LOGINAsterion menyadari jika ia telah hidup kembali, namun alur hidupnya berbeda dari kehidupan sebelumnya, ia bahkan bertemu dengan gadis misterius bernama Luna yang memiliki energi magis sama seperti dirinya. Selama mereka berkelana bersama mencari kekuatan, banyak misteri kehidupan lalu yang akhirnya terkuak. Bagaimanakah kisah Asterion setelah mengetahui kebenaran di balik kehidupannya? Akankah ia masih terus berpegang pada dendam yang disimpan atau melupakan segala rasa sakit dan memulai kehidupan barunya.
View MoreBau lembap dan busuk menusuk hidungnya. Asterion membuka mata dengan napas tersendat, seolah paru-parunya baru saja berhenti dipaksa kembali bekerja setelah lama mati. Langit kelabu menggantung rendah di atas kepalanya, tertutup asap tipis dari cerobong-cerobong reyot kawasan kumuh. Suara gaduh memenuhi telinganya. Pedagang berteriak, anak-anak menangis, logam beradu, dan langkah kaki orang-orang yang hidup tanpa harapan.
Ia membeku.
“ … Ini ….” Tangannya gemetar saat menyentuh tanah berlumpur di bawahnya.
Dingin. Nyata, bukan akhirat, bukan mimpi. Ingatan terakhirnya muncul seperti pisau yang ditarik perlahan dari luka lama. Pedang menusuk dadanya. Darah hangat mengalir. Tatapan pria yang ia percaya sepenuh hati, tuannya sendiri. Menatap tanpa emosi saat ia mati. Pengkhianatan.
Asterion menarik napas panjang, lalu tertawa pelan. Tawa itu kering dan tanpa kebahagiaan. Ia meraba tubuhnya dengan penuh semangat. Hangat tubuh yang ia rasakan bukanlah kebohongan.
“Aku … hidup,” ungkap Asterion pada dirinya sendiri.
Ia berdiri perlahan. Tubuhnya terasa lebih ringan. Tidak ada luka lama, tidak ada bekas pertempuran bertahun-tahun. Tangannya lebih kecil, lebih muda. Matanya melebar. Ini adalah sebuah kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuknya.
“Ini … masa itu,” gumam Asterion sambil melihat ke sekelilingnya.
Kawasan kumuh Black Hollow. Tempat ia pertama kali dibuang oleh keluarga Blackwynd. Hari ketika hidupnya berubah menjadi neraka. Asterion menatap langit lama sekali. Ia kembali, bukan sekadar hidup kembali, tetapi kembali ke masa lalu. Kenangan kehidupan sebelumnya mengalir deras. Ia ingat kelaparan yang ia rasakan, penghinaan dan pertarungan hanya demi sepotong roti. Ia ingat teman-teman yang mati satu per satu, Ia ingat sumpah setianya pada seorang tuan yang akhirnya membunuhnya sendiri. Tangannya mengepal kuat.
“Kalau ini kesempatan kedua ….” Matanya berubah dingin. “Aku tidak akan hidup seperti dulu.”
Asterion berjalan menyusuri gang sempit dengan langkah pasti. Tidak ada kebingungan dalam gerakannya.
Ia tahu setiap sudut tempat itu, ia sudah mengahfal jalanan kumuh itu seperti sedang bernafas. Di kehidupan sebelumnya, ia membutuhkan tiga tahun untuk bertahan hidup. Sekarang? Ia hanya butuh tiga hari.
Asterion berjalan dengan tenang di tengah ketumunan orang yang berebut makanan, dan saat itulah ia menyadari Seorang pencopet sedang mencoba meraih kantongnya. Tanpa menoleh, Asterion menangkap pergelangan tangan bocah itu dan memutarnya ringan. Bocah itu jatuh tersungkur.
“Aku sedang tidak ingin diganggu,” katanya datar. Matanya menatap tajam seolah ingin menguliti bocah itu hidup-hidup, anak itu gemetar ketakutan sebelum melarikan diri. Asterion menyipitkan mata, ia menyadari sesuatu, aura dirinya berbeda. Pengalaman puluhan tahun bertarung tidak hilang hanya karena tubuhnya kembali muda. Ia masih dirinya yang lama, dan itu adalah senjata terbesar yang ia miliki. Tujuan pertamanya jelas, Kitab Ilahi.
Artefak yang di kehidupan sebelumnya baru ia temukan lima tahun kemudian, terlalu terlambat untuk mengubah nasibnya. Jika ia mendapatkannya sekarang, Ia akan melampaui semua orang. Asterion menuju pasar gelap di ujung distrik, namun langkahnya terhenti. Keributan terjadi di gang kecil. Beberapa pria dewasa mengelilingi seorang gadis kecil. Berambut perak, tubuhnya kurus, dan tatapannya dingin, tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
“Serahkan uangmu!” teriak salah satu pria mengancam.
