MasukSelama lima tahun, Nayla menjadi istri yang diremehkan, pengorbanannya dianggap kewajiban, sementara suami dan keluarga mertuanya sibuk mengagungkan cinta pertama yang baru kembali. Hingga akhirnya Nayla memilih berhenti melakukan semuanya dan pergi, saat itulah kehidupan keluarga Mahendra mulai runtuh satu per satu. Ketika pria paling berkuasa justru menghargai Nayla, suaminya baru sadar bahwa perempuan yang ia buang adalah alasan di balik semua kesuksesannya. Namun, apakah penyesalan masih berarti ketika hati yang dulu setia sudah memilih pergi?
Lihat lebih banyak“Nayla, siapkan kamar tamu. Mulai malam ini Dinda tinggal di sini.”
Tangan Nayla yang sedang merapikan bunga di meja ruang keluarga berhenti.
Ratih Mahendra, ibu mertuanya, mengucapkan kalimat itu sambil memeriksa layar ponsel seolah baru saja menyampaikan hal biasa. Padahal Nayla mengenal nama itu dengan sangat baik. Dinda Larasati baru kembali dari luar negeri, dan perempuan itu adalah cinta pertama Arga—suami Nayla.
“Dinda akan tinggal di sini, Bu?” Nayla memastikan.
“Iya. Tempat tinggalnya belum siap. Daripada dia sendirian di hotel, lebih baik di sini.”
Rumah Mahendra merupakan kediaman utama keluarga besar. Sejak suaminya meninggal beberapa tahun sebelum Nayla menikah dengan Arga, Ratih menjadi orang yang paling banyak mengatur urusan domestik di sana. Namun selama lima tahun menjadi istri Arga, Nayla tidak pernah membayangkan kewenangan itu akan sampai pada keputusan membawa mantan kekasih suaminya tinggal di bawah atap yang sama.
Apalagi beberapa minggu terakhir, Arga justru terasa sedikit berbeda. Lebih sering mencarinya untuk mengobrol, bertanya pendapat, atau sekadar duduk di dekatnya sepulang kerja. Perubahan-perubahan kecil itu membuat Nayla diam-diam berani berharap hubungan mereka sedang bergerak ke arah yang lebih baik.
“Mas Arga sudah tahu?”
Ratih akhirnya mengangkat wajah. “Tentu. Arga tidak keberatan.”
Dada Nayla mengencang.
Nayla baru hendak melanjutkan pertanyaannya. Suara mobil dari halaman membuatnya urung bicara. Tak lama kemudian, Arga masuk dengan jas tersampir di lengan dan ponsel di tangan. Meski baru pulang kerja, setelan yang membalut tubuh tingginya masih tampak rapi.
Nayla berdiri sebelum suaminya sempat naik ke lantai atas.
“Mas, aku mau bicara sebentar.”
Arga berhenti. “Sekarang?”
“Iya.”
Ratih melirik mereka, lalu memilih pergi ke arah belakang rumah. Nayla menunggu sampai langkah ibu mertuanya menjauh.
“Mas sudah tahu Dinda akan tinggal di sini?”
Arga tidak tampak terkejut. “Sudah.”
“Sejak kapan?”
“Beberapa hari lalu.”
Jawaban itu membuat Nayla perlu menarik napas lebih pelan. “Kenapa Mas tidak bilang kepadaku?”
Arga meletakkan ponselnya di meja. “Karena kupikir tidak ada yang perlu dibicarakan panjang. Dinda cuma tinggal sementara.”
“Bukan soal lamanya.”
“Lalu?”
Nayla menatap suaminya. “Dia pernah menjadi orang yang sangat Mas cintai.”
Arga diam sejenak. Ekspresinya lebih menyerupai kebingungan, seakan ia benar-benar tidak memahami mengapa fakta lama itu harus membuat keadaan sekarang rumit.
“Ibu sudah menganggap Dinda seperti keluarga sejak dulu. Tempat tinggalnya juga belum bisa ditempati. Ini rumah besar, Nayla. Dia akan ada di kamar tamu, bukan di kamar kita.”
Justru ketenangan itu yang terasa paling menusuk.
“Aku cuma ingin keputusan seperti ini dibicarakan denganku lebih dulu.”
“Kalau ini keputusan besar, pasti kubicarakan.”
Nayla terdiam.
Bagi Arga, rupanya cinta pertamanya tinggal serumah dengan istrinya bukan keputusan besar.
Suara mobil lain memasuki halaman sebelum Nayla sempat menjawab. Ratih muncul kembali dengan langkah cepat menuju pintu depan.
“Dinda sudah sampai.”
Percakapan mereka putus begitu saja.
Beberapa detik kemudian, seorang perempuan masuk bersama dua koper. Meski tampak lelah setelah perjalanan, Dinda tetap terlihat cantik dan terawat. Pembawaannya tenang saat memasuki rumah. Senyumnya langsung melebar begitu Ratih memeluknya.
“Akhirnya pulang juga kamu,” ujar Ratih hangat.
“Aku juga kangen, Tante.”
Arga maju satu langkah. “Perjalanannya lancar?”
“Lumayan. Cuma capek di bagian terakhir.”
Dinda kemudian menoleh kepada Nayla. “Bu Nayla, terima kasih sudah membolehkan aku tinggal sementara di sini.”
Nayla sempat menatap Arga sebelum menjawab, “Sama-sama.”
Ratih menyela, “Sudah, jangan sungkan begitu. Kamu baru sampai, pasti capek.”
Dinda tersenyum kecil. “Sebenarnya aku sudah mau ambil hotel atau serviced apartment dulu sampai unitku siap. Waktu Tante menawarkan di sini, aku juga sempat pikir-pikir.”
Ratih tertawa pelan. “Kamu ini, masih saja banyak sungkan.”
Dinda mengalihkan pandangan kepada Arga. “Aku sebenarnya masih ragu menerima tawaran Tante. Tapi Mas Arga bilang tinggal di sini lebih praktis karena dari dulu aku sudah dianggap keluarga, jadi akhirnya aku ikut sarannya.”
Nayla tidak langsung bereaksi.
Arga juga tidak menyangkal.
Ia hanya berkata, “Memang lebih praktis daripada pindah dua kali.”
Sesuatu di dalam dada Nayla jatuh lebih dalam.
Tadi ia masih bisa meyakinkan diri bahwa Ratih mengambil keputusan dan Arga sekadar tidak menolak. Sekarang alasan itu hilang. Dinda punya pilihan lain. Dan Arga sendiri yang ikut mengarahkannya ke rumah ini tanpa pernah merasa perlu berbicara kepada istrinya.
Ratih sudah menarik salah satu koper Dinda ke arah lorong. “Ayo, Tante tunjukkan kamarmu. Biar nanti kalau ada yang kurang bisa langsung disiapkan.”
Dinda mengikutinya.
Nayla tetap berdiri di ruang keluarga.
Di sampingnya, Arga mengambil kembali ponselnya dengan wajah setenang tadi, seolah persoalan mereka sudah selesai.
Malam pertama mereka tinggal di bawah atap yang sama baru saja dimulai.
Nayla memandang Arga selama beberapa detik.Jawaban yang biasa diberikannya sudah berada di ujung lidah. Iya. Nanti aku atur. Biar aku urus.Matanya turun ke brosur di tangan suaminya.Kali ini, Nayla memilih jawaban yang berbeda.“Tidak.”Arga mengernyit. “Maksudmu?”“Aku tidak bisa menemani Dinda.”Ratih meletakkan brosur yang tadi dibacanya. Wajahnya menunjukkan keterkejutan kecil, seolah baru menyadari bantuan Nayla ternyata bukan bagian tetap dari rencana.Dinda lebih dulu berkata, “Tidak apa-apa. Aku bisa pergi sama agen.”Jalan keluar itu sudah tersedia.Arga hanya perlu menerimanya.Namun tatapannya tetap tertuju kepada Nayla. “Kenapa tidak bisa?”Nayla hampir menjawab bahwa ia punya urusan lain. Alasan semacam itu akan lebih mudah. Lebih sopan. Tidak akan membuat siapa pun merasa ditolak.Namun alasan sebenarnya jauh lebih sederhana.“Aku tidak mau.”Keheningan turun lebih berat.Ratih menghela napas. “Nayla, cuma menemani lihat tempat. Bukan mengurus sesuatu yang sulit.”“Ak
“Kalau yang ini bagaimana menurutmu, Nayla?”Pagi berikutnya, Ratih sudah duduk di ruang keluarga dengan salah satu brosur di tangan. Nayla baru selesai memastikan Rafa berangkat sekolah saat ia mendekat.“Lokasinya?”Ratih menunjukkan alamat.“Lumayan dekat dengan kawasan kantor Dinda. Tapi kalau pulang jam kerja, jalannya sering macet.”Dinda yang duduk di sofa ikut melihat. “Kalau berangkat pagi?”“Masih lebih baik. Aksesnya ada dua, jadi tidak tergantung satu jalan.”Jawaban itu keluar begitu saja.Nayla memang paling hafal urusan praktis keluarga, mulai dari jalan yang macet pada jam tertentu dan vendor yang mudah dihubungi sampai kebutuhan rumah serta jadwal keluarga.Karena itulah pertanyaan Ratih terdengar wajar.“Yang ini ada supermarket dekat?” tanya Dinda.“Ada. Sekitar sepuluh menit kalau tidak padat.”“Rumah sakit?”“Lebih dekat lagi.”“Kalau untuk belanja kebutuhan sehari-hari, daerah ini lebih mudah daripada pilihan pertama,” tambah Nayla sambil menunjuk brosur lain. “T
Nayla baru selesai memasang anting. Dari ruang keluarga terdengar suara Dinda.“Tidak apa-apa, Pak. Kalau memang belum bisa serah terima, kirim saja alternatifnya.”Nayla keluar dari kamar. Tas kecil sudah berada di tangannya, sementara Arga di ujung lorong juga hampir siap berangkat.Dinda menutup telepon dengan wajah kurang nyaman.“Ada masalah?” tanya Ratih.“Unitku belum bisa diserahterimakan sesuai jadwal. Pengelola belum berani kasih tanggal pasti.”Ratih langsung mengerutkan kening. “Berarti kamu tinggal di sini sampai kapan?”“Belum tahu. Tapi besok juga bisa aku urus, Tante.”Nayla berhenti di dekat tangga.Sejak sore ia sudah menyelesaikan urusan rumah lebih cepat, memastikan Rafa makan, dan bersiap sebelum Arga turun. Mereka tinggal mengambil kunci lalu pergi.Namun Ratih sudah duduk di samping Dinda.“Kamu tidak bisa menunggu tanpa kepastian begitu. Agenmu kasih pilihan lain?”“Katanya akan kirim beberapa alternatif.”Ponsel Dinda berbunyi hampir bersamaan dengan kalimat i
Nayla tidak menanggapi pujian Ratih.Beberapa langkah lagi sebelum mereka sampai ke mobil, suara Raka tiba-tiba terdengar dari belakang.“Bu Nayla.”Nayla berhenti bersama Arga dan yang lain.Raka mendekat sebentar. “Saya baru dapat konfirmasi dari koordinator. Masukan Anda tadi dimasukkan ke catatan evaluasi dan akan dipakai untuk penyelenggaraan berikutnya.”“Oh.” Nayla sempat kehilangan kata-kata sebelum tersenyum. “Terima kasih sudah memberi tahu.”“Terima kasih sudah menyampaikannya.”Raka mengangguk kepada Arga dan Ratih, lalu kembali ke timnya.Beberapa menit kemudian, pintu mobil tertutup. Nayla sempat melihat gedung lokasi acara menjauh dari balik kaca. Rasa puas karena masukannya benar-benar dipakai masih tersisa sampai suara Ratih memecah lamunannya.“Nayla,” kata Ratih dari kursi belakang, “tolong nanti cek handuk di kamar Dinda. Sepertinya yang disiapkan kurang.”“Iya, Bu.”“Terus besok minta orang rumah ambil beberapa baju Dinda yang masih di bagasi. Jangan sampai kusut.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.