Beranda / Romansa / Mainan Baru Tuan Montevista / 124: Selamat Bekerja, Daddy!

Share

124: Selamat Bekerja, Daddy!

Penulis: Ana_miauw
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-11 10:47:51

Riuh di Tengah Tumpukan Belanjaan

POV: Keisha

Mansion yang biasanya rapi kini mendadak penuh sesak. Beberapa pelayan tampak mondar-mandir mengangkut kotak-kotak besar dan tas belanja bermerek dari bagasi mobil ke ruang tengah.

Axel benar-benar kehilangan kendali diri di toko tadi. Seakan seluruh isi toko bayi ingin ia pindahkan ke rumah ini dalam satu hari.

Alexander dan Ellys yang sedang bersantai di sofa ruang tengah langsung berdiri tegak, menatap tumpukan barang itu dengan dahi berkeru
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mainan Baru Tuan Montevista    173: Kerajaan di Atas Cinta

    POV: Axel Mardon MontevistaEnam bulan telah berlalu sejak malam yang hampir merenggut napas dan separuh nyawaku itu. Malam di mana aku menyadari bahwa seluruh kekuasaan dan gunungan hartaku tidak ada artinya jika wanita yang menjadi pusat duniaku tidak lagi bernapas. Namun hari ini, ketakutan itu telah terkubur jauh, digantikan oleh simfoni kehidupan yang luar biasa di Mansion Montevista.Mansion ini tidak lagi memiliki sudut yang sunyi. Jika dulu rumah ini hanyalah bangunan megah yang dingin, kaku, dan hanya berisi aroma kertas dokumen serta parfum maskulin, sekarang setiap lorongnya bergema dengan tawa Alexander, Ellys, tangisan bayi, dan langkah-langkah kecil yang berkejaran. Udara di sini kini selalu berbau bedak bayi dan aroma vanila kesukaan Keisha.Sore ini, matahari terbenam dengan warna emas yang luar biasa indah di cakrawala taman belakang. Aku berdiri di beranda lantai atas, menyesap kopi hitamku sambil memerhatikan pemandangan di bawah. Sebuah pemandangan yang—bagi pri

  • Mainan Baru Tuan Montevista    172: Kembali dari Kegelapan

    POV: Axel Mardon MontevistaDuniaku terasa berhenti berputar. Suara denging panjang dari monitor jantung itu adalah suara paling mengerikan yang pernah kudengar seumur hidupku. Garis lurus di layar itu seolah garis akhir dari kebahagiaanku.“Isi ulang! Tiga ratus enam puluh joule! Clear!” seru dokter utama.Tubuh Keisha tersentak lagi akibat kejutan listrik itu. Aku mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan, mengalirkan rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit di dadaku yang terasa seperti diremas hingga hancur.“Ayo, Sayang... jangan menyerah. Kau bukan wanita lemah,” bisikku parau, air mata jatuh tanpa henti membasahi masker medis yang kupakai. “Pukul aku, maki aku karena aku terlalu protektif, tapi tolong... jangan tinggalkan aku.”Satu detik. Dua detik. Tiga detik terasa seperti keabadian yang menyiksa.Lalu, tiba-tiba....Pip... pip... pip...Garis lurus di monitor itu mulai membentuk gelombang kembali. Lemah, namun ada.“Detak jantung kembali

  • Mainan Baru Tuan Montevista    171: Tolong Selamatkan Dia

    POV: Axel Mardon MontevistaDuniaku yang baru saja terang benderang oleh tangisan bayi, seketika tersedot ke dalam lubang hitam yang pekat. Genggaman tangan Keisha yang tadi begitu kuat, tiba-tiba melemas dan jatuh terkulai. Matanya yang sayu perlahan menutup, bukan karena tidur yang tenang, melainkan karena kesadarannya yang merosot tajam.“Keisha! Buka matamu! Keisha!” teriakku. Aku tidak peduli pada bayi-bayi itu untuk sesaat; fokusku hanya pada wanita yang wajahnya kini memucat seputih kertas.“Tuan Montevista, mundur! Nyonya mengalami pendarahan hebat!” seru dokter utama. Suasana yang tadi penuh haru berubah menjadi medan perang dalam hitungan detik.Aku didorong menjauh oleh para perawat. Di lantai, aku melihat cairan merah pekat mulai mengalir deras. Darah itu milik Keisha. Darah itu adalah nyawanya yang sedang tumpah keluar.“Lakukan sesuatu! Selamatkan dia! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan meratakan tempat ini!” ancamku kalap. Aku berdiri di sudut ruangan, memegang

  • Mainan Baru Tuan Montevista    170: Di Ambang Batas

    Aku kembali ke ruang kerja, tapi pintu sengaja kubiarkan terbuka lebar—selebar telingaku yang kini menajam seperti radar. Meskipun mataku menatap dokumen akuisisi, pikiranku berada di ruang tengah bersama Keisha. Aku tidak tenang. Wajah pucatnya dan caranya menopang pinggang tadi adalah alarm bahaya bagiku.“Rina,” panggilku padanya melalui interkom.“Ya, Tuan?”“Pastikan tim medis tidak ada yang meninggalkan posnya di sayap kanan. Dan suruh Suster Ellys melaporkan frekuensi ‘keluhan’ Nyonya setiap sepuluh menit padaku secara diam-diam. Aku tidak ingin Keisha merasa tertekan, tapi aku ingin data akurat.”“Dimengerti, Tuan.”Sekitar satu jam berlalu. Aku mencoba fokus pada rapat Zoom dengan tim legal dari firma hukum baru yang kuambil alih. Ketika tiba-tiba, terdengar Rina kembali menghubungiku—yang mana ketika kuangkat, aku mendengar rintihan tertahan dari dalam—yang membuat jantungku seolah ditarik keluar dari rongganya.Aku tidak menunggu sedetik pun. Aku melepaskan headset be

  • Mainan Baru Tuan Montevista    169: Isyarat yang Tersembunyi

    POV: Keisha MontevistaMalam ini terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Seluruh tubuhku terasa kaku, dan ada rasa pegal yang tak kunjung hilang di punggung bawahku. Aku mencoba memiringkan tubuh ke kiri, lalu ke kanan, namun tidak ada posisi yang benar-benar nyaman. Si kembar yang biasanya sangat aktif melakukan “pertandingan bola” di dalam sana, tiba-tiba menjadi sangat tenang. Gerakan mereka hanya berupa gesekan lambat yang terasa sangat berat di bagian bawah perutku.Aku tahu tanda-tanda ini. Sebagai ibu yang sudah pernah melewati proses persalinan, instingku berbisik bahwa waktu itu sudah dekat. Namun aku memilih untuk tidak dulu mengatakannya pada Axel. Aku melirik Axel yang tertidur di sampingku dengan wajah yang tampak sangat lelah. Garis-garis tegas di wajahnya sedikit mengendur saat tidur, namun tangannya tetap melingkar protektif di atas perutku—sebuah posisi yang tidak pernah berubah sejak kandungan ini membesar.Ya, qku tidak ingin memberitahunya sekarang, karena ji

  • Mainan Baru Tuan Montevista    168: Bentuk Cinta yang Sempurna

    POV: Axel Mardon MontevistaWaktu berjalan dengan kecepatan yang sulit kupahami. Rasanya baru kemarin aku menggendong Keisha dari dapur setelah konfrontasi malam itu, namun kini kalender sudah menunjukkan angka yang membuat jantungku berdegup lebih kencang setiap harinya. Ya, kandungan Keisha kini sudah menginjak usia delapan bulan.Bagi kehamilan tunggal, delapan bulan adalah masa penantian akhir. Namun bagi bayi kembar, ini adalah masa kritis yang tak terduga. Dokter sudah memperingatkan bahwa bayi kembar sering kali memutuskan untuk menyapa dunia lebih cepat dari jadwal seharusnya. Dan itulah yang membuatku tidak bisa tidur nyenyak belakangan ini.Pagi ini, aku membantu Keisha bangkit dari ranjang—sebuah tugas yang kini memerlukan teknik khusus. Perutnya sudah sangat besar, menonjol begitu kontras dengan tubuh aslinya yang mungil. Sejujurnya, setiap aku menatap perut itu tanpa balutan kain, ada rasa ngeri yang menyusup di hatiku. Kulitnya yang tipis meregang sedemikian rupa hing

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status