Mag-log in"Suamiku berselingkuh, apa yang harus kulakukan? " Gumamku pada diriku sendiri. Aku sudah tahu hal ini akan terjadi, jadi aku tidak panik. Cepat atau lambat dia memang akan berselingkuh, untungnya aku sudah mempersiapkan skenario tentang apa yang harus kulakukan saat menghadapi situasi ini.
view moreLantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya.
Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suaminya ada di sana, di atas kasur, bersama wanita itu. "Ah, Mas Zain..." wanita itu mendesah. Saifanny spontan menyembunyikan diri di balik lemari yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari ranjang tempat mereka berbaring. Permainan yang panas membuat mereka tidak menyadari kehadirannya; pemandangan yang sungguh menjijikkan bagi Saifanny. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke-8. Bukannya merayakannya di rumah, Zain malah menghabiskan waktu bersama wanita lain. Seharusnya Saifanny sadar saat Zain mulai berubah dan selalu pulang terlambat dengan alasan lembur. Inilah "lembur" yang suaminya maksud selama ini. Saifanny merasa geram. Desahan wanita itu terdengar seperti ejekan di telinganya. Ia menggenggam ponsel, berniat mengabadikan semua yang terjadi saat itu, namun ia mengurungkan niatnya. Ia harus tenang dan menyusun rencana yang lebih matang untuk menangani perselingkuhan ini. Desahan wanita itu semakin membuatnya kesal. Sebenarnya Saifanny tidak cemburu; bagaimanapun, pernikahannya sudah terasa hambar. Ia hanya bertahan demi Syahdan, putranya, agar memiliki keluarga yang utuh. Selama mereka menikah, Zain selalu memberinya kabar jika ada acara kantor atau lembur. Saifanny semula berusaha berpikir positif, tetapi Zain tidak pernah menjelaskan apa pun saat pulang. Komunikasi mereka pun merenggang karena Zain bukan tipe orang yang suka mencurahkan isi hati. Permainan mereka terdengar semakin liar seiring desahan wanita itu yang semakin keras. Saifanny memperhatikannya sekilas; wanita itu berambut panjang, persis seperti dirinya. Kemiripan itu membuatnya muak dan ingin segera menyingkirkan rambut panjangnya sendiri. Saifanny terduduk lemas di balik lemari kamar hotel. Situasi ini sangat memalukan baginya. Semua ini terjadi karena ia mengabaikan tanda-tanda perselingkuhan suaminya. Ia harus mencari tahu siapa wanita itu. Wajah sang pelakor tidak terlihat dari balik lemari, hanya punggungnya saja. Saifanny memutuskan untuk segera pergi karena udara di ruangan itu membuatnya sesak napas. Ia membuka pintu dan keluar dengan hati-hati. Mereka begitu asyik hingga tidak menyadari ada orang yang masuk dan keluar dari kamar tersebut. Saifanny segera mengendarai motornya menuju rumah. Syahdan sudah menunggu. Di hari ulang tahun pernikahan ini, ia tidak boleh terlihat sedih di depan putranya. Ia mengesampingkan dulu kemarahannya; hari ini ia hanya ingin merayakan momen bersama Syahdan. Sesampainya di rumah, Syahdan sedang duduk di sofa ruang keluarga. Wajah manis anaknya selalu berhasil membuat Saifanny tersenyum cerah, seolah semua beban masalahnya menguap. Begitu melihat ibunya pulang, Syahdan langsung menghambur ke pelukannya. "Mama sudah pulang?" tanyanya antusias. Wajah imut itu membuat Saifanny gemas. Saifanny membawa kue stroberi yang ia buat sejak siang dengan tulisan HAPPY 8TH ANNIVERSARY. Syahdan mengambil lilin di meja, lalu mereka berdua meniup lilin kue tersebut di ruang keluarga. Setengah jam kemudian, suara mobil terdengar terparkir. Suaminya pulang. Ekspresi Saifanny seketika berubah, rasa kesal itu kembali bergejolak. "Mama gak apa-apa?" Syahdan bertanya sambil memiringkan wajahnya, menatap lembut ke arah mata ibunya. Saifanny tersenyum paksa. "Tidak apa-apa, Sayang. Sepertinya Papa sudah pulang, ayo kita potong kuenya untuk Papa." Ia terpaksa menelan rasa kesalnya bulat-bulat. Syahdan berlari ke arah pintu untuk menyambut ayahnya. Sementara itu, Saifanny menatap pisau di hadapannya. "Apa aku tusukkan saja pisau ini padanya?" batinnya sambil memainkan mata pisau. Pikirannya baru tersadarkan saat mendengar teriakan ceria Syahdan. "Ma, aku beliin ini lho, nanti buka ya!" Syahdan membawa sebuah kado besar dan menyerahkannya kepada Saifanny. Rupanya, ia meminta papanya membelikan hadiah itu. Saifanny segera mencium tangan Zain, dan suaminya membalas dengan mencium keningnya—satu-satunya kebiasaan yang tidak pernah berubah. Mereka duduk bersama di meja makan bulat. Zain mengeluarkan semua makanan dari daftar yang ditulis Saifanny, dan semuanya lengkap. Saifanny tersenyum formal sebagai tanda terima kasih. "Selamat ulang tahun pernikahan ya, Papa, Mama. Aku sayang kalian," ucap Syahdan manis. Saifanny menyentuh pipi putranya, berjanji dalam hati akan selalu memastikan anak itu tersenyum. Saifanny membuka kado dari Syahdan: sebuah alat pijat berbentuk bantal leher. Ia tak menyangka anak berusia delapan tahun bisa sepintar itu. "Syahdan tahu sekali kalau Mama sering sakit leher. Terima kasih hadiahnya ya, Sayang," ucap Saifanny sambil menghujani pipi anaknya dengan ciuman. "Mama sering pegang leher, kan? Jadi aku pikir Mama sedang sakit leher, hehe," sahut Syahdan, yang ternyata jauh lebih peka daripada ayahnya sendiri. "Ini hadiah dariku," kata Zain sambil memberikan bungkusan besar. Saifanny sudah tahu isinya karena ia sendiri yang meminta: sebuah tas keluaran terbaru dari merek favoritnya. Namun, ada satu kotak tambahan di dalamnya. Ketika dibuka, isinya adalah satu set perhiasan. Saifanny ternganga. Pria ini memberikan sesuatu yang tidak ada di daftar. "Ini untukku, Mas? Cantik sekali." Ia memperhatikan perhiasan itu, bertanya-tanya berapa karat harganya, namun ia mengakui selera suaminya memang bagus. Zain tersenyum melihat istrinya menyukai hadiah tersebut. "Sini, aku bantu pakaikan." Zain mengambil kalung itu dan memasangkannya di leher Saifanny. Syahdan tersenyum lebar melihat momen itu, dan Saifanny merasa lega selama anaknya bahagia. "Bagaimana, Mama cantik tidak?" tanya Saifanny pada Syahdan. "Cantik sekali! Mama yang tercantik di seluruh dunia!" jawabnya riang, membuat Saifanny mencubit kedua pipi anaknya dengan gemas. Setelah itu, mereka memakan kue stroberi tersebut. Syukurlah, kue buatan Saifanny tidak gagal. Setelah Syahdan tertidur, Saifanny dan Zain bersiap untuk tidur. Zain menatapnya dan berbisik, "Ma, aku akan lebih sering lembur mulai sekarang, jadi tidak perlu masak makan malam untukku." Saifanny balik menatap suaminya dengan dingin. "Pertunjukan sudah selesai, anak kita sudah tidur. Tidak perlu bicara dengan suara lembut seperti itu. Lagipula, kamu sudah berminggu-minggu pulang malam, tapi baru ngasih tahu sekarang? Telat." Ekspresi wajah Zain berubah kesal. Ia menarik selimut lalu tidur menyamping membelakangi Saifanny. Saifanny tidak peduli. Ia menunggu hingga waktu menunjukkan pukul 12 malam. Ia sengaja tidak tidur demi menyelidiki suaminya. Langkah pertama yang Saifanny ambil adalah mencari tahu siapa selingkuhan suaminya. Perlahan, ia mengambil ponsel Zain yang terletak di dekat lampu tidur. Ia mencoba beberapa kata sandi: tanggal lahir Zain, tanggal lahir Syahdan, hingga tanggal lahirnya sendiri. Semuanya salah. Bahkan tanggal lahir ibu mertuanya pun tidak bisa membuka ponsel tersebut. Saifanny memejamkan mata dan berpikir. TANGGAL HARI INI. Ia memasukkan tanggal pernikahan mereka, dan ponsel itu terbuka. Saifanny mendengus; pantas saja Zain tidak pernah lupa tanggal pernikahan mereka. Ia segera memeriksa media sosial, pesan, email, hingga galeri foto. Tidak ada yang aneh di permukaan; Zain mungkin memiliki dua ponsel atau sudah menghapus riwayat pesan. Namun, Saifanny menemukan sebuah foto di galeri. Foto Zain bersama semua anggota timnya. Terdapat tiga perempuan berusia sekitar 20-an di foto itu, dan ketiganya berambut panjang. Saifanny yakin Zain berselingkuh dengan salah satu dari mereka. Ia mengirimkan foto tim tersebut dan semua kontak mereka ke ponselnya sendiri, lalu menghapus riwayat pesannya. Keesokan harinya, Zain berangkat pukul 7 pagi. Setengah jam kemudian, Saifanny mengantar Syahdan ke sekolah. Setelah itu, ia langsung meluncur ke sebuah kafe, membuka laptop, dan siap menyelidiki para wanita tersebut. Saifanny mulai melacak mereka melalui nama kontak yang terhubung ke media sosial. Ketiga wanita itu cantik, dan Saifanny sempat heran mengapa mereka mau menjadi selingkuhan Zain yang wajahnya biasa-biasa saja dan kini mulai tidak terawat. Ia membedah profil mereka satu per satu. Wanita pertama sering mengunggah foto bersama teman-temannya; ia tampak seperti tipe wanita yang mencintai kebebasan, mirip dengan Saifanny dulu. Ia mencoret wanita pertama dari daftar tersangka. Wanita kedua selalu berfoto mesra dengan pacarnya yang setampan model. Saifanny yakin wanita itu sangat mencintai pacarnya, sehingga kecil kemungkinan ia berselingkuh dengan Zain. Perhatian Saifanny akhirnya terpaku pada sosial media wanita ketiga. Wanita ini selalu berfoto sendiri, namun tampak jelas foto-fotonya diambil oleh orang lain. Ia memperbesar salah satu foto yang diambil saat malam hari, di mana wanita itu berpose membelakangi kaca. Saifanny mencerahkan layar laptopnya. Ia bersandar di kursi, menarik napas lega sekaligus kesal. Di pantulan kaca itu, terlihat jelas bayangan Zain sedang memegang kamera. Firasatnya benar. Punggung, bahu, dan bentuk tubuh wanita itu adalah orang yang sama dengan yang ia lihat di hotel. Saifanny tidak panik, ia sudah menduga hal ini. Kini, waktunya menjalankan rencana kedua: mencari informasi lebih dalam tentang wanita itu.Saifanny melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang cukup lengang. Di kursi penumpang depan, Syahdan duduk membisu seraya mengerucutkan bibirnya tebal—sebuah gestur nonverbal yang mengomunikasikan kekesalan mendalam.Saifanny menghembuskan napas lelah, berusaha menata emosinya yang mulai terkikis."Syahie... Harusnya kamu tidak bicara kasar begitu pada Mabelle," buka Saifanny dengan intonasi selembut mungkin.Syahdan bergeming, memalingkan parasnya rapat-rapat menatap kosong keluar jendela mobil."Mabelle itu tidak punya ibu, Syahie. Itu sebabnya tadi dia memanggil Mama dengan sebutan begitu," lanjut Saifanny, berupaya menyuntikkan empati ke dalam benak putranya.Namun, Syahdan tetap memilih membisu. Di balik keputusasaannya, bocah sembilan tahun itu tak memedulikan sedikit pun latar belakang Mabelle.Bagi logika polosnya yang terluka, fakta bahwasanya sang ibu justru menegurnya di hadapan orang lain adalah bukti nyata bahwa Saifanny tidak lagi berdiri
Suara derit roda ranjang dorong yang dipacu kencang menyusuri koridor steril UGD Rumah Sakit Daerah memecah keheningan pascapercobaan penculikan Bima.Yudi melangkah lebar di samping ranjang, matanya tak lepas dari sosok Bima yang terbaring kaku dengan paras pucat pasi bagaikan mayat."Dokter! Cepat periksa dia! Sejak tadi dia tidak bisa dibangunkan, sepertinya dia disuntik cairan bius!" Teriak Yudi pada tim medis gawat darurat yang berhamburan menyambut mereka.Dua orang dokter jaga dan tiga perawat segera mendorong ranjang Bima menerobos pintu ganda transparan bertuliskan Resusitasi Red Zone. Lampu sorot putih yang menyilaukan seketika menyambar tubuh Bima yang tak sadarkan diri."Pasang monitor tanda vital sekarang! Ambil sampel darah untuk cek toksikologi!" Titah dokter senior berpakaian hijau medis dengan nada suara penuh desakan.BEEP... BEEP... BEEP...Suara lengkingan ritmis dari layar monitor jantung seketika memenuhi ruangan. Grafik di layar berpendar hijau menunjukkan
Celah di bawah pintu kayu ruang 403 itu mendadak menjelma menjadi jurang ketakutan yang teramat pekat bagi Bima. Belum sempat logikanya menimbang apakah keberadaan dua pasang tungkai kaki asing di luar sana murni ancaman nyata atau sekadar halusinasi trauma, Bima memaksa otaknya bekerja kilat. Insting bertahan hidup yang terasah dalam bertahun-tahun marabahaya berteriak nyaring bahwasanya bahaya nyata tengah mengintip di balik kayu tebal itu. Secara refleks, Bima memutar tubuhnya, menempelkan dada dan kedua telapak tangannya sekuat tenaga ke permukaan pintu, berupaya keras menahan engsel tua tersebut dari ancaman pendorongan luar. "Dokter Aris! Bantu saya menahan pintu ini! Cepat!" Teriak Bima dengan intonasi memburu, dadanya kembang kempis dirayapi kepanikan yang teramat hebat. Dokter Aris terperanjat dari kursi kerjanya, raut wajahnya menyuarakan kebingungan mendalam atas aksi mendadak pasiennya. "Pak Bima, tenanglah! Apa yang Anda—" DUG! DUG! DUG! Ucapan sang ps
Pagi menjelang, tatkala sang surya mulai menampakkan dirinya secara perlahan di balik cakrawala kota.Saifanny duduk membisu di tepi ranjang dengan tatapan mata yang kosong. Jemarinya mencengkeram ponsel pintar yang meredup.Benaknya masih dipenuhi oleh kecemburuan dan rasa takut yang bersinggungan—sebuah pergolakan batin bahwasanya posisinya sebagai seorang ibu akan terabaikan.Grep!Secara mendadak, sebuah lengan kekar berotot terulur melingkari pinggang Saifanny dari belakang, menarik tubuh wanita itu dalam dekapan yang erat.Sentuhan hangat itu membuat Saifanny terperanjat kecil, mendapati Adrian telah memeluknya secara intim dari arah belakang."Selamat pagi, Fanny," sapa Adrian dengan intonasi suara yang serak dan berat khas seorang pria yang baru terbangun dari tidurnya."Selamat pagi," sahut Saifanny datar, tanpa menoleh sedikit pun.Saifanny sanggup merasakan bibir Adrian yang mulai mendaratkan ciuman-ciuman ringan menyusuri kulit pinggangnya.Sentuhan itu memicu sensa
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore