MasukDi mata semua orang di Kota Jianghai, Long Chen adalah sampah tak berguna nomor satu. Demi mematuhi wasiat mendiang kakek Keluarga Lin, dia rela menjadi menantu numpang yang mengabdi pada Lin Xinyan, dewi sedingin es yang menjadi dambaan seluruh kota. Selama tiga tahun, Long Chen hidup tanpa harga diri—mencuci, memasak, menerima caci maki mertua, hingga injakan dari para pewaris kaya yang mengantre untuk menggantikan posisinya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di dalam tubuh pria yang selalu menundukkan kepala ini, mengalir darah yang mampu menggetarkan sembilan langit. Pada hari ulang tahun Ibu Suri Keluarga Lin, di tengah badai penghinaan yang puncaknya membuat dia bersimbah darah, sebuah keajaiban terjadi. Darah Long Chen mengaktifkan cincin hitam berkarat peninggalan orang tuanya, menghancurkan segel batin yang mengurung takdirnya selama dua puluh tahun. "Klan Naga Langit Primordial telah runtuh, namun darah sang Kaisar tidak akan pernah padam! Bangkitlah, Penerus Penguasa Jagat Raya!" Auman Naga Emas bergema di dalam jiwanya. Long Chen terbangun dengan ingatan warisan tiada tanding: teknik Mandi Obat Pemurnian Sumsum yang mampu mengubah fisik fana menjadi Tubuh Dewa, serta teknik rahasia kuno Kultivasi Ganda Kaisar Naga. Sejak hari itu, roda takdir berputar terbalik. Dengan ramuan obat rahasia, dia mengobati penyakit, membangun jaringan bisnis tersembunyi, dan melumat setiap orang yang pernah merendahkannya. Melalui metode Kultivasi Ganda, kekuatannya melejit tanpa batas setiap kali dia menjalin ikatan dengan para wanita pemilik meridian murni—mulai dari istrinya yang berhati es, dokter jenius pelindung spiritual, hingga CEO wanita penguasa ekonomi kota. Dari seorang menantu yang diinjak-injak, Long Chen melangkah mendaki puncak dunia, menghancurkan sekte-sekte rahasia kuno, dan memimpin kembali Klan Naga untuk bertakhta di atas langit tertinggi!
Lihat lebih banyakAula utama kediaman Keluarga Lin malam itu tampak begitu megah. Lampu gantung kristal raksasa memancarkan cahaya berkilauan, menerangi deretan tamu undangan dari kalangan elit Kota Jianghai. Malam ini adalah perayaan ulang tahun ke-70 Ibu Suri Keluarga Lin, pemegang takdir tertinggi di keluarga tersebut.
Namun, di sudut aula yang temaram, Long Chen berdiri dengan kepala agak tertunduk. Kemeja putihnya yang sudah agak pudar kontras dengan setelan jas mewah para tamu. Tiga tahun menjadi menantu numpang di Keluarga Lin, dia sudah terbiasa dianggap sebagai udara kosong—atau lebih buruk, sebagai noda hitam di keluarga mereka. "Long Chen, kenapa kamu masih berdiri di sana seperti patung? Cepat maju, giliran kita menyerahkan hadiah!" Sebuah suara dingin namun merdu membuyarkan lamunannya. Lin Xinyan—istrinya, wanita tercantik di Kota Jianghai yang memiliki julukan "Dewi Es"—berjalan mendekat. Tatapannya datar, menyembunyikan rasa lelah dan malu yang mendalam karena memiliki suami seorang pengangguran. Long Chen mengangguk patuh, menggenggam erat kotak kayu kecil nan kusam di tangannya. "Baik, Xinyan." Di tengah aula, Ibu Suri Lin duduk di kursi megah bagai seorang ratu. Di sampingnya, Lin Feng—sepupu laki-laki Lin Xinyan yang sombong—baru saja menyerahkan patung giok seharga dua juta yuan dan mendapat pujian selangit. "Nenek," Lin Xinyan maju dan membungkuk hormat. "Ini hadiah dari kami, sebuah lukisan kuno..." "Tunggu dulu, Xinyan!" Lin Feng tiba-tiba menyela dengan senyum licik. Matanya melirik sinis ke arah Long Chen. "Lukisan itu kan dari uangmu. Kita semua ingin tahu, hadiah apa yang dibawa oleh suamimu, 'Menantu Agung' Keluarga Lin, dengan uangnya sendiri?" Seketika, seluruh pandangan di aula tertuju pada Long Chen. Bisik-bisik bernada ejekan mulai menggema di ruangan mewah itu. Mertua Long Chen yang duduk di barisan depan langsung menutup wajah mereka karena malu. "Dasar sampah tidak tahu diri, untuk apa dia maju ke depan?!" umpat ibu mertuanya setengah berbisik. Long Chen menarik napas dalam-dalam, lalu menyodorkan kotak kayunya. "Ibu Suri, ini adalah Ramuan Pembersih Sumsum yang saya racik sendiri dari tanaman herbal. Jika diminum rutin, ini bisa membersihkan racun tubuh..." "Bwahaha!! Ramuan herbal jalanan?!" Lin Feng tertawa terbahak-bahak. Dia langsung merebut kotak itu dan membantingnya ke lantai. Isinya—sebuah bola hitam kecil yang berbau pekat—menggelinding di dekat kaki Ibu Suri. "Long Chen! Kamu sengaja ingin meracuni Nenek, ya?!" bentak Lin Feng kejam. Ibu Suri Lin melihat bola hitam di lantai dengan raut wajah yang sangat masinis dan murka. Dia menggebrak meja. "Kurang ajar! Singkirkan barang busuk itu! Keluarga Lin tidak butuh sampah pembawa sial seperti dia! Seret dia keluar dari sini!" "Nenek, Long Chen tidak bermaksud begitu—" Lin Xinyan mencoba membela, namun suaranya langsung ditenggelamkan oleh bentakan ibunya sendiri. "Xinyan, diam! Biarkan pengawal membuang bajingan ini!" Atas perintah Lin Feng, dua pengawal berbadan kekar langsung mencengkeram lengan Long Chen dan menyeretnya keluar dari aula lewat pintu belakang. Sepanjang jalan diseret, Long Chen bisa mendengar gelak tawa mengejek dari seluruh keluarga Lin dan para tamu undangan. Gubrak! Tubuh Long Chen dilempar ke atas tanah halaman belakang yang basah dan gelap. Hujan gerimis mulai turun, membuat malam terasa semakin dingin. Tempat ini sangat sepi, jauh dari keramaian pesta di dalam aula. Namun, siksaan belum berakhir. Lin Feng ternyata ikut keluar bersama tiga orang preman sewaan yang biasa menjadi kaki tangannya. "Lin Feng... apa yang mau kamu lakukan?" tanya Long Chen sambil meringis memegangi dadanya yang sakit. "Apa yang mau kulakukan? Menyingkirkan kecoak seperti kamu dari sisi Xinyan!" Lin Feng tersenyum sadis. Dia menoleh ke arah para preman. "Hajar dia sampai lumpuh. Pastikan dia tidak akan bisa berjalan lagi seumur hidupnya!" "Siap, Tuan Muda!" Tanpa ampun, ketiga preman itu langsung mengeroyok Long Chen. Pukulan dan tendangan bertubi-tubi mendarat di wajah, perut, dan punggungnya. BUK! KRAK! Suara tulang rusuk yang patah terdengar mengerikan di tengah kesunyian malam. Long Chen memuntahkan darah segar. Dia mencoba merangkak di atas tanah berlumpur, namun kepalanya dihantam dengan balok kayu hingga dia tersungkur tak berdaya. "Hahaha! Puas sekali melihatmu seperti anjing sekarat!" Lin Feng meludah ke arah Long Chen yang sudah bersimbah darah dan tidak bergerak lagi. "Ayo pergi. Biarkan sampah ini mati kedinginan di sini." Lin Feng dan para preman itu berjalan pergi, meninggalkan halaman belakang yang kembali sunyi senyap. Hanya ada suara rintik hujan yang membasahi tubuh Long Chen yang sekarat. Pandangan Long Chen mulai menggelap. Kesadarannya perlahan menipis di tengah rasa sakit yang luar biasa. "Apakah aku... akan mati di sini sebagai sampah?" batinnya dengan keputusasaan yang mendalam. Darah segar berwarna merah pekat terus mengalir deras dari kepalanya, merembes ke bawah, dan tanpa sengaja membasahi sebuah cincin hitam berkarat di jari manis kirinya—satu-satunya peninggalan orang tua kandungnya. Zuuuttt! Saat darah murni Long Chen menyentuh permukaan cincin, karat hitam di cincin itu tiba-tiba luruh secara gaib, digantikan oleh ukiran naga kecil yang memancarkan kilatan cahaya emas yang sangat pekat. Dalam sekejap, kesadaran Long Chen ditarik paksa masuk ke dalam sebuah ruang dimensi yang gelap gulita. ROAAARRRRRR!!! Sebuah auman dahsyat yang mampu meruntuhkan langit menggema di dalam jiwanya. Di dalam kegelapan itu, sepasang mata raksasa berwarna emas vertikal tiba-tiba terbuka. Seekor Naga Emas raksasa meliuk-liuk dengan keagungan absolut. "Dua puluh tahun... Akhirnya, darah murni dari keturunan terakhir Klan Naga Langit Primordial telah mengaktifkan segel ini!" suara itu bergetar bagai guntur. "Wahai penerusku! Tubuh fana dan ingatanmu sengaja disegel demi melindungimu dari musuh langit. Hari ini, dengan darah penghinaan ini, segelmu hancur! Bangkitlah, dan bertakhtalah kembali di atas sembilan langit!" Naga Emas itu menukik tajam, menabrakkan dirinya langsung ke dalam dada Long Chen. BOOM! Di dunia nyata, di halaman belakang yang sepi, energi hangat yang luar biasa besar meledak di dalam tubuh Long Chen yang awalnya sekarat. Aliran darahnya bergejolak dahsyat. Tulang-tulangnya yang patah menyambung kembali dengan suara gemertak halus, merombak diri menjadi sekeras baja hitam. Semua meridiannya yang tersumbat total kini jebol dan melebar menjadi jalur energi spiritual yang sangat murni. Bersamaan dengan itu, jutaan informasi kuno membanjiri otaknya: ilmu pengobatan dewa, teknik bela diri langit, resep Mandi Obat Pemurnian Sumsum, dan sebuah kitab emas tertinggi: Teknik Kultivasi Ganda Kaisar Naga. Hujan yang turun di sekitarnya seolah berhenti di udara, tertahan oleh tekanan energi tak kasat mata yang keluar dari tubuhnya. Luka-luka di tubuh Long Chen menutup dan mengering dalam hitungan detik. Dia perlahan membuka matanya. Sepasang pupil matanya sempat berkilat emas sebelum kembali hitam, namun pancaran matanya kini sedingin es, penuh dengan aura predator tertinggi yang baru saja bangun dari tidur panjangnya. Long Chen bangkit berdiri dengan perlahan. Dia menatap ke arah aula pesta yang masih ramai di kejauhan, lalu melirik cincin di jarinya yang kini telah berubah menjadi cincin giok naga hitam yang berkilau misterius. Dia menyeka sisa darah di sudut bibirnya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang akan menjadi mimpi buruk bagi seluruh Keluarga Lin. "Keluarga Lin, Lin Feng... panggung kalian sudah selesai. Sekarang, giliran aku yang memegang kendali."Malam kian larut di langit Yanjing, namun ketenangan di dalam kamar suite kepresidenan itu terasa begitu kontras dengan badai spekulasi yang sedang melanda seluruh daratan utara. Peta kulit binatang di atas meja marmer masih memancarkan pendaran merah samar, memproyeksikan ilusi topografi Pegunungan Kunlun di barat laut yang diselimuti badai salju abadi.Lin Xinyan menatap garis-garis magis pada peta tersebut dengan ekspresi serius. "Makam Kaisar Naga Merah... Long Chen, jika Leluhur Agung Jiwa Hitam saja tahu tentang tempat ini, bukankah sekte-sekte ortodoks maupun sekte iblis lainnya di wilayah barat laut juga mengincarnya?"Long Chen terkekeh pendek, jarinya mengetuk meja marmer perlahan. "Tentu saja. Naga Merah adalah salah satu dari sembilan naga penjaga benteng langit di era kuno. Meskipun sudah mati ribuan tahun, sisa-sisa esensi darah dan raga spiritualnya adalah buruan nomor satu bagi siapa saja yang ingin melompati batas ranah fana. Namun, tanpa kunci darah murni..
Kehancuran total Keluarga Jiang di pusat Yanjing dalam hitungan jam mengirimkan gelombang kejut yang belum pernah terjadi sebelumnya di sepanjang sejarah dunia kultivasi modern. Dari balik menara-menara kaca tinggi dan paviliun kuno tersembunyi yang tersebar di penjuru ibukota, para master tua dari berbagai faksi besar menarik kembali indra batin (Divine Sense) mereka dengan tubuh yang gemetar hebat.Malam itu, tidak ada satu pun dari mereka yang berani memejamkan mata. Nama "Long Chen" seketika naik menjadi tabu tertinggi di seluruh Yanjing.Di seberang kawah reruntuhan, Long Chen perlahan menurunkan pandangannya dari cakrawala malam. Tekanan jiwa raksasa yang tadi melingkupi area tersebut perlahan-lahan menyusut kembali masuk ke dalam dantiannya, menyisakan ketenangan fana yang menipu."Energi di tempat ini sudah terlalu kotor oleh sisa-sisa ilmu hitam Sekte Jiwa Kegelapan, Xinyan. Ayo pergi," ucap Long Chen sembari menggandeng tangan lembut istrinya.Lin Xiny
Asap tebal dan debu semen dari reruntuhan Kediaman Megah Keluarga Jiang perlahan-lahan tersapu oleh angin malam yang dingin. Tempat yang beberapa menit lalu menjadi lambang puncak kekuasaan dan kemewahan di Kota Yanjing, kini berubah total menjadi kawah raksasa yang dipenuhi puing-puing batu hancur.Di tengah kehancuran itu, Long Chen berdiri dengan tegak. Mantel parit hitamnya berkibar pelan, tidak ternoda oleh sebutir debu pun. Di sampingnya, Lin Xinyan mengembuskan napas lega, perlahan menarik kembali sisa-sisa Qi Yin Es Teratai ke dalam dantiannya. Sepasang matanya menatap suaminya dengan kekaguman yang kian mendalam. Satu serangan cakar naga tadi benar-benar telah menjungkirbalikkan logika dunia kultivasi fana."L-Long Chen... ampuni... mohon ampuni nyawa tua ini..."Suara rintihan yang sangat serak memecah keheningan. Jiang Tianhua, sang penguasa ibukota yang biasanya begitu ditakuti, kini merangkak di atas pecahan batu dengan kondisi pakaian yang robek-robek. Waja
Suara hantaman gerbang baja yang hancur berkeping-keping masih berdengung di udara, menyisakan keheningan yang teramat pekat di halaman luas Kediaman Megah Keluarga Jiang. Kabut hitam yang merayap dari sela-sela lantai marmer halaman kian menebal, memancarkan bau anyir darah kuno yang sanggup membuat manusia fana pingsan dalam hitungan detik.Hahaha! Hahaha!Suara tawa yang sangat melengking dan sarat akan energi kematian menggema dari arah aula utama. Perlahan, sesosok pria tua berjubah merah darah dengan topeng tengkorak emas melayang turun dari udara, mendarat dengan anggun di atas altar batu di tengah halaman. Di belakangnya, Jiang Tianhua dan Jenderal Jiang Cheng melangkah keluar dengan senyuman penuh kemenangan yang keji."Bocah bodoh dari Jianghai!" Jiang Tianhua berteriak, matanya berkilat penuh dendam tak berkesudahan. "Kamu benar-benar berani datang mengantar nyawa! Di sampingku adalah Leluhur Agung Jiwa Hitam, seorang dewa hidup dari Ranah Pendirian Pondasi! H












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.