Share

Bab 04

Author: Lusia Sudarti
last update Last Updated: 2025-09-28 23:04:23

04. Mahluk Lain

Terdengar Suara Aneh Dari Bilik Sebelah.

Penulis: Lusia Sudarti

Part 04

***

Akhirnya Mahluk si*l*n itu pun kabur, sambil tertawa melengking memekakkan gendang telinga.

"Alhamdulillah," ujarku sambil mengusap wajahku tiga kali.

Aku pun merebahkan diri karena kelelahan. Dari bilik sebelah terdengar suara berisik dan samar-samar terdengar suara-suara aneh. Karena penasaran, aku pun mendekatkan telinga ke bilik yang terbuat dari bambu.

Aahh huh, plok, plok, plok ...!

Karena penasaran aku mempertajam pendengaranku, menempelkan kembali telingaku ke bilik bambu.

Namun, aku masih tak mengerti dengan suara aneh di dalamnya.

"Duh suara itu kok aneh banget ya? Suara laki-laki dan perempuan. Tapi kok dingin-dingin begini suara orang pake kipas bambu! Aneh ...," gumamku, sambil menerka suara aneh tersebut.

"Ah masa bodoh lah!"

Dari pada pusing mikir apa yang terjadi di bilik sebelah, aku pun kembali membaringkan tubuh yang serasa remuk.

"Vin, Vina!" Baru saja aku memejamkan kedua mata, terdengar sebuah panggilan yang menyebut namaku.

'Suara itu seperti suara Melati?" gumamku.

Aku mencari-cari arah suara itu kembali.

Aku pejamkan mata, aku pusatkan pikiran. Dan tiba-tiba sosok wanita bergaun putih berdiri di depanku.

"Melati! Kenapa kamu mengikuti aku? Apa maumu?" hardikku.

"Maaf Vina! Aku hanya mau bersahabat denganmu. Kamu harus ber hati-hati Vina! Karena disini ada mahluk yang begitu jahat yang sedang mengincarmu." Melati menjelaskan bahaya yang mengintai aku, seperti yang terjadi di mobil tadi.

"Aku enggak takut Melati. Semua kuserahkan sama Allah."

"Aww Vina paanaass! Tolong jangan sebut nama Itu."

Melati menjerit ke panasan. "Tolong Vina, aku hanya ingin melindungimu!" ratap Melati sambil menangis, dan tetesan yang keluar dari kedua matanya, adalah dar4h.

Aku terpaku melihat yang terjadi di depanku. Melati tiba-tiba berubah, ke dua bola matanya menggantung dan mengeluarkan darah yang begitu busuk, serta belatung yang menari-nari di setiap bagian wajah yang hancur.

Aku bergidik ngeri melihat pemandangan tak biasa dihadapanku.

"Hi ... hi ... hi ... Vin aku hanya ingin berteman denganmu, ijinkan aku bersamamu! Sampai aku bisa hidup tenang di sana."

Pilu dan sendu, serta menyayat hati mendengar ratapannya.

"Baiklah Melati! Tapi ... kamu jangan pernah melewati batasanmu, karena kita berbeda alam. Jika kamu melanggar? Aku pastikan, kamu akan lebih menderita," ancamku.

"Iya Vin. Aku janji, baiklah aku pergi dulu, jaga dirimu. Hihihi."

Tawa dan sosok Melati pun menghilang tanpa jejak.

"Aduh Aa, aah ahh."

Aku tersentak mendengar suara-suara dari bilik tadi. Oh ternyata tadi aku bermimpi dan terbangun oleh suara aneh lagi.

Aku meraih jam di atas nakas. "Ternyata sudah jam 23:00, tapi kok suamiku belum pulang? Sebaiknya aku sholat sunnah dulu, sambil menunggu suamiku pulang." Aku turun dan melangkah ke dalam kamar mandi untuk mengambil Wudhu.

Setelah selesai aku melipat mukena. Ternyata diluar jendela ada sosok yang menyeramkan mengintai dari balik gorden yang melambai tertiup angin. Aku pun pura-pura tak melihatnya. Dan seuntai doa kupanjatkan, satu surah lagi kubaca dalam hati. Kuarahkan pandanganku ke kedua mata mahluk itu, fokus amalan di hatiku dan kualirkan ke mataku yang tanpa berkedip menatap bola matanya yang merah menyala seperti saga.

Untuk beberapa saat pandangannya masih menantang pandanganku. Tapi sedetik kemudian sosok itu lenyap. Aku pun mengucap Hamdalah dalam hati.

Tok ... Tok ...Tok.

Assalamu'alaikum. Mi ..." Terdengar suara suamiku dari luar, beliau baru pulang dari tempat bosnya.

"Waalaikumsalam," jawab dari bilik depan.

"Eh sudah pulang?" tanya Mi.

"Iya Mi. Saya pamit ke kamar dulu, " pamit suamiku, aku pura-pura tak mendengar suaranya.

"Silahkan A."

"Yank?"

Tok! Tok! Tok!

Ceklek.

Aku segera membuka daun pintu untuk menyambutnya.

"Assalamu'alaikum yank."

"Waalaikumsalam. Baru pulang yank?" tanyaku sambil mencium punggung tangannya, dan keningku pun di kecupnya.

"Iya yank."

Aku mengambil air mineral yang ada di atas nakas. Lalu kuberikan kepadanya, kemudian disesapnya hingga habis.

"Gimana yank? Aman? Kok belum tidur?" Pertanyaannya tanpa jeda, karena melihatku masih terjaga.

"Alhamdulillah aman kok! Tapi ada suara aneh di bilik sebelah ini yank!" kataku memberi penjelasan karena penasaran.

"Suara aneh apa sih yank?"

"Nggak tau!" jawabku sembari mengangkat bahu. "Nanti pasti dengar sendiri kok!" ujarku.

"Yank sudah sholat belum? Aku baru selesai sholat."

"Belum yank," jawabnya.

"Ya udah suamimu yang ganteng ini sholat dulu ya?" sambungnya seraya mencubit hidungku. Lalu melangkah mengambil wudhu lalu sholat.

Sambil menunggu suamiku melaksanakan sholat, aku merebahkan diri lagi, dan berfikir tentang suara-suara aneh dari bilik sebelah. 'Sebenarnya suara apa sih itu? Dan kalo manusia, lagi pada ngapain kok seperti yang gelisah begitu? Aku jadi penasaran nih?" gumamku.

"Adek, aduuhh, terus Dek! Aahh Aa, huh huh."

Aku hampir terlonjak dari tempat tidur mendengar lagi suara itu, meski tak terlalu kencang, tapi lumayan jelas.

Suami yang habis sholat pun jadi bengong mendengar suara dari bilik sebelah, dan beliau menatapku dengan tatapan aneh!

"Husstt."

Suamiku memberikan isyarat agar aku diam sembari menempelkan jari telunjuknya ke bibir.

Aku diam terpaku, tak berani membuat gerakan sedikit pun, hanya bola mata yang nanar menatap kesana-sini.

Suamiku lalu naik ke tempat tidur perlahan, dan duduk disampingku.

"Suara itu yank?" ujarnya sambil tersenyum simpul.

Aku pun mengangguk, karena aku tak mengerti apapun tentang semua yang aku dengar.

Tubuhku dipeluknya sembari berbisik ditelingaku.

"Mau tau suara apa itu yank?" tanyanya sembari terus menggodaku, dengan alis sebelah terangkat, akupun mengangguk karena memang tak mengerti.

"Sini yank, Mas kasih tau! Itu suara orang lagi bikin dedek bayi, yuk kita juga bikin dedek!" jawabnya sambil tersenyum nakal dengan tatapan mesvm.

"Yank? Pengen," katanya sambil menatapku sayu.

Aku pun mengangguk malu.

Di sela-sela serangannya yang luar biasa. "Yank itu suara dua insan yang sedang menggapai syurga pernikahan."

Katanya lagi dengan nafas membvrv.

Aku yang terbuai, terbakar asmara pun hanya mengangguk.

Dari semua sentuhannya pun selalu membawaku ke dalam kebahagiaan yang tiada tara.

Entah sudah berapa kali penyatuan kami, Suami pun lunglai disampingku dengan peluh membasahi tubuh kami berdua.

"Makasih yank!" katanya sambil mencium keningku lalu tidur dengan tersenyum, sembari memelukku.

'Tampan sekali wajahmu yank. Aku takut kamu meninggalkan aku!" gumamku dalam hati lalu kupeluk tubuhnya yang kekar.

Aku tersenyum sendiri mendengar penjelasan suami tentang suara-suara di bilik sebelah. 'Kenapa aku begitu bodoh ya? Sedangkan aku pun sudah menikah, tapi tak mengerti apa-apa," rutukku dalam hati, karena terlalu polos.

🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀

Keesokan harinya kami pun pamit untuk kerumah kontrakan yang suamiku pilih untuk jadi tempat tinggal sementara.

"Mi terima kasih banyak atas tumpangannya ya? Saya mau kerja dan kebetulan sudah dapat kontrakan di daerah Kedawung," ujar suamiku kepada Ibu angkat beliau.

"iya A. Alhamdulillah kalau sudah dapat kontrakan. Hati-hati kalau ikut si AA ya Neng? Mampir ke tempat Mi," katanya sembari tersenyum.

"Terima kasih Mi! Jadi berapa semuanya Mi?" tanya suamiku.

''Seratus aja A."

"Ini Mi, terima kasih."

Suami menyodorkan uang seratus ribu dan di terima dengan wajah yang sumringah.

"Sama-sama A."

Setelah menunggu elf sekitar 5 menit, akhirnya datang juga jurusan Cirebon.

Sepanjang perjalanan aku merenung. Bagaimana nanti, tetangga dan lingkungan baru. Apa aku bisa beradabtasi? Sedang aku tipe pemalu."

"Enggak usah di fikir yank! Jalani apa adanya. Yang penting kita baik dan sopan, niscaya orang-orang akan menyayangi kita."

Nasihat Suamiku, seolah tau apa yang kufikirkan, aku pun mengangguk dan tersenyum manis. Diusapnya pucuk kepalaku dengan penuh kasih sayang.

Di elf ada sekitar empat orang, tiga perempuan satu laki-laki. Mereka sekali-sekali menatap kami dan melempar senyum. Terlebih yang berhadapan dengan kami. Selalu mencuri pandang ke Suamiku. Hati pun sedikit memanas saat tak sengaja melihat suami pun mencuri pandang kearahnya.

Aku merubah posisi duduk menyamping dan membuang pandangan keluar. Agar tak melihat hal-hal yang membuat hatiku panas. Rupanya ia sadar akan perubahan sikapku. Lalu dengan sigap di rangkulnya pundakku. Aku menghindar dan kuturunkan tangannya. Suami pun terkejut melihat sikapku yang acuh bahkan menolak pelukannya.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 23

    23. Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)Menangkap Mahluk Yang Menyamar Menjadi Manusia Penulis : Lusia SudartiPart 23"Apa kalian tidak dengar ucapanku! Haa ...! Kalau kataku tunggu dulu, ya tunggu ...!" Suara Pak RT berubah berat dan serak. Aku dan suami terkejut, lalu menatap kearah pak RT. "Astaghfirullah ..."Tiba-tiba ....===============Tok! Tok! Tok!"Assalamualaikum, Bu! Bapak pulang!" terdengar suara ketukan dan salam dari luar. Aku dan suamiku tercekat. Sosok pak RT yang tadi berubah, kini menjadi sosok pak RT kembali.Tok! Tok! Tok!"Bu ... ini Bapak."Ceklek!Daun pintu terbuka dan pak RT yang lain masuk menenteng tas pakaian.Aku dan suami terkejut bukan main, karena lelaki yang sedang duduk di kursi berwajah sama dengan pak RT."Loh ... kok ada dua?" seruku, aku dan suami bangkit dari duduk dan mengamati mereka berdua.Sementara pak RT yang baru saja masuk, tak kalah terkejutnya melihat ada orang yang sama wajah, postur tubuh dengannya."Siapa kamu? Mengapa wajahmu mi

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 22

    22. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Membantu Ibu RTPenulis : Lusia SudartiPart 22"Vinaaa ... jangan pergi! Tolong aku, hihihihi!" Kembali suara-suara itu memenuhi pendengaranku.Di kontrakan milikku ..."Mbak, gimana keadaannya?" tanya ibu Ani tetanggaku."Alhamdulillah, Bu! Sudah baikan!" jawabku sambil membalas jabatan tangannya."Mbak, kami kangen loh sama Mbak! Jangan ikut-ikutan lagi ya? Kita kangen sama Mbak!" sambung Mbak Ayu, putri ibu Ani."Ini dari kami, Mbak! Cuma sedikit, semoga bisa membantu ya?" ujar ibu RT sembari memberikan amplop berwarna putih ke dalam genggamanku. Hatiku menjadi trenyuh dan merasa tak enak hati, telah membuat mereka khawatir. "Aduh Bu, Mbak! Saya merasa tidak enak hati, merepotkan semuanya. Padahal enggak apa-apa kok, saya-nya!""Udah Mbak! Santai aja ... kami semua mengaggap Mbak dan Mas, seperti keluarga sendiri!" jawab ibu RT."Betul itu, Mbak! Jangan sungkan ya, jika butuh sesuatu, kami siap membantu," sahut ibu Ani."Ayo Ibu-ibu, di mi

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 21

    21. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Ratu Dewi Kinasih Memberikan Sebuah Mustika.Penulis : Lusia Sudarti Part 21"Tetap fokus, dan jangan terkecoh!" seru wanita tersebut mengingatkan aku.🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷Disebuah perbatasan hutan yang sangat lebat! Tiba-tiba, wanita yang membawaku berhenti, dan menoleh kearahku."Maaf Nisanak! Saya hanya bisa mengantar Nisanak sampai disini! Nisanak jalan lurus saja dan jangan sekali-kali menoleh kebelakang, apapun yang Nisanak dengar, abaikan saja! Nisanak sudah ditunggu Kanjeng di istananya," wanita tersebut menjelaskan dengan bahasa yang mudah aku mengerti.Meskipun dalam hati bingung, takut, dan penasaran, aku menganggukkan kepala."Baik Mbak! Dan terima kasih banyak atas semuanya," jawabku. Wanita tersebut mengangguk dan tersenyum kepadaku. "Silahkan, Nisanak! Mumpung matahari masih tinggi! Jangan sampai kemalaman disini!" titahnya, yang tak mampu aku tolak."Bolehkah saya mengetahui nama Mbak?" ujarku ragu."Nama saya Wulan!" jawabnya

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 20

    20. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Aku Dibawa Ke Alam Jin.Penulis : Lusia Sudarti Part 20"Nih minum dulu, yank!" Satu gelas teh hangat diberikan kepadaku. Aku menerimanya dengan tersenyum. "Terima kasih, yank!" Teh hangat mengeluarkan aroma khas yang menggugah selera. ===≠=========="Nanti kita istirahat dulu dikontrakkan ya, yank? Mas tak ingin terjadi apapun denganmu!" Mas Ardian memelukku, wajahnya terlihat sendu. Hatiku trenyuh melihatnya, dan juga bahagia."Iya, yank! Maafin, Vina ya?" ucapku sambil membalas pelukannya. Hatiku terasa damai di dalam pelukan suamiku, Mas Ardian.Tok! Tok! Tok!"Pak ... giliran bongkar!" Terdengar suara ketukan dan panggilan dari luar mobil, aku mengurai pelukan dan melongok keluar mobil."Oh iya, Pak!" jawab suamiku, beliau membuka pintu dan menemui Security dibawah.Aku merebahkan diri, tenagaku seolah tersedot. Aku merenung dengan kejadian yang baru aku alami diantara sadar dan tidak. Pengalaman mistis kali ini seolah menghisap energi

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 19

    19. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Cerita MelatiPenulis : Lusia Sudarti Part 19Melati tak kuasa bergerak, kedua matanya tertutup. Rasa sakit di sela pahanya terasa begitu hebat. Darah keluar tanpa henti. Namun ... Melati masih mampu berdoa dalam hati. "Siapapun, tolong aku! Meskipun aku mati, arwahku tak akan tenang, sebelum membalas sakit hati dan dendamku ini!"===============Hatiku pilu melihat pemandangan menyakitkan yang terpampang di depan mataku, namun tak mampu berbuat apapun! Karena yang tampak olehku saat ini, hanya kilas balik masa lalu yang di alami oleh Melati.Setelah ketiga pemuda biad4b itu puas melampiaskan nafsunya, dan menyadari fakta jika Melati, gadis belia yang baru mereka rudapaksa dan kehilangan nyawanya. Barulah mereka merasa panik yang luar biasa. Mereka memungut pakaian dan segera memakainya dengan tergesa-gesa.Saat itu tiba-tiba ...Angin berhembus sangat kencang, pepohonan seakan hendak tumbang. Langit senja yang semula cerah, kini berubah mendu

  • Mahluk Lain(Dia Yang Mengikuti Aku)   Bab 18

    18. Mahluk Lain (Dia Yang Mengikuti Aku)Melati Menceritakan Masa LalunyaPenulis : Lusia SudartiPart 18 Mbak pelayan tersebut menebarkan senyum smirknya untuk suamiku. Aku mendengus kesal melihatnya.================Kami melanjutkan perjalanan kembali, kali ini aku tak ingin terlelap! Karena kami akan melewati daerah alas Roban.Entah mengapa, aku merasakan bahwa situasi mistis benar-benar membuatku sedikit ngeri-ngeri sedap.Bukan aku ingin menantang, namun aku hanya ingin merasakan pengalaman yang berbeda. Meskipun, aku sadar, sedang mengandung janinku."Yank, kok belum tidur?" tanya suamiku.Aku terkejut dan menoleh kearahnya. "Belum, nanti aja setelah melewati hutan alas Roban."Kini gantian Mas Ardian yang terkejut. "Lho, emangnya kenapa yank? Mau tidur aja kok, nunggu setelah melewati alas Roban?""Entahlah, Mas! Aku juga enggak tahu!" jawabku."Oh ... ya sudah kalau begitu! Tetapi, jika memang mengantuk, tidur aja!""Iya, Mas," sahutku.Suamiku tetap fokus ke jalan, lalu l

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status