Home / Rumah Tangga / Maaf, Merebut Suamimu / 3. Kehidupan Gilsha

Share

3. Kehidupan Gilsha

Author: NadraMahya
last update Petsa ng paglalathala: 2023-10-07 16:40:16

Ubud, Bali 2021..

Melodi melemparkan kertas yang ia pegang. Fikri rekan kerjanya menarik napas lelah, Melodi yang tadinya sangat bersemangat dengan pekerjaannya untuk menuliskan perjalanan hidup Gilsha Alyne, kini ingin membatalkan pekerjaan tersebut.

"Gil...kita udah sampai disini, dan kita beruntung karena Bu Gilsha mau di wawancarai."

"Aku tidak bisa Fik! dia adalah wanita yang sudah merebut Papa ku." Fikri sudah tahu hal ini karena tadi saat di perjalanan Melodi sudah menceritakan amarahnya itu.

"Aku tahu, tapi kita tetap harus melanjutkan ini. Apalagi kalau sampai dia mau membuka hubungannya dengan papa mu dimasa lalu, itu akan menjadi artikel besar. Bukan hanya tentang perjalanan karirnya saja. tapi juga kehidupan pribadinya."

"Kau ini gila ya?! mau membuat nama baik keluargaku hancur begitu?"

Melodi masih tidak ingin menemui Gilsha hari ini untuk melanjutkan wawancaranya, Gilsha wanita itu adalah ketidaksempurnaan yang terus membayangi keluarganya. Hanya saja, jika dia terus melakukan wawancara ini, dia bisa kena pecat. Ini adalah pekerjaan yang dia inginkan, bukan karena uangnya, tapi dia mencintai pekerjaan ini.

"Pantas Mama selalu melarangku jika membeli poster Gilsha Alyne."

***

Jakarta 1997...

Seorang wanita yang membuka pintu itu tidak berkedip melihat pemandangan diruangan kerja suaminya. Wilya, kakinya terasa lemas saat ini matanya tidak lepas melihat suaminya memeluk tubuh wanita lain, dan mereka terlihat sangat akrab.

"Ah..sayang maaf, sini aku kenalkan kepada Gilsha." Keterkejutan Wilya menjadikan ia canggung, isi kepalanya masih mencerna semua ini. "Aku harap kamu tidak salah paham dengan pelukan kami tadi. Dia temanku, namanya Gilsha kamu pasti sudah kenal kalau namanya ya," ucap Noah yang membuat Wliya mengangguk tersenyum seadanya saja. Dia memang mengenali wajah Gilsha yang seorang artis ternama, tapi tetap saja sebagai seorang istri dia merasa cemburu melihat suaminya memeluk wanita lain. Dia pikir, wanita dari masa lalu suaminya yang pernah Ibu mertua ceritakan datang lagi.

Ya, Ibu mertua Wilya pernah bercerita kalau dia harus lebih ekstra membuat Noah mencintianya, karena dulu pernah ada seorang wanita yang begitu Noah cintai. "Hai...aku Wilya, istri Noah." Sengaja Wilya menekan kata istri kepada wanita berparas cantik didepannya itu. Gilsha tersenyum ramah, dia meraih uluran tangan tersebut.

"Aku Gilsha, senang bisa berkenalan denganmu. Oh..ya Noah aku pamit dulu, masih ada pekerjaan yang menunggu. Mengenai salinan surat kerja samanya bisa kau kirim saja kepada managerku. Sampai jumpa Wilya," ucap Gilsha jelas terlihat tidak ada yang wanita itu tutupi. Wilya bernapas lega, dia sudah berpikir macam-macam tadi.

"Kamu kenapa datang kesini tiba-tiba?" tanya Noah saat hanya ada mereka berdua saja.

"Kalau aku tidak datang kesini, mungkin lebih dari sekedar berpelukan yang terjadi. Iya kan?" Noah melirik Wilya sekilas, dia menggelengkan kepala.

"Jangan berlebihan, aku sudah jelas-jelas mengenalkannya kepadamu." Noah memang seperti itu, jika tidak suka aura dan nada bicaranya menjadi dingin. Wilya takut dibuatnya, dia juga merasa keterlaluan karena sudah mengatakan hal seperti itu, padahal Noah dan wanita itu hanya berteman.

"Apa kau berhubungan dekat dengan artis itu?"

"Ya, dulu. Kami hanya baru bertemu lagi karena masalah pekerjaan," jawab Noah tanpa menatap wajah istrinya. Dia terus fokus pada kertas dihadapannya, sementara Wilya duduk di kursi depannya.

"Maaf sayang...aku hanya takut, kalau kau berselingkuh dibelakang ku."

"Aku tidak akan melakukannya, jika aku ingin aku akan mengatakannya kepadamu." Noah menatap wajah Wilya yang membeku, sedetik kemudian dia tertawa. Wilya merasa sangat konyol karena suaminya sudah mempermainkannya.

"Ah...Noah itu tidak lucu."

"Tapi wajahmu lucu sekali Wilya," ujar Noah tertawa sambil memegang perutnya. Mereka tidak menyadari kalau dibalik pintu itu Gilsha masih mendengarkan semuanya. Sekertaris Noah yang tadi pergi kini sudah kembali ke mejanya, dia menyapa Gilsha.

"Maaf Nona Gilsha apa ada yang bisa saya bantu."

"Ah...itu ada apa-apa. Aku hanya sedang mengingat apakah meninggalkan sesuatu tadi." Aldi sekertaris itu mengangguk sambil tersenyum ramah. Gilsha melangkahkan kakinya, tidak jauh dari ruangan Noah, ada sebuah ruangan lagi yang pintunya terbuka. Samar-samar dia mendengar ocehan para wanita didalam sana.

"Oh..iya satunya cantik, dan satunya tampan. Bagaimana tidak seras sekali."

"Mereka juga selalu romantis kalau kita lihat kan, aku juga pernah loh..ketemu Bu Wilya dan Pak Noah saat berbelanja. Pak Noah sedang menggandeng tangan istrinya, tipe-tipe suami yang posesif itu loh...duh..idaman banget ya..."

Mendengar hal itu Gilsha tertegun, dengan berat kakinya melangkah meninggalkan kantor Noah. Dalam perjalanan dia memikirkan kehidupan sempurna yang Noah dan Wilya dapatkan, sementara hidupnya terasa sangat menyedihkan. Gilsha memakai kaca mata hitamnya saat turun dari dalam taksi. Kali ini dia harus bertemu dengan Sutradara, tidak ada Lina dia harus seorang diri kemana-mana.

Larut dalam perbincangan mengenai proyek film terbarunya, Gilsha lupa kalau dia harus menemani Dika. Gilsha kembali ke rumahnya yang terbilang cukup mewah, Gilsha menaiki anak tangga yang melengkung itu dan berpegang pada gagang spiral kayunya. Tubuhnya terasa lelah, baru saja masuk kedalam kamar tiba-tiba bel rumah itu berbunyi. Dia menerka siapa yang datang, tetapi dia tidak keluar dari kamarnya. Akan ada asisten rumah tangganya yang membukakan pintu, tetapi tiba-tiba Gilsha teringat sesuatu. Dia mulai cemas, tepat saat itu pintu kamarnya dibuka dengan kasar.

"Dika maaf," baru dia mengucapkan kata maaf rambutnya sudah ditarik oleh Dika. "Dika...lepaskan sakit," pinta Gilsha tetapi malah tamparan yang cukup kuat dia dapatkan. Gilsha memegang pipinya, bibirnya bergetar. Tidak sampai disitu, Dika kembali menarik rambut Gilsha dan menyeretnya keluar dari dalam kamar.

"Kau berani sekali mempermainkan ku hah?! kau ingin aku mengulanginya Gilsha IYA?!" Dika menampar Gilsha hingga tidak sengaja Gilsha jatuh dan berguling dari anak tangga itu. Dua pelayan disana mengejarnya, mereka menutup mulut saat Dika tidak terlihat kasihan sama sekali kepada Gilsha, bahkan dua tamparan lagi Gilsha dapatkan.

"Tuan Dika sudah tuan...kasihan Nona Gilsha, dia bisa mati jika terus tuan pukul seperti ini." Salah satu pelayan senior disana memegang kaki Dika sambil berlutut, sementara Gilsha sudah dipeluk pelayan satu lagi tubuhnya yang terkulai lemas itu. Ada darah yang mengalir dari sudut bibir dan juga kening Gilsha, wajahnya memar seperti habis mendapatkan tinju.

"Kalian....jangan ada yang memanggilkan Dokter untuknya, biar dia tahu rasanya jika tidak menuruti keinginanku."

"Aku akan melaporkanmu ke Polisi brengsek!" umpat Gilsha di sisa tenaganya. Selama ini Dika selalu mengancamnya dengan semua koneksi pria itu, dia juga yang merasa sangat bergantung kepada Dika dan merasa tidak memiliki siapapun yang bisa ia percaya selain pria itu. Hanya karena Dika lah yang pertama kali mengulurkan tangan untuk membantu Gilsha, disaat semua orang tidak yakin dengan bakatnya. Mendengar hal itu, Dika kembali memukul wajah Gilsha.

"DIKA!" teriak Lina yang untungnya datang tepat waktu. "Jangan menyentuh dia lagi, atau aku akan bertindak tegas kali ini." Dika tertawa mengejek Lina, wanita itu dia yang mengenalkan kepada Gilsha. Bisa-bisanya Lina mencoba mengancamnya.

"Kau beritahu kepadanya, jika tidak ingin wajah cantiknya itu rusak turuti kataku. Jika ingin melaporkan silakan saja, aku pastikan uang dan tabungan kalian habis, serta karir mu ini hancur, baru mungkin polisi akan datang menjemputku. Itu juga kalau aku bisa mereka tahan!" tantang Dika kemudian pria itu pergi setelah meludah di depan pintu rumah itu. Lina segera membantu Gilsha masuk ke kamar kembali setelah Dika pergi, dia juga menelpon Dokter untuk segera datang.

"Kau ingin aku membuat laporan untuk Dika?"

"Tidak perlu! dia benar, aku hanya akan menghabiskan serta menghancurkan karir ku saja. Aku yang salah karena lupa untuk menemaninya."

"Tapi Gil...kau bukan budaknya." Lina tidak habis pikir dengan jalan pikiran Gilsha. Tidak ada respon dari Gilsha, dia hanya menahan sakit yang kembali ia rasakan. "Gil, tapi kau belum melakukan hubungan it- tu dengannya kan?" tanya Lina ragu-ragu.

"Aku lebih baik dia pukuli daripada berhubungan badan dengan monster itu." Lina mengucap syukur karena Gilsha masih waras. Gilsha menutup mata, tiba-tiba air mata yang ia tahan tadi kembali ingin tumpah. Semua tidak lain karena dia menangisi jalan yang ia pilih, sementara ditempat lain banyak orang bahagia. Dia harus kesepian tanpa ada pasangan yang memperhatikannya, tanpa teman disetiap dia ingin pergi berlibur atau melakukan sesuatu berdua. Banyak yang mendekatinya, tapi itu hanya sebatas karena wajah, tubuh, dan popularitasnya saja. Tidak ada yang benar-benar ia rasakan tulus, seperti Noah dulu mencintainya.

Noah...pria itu begitu dia rindukan. Dia ingin memilikinya lagi, dia rindu perhatian Noah untuknya. Sudah sangat lama bahkan dia merindukannya, salahkah jika dia ingin pria itu kembali padanya?

Bersambung....

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Maaf, Merebut Suamimu   27. Pilih Aku Atau Dia

    Jakarta 1997...Rumah kediaman keluarga Oliver malam ini cukup ramai dari biasanya, karena ada beberapa keluarga dan sahabat dekat orang tua Noah yang datang. Acara makan malam bersama ini memang sengaja di lakukan, karena beberapa hari lagi Noel dan Indah akan kembali ke Sydney untuk waktu yang lama. Kemajuan perusahaan juga salah satu penyebab acara makan malam itu diadakan. Meja makan persegi panjang yang penuh dengan hidangan lezat tersebut tidak membuat Noah untuk berselera menyentuh piringnya. Wilya yang ada disebelah suaminya itu tahu jelas apa penyebabnya. Tadi, Gilsha mengirimkan pesan kalau wanita itu akan pergi berlibur, dan setelah itu ponsel Gilsha tidak dapat dihubungi. Noah menjadi tidak konsentrasi setelahnya. Padahal seharusnya Gilsha juga ikut menghadiri acara makan malam ini, tapi wanita itu memilih untuk absen."Noah, sebagai paman mu aku ingin bertanya sesuatu." Seorang Pria dengan setelan jas mahal menatap lurus k

  • Maaf, Merebut Suamimu   28. Lelaki Egois

    Ini adalah hari ke tiga Gilsha berada di Phuket, dia sama sekali tidak menanggapi Wilya. Noah memilih untuk tidur bersamanya, dan menyewakan vila satu lagi untuk Wilya. Disana, Wilya seorang diri dan Gilsha tidak perduli apa yang wanita itu lakukan. Namun, bukan berarti dia sudah bisa bermesraan dengan Noah, Gilsha masih sangat marah kepada pria itu. Dan hari ini, dia akan menjalankan niatnya. Yaitu, bertanya kepada Noah siapa yang akan pria itu pertahankan.Noah sedang melihat pesan yang mungkin berisikan pekerjaan pria itu. Karena wajah Noah terlihat snagat serius dan seperti berpikir, duduk di balkon kamar mereka yang menghadap ke pantai. "Noah apa kau masih sibuk?" tanya Gilsha yang tidak langsung dijawab oleh pria itu. Setelah beberapa saat Noah meletakkan ponselnya, kemudian dia tersenyum menatap Gilsha."Kau sudah tidak marah lagi?""Aku bukan hanya marah Noah, tapi juga kecewa kepadamu.""L

  • Maaf, Merebut Suamimu   29. Penerus Keluarga Oliver

    Satu bulan sudah berlalu, Wilya kembali kepada rutinitas awalnya yang selalu menunggu Noah kembali. Tidak ada yang mengerti jalan pikiran Wilya yang mau bertahan meski tidak dianggap oleh Noah. Bahkan semenjak mereka kembali dari Thailand, Noah belum pernah lagi menginap dirumah itu. Wilya bagaikan pajangan usang, sangat buruk nasibnya. Belakangan ini juga dia sering merasa tidak enak badan dan juga mual. Wilya tahu itu semua karena beban pikiran tentang biduk rumah tangganya. Wilya rasanya sangat geram kepada Gilsha, wanita itu bahkan mendapatkan hadiah saham perusahaan dari ayah dan ibu mertuanya karena mengandung anak dari Noah.Wilya kembali mual, dari ruang tamu dia berlari menuju kamar mandi yang dekat dari sana. Saat ini tidak ada siapa-siapa dirumah, karena asisten rumah tangga mereka sedang cuti pulang kampung dari semalam sehingga Wilya hanya seorang diri. Supir juga sekarang lebih sering diminta Noah untuk berjaga dirumah madunya yang tidak la

  • Maaf, Merebut Suamimu   26. Bali, 2021

    Seorang pemuda melihat mobil Fortuner putih yang masuk ke pekarangan rumah milik wanita yang sudah sejak lama dia cintai, tapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Wanita itu percaya, jika dia masih menjadi istri dari pria lain yang tidak lagi mengingat dirinya. Pria yang belasan tahun sudah membiarkan wanita itu seorang diri.Di tempat lain, Gilsha yang duduk di kursi roda tersenyum melihat orang yang datang mengunjunginya. "Kau kembali Melodi?" tanya Gilsha lalu dia memutar kursi roda tersebut agar bisa berhadapan dengan wanita muda yang menatapnya penuh kebencian."Ya, aku ingin menyelesaikan pekerjaanku. Jika Anda tidak keberatan, apakah boleh saya bertanya mengenai kehidupan pribadi anda Ibu Gilsha Alyne?""Gilsha Alyne Oliver, itulah nama lengkap ku setelah menikah secara diam-diam dengan ayahmu." Melodi menghembuskan napasnya lelah, dia heran mengapa wanita seperti Gilsha, yang cantik pintar dan memiliki ke-populeran mau menjadi wanita ke-dua dalam rumah tangga ayah dan ibunya."B

  • Maaf, Merebut Suamimu   25. Bimbang

    Hamil, sebuah hal baru yang Gilsha jalani. Noah dan kedua orang tuanya memang sangat bahagia, sementara Wilya merasa semakin tersisih. Kehamilan Gilsha tentu membuat Noah jaranng menemuinya, tidak ada lagi perhatian Noah seperti dulu. Wilya lebih sering menghabiskan malam seorang diri, atau terkadang bersama Riska sahabatnya."Gilsha, jangan berolahraga dulu sayang." Noah menghentikan istrinya itu yang sudah terlihat memakai pakaian olahraga setelah keluar dari dalam kamar mandi. Gilsha menghembuskan napasnya lelah, dia mengusap perutnya yang memang belum terlihat membuncit.Noah mendekat kepada Gilsha, mencium bibir istrinya itu lalu mencium perut Gilsha. Usia kandungan Gilsha sudah masuk dua belas minggu, mual dan pusing masih dia rasakan meski tidak berlebihan lagi seperti sebelumnya. Jadwalnya di dunia keartisan dan model juga sudah tidak ada lagi, semua sudah selesai di dua bulan kemarin. Sesuai janjinya kepada Indah, dia akan menjadi istri Noah seutuhnya. Melayani Noah sebagai

  • Maaf, Merebut Suamimu   24. Hamil

    Dua bulan berlalu...Cahaya matahari pagi masuk menyinari seluruh bagian rumah Gilsha. Lina datang kali ini bersama dengan seorang pegawai bank. Satu bulan yang lalu Gilsha memang sudah tidak lagi menerima tawaran di dunia hiburan, tapi bukan berarti Gilsha berhenti untuk mencari pundi-pundi dari jerih payahnya. Dia suadh berbicara dengan Lina ingin membuka usaha, sehingga pendapatannya yang sisanya tak begitu banyak itu bisa dia gunakan untuk memulai bisnis baru. Gilsha memilih untuk menekuni investasi di bidang wisata, dia juga berniat untuk membeli tanah di Bali untuk dia buka tempat makan atau yang lainnya.Hal ini sudah Gilsha bicarakan dengan Noah, pria itu setuju dan akan membantu jika Gilsha membutuhkan bantuan dana darinya. Namun, terbiasa mandiri Gilsha tidak ingin memakai uang yang Noah. Dia hanya akan memakai jatah bulanan yang Noah berikan kepadanya, itu saja sudah cukup untuk Gilsha.Ketika Lina datang, Gilsha masih sibuk di ruang olahraga. Melambaikan tangan kepada Lina

  • Maaf, Merebut Suamimu   19. Madu Beracun

    Gilsha sudah bangun pagi-pagi sekali seperti biasa, bedanya bagi dia saat ini ia berada di rumah Noah. Gilsha turun ke bawah masih gelap, dia kemudian menghidupkan lampu. Mencari dimana sapu dan alat kebersihan lainnya, mungkin apa yang dia lakukan itu membuat pelayan dirumah tersebut bangun. Dia m

  • Maaf, Merebut Suamimu   18. Satu Atap

    Cinta memang tidak salahHanya waktu dan tempatnya yang terkadang menjadikannya salah.****Selama tiga hari Wilya menata hati dan pikirannya, dia mencoba menerima segala yang terjadi. Rumah tangga yang dia kira sempurna, ternyata hanya awalan saja. Wilya belum bercerita kepada siapapun mengenai se

  • Maaf, Merebut Suamimu   17. Kau Istriku

    Pantai Kuta, Bali 1997.Gilsha menikmati deburan ombak yang menyapa telapak kakinya. Keinginan ingin bermain air disana ia urungkan karena di hatinya yang sedang menunggu seseorang.Dua hari yang lalu dia menunggu Noah untuk datang ke rumah orang tuanya di Bali, tapi pria itu tak kunjung datang. Mu

  • Maaf, Merebut Suamimu   16. Ingin Menikah Lagi

    Lina menarik lengan Gilsha, menatap tajam netra coklat terang yang wanita itu miliki. "Apa kau gila? Kau menarik lenganku sangat kuat.""Kau yang sudah gila! Kau merebut suami orang? Kau selama ini sengaja menggodanya bukan?" Gilsha diam saja, kepalanya terasa mau pecah saat ini. "Gilsha jika kau m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status