Masuk“Mas Arga,” ujar Delia mencoba tetap tenang. “Tentang ayahku… aku ingin tahu apa yang sebenarnya keluarga Mahendra sembunyikan.”
Arga tidak langsung menjawab. Ia membuka sebuah map di depannya, menandai beberapa bagian dengan pena. Laki-laki itu seolah mengabaikan keberadaan Delia sepenuhnya. “Sebelum bertanya tentang ayahmu,” Arga akhirnya berkata, “kau harus tahu dulu siapa yang paling dirugikan dari proyek itu.” Delia mengerutkan kening. “Ayahku kehilangan segalanya. Itu sudah cukup jelas.” Arga menatapnya tajam. “Kau pikir hanya keluargamu yang hancur?” Delia terdiam. Arga berdiri dan membuka laci meja. Dari sana, ia mengambil sebuah berkas tipis dan melemparkannya ke meja di depan Delia. Kertas-kertas itu jatuh berserakan. “Baca.” Delia mengambil salah satu halaman dengan hati berdebar. Semakin ia membaca, semakin udara di ruangan itu terasa menipis. Data korban. Nama seseorang. Tahun kejadian. Lokasi proyek. Korban: 1. Luka berat. Identitas: A. M. Mahendra. Delia menutup mulutnya dengan tangan, terpukul. Inisial itu hanya bisa berarti satu hal. “Mas… ini Mas Arga?” bisiknya. Arga berdiri bersandar di meja, kedua lengannya terlipat. Tidak ada emosi di wajahnya, tapi ada sesuatu yang kejam dalam tatapannya. “Aku hampir mati dalam proyek itu,” katanya perlahan. “Dan ayahmu terlibat langsung.” Delia menggeleng cepat. “Tidak mungkin. Ayahku tidak akan membiarkan… tidak mungkin ia melakukan hal seperti itu.” Arga mengabaikan bantahannya. “Aku masih kecil waktu itu. Tapi aku ingat semuanya. Ledakan. Api. Orang-orang berlari. Salah satu staf proyek mengatakan ayahmu lah yang memberi persetujuan akhir untuk penyimpangan dana yang menyebabkan kecelakaan itu.” “Tidak,” bisik Delia lagi. “Itu pasti fitnah. Ayahku dijebak.” “Semua orang bilang begitu ketika mereka terpojok,” suara Arga turun satu oktaf. “Dan sekarang kau datang ke rumahku tanpa tahu apa pun.” Delia menutup mata sejenak, merasakan kepalanya berdenyut. Ia ingin membantah, ingin menjerit, ingin menepis tuduhan itu. Namun suara hatinya berbisik: ada sesuatu yang memang tidak pernah diceritakan ayahnya. Arga mendekat, membuat Delia spontan mundur. “Ada yang kau cari?” suaranya rendah. “Tidak,” jawab Delia dengan napas bergetar. “Aku hanya… khawatir.” “Khawatir tentang apa? Tentang aku?” Arga terkekeh pendek, tetapi matanya kosong. “Kau tidak perlu khawatir tentang aku. Khawatir saja tentang dirimu sendiri. Rumah ini tidak ramah pada orang asing.” Ucapan itu kembali membuat dingin mengalir di tulang belakang Delia. Ia ingat kata-kata Maya yang hampir sama persis pagi tadi. Rumah ini seperti memiliki satu bahasa: peringatan. “Aku hanya ingin kita tidak terus seperti ini,” ucap Delia lirih. Arga memiringkan kepala sedikit, mengamati wajahnya. “Kau tidak perlu peduli hubungan kita. Fokus saja pada alasan kau ada di sini.” Delia menegakkan tubuhnya. “Aku di sini karena...” “Karena ayahmu meninggalkan banyak hal yang belum selesai,” potong Arga. Ia mengambil lembaran lain dari meja dan menyodorkannya. “Dan aku ingin tahu apa yang ayahmu sembunyikan.” “Kau ingin aku bicara?” “Aku ingin kebenarannya.” Arga mencondongkan tubuh, wajahnya begitu dekat. “Dan aku akan mendapatkannya, Delia.” “Mas Arga,” suara Delia pecah. “Ayahku bukan penjahat.” “Banyak penjahat yang bilang begitu sebelum tertangkap.” Seketika Delia mundur selangkah. Dadanya naik turun cepat. Arga memperhatikan gerakannya seperti predator mengamati mangsa. “Kau tinggal di rumah orang yang paling membencimu dan keluargamu,” ujar Arga dingin. “Waktu akan membuatmu bicara.” Saat ia hendak pergi, sebuah bingkai foto terjatuh dari rak. Delia memungutnya. Belum sempat ia melihat wajah di foto itu, Arga merebutnya kasar. “Jangan sentuh barang-barangku.” Delia menggigit bibir, menahan ketakutan dan kemarahan. Semakin ia melihat sikap Arga, semakin ia yakin lelaki itu menyimpan luka lebih dalam dari apa yang ia tunjukkan. “Mas, itu foto siapa?” tanya Delia, mencoba tetap tenang. Arga menatapnya lama. “Urusi urusanmu sendiri.” Pintu ditutup tepat di wajahnya. Delia berdiri terpaku. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia menatap kertas yang masih ia genggam. Proyek Percobaan. Korban: 1. Status: Ditutup. Status itu yang paling mengganggu. Kenapa ditutup? Siapa yang menutupnya? Dan kenapa keluarga Mahendra seperti menyembunyikan sesuatu? Delia kembali ke beranda rumah setelah beberapa saat, membawa beban yang semakin menekan dadanya. Matahari siang mulai bergeser, menciptakan cahaya hangat yang justru terasa kontradiktif dengan dingin yang merayap di tubuhnya. Sinta, pelayan rumah, datang membawa minuman hangat. “Ini wedang jahenya. Tuan Arga bilang Nyonya mudah masuk angin.” Delia menatap cangkir itu, bingung. “Arga bilang begitu?” “Iya, Nyonya,” Sinta mengangguk lembut. “Beliau menyebutkannya sambil lalu.” Delia tidak tahu harus tersenyum atau semakin takut. Jika Arga memperhatikan hal sekecil itu, artinya lelaki itu mempelajari dirinya. Menilai langkahnya. Menganalisis setiap kelemahannya. Ketika Sinta pergi, Delia menatap taman. Di tengah keindahan bunga dan pepohonan, ia merasakan sesuatu yang gelap menyelinap di antara akar dan batu. Rumah ini begitu rapi, begitu bersih, tetapi terasa seperti sangkar emas. Cantik di luar, namun mematikan di dalam. “Kau cocok juga duduk di rumah ini.” Suara itu membuat Delia menoleh. Maya berdiri di dekat tangga taman dengan gaun hijau tua. Wajahnya tersenyum tipis, tetapi matanya tajam seperti belati. “Tidak semua perempuan bisa bertahan,” ucap Maya. “Rumah ini seperti mulut binatang buas.” Delia berdiri perlahan. “Aku tidak takut.” Maya mendekat. “Semua orang takut, Delia. Bahkan Arga sekalipun. Kau hanya belum tahu apa yang seharusnya kau takuti.” Delia menelan ludah, tetapi ia tetap berdiri tegak. Maya tersenyum kecil, puas melihat ketegangan Delia. “Belajarlah cepat. Arga tidak menyukai perempuan lambat.” Setelah Maya pergi, Delia duduk kembali. Hatinya kacau, tetapi di tengah ketakutan itu, muncul percikan tekad. Jika rumah ini ingin menelannya, Delia tidak akan diam. Ia akan menggali rahasia keluarga Mahendra. Ia akan mencari tahu apa yang menyebabkan ayahnya hancur. Ia akan mengungkap siapa yang berbohong. Jika Arga menganggapnya ancaman, maka ia akan menjadi ancaman yang lebih besar. Ia menatap cincin di jarinya, dan pertempuran baru saja dimulai.Mobil berhenti mendadak di sudut gang sempit sebelum unit 805. Arga mematikan mesin tanpa suara. Lampu kota memantul samar di kaca spion, menampakkan bayangan gedung yang terlalu sunyi untuk jam segini. “Ini terlalu tenang,” bisik Delia. Arga mengangguk. “Biasanya tanda terburuk.” Mereka turun cepat. Arga memberi isyarat agar Delia berjalan di belakangnya. Pintu unit 805 terbuka sedikit, seperti sengaja dibiarkan begitu. Bau debu dan cat lama langsung menyergap hidung. “S di dalam?” tanya Delia pelan. Belum sempat Arga menjawab, pintu tertutup sendiri di belakang mereka. Klik. Lampu menyala. Seorang pria berdiri di tengah ruangan, tinggi, bahunya tegap, wajahnya setengah tertutup bayangan. Tatapannya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. “Kalian lama,” katanya. Arga refleks berdiri di depan Delia. “Kau S?”
Mobil melaju tanpa lampu utama, hanya mengandalkan cahaya kota yang redup. Arga menyetir dengan rahang mengeras, sesekali melirik spion. Sejak keluar dari gedung apartemen terakhir, ia merasa mereka tidak benar-benar sendirian. Delia duduk diam di kursi penumpang, map cokelat berisi dokumen The Chairman ia peluk seperti benda hidup. Tangannya dingin. “Kita ke mana?” tanyanya akhirnya. “Safe house,” jawab Arga singkat. “Bukan milik Ayah. Bahkan bukan milikku.” Delia menoleh. “Lalu milik siapa?” “Seseorang yang pernah hampir mati karena Rendra.” Mobil berbelok tajam memasuki kawasan industri lama. Gudang-gudang kosong berjajar seperti bangkai raksasa. Tidak ada kamera aktif. Tidak ada penjaga. Arga menghentikan mobil di depan bangunan beton satu lantai tanpa papan nama. “Masuk cepat,” katanya. Mereka turun. Begitu pintu besi ditutup, suara luar menghil
Mobil berhenti mendadak di bawah jembatan layang yang setengah gelap. Mesin dimatikan. Hanya suara air menetes dari beton tua dan dengung kota yang jauh.Arga turun lebih dulu, menatap sekitar dengan waspada. “S bilang aman. Tapi kita tidak lama di sini.”Delia ikut turun, tas berisi map digenggam erat. “Tempat transit?”“Ya. Dari sini kita pecah arah.”Delia mengernyit. “Pecah?”Arga menoleh. “Kalau kita terus bersama, mereka akan lebih mudah melacak. The Chairman main di banyak lapisan. Kita harus bikin dia kehilangan ritme.”Delia menatapnya lama. “Kau mau kita berpisah?”“Untuk sementara,” jawab Arga pelan. “Aku tidak suka ini, tapi ini satu-satunya cara.”Delia ingin menolak, tapi pikirannya bekerja cepat. Mereka sudah terlalu dalam. Emosi tidak bisa lagi jadi kemudi.“Aku ke mana?” tanyanya akhirnya.Arga mengeluarkan ponsel lain, ponsel lama tanpa data pribadi. “Ke Surabaya. Ada satu nam
Pintu unit 805 terbuka sebelum Arga sempat mengetuk. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berdiri di ambang pintu, tubuhnya tinggi, rambutnya dipotong rapi, wajahnya tenang seperti orang yang sudah terlalu sering berada di situasi genting.“Masuk,” katanya singkat.Tidak ada basa-basi.Arga menarik Delia masuk lebih dulu. Begitu pintu tertutup, pria itu langsung mengunci, lalu mematikan semua lampu kecuali satu lampu kecil di dapur.“Nama saya Surya,” katanya. “Kalian bisa panggil S.”Delia menatap sekeliling. Unit itu tampak kosong, tapi terlalu rapi untuk sekadar apartemen tak terpakai. Ada tas medis, senjata kecil di laci terbuka, dan laptop yang masih menyala.“Kau kerja untuk siapa?” tanya Delia tanpa tedeng aling.Surya tersenyum tipis. “Dulu, untuk ayah Arga. Sekarang… untuk siapa pun yang belum mau mati.”Arga menghela napas pendek. “Ayah percaya padamu.”“Itu sebabnya aku masih hidup,
Koridor lantai delapan sunyi seperti sedang menahan napas ketika Arga dan Delia keluar dari unit kosong itu. Lampu-lampu putih di langit-langit berkedip pelan, seolah memberi peringatan yang tidak diucapkan. Delia menggenggam map lusuh itu erat di dada, sementara Arga berjalan setengah langkah di depan, siap menghadang apa pun.“Unit 805 di sebelah kiri,” bisik Arga.Delia mengangguk. “Kau yakin orang ini bisa dipercaya?”“Dia pernah selamat dari permainan The Chairman,” jawab Arga tanpa menoleh. “Itu sudah cukup.”Mereka melangkah dengan cepat namun diam. Setiap pintu yang mereka lewati terasa seperti mata yang mengawasi. Di ujung koridor, lift berbunyi pelan—terlalu pelan, terlalu tepat waktunya.Delia meremas lengan Arga. “Ada yang naik.”Arga mengangguk kecil. “Kita harus lebih cepat.”Mereka hampir sampai di unit 805 ketika suara langkah itu keluar dari lift. Dua orang. Berat. Terlatih. Delia tidak perlu melihat unt
Delia menutup pintu apartemen sekuat tenaga begitu mereka masuk. Nafasnya masih kacau. Suara tembakan di gudang tadi masih terngiang di telinganya, menggema seperti dentuman yang tidak mau hilang.Arga menahan pintu sambil memastikan kuncinya terpasang. “Kita cuma punya sedikit waktu sebelum mereka tahu kita selamat.”Delia menjatuhkan tas berisi berkas yang berhasil mereka rebut dari bawah meja Pradipta. “Aku tahu. Tapi setidaknya kita dapat sesuatu.”Arga menoleh cepat. “Delia… hampir saja kau kena tembak. Kita tak bisa terus begini.”“Kalau kita berhenti sekarang,” jawab Delia, berdiri tegak, “ayahku benar-benar mati sia-sia.”Arga ingin membalas, tapi ketukan keras di dinding samping membuat mereka berdua terdiam.Bukan pintu. Dinding.Seperti seseorang sedang memberi tanda.Arga mengisyaratkan Delia untuk diam. Ia berjalan pelan, menempelkan telinga ke dinding.“Tiga ketukan,” bisiknya. “Itu kode d







