bisa panggil S.”Delia menatap sekeliling. Unit itu tampak kosong, tapi terlalu rapi untuk sekadar apartemen tak terpakai. Ada tas medis, senjata kecil di laci terbuka, dan laptop yang masih menyala.“Kau kerja untuk siapa?” tanya Delia tanpa tedeng aling.Surya tersenyum tipis. “Dulu, untuk ayah Arga. Sekarang… untuk siapa pun yang belum mau mati.”Arga menghela napas pendek. “Ayah percaya padamu.”“Itu sebabnya aku masih hidup,
Koridor lantai delapan sunyi seperti sedang menahan napas ketika Arga dan Delia keluar dari unit kosong itu. Lampu-lampu putih di langit-langit berkedip pelan, seolah memberi peringatan yang tidak diucapkan. Delia menggenggam map lusuh itu erat di dada, sementara Arga berjalan setengah langkah di depan, siap menghadang apa pun.“Unit 805 di sebelah kiri,” bisik Arga.Delia mengangguk. “Kau yakin orang ini bisa dipercaya?”“Dia pernah selamat dari permainan The Chairman,” jawab Arga tanpa menoleh. “Itu sudah cukup.”Mereka melangkah dengan cepat namun diam. Setiap pintu yang mereka lewati terasa seperti mata yang mengawasi. Di ujung koridor, lift berbunyi pelan—terlalu pelan, terlalu tepat waktunya.Delia meremas lengan Arga. “Ada yang naik.”Arga mengangguk kecil. “Kita harus lebih cepat.”Mereka hampir sampai di unit 805 ketika suara langkah itu keluar dari lift. Dua orang. Berat. Terlatih. Delia tidak perlu melihat unt
Delia menutup pintu apartemen sekuat tenaga begitu mereka masuk. Nafasnya masih kacau. Suara tembakan di gudang tadi masih terngiang di telinganya, menggema seperti dentuman yang tidak mau hilang.Arga menahan pintu sambil memastikan kuncinya terpasang. “Kita cuma punya sedikit waktu sebelum mereka tahu kita selamat.”Delia menjatuhkan tas berisi berkas yang berhasil mereka rebut dari bawah meja Pradipta. “Aku tahu. Tapi setidaknya kita dapat sesuatu.”Arga menoleh cepat. “Delia… hampir saja kau kena tembak. Kita tak bisa terus begini.”“Kalau kita berhenti sekarang,” jawab Delia, berdiri tegak, “ayahku benar-benar mati sia-sia.”Arga ingin membalas, tapi ketukan keras di dinding samping membuat mereka berdua terdiam.Bukan pintu. Dinding.Seperti seseorang sedang memberi tanda.Arga mengisyaratkan Delia untuk diam. Ia berjalan pelan, menempelkan telinga ke dinding.“Tiga ketukan,” bisiknya. “Itu kode d







