LOGINTentang sang penguasa kegelapan yang memiliki belahan jiwa dengan keterbatasan fisik. Hera Aquinsha terlahir dengan keadaan buta. Merupakan seorang tuan puteri dari sebuah pack terkenal bernama Golden Moon Pack. Meski memiliki paras cantik tanpa cela, dirinya yang tidak bisa melihat dunia memilih untuk terus bersembunyi. Sampai takdir membawanya pada sosok kelam bernama King Demon Zeus. Sosok iblis yang memiliki sifat buruk dari segala keburukan. Bengis, kejam dan tidak punya hati. Mampukah Hera menerima takdirnya, menjadi belahan jiwa dari sang penguasa kegelapan, untuk memimpin dunia yang kelam? *** "Iblis tidak punya hati." "Tapi kau punya otak dan pikiran. Jika tidak dengan hati, maka cintailah aku dengan akal sehatmu."
View More~Joan~
“This place is... wow,” I muttered as we entered the house, it had floor to ceiling windows, a fireplace and....well, it was perfect.
But something felt slightly off.
“So... how did you know about this place?” I asked Rhoda, who sat on the couch while I walked towards the window and stared down at the view of Spain.
“Well, this is one of Aaron's properties,” she chuckled. I nodded, then paused.
My stomach dropped. What?
“He doesn’t know we're here. I have the spare keys to the building. I mean, why ask when I can just walk in?” Rhoda said, glancing at me with a small smile on her face.
“This is Aaron's house?” I asked slowly. She turned around fully, raising a brow at me.
“Yeah, it’s his.” Her voice was quiet. "What is it?"
I pinched the bridge of my nose, disbelief washing over me. The fuck?
“I can't believe you brought me to Aaron's house of all places,” I muttered. For God's sake, she knows what her brother was like and still she went ahead and brought me to his house?
Rhoda sat up straighter, her smile falling. “Exactly why I said he has no idea we’re here. Jo, your feud with my brother is seriously getting ridiculous.”
“Oh, really? You think this is ridiculous?” I snapped, crossing my arms. “Have you forgotten the time we both landed in jail and he bailed you out, leaving me there to rot?”
Rhoda opened her mouth to speak, but I cut her off. “Or the time we crashed his party, and guess who got blamed for that? Me! He called me a bad influence, told me to stop dragging you into ‘bad things.’ He acts like I’m the villain in your life.” I gritted my teeth.
“Jo...” Rhoda trailed off.
“And now you bring me to his house? You really think I won’t get blamed for this too?” I asked. If I had known, I wouldn't have followed her.
Okay maybe, I still would have. I mean who would turn down a trip to Spain? But we would have booked a hotel room.
Not here. Not this.
Rhoda stood up and turned around the couch, walking towards me.
I’m wrong and I'm really sorry. I didn’t think. I just wanted us to enjoy our girls' trip, and this house is... well, it’s perfect.” She gestured around the house, but I barely glanced at it. “I should have talked to you about it. You’re right.”
I let out a sigh.
"What next?" I asked and her shoulders sagged.
"Well, we could still stay here. He doesn’t know we're here. So...." she wringled her fingers together.
"We could still leave if you want," she added.
"If he doesn't know we're here we could stay," I muttered. Well, he wouldn't just pop up in Spain now, would he?
Rhoda grinned, and I could see the relief on her face.
“We're not gonna stay inside all day now or are we?" She asked, a glint in her eyes. I pursed my lips.
“Please tell me we’re going to see Barcelona,” She added as she grabbed my hand, and she nodded a little too fast.
“Of course! We would," I muttered as we dragged our luggage to the room were we would be staying.
Despite all that Rhoda had said, I still felt slightly uncomfortable. Knowing the house belonged to Aaron just didn't sit right with me.
And hell, I knew something was bound to go wrong. Wherever the man was concerned, something always went wrong.
After freshening up, we decided to explore the neighborhood. At least, we should familiarize ourselves with the vicinity since we'd be staying for a month.
“Tomorrow, we'll go see the Tower, yeah?,” Rhoda asked as we walked back after wandering through a few blocks.
I gave a small nod.
Rhoda sighed and tipped her head back, feeling the cool evening breeze wash over her face, she closed her eyes, a small smile playing on her face.
“It’s nice to breathe fresh air outside of New York,” she sighed. I glanced over at her and followed her lead, raising my head and staring at the dark sky.
Rhoda suddenly opened her eyes, and stared at me. I could see the mischievous glint in them.
“The first one back to the house gets a paid manicure at the fanciest salon in the city!” she said, and before I could process what she said, she darted off.
A laugh escaped me as I ran after her. But oh boy, the girl was goddamn fast.
Who knows? Maybe I would enjoy this trip after all.
We stumbled into the compound and Rhoda pushed the door open stepping in.
I followed after her but she stopped abruptly that I crashed into her back.
"What's it?" I whispered as the color drained from her face.
She remained silent and I peeked at the inside from over her shoulder.
And there he was, in the living room, swirling a glass of something dark. Whiskey maybe.
His eyes were cold and his expression closed off as he finished the last of his drink, slamming the glass on the table.
I was surprised it didn't shatter. Rhoda shuddered lightly while a small frown crept up my face.
Aaron.
The devil had arrived.
Seera membuka satu matanya, memastikan Hera benar-benar telah keluar dari dalam kamar meninggalkannya sendirian. Setelah yakin jika kondisi sudah aman, gadis kecil itu segera melompat turun dan berlari ke arah pintu. Sebelumnya Seera sudah mengambil gunting untuk memangkas bagian bawah rok gaun yang dikenakannya hingga sebatas lutut, membuat gaun panjang yang Seera kenakan menjadi gaun pendek agar memudahkan gadis itu bergerak nantinya. Tidak ada waktu untuk berganti baju, karena kesempatan untuk kabur seperti saat ini adalah hal yang paling langka Seera dapatkan. Seera kemudian berjalan mengendap-endap menuju kearah belakang Istana Kastil. Masuk kedalam kandang kuda menghampiri salah satu kuda pony berbulu putih kesayangannya. Delmon, salah seorang penjaga kudalanjut usia yang melihat kedatangan Seera segera berjalan mendekati tuan putri Istana Darken itu dengan tubuh sedikit membungkuk sopan. "Princess Seera, apa yang ingin and
Seera Aquinsha terlihat sedang berdiri di pembatas balkon, menatap kearah halaman samping Istana Darken dengan kedua tangan menopang dagu. Gadis kecil itu terlihat sedang dalam kondisi suasana hati yang buruk, terbukti dari bibir cembetut dan wajah ditekuknya. Tak lama kemudian, muncul sosok Marrine yang sedari tadi dibuat panik mencari-cari keberadaan Seera, dan langsung tersenyum lega begitu kedua netranya berhasil menemukan tuan putri dari Istana kegelapan itu. Marrine segera mendekat dan berdiri tepat di sebelah gadis kecil yang mengenakan gaun berwarna biru muda itu, ikut memperhatikan apa yang sedari tadi tampak menyita perhatian Seera. "Princess Seera, apa yang sedang anda lakukan disini, kita harus kembali melanjutkan latihan tata krama anda sekarang juga." "Aku bosan." "Tapi Princess, jika Queen Hera tahu nanti anda akan kena marah." Seera terlihat menghela napas kesal, sekali lagi kedua matanya kembali
1 TAHUN KEMUDIAN.Hera berlari kecil meninggalkan taman bunga dengan menenteng rok gaun panjangnya menggunakan kedua tangan. Terus mengabaikan teriakan Marrine yang masih terdengar beberapa kali dibelakang sana.Senyumnya tak pernah pudar begitu mendengar kabar bahwa Zeus telah kembali.Sementara tak jauh dari posisinya, terlihat Marrine yang tampak sudah berhenti berlari dengan napas terputus-putus, mengusap keringat di keningnya sendiri menggunakan punggung tangan.Di usianya yang sudah bisa dikatakan tua ini, wanita setengah baya itu sudah tidak bisa lagi berlarian menyusul Hera yang telah menjauh. Marrine hanya bisa mengawasi ratunya itu dari arah kejauhan, meringis ngeri ketika melihat Hera yang beberapa kali terlihat hampir terjatuh karena tak sengaja menginjak rok gaunnya sendiri.Hera bahkan sudah berlari menaiki ribuan anak tangga pelataran yang akan membawanya kearah kastil Istana Darken yang terlihat semak
"Bukan begitu caranya!" Zeus mendelik. Merasa kesal karena Hera berulang kali terus memarahinya bahkan membentaknya. Akhir-akhir ini, Hera menjadi melunjak dan berani bersikap sok di hadapan King Demon Zeus. Seperti saat ini contohnya, raut wajah wanita itu tetap terlihat biasa saja meski King Demon Zeus sudah menampilkan wajah garangnya, tapi seakan sudah kebal dengan tatapan seperti itu, Hera lalu melengos tidak peduli sambil membenarkan posisi tubuh Ares dengan benar diatas pangkuan iblis itu agar bayi kecil mereka merasa nyaman. Ares sudah tidak menangis setelah Hera selesai menyusuinya lagi. Bayi kecil laki-laki itu memang sangat rakus dan kini tengah mengulum satu ibu jari tangan kanannya bahkan terlihat pasrah-pasrah saja ketika tubuhnya dijadikan kelinci percobaan oleh kedua orangtua kandungnya itu. "Letakkan tangan kirimu dibawah kepala antara leher dan kepalanya. Jangan mengabaikannya Zeus, kalau sampai salah nanti kepala Ares bisa tengleng." "Tengleng?" King Demon Zeus
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore