Se connecterAlexa Valaryan tak pernah menyangka rumah tangga yang ia bangun dengan penuh cinta harus runtuh hanya karena seorang sahabat yang tega merebut suaminya sendiri. Luka itu terlalu dalam, meninggalkan patah yang hampir membuatnya menyerah pada hidup. Namun, di tengah kepedihan itu, hadir sosok Alvaro Dirgantara — seorang CEO muda yang dingin, arogan, sekaligus mempesona. Pertemuan mereka bermula dari sebuah kesalahpahaman kecil, tapi perlahan dunia Alexa yang runtuh mulai terisi kembali dengan kehadirannya. Alvaro yang selama ini terkenal tak tertarik pada cinta, justru menemukan ketertarikan berbeda pada wanita yang baru saja dikhianati. Alexa sendiri tak menyangka, kehilangan yang begitu menyakitkan justru membawanya pada cinta baru yang jauh lebih tulus dan berharga. Namun, ketika suami lamanya kembali dan menyesali keputusannya, Alexa dihadapkan pada pilihan sulit: memaafkan masa lalu atau melangkah bersama CEO yang kini menggenggam hatinya.
Voir plusMusim hujan datang tanpa banyak peringatan. Awalnya cuma gerimis lembut yang membasahi jalan, lalu berubah jadi rintik-rintik yang menetap, mengetuk jendela dengan ritme tenang. Buat kami, hujan bukan sekadar cuaca. Ia seperti bab baru—bukan yang menutup, tapi yang menyembuhkan.Surya menemukan kesenangan aneh dari suara hujan. Sore itu, dia duduk di dekat jendela, dagunya bertumpu di lutut, dahinya menempel di kaca dingin.“Dengerin, Bu,” katanya pelan, matanya setengah terpejam. “Hujannya nyanyi.”Aku ikut diam, mencoba mendengar seperti dia. Suaranya bukan sekadar rintik air—ada dentuman kecil di talang, desisan lembut di daun, dan ketukan acak di teras. Seperti melodi yang nggak butuh alat musik.“Lagu apa yang dia nyanyikan?” tanyaku.“Lagu tentang yang hilang terus ketemu lagi,” jawabnya lirih. “Tentang bumi yang haus, terus akhirnya bisa minum. Kayak kita.”Aku tersenyum. Anak ini... selalu punya cara sendiri buat memahami hal-hal besar dengan kata-kata sederhana.Alvaro yang
Kemenangan hari itu kami rayakan dengan cara sederhana. Tidak ada pesta, tidak ada balon atau tumpeng. Hanya semangkuk es krim cokelat—favorit Surya—yang dia habiskan dengan penuh konsentrasi, seperti seseorang yang sedang menikmati sesuatu yang sakral. Setiap sendok yang masuk ke mulutnya adalah pengingat bahwa tubuhnya masih sanggup menerima kebahagiaan kecil."Enak," gumamnya sambil menjilat sendok. Matanya berbinar, cahaya itu kembali—belum sekuat dulu, tapi cukup untuk membuat dadaku sesak oleh rasa syukur."Pelan-pelan, Sayang," kataku, sambil menatapnya dengan senyum yang nggak bisa kutahan.Alvaro duduk di seberang, merekam dengan ponselnya. Gambar itu goyah, tapi justru di situlah keindahannya—rekaman tangan seorang ayah, bukan sinematografer. Bukan untuk dibagikan, hanya untuk disimpan. Sebuah kenangan kecil yang ingin kami genggam selamanya.Malamnya, setelah Surya tertidur dengan perut kenyang dan senyum yang masih menempel di bibirnya, aku dan Alvaro duduk di dapur. Teh c
Kata remisi itu seperti udara segar yang tiba-tiba masuk ke paru-paru setelah berbulan-bulan menahan napas. Bukan akhir dari perjuangan, tapi sebuah jeda—izin untuk bernapas lega, untuk berharap lagi, untuk percaya bahwa hidup masih punya ruang bagi keajaiban. Pulang dari rumah sakit tak seperti yang sering digambarkan film. Tidak ada tawa besar atau musik ceria. Yang menyambut kami justru keheningan yang lembut, seperti doa yang baru saja selesai dibisikkan. Rumah kami yang selama ini dipenuhi bau obat, botol antiseptik, dan langkah perawat kini terasa seperti tempat yang baru. Seperti ruang yang telah disucikan oleh air mata dan keberanian. Surya berdiri di ambang pintu. Tubuhnya masih kurus, gerakannya hati-hati, tapi matanya—mata itu sudah kembali bersinar. “Rumah,” katanya pelan, seolah mencicipi arti kata itu lagi. Alvaro berdiri di belakangnya, dan aku melihat bahunya bergetar. Dia tak berkata apa pun. Air matanya jatuh diam-diam, bukan karena kesedihan, tapi karena lega.
Pameran “Keluarga Seutuhnya” memang telah berakhir, tapi gema emosinya masih terasa di mana-mana. Surat-surat mulai berdatangan ke kampus Sri Wirawan—dari orang-orang yang bercerita tentang keluarganya sendiri, tentang rahasia yang dulu mereka sembunyikan, tentang luka yang akhirnya mereka berani hadapi. Kampus itu, yang dulu hanya menjadi tempat belajar, kini menjelma menjadi ruang penyembuhan. Tempat di mana orang datang bukan hanya untuk mencari ilmu, tapi juga untuk berdamai dengan masa lalu mereka.Di dalam keluarga kami sendiri, suasana damai itu terasa nyata, tapi berbeda dari sebelumnya. Ini bukan ketenangan karena tidak ada masalah, melainkan karena kami tahu, apapun masalah yang datang nanti, kami bisa menghadapinya bersama.Alvaro dan Siska terlihat semakin dekat. Hubungan mereka yang dulu rumit kini berubah jadi sesuatu yang tulus—aneh, tapi hangat. Mereka bukan sekadar paman dan keponakan, bukan juga hanya teman seperjuangan, tapi dua jiwa yang saling memahami karena pern
Kembali ke Jakarta setelah berbulan-bulan di desa terasa seperti melompat ke dunia lain. Jalanan padat, suara klakson bersahut-sahutan, orang-orang berjalan cepat seolah waktu tak pernah cukup. Semua itu begitu kontras dengan ketenangan sawah, aroma tanah basah, dan malam-malam sunyi penuh bintang
Perjalanan ke kantor pagi itu terasa seperti berjalan menuju ruang eksekusi. Sunyi. Berat. Bahkan aroma kopi dan wangi sandalwood Alvaro yang biasanya menenangkan, kini justru membuat dada terasa sesak, seakan ada badai yang menunggu di ujung jalan. Alvaro menyetir dengan rahang mengeras, kedua tan
Kemenangan di konferensi pers terasa seperti peristiwa di kehidupan lain. Sekarang, yang tersisa hanya rasa pahit logam di mulutku dan bisikan-bisikan yang membuntuti setiap langkahku di lorong ALCORP. “Sugar Daddy.” Kata itu bergema di udara seperti bau busuk yang sulit hilang. Sebagian kolega me
Tetesan hujan berderap di kaca jendela kafe, meninggalkan jejak yang berbaur dengan air mata yang tak lagi bisa kutahan. Lima bulan. Sudah lima bulan sejak dunia yang kubangun dengan susah payah runtuh hanya karena sebuah pesan singkat di ponsel suamiku. "Aku tunggu di suite-ku, Sayang. Jangan lama






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires