ログインSelama lima tahun, Nayla menjadi istri yang diremehkan, pengorbanannya dianggap kewajiban, sementara suami dan keluarga mertuanya sibuk mengagungkan cinta pertama yang baru kembali. Hingga akhirnya Nayla memilih berhenti melakukan semuanya dan pergi, saat itulah kehidupan keluarga Mahendra mulai runtuh satu per satu. Ketika pria paling berkuasa justru menghargai Nayla, suaminya baru sadar bahwa perempuan yang ia buang adalah alasan di balik semua kesuksesannya. Namun, apakah penyesalan masih berarti ketika hati yang dulu setia sudah memilih pergi?
もっと見るNayla memandang Arga selama beberapa detik.Jawaban yang biasa diberikannya sudah berada di ujung lidah. Iya. Nanti aku atur. Biar aku urus.Matanya turun ke brosur di tangan suaminya.Kali ini, Nayla memilih jawaban yang berbeda.“Tidak.”Arga mengernyit. “Maksudmu?”“Aku tidak bisa menemani Dinda.”Ratih meletakkan brosur yang tadi dibacanya. Wajahnya menunjukkan keterkejutan kecil, seolah baru menyadari bantuan Nayla ternyata bukan bagian tetap dari rencana.Dinda lebih dulu berkata, “Tidak apa-apa. Aku bisa pergi sama agen.”Jalan keluar itu sudah tersedia.Arga hanya perlu menerimanya.Namun tatapannya tetap tertuju kepada Nayla. “Kenapa tidak bisa?”Nayla hampir menjawab bahwa ia punya urusan lain. Alasan semacam itu akan lebih mudah. Lebih sopan. Tidak akan membuat siapa pun merasa ditolak.Namun alasan sebenarnya jauh lebih sederhana.“Aku tidak mau.”Keheningan turun lebih berat.Ratih menghela napas. “Nayla, cuma menemani lihat tempat. Bukan mengurus sesuatu yang sulit.”“Ak
“Kalau yang ini bagaimana menurutmu, Nayla?”Pagi berikutnya, Ratih sudah duduk di ruang keluarga dengan salah satu brosur di tangan. Nayla baru selesai memastikan Rafa berangkat sekolah saat ia mendekat.“Lokasinya?”Ratih menunjukkan alamat.“Lumayan dekat dengan kawasan kantor Dinda. Tapi kalau pulang jam kerja, jalannya sering macet.”Dinda yang duduk di sofa ikut melihat. “Kalau berangkat pagi?”“Masih lebih baik. Aksesnya ada dua, jadi tidak tergantung satu jalan.”Jawaban itu keluar begitu saja.Nayla memang paling hafal urusan praktis keluarga, mulai dari jalan yang macet pada jam tertentu dan vendor yang mudah dihubungi sampai kebutuhan rumah serta jadwal keluarga.Karena itulah pertanyaan Ratih terdengar wajar.“Yang ini ada supermarket dekat?” tanya Dinda.“Ada. Sekitar sepuluh menit kalau tidak padat.”“Rumah sakit?”“Lebih dekat lagi.”“Kalau untuk belanja kebutuhan sehari-hari, daerah ini lebih mudah daripada pilihan pertama,” tambah Nayla sambil menunjuk brosur lain. “T
Nayla baru selesai memasang anting. Dari ruang keluarga terdengar suara Dinda.“Tidak apa-apa, Pak. Kalau memang belum bisa serah terima, kirim saja alternatifnya.”Nayla keluar dari kamar. Tas kecil sudah berada di tangannya, sementara Arga di ujung lorong juga hampir siap berangkat.Dinda menutup telepon dengan wajah kurang nyaman.“Ada masalah?” tanya Ratih.“Unitku belum bisa diserahterimakan sesuai jadwal. Pengelola belum berani kasih tanggal pasti.”Ratih langsung mengerutkan kening. “Berarti kamu tinggal di sini sampai kapan?”“Belum tahu. Tapi besok juga bisa aku urus, Tante.”Nayla berhenti di dekat tangga.Sejak sore ia sudah menyelesaikan urusan rumah lebih cepat, memastikan Rafa makan, dan bersiap sebelum Arga turun. Mereka tinggal mengambil kunci lalu pergi.Namun Ratih sudah duduk di samping Dinda.“Kamu tidak bisa menunggu tanpa kepastian begitu. Agenmu kasih pilihan lain?”“Katanya akan kirim beberapa alternatif.”Ponsel Dinda berbunyi hampir bersamaan dengan kalimat i
Nayla tidak menanggapi pujian Ratih.Beberapa langkah lagi sebelum mereka sampai ke mobil, suara Raka tiba-tiba terdengar dari belakang.“Bu Nayla.”Nayla berhenti bersama Arga dan yang lain.Raka mendekat sebentar. “Saya baru dapat konfirmasi dari koordinator. Masukan Anda tadi dimasukkan ke catatan evaluasi dan akan dipakai untuk penyelenggaraan berikutnya.”“Oh.” Nayla sempat kehilangan kata-kata sebelum tersenyum. “Terima kasih sudah memberi tahu.”“Terima kasih sudah menyampaikannya.”Raka mengangguk kepada Arga dan Ratih, lalu kembali ke timnya.Beberapa menit kemudian, pintu mobil tertutup. Nayla sempat melihat gedung lokasi acara menjauh dari balik kaca. Rasa puas karena masukannya benar-benar dipakai masih tersisa sampai suara Ratih memecah lamunannya.“Nayla,” kata Ratih dari kursi belakang, “tolong nanti cek handuk di kamar Dinda. Sepertinya yang disiapkan kurang.”“Iya, Bu.”“Terus besok minta orang rumah ambil beberapa baju Dinda yang masih di bagasi. Jangan sampai kusut.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.