Gadis itu diam, ia tidak memohon dan tidak menangis. Asterion mengerutkan kening. Tatapan itu … Tidak biasa. Ia berbalik, berniat mengabaikan gadis itu, Ini bukan urusannya.
Di kehidupan sebelumnya, ia belajar satu hal, kebaikan tanpa kekuatan hanyalah bunuh diri, namun, salah satu pria mendorong gadis itu hingga jatuh. Sesaat, energi samar berdenyut dari tubuh gadis tersebut, sangat kecil, namun tajam. Asterion membeku.
“ … Energi spiritual?” tanya Asterion dalam hati.
“Mustahil, tidak mungkin anak kumuh memiliki energi sepadat itu.” Ia menghela napas panjang.
“Sepertinya aku tidak bisa mengabaikan ini.”
Dalam satu langkah, ia sudah berada di belakang para pria itu. Gerakannya terlalu cepat untuk mata biasa.
Pukulan pertama menjatuhkan satu orang. Tendangan kedua mematahkan keseimbangan lainnya. Kurang dari sepuluh detik, semua pria itu sudah tergeletak, suasana menjadi sunyi.
Gadis itu menatapnya tanpa ekspresi. Mata emasnya berkilau redup di bawah cahaya senja.
“Kau terlambat,” katanya datar. Seolah ia sudah mengerti jika akan ada orang yang akan menyelamatkannya.
Asterion mengangkat alis. “kau tidak terlihat butuh bantuan?” tanya Asterion menyindir. Ia salah paham dan mengira jika Luna hanya sedang malu untuk mengucapkam terimakasih padanya.
“Aku tau kau akan datang,” Ucap Luna meluruskan. Tetapi Asterion terlihat tidak percaya, dan hanya menganggukan kepalanya tanda mengerti.
“Ya,” ucap Asterion. “Tapi sekarang kau tidak perlu repot, aku sudah membereskan mereka untukmu,” ucap Asterion.
Gadis itu berdiri, membersihkan debu dari pakaiannya.
“Aku Luna,” ucapnya memperkenalkan diri.
Nama itu membuat jantung Asterion berdetak aneh. Ia tidak tahu kenapa, seolah sesuatu dalam ingatannya mencoba bangkit.
“Asterion,” jawab Asterion dengan setengah hati. Ia sebenarnya tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Luna menatapnya lama, tatapannya terlalu tajam untuk anak seusianya.
“Kau kuat,” katanya memuji.
“Kau juga aneh.” Asterion menyahut cepat.
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Luna sedikit terangkat. Hampir seperti senyum. Mereka berjalan bersama tanpa rencana jelas.
“Dimana rumahmu?” tanya Asterion selembut mungkin.
Asterion awalnya hanya berniat mengantar gadis itu keluar dari area berbahaya, namun semakin lama ia berjalan di dekat Luna, semakin jelas ia merasakan energi spiritual yang tidak stabil di sekitarnya. Seperti sesuatu yang tersegel. Dan … dia yakin, Ia belum pernah bertemu gadis ini di kehidupan sebelumnya, padahal energi sebesar ini seharusnya menarik perhatian seluruh dunia bawah.
Kenapa tidak ada yang tahu tentangnya? Kenapa sejarah tidak mencatatnya? Pertanyaan itu membuat pikirannya gelisah. Tiba-tiba Luna berkata, “Ada yang mengikuti kita.”
Asterion tersenyum tipis.
“Bagus. Inderamu tajam,” gumam Asterion memuji.
Beberapa bayangan bergerak di atap dengan sangat cepat, kemudian beberapa sosok berjubah hitam muncul, aura mereka berat. Pembunuh profesional, dan target mereka … bukan dirinya, melainkan Luna.
Asterion menghela napas pelan.
“ … Jadi ini awalnya.” Ia sadar, takdirnya sudah mulai berubah.
Di kehidupan sebelumnya, ia baru menghadapi dunia gelap bertahun-tahun kemudian. Sekarang? Hari pertama saja sudah bertemu pembunuh bayaran dan semuanya datang menghampirinya.
Asterion melangkah maju, ia berdiri di depan Luna.
“Mulai sekarang, kau ikut denganku,” ucap Asterion pelan.
Luna memiringkan kepala. Ia heran kenapa tiba-tiba laki-laki di depannya berubah pikiran tanpa ia sadari.
“Kenapa?” tanya Luna pelan.
Asterion menatap para pembunuh yang perlahan mendekat. Matanya dingin seperti malam tanpa bulan.
“Karena seseorang jelas ingin kau mati,” jawabnya penuh penuh percayadiri, ia tersenyum tipis. “Dan aku sangat tidak suka jika seseorang mencoba mengambil sesuatu di depanku,” lanjutnya lagi.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Asterion merasakan sesuatu selain dendam, tujuan baru. Tanpa ia sadari, pertemuan itu akan mengubah segalanya. Bukan hanya nasibnya, tetapi nasib seluruh kekaisaran.
Bayangan yang pernah mati … telah bangkit kembali.
Beberapa sosok bayangan hitam menghadang dari berbagai sisi, mereka berada dalam posisi siaga, salah seorang dari mereka memulai dengan melemparkan sebuah pisau kecil ke arah Asterion. Luna melotot, menatap tajam ke arah para pembunuh itu.
“Gadis itu milik kami,” gumam salah seorang pembunuh. “Jangan harap bisa selamat hidup-hidup.”
Asterion bergerak dengan cepat menembus dinginnya malam, dua bilah pedang pendek sudah siaga di tiap genggaman tangannya. Ia berlari di atas atap-atap rumah tanpa meninggalkan suara sedikitpun. Gerakannya sangat halus hingga angin di sekelilingnya terasa begitu samar, Kemampuannya semakin meningkat dibanding dengan kehidupan lamanya, apalagi ia telah mendapatkan banyak energi spiritual baru. Sementara itu, di sebuah area lapang di sudut kota. Dua kelompok saling berhadapan. Mereka semua berdiri membawa senjata masing-masing. Suasana tegang menyelimuti udara di sekitar mereka. “Hei bajingan kecil. Lebih baik kau menyerah dan bawa kumpulan tidak berguna ini pergi dari kota. Bangsawan jatuh sepertimu yang tidak pernah merasakan kerasnya dunia, mencoba untuk merangkak menjadi gangster? Jangan mimpi.” Berthold sang ketua geng itu melontarkan ejekan. Suara tawa menggelegar di sekitar mereka. “Bukankah kita akan tau siapa pecundangnya jika pedang kita beradu!” ungkap Nathan, ia tak terpro
Setelah orang-orang itu pergi, Asterion mengajak Luna untuk segera pergi meninggalkan tempat itu. Sekarang tujuan mereka adalah kota pelabuhan di ujung barat kekaisaran.Sebuah kota yang sangat ramai, dan dipenuhi oleh hiruk pikuk manusia dengan segala kebisingannya. Butuh waktu setengah bulan perjalanan hingga mereka bisa mencapai kota pelabuhan itu. Selama perjalanan Asterion terus melatih dirinya, sementara Luna sibuk membiasakan diri dengan suasana baru di sekitarnya. Sebelum mencapai kota, mereka singgah di sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Asterion ingin mencari informasi sekaligus melihat situasi di dalam kota saat ini. “Ingat kata-kataku, di depan orang lain kau harus memanggilku kakak, oke?” ucap Asterion mengingatkan. Luna memutar matanya malas, ia sudah sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut Asterion. “Aku tau,” jawabnya malas. Asterion memelototinya. Luna segera meralat ucapannya. “Aku tau, kakak,” ucapnya dengan penuh penekanan. Asterion mengangguk puas. Me
Dikehidupan sebelumnya, ia membutuhkan waktu berbulan-bulan pelatihan untuk menahan tekanan ini, sementara Luna melakukannya secara alami. Semakin banyak pertanyaan muncul, dan semakin sedikit jawaban yang ia miliki.Bagian dalam kuil sangat gelap. Asterion menyalakan obor yang tergeletak di lantai, obor itu masih bisa menyala, cukup untuk penerangan mereka berdua.“Jangan jauh-jauh dariku!” seru Asterion memperingatkan. “Aku tau,” jawab Luna. Ia segera memposisikan dirinya di belakang Asterion, mengikuti setiap langkahnya agar tidak terpisah. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat yang ingin mereka tuju. Asterion bisa melewati segala jebakan yang ada di depan matanya, bahkan mengalahkan beberapa penjaga yang menghalangi mereka, sampai akhirnya Asterion dan Luna tiba di bagian utama dari reruntuhan itu. Di sana tidak hanya ada sebuah cahaya redup aneh yang menerangi ruangan, tapi juga terdapat sebuah buku yang melayang di atas sebuah altar. “Akhirnya,” gumam Ast
“ … jangan terlalu percaya padaku,” ucap Asterion sambil menatap kosong pemandangan diluar jendela. Ia teringat seberapa kejam apa yang ia lakukan. Ia menghabisi orang lain tanpa pandang bulu, dan semua itu atas perintah dari orang itu. Ia mengira semua yang ia lakukan adalah demi kebenaran dan kelangsungan hidupnya. Jika ia tidak bertindak kejam, maka orang lain akan meremehkannya dan menghancurkannya lebih dulu. Luna menggeleng kecil, walaupun ia tidak bisa melihat raut wajah Asterion sekarang, ia seolah bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Asterion. Dengan percaya diri Luna mendekat ke arah Asterion, memeluk punggung itu dengan lembut, seolah mencoba menenangkan. “Instingku tidak pernah salah,” ucap Luna. Kalimat itu membuat Asterion tidak bisa berkata apa-apa. Ia melepaskan pelukan luna perlahan, dan berbalik menatap kedua mata emasnya dengan penuh rasa penasaran. Entah apa yang ada di dalam kepala gadis itu, ia bahkan mengikutinya tanpa rasa takut sedikitpun. “Sebelum






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.