LOGINPria tua yang seluruh rambutnya sudah putih dan panjang itu tampak tersenyum kecil. Bukannya tidak terlihat, karena Cang Jue dan Zhu Linglong jelas bisa menangkap ekspresinya. Pria itu pun memajukan langkahnya. Sambil menautkan kedua tangannya ke belakang. "Namaku Xiao Guanying. Aku bukan ketua di sini. Aku, hanya meneruskan mandat dari Tetua Xiao Ying, untuk menjaga rumah ini tetap berdiri sekalipun banyak badai dari luar," jelasnya. Sekaligus memperkenalkan diri sekaligus kedudukan dan tugasnya di tempat ini. Kedua hati milik Cang Jue dan Zhu Linglong sama-sama terhembus legah. Mereka benar-benar dapat merasakan ada satu lagi kaitan gulungan yang mereka cari, perlahan-lahan mulai melengkapi pertanyaan rumpang dan sekaligus menjadi titik pembukaan keduanya untuk bisa menyelesaikan pencarian masalah ramalan palsu. Akhirnya, ada titik terang lebih dekat yang mempertemukan keduanya terhadap sisa-sisa informasi penting dari Xiao Ying dan Wu Cheng yang belum bisa dipecahkan bahkan t
"Kita ikuti saja dia Cang Jue," kata Zhu Linglong. Gadis itu memberikan saran. Cang Jue jelas mendengar saran itu. "Mengikutinya?" tanya Cang Jue, berpikir kritis."Karena di cukup berpenampilan berbeda dadi orang kebanyakan. Entah itu membawa kita ke Kediaman Keluarga Xiao atau tidak. Tapi, tak ada salahnya berbuat baik Cang Jue, seandainya kita bisa menemukan rumah mereka dan sedikit membantu," jelas Zhu Linglong, dengan nada lembut seperti biasanya.Cang Jue mengerti. Akhirnya, ia menyaksikan anak itu dengan saksama. Tampak, dia selesai memunguti kayu-kayunya. Memapah para kayu itu dan menggendong ke punggungnya. Dia tampak berjalan ke sebuah gang. Cang Jue dan Zhu Linglong saling memandang sebelum mereka benar-benar melanjutkan langkah. Menyusuri sebuah gang kecil yang cukup pekat dengan bau tanah basah. Seperti banyak lumut di sekitarnya.Gang kecil itu membimbing mereka hingga tiba di sebuah pekarangan luas. Pekarangan itu menampilkan penampakan rumah megah dan cukup besa
Cang Jue mendengar dengan jelas kalimat pertanyaan Zhu Linglong. Istrinya itu, sedang diliputi rasa cemas. Cang Jue sendiri juga peka. Keadaan memang tampak memusatkan perhatian pada mereka. "Aduh sayang..." Cang Jue melimbungkan tubuhnya ke Zhu Linglong begitu saja. Sampai gadis itu tampak panik. Buru-buru menerima tubuh Cang Jue. Orang-orang yang memperhatikan mereka sebelumnya langsung mendelik. Kontan mengalihkan pandangan. Mereka adalah tipe manusia yang sangat risih melihat kemesraan di tempat umum. "Cang Jue, kau ini kenapa?" lirih Zhu Linglong. Nada marahnya tertahan. Tetapi, dia masih setia menahan tubuh Cang Jue agar tak tersungkur. Kini, terasa seperti... Zhu Linglong sedang mengajak Cang Jue berdansa. Berposisi dengan dirinya yang malah merengkuh pinggang Cang Jue dengan badan setengah membungkuk. "Istriku sayang... aku sangat mencintaimu. Tak ingin terpisah darimu. Meskipun, mataku sedang terluka. Dan hidungku sedang dijahit. Tapi... kau tetap setia kepadaku. Sampa
Zhu Tu tertohok. Otaknya memproses semua kalimat Zhu Yixiao tanpa terkecuali. Penekanan dari gadis itu menjelaskan betapa pentingnya kali ini tindakan Cang Jue untuk nyawa Zhu Linglong. Memang bukan fakta terselubung. Sebab, Zhu Yixiao juga teman masa kecilnya. Gadis itu tahu, bahwa dirinya menanam perasaan lebih terhadap Zhu Linglong. Wajahnya mendongak kembali, "kau sungguh mengatakan kebenarannya Putri Yixiao? Sungguh, Kaisar penculik itu benar-benar menjaga Putri Zhu Linglong dengan baik?" Zhu Yixiao mengangguk mantap. "Dengan baik. Dan tanpa goresan satu pun. Aku masih mengingat betapa sehatnya adik Linglong saat itu. Bahkan, kata Zhu Xin, Cang Jue... sudah membukakan inti Meridian Jiwa untuk Linglong. Juga, Dewa Kecil Zhu Que sudah berhasil bangkit. Kau tahu arti dari semua ini adalah bahwa Cang Jue memang bertujuan untuk menyelamatkan Zhu Linglong dari segala bencana, Jenderal Zhu Tu?" Ada perasaan panas. Saat mendengar bahwa Cang Jue lah yang membuka inti Meridian Jiwa m
"Dengar, Jenderal Zhu Tu. Kau tenangkan dulu rasa amarah dan tidak tenang di dalam hatimu. Baru akan kulanjutkan apa yang ingin kukatakan," pungkas Zhu Yixiao, menajamkan tatapan nya kepada Zhu Tu. Bagaimanapun, Zhu Yixiao juga adalah seorang putri dari kekeluargaan Kaisar. Pria itu tidak memiliki kekuasaan lebih jauh daripada sang putri jika di luar pasukan kemiliteran. Mau tak mau, Zhu Tu menenangkan detak jantungnya. Berusaha untuk tidak lagi terkekang dengan rasa amarah yang membludak. "Baiklah. Lalu bagaimana?" Suara Zhu Tu sudah lebih tenang. Zhu Yixiao tersenyum sekilas karena itu. "Sejujurnya, aku ingin mengatakan... bahwa kemarin saat pulang dari perjalanan di Pulau Salju, aku bertemu Cang Jue dan Zhu Linglong di tengah perjalanan." Wajah Zhu Tu langsung menegang. "Kenapa kau tidak melaporkan kepada Kaisar, tuan putri?!" tanya Zhu Tu, dengan intonasi yang kembali meninggi. "Hey! Sudah kubilang jangan gunakan emosimu! Aku butuh kau bicara dengan tenang, Jenderal Agung!"
🖇️🪶 Cukup lama mengemban langkah di kakinya, Zhu Yixiao akhirnya menyerah. Memilih melabuhkan dirinya di perbatasan kota. Memasuki gapura besar yang cukup membuat hatinya senang. Syukurlah, dia terbebas dari hutan-hutan liar. Lalu kini mulai bertemu dengan bangunan milik manusia. Setidaknya, dia tidak akan terjerumus ke dalam dunia hewan dan tumbuhan hidup lagi.Hamparan pasir kuning mulai dipijaki oleh kakinya. Gadis muda itu mengusap peluh yang ada di dahinya. Sekedar menghilangkan basah dan juga lelah yang kian mendera. Ini adalah malam hari. Napasnya terhembus legah saat suara ramai orang kini terdengar di ujung telinganya. Cahaya lentera juga menerangi kota itu. Zhu Yixiao melihat ke segala sisi. Tampak bendera spanduk toko dan pondok mewah berkibaran. Menampilkan tulisan judul Kota Huangsha. Kini, tak lagi bersama Zhu Xin. Zhu Yixiao memilih melanjutkan perjalanan sendirian setelah memulangkan pelayan itu ke Istana Selatan. Tekadnya kali ini adalah untuk menemukan adiknya.







