LOGINBLURB Ajudan Selembe Romantis komedi mix action dan thriller, by Olivia Yoyet. Bodyguard The Series 11. PCD The Series. *** Fitnah yang dialami Aditya Bryatta dan Alodita Verlina Daryantha, menjadikan posisi mereka terjepit. Keduanya terpaksa menikah, demi menutupi aib yang diembuskan musuh bersama. Sekaligus menenangkan hati orang tua Alodita. Kendatipun sering bertengkar, tetapi Aditya dan Alodita tetap berusaha untuk bersahabat. Mereka sepakat menjadi partner, guna membalas dendam secara elegan pada sang penyebar fitnah. Masalah berkembang kian pelik, kala orang-orang dari masa lalu keduanya muncul, dan mengusik kehidupan mereka. Satu peristiwa fatal, menjadikan Aditya terpaksa mengorbankan dirinya, demi melindungi Alodita. Baca juga judul-judul cerita lainnya punya Olivia Yoyet alias Emak OY, di Goodnovel. Terutama yang tergabung di Bodyguard The Series (BTS). Urutannya : 1. My Lovely Bodyguard. Tamat 2. Jaring Cinta Sang Bodyguard. Tamat 3. Terjerat Daun Muda. Tamat 4. Cutie Bodyguard. Tamat
View More01
"Abang jangan mengaturku. Ingat, Abang bukan siapa-siapa buatku!" sentak Alodita Verlina Daryantha, sembari memelototi pria bertubuh tinggi di hadapannya.
"Ya, aku memang bukan keluarga atau kerabatmu. Tapi, kakakmu sudah menitipkanmu padaku!" tegas Aditya Bryatta, sembari berusaha untuk tetap tenang.
Alodita menggertakkan gigi. "Aku nggak peduli! Pokoknya jangan larang aku buat melakukan apa pun!"
"Okay, fine! Silakan pergi, dan puasin pesta. Aku mau tidur!" desis Aditya, sebelum dia berbalik dan jalan menuju kamarnya di bagian depan rumah dinas itu.
Alodita mencebik. Dia benar-benar kesal dengan sikap Aditya yang pengatur dan pemaksa. Alodita melirik asistennya, Larasati, dan memberi kode. Kemudian kedua perempuan itu bergegas keluar bangunan.
Bunyi kendaraan yang bergerak menjauh, membuat Aditya menggerutu dalam hati. Dia mengintip melalui celah gorden, lalu Aditya berbalik dan jalan ke pintu.
Lelaki beralis tebal itu menyambar jaket dan tas dari gantungan. Aditya membuka pintu dan keluar. Dia berteriak memanggil semua ajudan muda, sembari mengaitkan tas ke pinggang, lalu mengenakan jaketnya.
"Bawa perlengkapan standar, dan jaket. Kutunggu di mobil," cakap Aditya, sebelum jalan cepat ke carport.
Tidak berselang lama, mobil MPV biru tua telah melaju di jalan perumahan kelas menengah, di tepi kota.
Aditya mengemudikan mobilnya sembari menggerutu dalam hati, karena lagi-lagi dia bertengkar dengan Alodita, putri kedua Bahir Daryantha, pengusaha senior dari Bandung.
Aditya dan Alodita dinas bersama di kota itu, untuk mengawasi proyek yang diikuti perusahaan masing-masing, sekaligus jadi wakil banyak perusahaan para bos muda Indonesia.
Aditya yang juga merupakan direktur operasional PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, sudah bertugas di Kanada semenjak 5 tahun silam, sebelum dirinya dilantik sebagai petinggi PBK.
Pria berambut belah tengah itu sejak dulu memang tidak bisa akrab dengan Alodita. Padahal dengan banyak putri pengusaha lainnya, Aditya bisa berteman cukup akrab.
Aditya tidak mampu memahami sikap Alodita yang sering ketus padanya, sedangkan pada para sahabatnya, Alodita bisa berteman, bahkan gadis itu cukup akrab dengan Lazuardi dan Halim.
Pria yang dijuluki Abang wajah datar oleh banyak ajudan muda, sebetulnya sudah lelah untuk terus berselisih paham dengan Alodita. Namun, Aditya pun bingung, bagaimana caranya agar dia dan Alodita bisa berteman. Sebab tugas mereka di negara itu masih akan terus berlanjut hingga bulan depan. Lalu, keduanya akan pulang ke tanah air, bersama para pengawas dan pengawal muda lainnya.
"Bang, mobilnya belok ke kanan," tutur Fahreza, yang seketika memutus lamunan atasannya.
"Gerbang putih?" tanya Aditya guna memastikan pendengarannya.
"Ya," sahut Fahreza.
Aditya menyalakan lampu sen, sebelum berbelok ke kanan dan melintasi gerbang putih bertuliskan Vila Lily. Aditya memperlambat laju mobil saat melihat Alodita dan Larasati keluar dari mobil sedan merah, milik sang nona muda Daryantha.
Aditya mengarahkan mobilnya ke sisi kanan pekarangan luas, yang tidak terlalu banyak kendaraan. Aditya menghentikan mobil dan mematikan mesin, lalu dia melepaskan sabuk pengaman.
"Dengar. Kita harus membaur," terang Aditya sembari memutar badan ke belakang. "Kalian bentuk regu dengan 2 anggota. Lalu menyebar sembari mengawasi Alodita," lanjutnya.
"Abang, gimana?" tanya Fahreza.
"Aku mau menunggu sekitar 10 menit, baru masuk. Tapi, kalian jangan nyamperin aku. Kita pura-pura nggak kenal aja."
"Siap."
"Fokuskan pandangan pada Alodita. Apa pun yang dia lakukan di depan umum, biarkan. Tapi, kalau dia menjauh dengan seseorang, ikuti."
Keenam ajudan muda itu serentak mengangguk. Lalu mereka membuka pintu dan keluar dari mobil, sembari menutup pintunya dengan pelan. Fahreza dan teman-temannya melenggang menuju pintu utama, di mana beberapa pria berbadan tinggi besar tengah berjaga.
Fahreza memindai sekeliling. Dia merasa lega, karena banyak wajah Asia yang turut menghadiri pesta itu. Hingga kehadiran tim Indonesia tidak terlihat menonjol dan mencurigakan.
Sementara di mobil, Aditya mengambil tas dari bagasi. Dia membuka tas itu dan mengambil kacamata baca, kumis dan janggut palsu. Aditya berpindah lagi ke kursi depan. Dia memasang semua atribut sambil bercermin, kemudian dia mengecek arloji di tangan kiri.
Aditya menghitung waktu. Setelah 8 menit, dia keluar dan mengunci pintu. Aditya kembali mengecek arloji, lalu dia mengayunkan tungkai menuju teras depan rumah besar bercat gading.
Setibanya di dalam, Aditya mengamati sekitar. Dia beradu pandang dengan Dzulfadli, Baryal, Syawal, dan Bagas. Sedangkan Fahreza dan Dzafri tidak terlihat. Aditya melangkah menuju meja besar di ruangan kiri. Dia mengambil minuman, lalu bergeser ke dekat jendela besar yang menghadap halaman belakang.
Aditya memerhatikan setiap orang yang berada di luar. Dia menggeleng pelan saat melihat beberapa pasang manusia tengah bercumbu di sekitar area, tanpa memedulikan jika mereka tengah berada di tempat umum.
Tatapan Aditya berhenti pada kedua perempuan yang tengah berkumpul dengan tiga pria, yang juga merupakan warga negara Indonesia. Aditya berdecak kesal, karena dia tidak menyukai sosok Ramzi Parviz, dan kedua sahabatnya, Darius, serta Nolan.
Aditya sudah mengetahui sepak terjang ketiga pria yang berasal dari Semarang itu. Ramzi dan kedua rekannya bekerja di BM Grup, salah satu perusahaan properti yang pernah berkoordinasi dengan Pramudya Grup, bos utama PB dan PBK.
Aditya yang juga mewakili Pramudya Grup, sempat beradu argumen dengan Ramzi, yang salah menafsirkan perintah atasannya. Hingga pengerjaan proyek di Ontario sempat terhambat. Semenjak saat itu, baik Aditya maupun Ramzi tidak pernah bertegur sapa. Bahkan, jika bertemu di tempat klien, keduanya akan berlaku tidak saling mengenal.
Aditya mengerutkan dahi, ketika melihat Ramzi memberikan kaleng minuman pada Alodita. Seringai di wajah Ramzi menyebabkan radar kewaspadaan Aditya meningkat.
Pria berhidung bangir itu menghabiskan minumannya, lalu meletakkan gelas ke sembarang tempat. Aditya jalan cepat menuju pintu samping sembari memberi kode pada keempat juniornya.
Akan tetapi, sesampainya di gazebo belakang, kelima orang tadi sudah menghilang. Aditya menoleh ke belakang saat dipanggil, dan dia segera memahami maksud Dzafri yang tengah menunjuk ke tangga melingkar, di sisi kanan bangunan.
Aditya bergegas ke sana, tetapi sekelompok pria asli luar negeri menghadangnya. Aditya hendak menerobos, tetapi pria berbaju hitam itu langsung meninjunya.
Aditya refleks menghindar sembari balik meninju rahang lawannya. Tidak sampai di situ, Aditya langsung memukuli pria berambut pirang itu dengan gerakan cepat. Hingga lawannya terhuyung-huyung dan jatuh telentang.
Para lelaki bule itu segera menerjang, dan disambut tim Fahreza dengan gerakan silat. Aditya bergeser ke kiri dan lari secepat mungkin ke tangga. Dia menaiki undakan sembari memaki, karena terpaksa menggunakan kekerasan.
Aditya tiba di ruangan atas yang juga ramai orang. Dia celingukan, lalu melihat Larasati duduk di sofa ujung. Aditya mendekati gadis itu yang memandanginya dengan tatapan kosong.
"Ras, Dita di mana?" tanya Aditya.
Akan tetapi, belum sempat Larasati menjawab, Aditya melihat Darius muncul dari lorong kanan. Aditya bergegas menyambangi pria itu yang jalan terhuyung-huyung dan menabrak Aditya, yang menggeser badan Darius hingga terduduk di kursi.
Nolan keluar dari kamar ujung dan seketika kaget, menyaksikan kehadiran Aditya. Nolan maju beberapa langkah dan menyerang pria yang dikenalnya sebagai pengawas proyek bos PG. Namun, justru Nolan yang tersungkur akibat tendangan Aditya.
"Di mana Dita?" tanya Aditya sembari mencengkeram kerah baju Nolan. "Jawab!" bentaknya sambil memelototi pria bersweter merah.
"Di situ," cicit Nolan seraya menunjuk kamar ujung.
Aditya menghempaskan Nolan, lalu berdiri dan lari. Dia berhenti di depan pintu yang dimaksud dan mencoba membuka pintunya, tetapi gagal. Tidak hilang akal, Aditya mundur 5 langkah, kemudian dia lari dan menabrakkan diri ke pintu.
Sebab benda itu masih bergeming, akhirnya Aditya mengulangi hal tadi hingga terdengar bunyi keras, pertanda kunci pintu telah bergeser.
"Minggir, Bang!" pekik Dzafri yang tengah menggotong meja bersama Fahreza.
Aditya berpindah ke kanan. Dia menunggu meja tepat posisinya, kemudian Aditya dan kedua junior mendorong meja itu hingga menghantam pintu, yang seketika terbuka.
125*Grup Petinggi 1st, 2nd, & 3rd Generation* Yanuar : @Abang bule. Kenapa mobil baru gue belum dikirim? Alvaro : Gue sudah bilang ke Ardianto. Mobil itu jangan dikirim dulu, sebelum 2 mobil lama elu laku, @Sipitih. Yanuar : Tega amat! Alvaro ; Kalau nggak gitu, yang 2 itu cuma jadi barang rongsokan. Andri : Sayang banget itu mobil, jadi pajangan, doang. Zulfi : Sarang tikus.Fajar : Penghuni abadi garasi PB. Nugraha : Menuh-menuhin. Mardi : Nyemak-nyemakin. Aswin : Aku mau parkir mobil operasional pun nggak bisa. Qadry : Sekarang aman, @Bang Aswin. Chairil : Dua garasi sudah kosong. Nanang : Aku nggak lihat motor gedenya Bang Yan. Fawwaz : Disita Bang W, karena Bang Yan mundur dari tender di Swedia. Ibrahim : Motornya ada di garasi kantor baru. Hisyam : Kantor mana?Dimas : Banyak kantor baru. Bingung aku. Jauhari : Di gedung punya 3 robot. Hasbi : Tuls. Deretan itu semua motor para Power Rangers. Zulfi : Mau dilelang semuanya. Ada yang minat? Dedi : Aku mau motorn
124Dua pekan seusai dilahirkan, acara akekahan Nuh dan Hud dilangsungkan di kediaman Bahir. Halaman luas dan jalan depan rumah yang ditutupi tenda biru campur putih, ternyata tidak mampu menampung seluruh tamu, yang jumlahnya membludak dan di luar perkiraan. Edelweiss memerintahkan tim dekorasi guna memasang tenda tambahan di jalan sisi kiri. Puluhan ajudan muda membantu semua pekerja EO M&E. Hingga tidak sampai setengah jam kemudian, tenda biru itu telah berdiri tegak. Banyak karpet yang dipinjam dari tetangga sekitar, dihamparkan di bawah tenda baru. Supaya semua tamu bisa duduk dengan santai. Tenda ketiga dibangun di sisi kanan, dan segera ditempati para ajudan muda. Acara pengajian dimulai. Fikri yang menjadi MC, mempersilakan Zikria untuk bertugas sebagai qori. Sedangkan Hana menjadi saritilawah. Setelahnya, seorang Ustaz kenamaan memberikan tausiah yang diselipi candaan, hingga hadirin berulang kali terbahak. Tawa khalayak mengencang ketika sang ustaz menggoda Aditya serta A
123Jalinan waktu terus bergulir. Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, tanpa sanggup dicegah siapa pun dan apa pun. Musim kemarau telah berganti ke musim hujan. Udara panas turut bertukar menjadi lebih sejuk. Aditya mengusap rambut istrinya yang tengah mengatur napas. Aditya menoleh ke kiri saat Alodita kembali mengejan, guna melahirkan anak-anaknya. Aditya terus menembakkan tenaga dalam ke perut Alodita, guna melancarkan proses itu. Begitu pula yang dilakukan rekan-rekannya sesama anggota paguyuban olah napas Margaluyu, yang berada di depan ruang bersalin. Jeritan tertahan Alodita mengiringi meluncurnya seorang bayi mungil, yang dipegangi dokter dengan hati-hati. Setelah memindahkan sang bayi ke perawat, dokter itu bersiap-siap guna memegangi bayi kedua."Ayo, Bun. Dikit lagi," ujar Aditya guna menyemangati istrinya yang tengah ngos-ngosan. Alodita tidak menyahut, karena tengah berkonsentrasi. Kala kontraksi kian mengencang, Alodita menarik napas dan mengejan kuat. Seorang bay
122 Raut wajah tegang yang semula ditampilkan Zikria, seketika berubah semringah, sesaat setelah mendengar ucapan Syahban. Zikria menghela napas lega, karena keluarga Bryatta menyambut baik keinginannya untuk menjalin hubungan serius dengan Asmiratih. Aditya dan kedua saudaranya yang juga berada di ruang kerja, turut senang dengan keputusan Ayah mereka. Begitu pula dengan Natarina dan Alodita. Kedua perempuan berbeda generasi itu saling melirik, sebelum sama-sama tersenyum. Wirya yang diminta Zikria untuk menjadi wakil keluarganya, mengulaskan senyuman, sembari mengucap syukur dalam hati. Pria paruh baya itu sangat berharap hubungan Zikria dan Asmiratih bisa berhasil. Supaya mantan asistennya itu bisa segera melepas masa lajangnya. Sekian menit berlalu, semua orang telah keluar dan berpindah ke ruang tengah. Aditya berbaring di kasur lipat sambil memandangi Shahzain, yang sedang menyusu dari botol. Aditya tersenyum menyaksikan mata Shahzain yang telah nyaris menutup, sedangkan mu
67 Kepala polisi wilayah Gold Coast, memandangi beberapa orang di kursi seberang. Dia nyaris tersenyum, karena kesombongan orang-orang itu seketika lenyap. Pada awalnya, pengacara, Ayah, dan kedua Paman Malcolm, terlihat sangat garang dan bersemangat untuk menuntut agar Wirya ditangkap, lalu dije
69Sudut bibir Alodita mengukir senyuman, kala melihat suaminya tengah jalan menuju ruang tunggu ruang khusus pesawat pribadi dan carteran, di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Alodita mengamati para bocah yang menyambut Ayah masing-masing dengan penuh kerinduan. Alodita turut mendekati Ir
66 Rangga menengadah, ketika tangan kirinya ditepuk dari atas.Rangga mengamati Wirya yang mengucapkan sesuatu tanpa suara, kemudian pria berambut tebal itu mengangguk paham."Abang nggak perlu khawatir, Cici nggak tahu tentang ini," jelas Rangga. "Semuanya kompak menutupi dan nggak ada yang cerit
74 Waktu terus berjalan. Seusai beristirahat tiga hari di kediaman keluarga Janitra di tepi Kota Vancouver, Rabu pagi itu Aditya mengunjungi kantor cabang PB dan PBK di pusat kota tersebut. Aditya mengumpulkan semua staf dan ketua regu, guna mendengarkan berbagai hal tentang pekerjaan di seputar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews