MasukSyiuuuuh—Satu bulan berlalu di dunia fana bagaikan sekelumit mimpi indah yang berlari cepat.Selama tiga puluh hari berturut-turut, tidak ada pertumpahan darah, tidak ada dentuman teknik mistis yang membelah lautan, dan tidak ada lagi teriakan penghinaan dari manusia fana yang bodoh. Long Chen benar-benar menepati janjinya kepada Lin Xinyan. Mereka menghabiskan waktu dengan menjelajahi berbagai belahan dunia fana—mulai dari menyusuri jalanan tua di Paris, menikmati keindahan salju abadi di pegunungan Alpen, hingga bersantai di atas gubuk terapung pribadi di Maladewa.Bagi manusia biasa, itu adalah liburan mewah kelas atas. Namun bagi Long Chen dan Lin Xinyan, perjalanan satu bulan itu adalah proses pemurnian Hati Kultivasi (Dao Heart). Dengan meresapi keindahan, kedamaian, dan sisi paling murni dari hubungan asmara mereka di dunia fana, jiwa Lin Xinyan yang semula terikat oleh luka trauma masa lalu kini telah benar-benar melunak dan menyatu sempurna dengan fondasi Yin Es Teratai-nya.
CRACK... CRACK...Di kedalaman dimensi paling terisolasi di atas lautan benua, tepat di tempat di mana laur batas antara Bumi Fana dan Dunia Kultivasi Atas berbatasan, tirai ruang transparan tampak berguncang hebat. Petir-petir ungu berdiameter batang pohon kelapa menyambar-nyambar tanpa henti, memukul dinding formasi pelindung bumi yang kini kian menipis akibat hancurnya inti energi Kuil Surga Abadi dan runtuhnya jaringan Aliansi Yanjing.Di balik tirai transparan yang retak itu, terbentang pemandangan Sekte Langit Jiwa—sebuah sekte raksasa Dunia Atas yang berdiri di atas ribuan gunung melayang. Puncak-puncak gunung batu giok dikelilingi oleh kabut spiritual yang teramat pekat, jauh melampaui kerapatan energi mana pun yang ada di bumi fana.Di dalam Aula Agung Penghakiman Langit, puluhan penatua berjubah emas dengan basis kultivasi Ranah Inti Emas (Gold Core) dan Ranah Jiwa Nascent (Nascent Soul) duduk bersila di atas pilar-pilar batu purba. Aura menindas yang mereka lepaskan membuat
Wussshhh—Hembusan angin pagi yang membawa sisa-sisa hawa es murni dari sisa kekuatan Lin Xinyan perlahan menyapu halaman luas kediaman Keluarga Lin. Di dalam aula utama, suasana keangkuhan yang selama bertahun-tahun menjadi dinding pemisah antara Long Chen dan keluarga istrinya kini telah runtuh, menyisakan puing-puing kesombongan fana yang tak lagi berharga.Fang Mei masih terduduk kaku di kursi kehebatannya. Wajahnya yang pucat pasi menatap kosong ke arah pintu gerbang yang hancur. Di lantai marmer bawah panggung, Lin Jianhua dan Lin Zhou masih belum mampu menegakkan tubuh mereka; tekanan Qi naga purba yang ditinggalkan Long Chen bertindak bagai rantai tak kasat mata yang memaksa tulang belakang mereka untuk tetap membungkuk dalam posisi bersujud penyesalan.Gao Yuan berdiri tegak di tengah aula, jubah hitam Konsorsium Naganya berdesir tajam seiring dengan gerakannya yang membalikkan badan menghadap sisa-sisa anggota keluarga Lin. Sepasang matanya tidak lagi mema
CRASH!Serpihan pintu kayu ek yang membeku menjadi es berjatuhan di atas lantai marmer, menimbulkan suara gemerincing tajam yang memecah keheningan mencekam di dalam aula kediaman Keluarga Lin. Hawa dingin yang dibawa oleh Lin Xinyan merayap cepat, menyelimuti kaki-kaki meja mahoni dan membuat suhu ruangan anjlok drastis hingga ke titik beku.Fang Mei yang duduk di kursi kehormatan tertinggi langsung menggigil hebat. Bibirnya yang semula merah merona akibat riasan mahal kini perlahan membiru. Rasa terkejut dan ketakutan instan mendominasi benaknya saat menatap putri kandungnya sendiri, yang kini memancarkan aura keagungan yang begitu asing dan menindas.Namun, pandangannya beralih pada Long Chen yang berjalan santai di samping Lin Xinyan. Melihat menantu yang selama tiga tahun ini dia injak-injak masih mengenakan kemeja santai, keserakahan dan kesombongan fana Fang Mei kembali membakar keberaniannya."Xinyan! Apa-apaan kamu ini?!" teriak Fang Mei sembari berdiri
WUUUSHHH—Dua puluh empat jam setelah badai senyap menghantam ibu kota, kapal pesiar mewah The Primordial Star akhirnya memotong riak air Teluk Jianghai, kembali merapat di dermaga pribadi Konsorsium Naga. Kota Jianghai pagi ini tampak seperti biasa di mata manusia fana, namun di bawah permukaan, seluruh lanskap kekuasaan telah bergeser secara seismik. Berita tentang runtuhnya Aliansi Yanjing dalam waktu satu malam telah menyebar seperti api liar di antara keluarga-keluarga papan atas, menciptakan kepanikan massal yang belum pernah terjadi sebelumnya.Long Chen melangkah keluar dari kabin suite utama, mantel parit hitamnya berkibar elegan ditiup angin pelabuhan. Kacamata hitamnya kembali bertengger dengan pas, menyembunyikan sepasang mata naga emas vertikalnya yang kini telah sepenuhnya terkendali. Di sampingnya, Lin Xinyan berjalan dengan keanggunan seorang permaisuri sejati. Mengenakan gaun terusan sutra lavender yang pas di tubuh rampingnya, aura kultivator Ranah Pen
Fajar menyingsing di ufuk timur Samudra Pasifik, memancarkan semburat cahaya keemasan yang membelah sisa-sisa kabut malam di atas dek The Primordial Star. Di dalam kamar suite utama, kehangatan sisa kultivasi ganda semalam masih terasa samar di udara. Aroma wangi teratai es dari Lin Xinyan dan aroma maskulin dari Qi Yang Long Chen telah menyatu dengan sempurna, menciptakan atmosfer ruang yang teramat tenang dan harmonis.Lin Xinyan perlahan membuka sepasang mata peraknya. Dia mendapati dirinya masih berada di dalam dekapan erat lengan kokoh Long Chen. Kulit pualamnya yang bersentuhan langsung dengan dada bidang suaminya memancarkan pendaran cahaya spiritual yang jauh lebih padat daripada kemarin. Melalui penyatuan jiwa dan raga semalam, tidak hanya fondasi Yin Es Teratai-nya yang meluas, tetapi esensi naga primordial di dalam tubuh Long Chen juga telah menyempurnakan seluruh jalur meridiannya hingga ke tingkat yang tidak masuk akal untuk ukuran praktisi bumi fana."Suda







