LOGINDi kedalaman Galaksi Vesper yang gelap, di bawah tarikan gravitasi Planet Aeterna, hiduplah Bangsa Eternian—makhluk humanoid yang keabadiannya adalah kutukan. Luke—Eternian terkuat, memiliki kekuatan terbesar dan hati yang paling hancur. Ditempa oleh 1.000 abad penantian, ia terikat pada sumpah kuno yang disebut “The Shadow Bond”. Ikatan ini memaksa Luke merasakan kesunyian abadi sejak kematian kekasih sejatinya. Bagi seorang Eternian, cinta sejati hanyalah satu, dan konsekuensi kehilangannya adalah obsesif, gelap, dan tak terhindarkan. Kini, The Shadow Bond telah bergetar. Luke tahu ia tidak lagi sendirian. Kekasihnya telah bereinkarnasi di sebuah dunia asing yang fana: Bumi. Namun, wanita itu terlahir sebagai manusia biasa, tanpa memori masa lalu, tanpa kekuatan untuk bertahan hidup di bawah rengkuhan gelap Luke. Luke telah menempuh ruang dan waktu, melintasi dimensi demi merebut kembali miliknya. Namun, apakah cinta yang begitu kuat hingga mampu melangkahi 1.000 abad akan membawa kebahagiaan, atau justru menghancurkan kekasihnya—untuk kedua kalinya—dengan konsekuensi yang jauh lebih mengerikan dari kematian?
View MoreMalam menjelang pagi, salju semakin lebat menerpa tiap-tiap bangunan yang berdiri dengan kokoh di tengah kota New York. Cahaya yang terang dari kilauan gambar-gambar bergerak menyinari Times Square di tengah salju pertama yang turun malam ini. Sekitar 300 meter menuju 123 West 44th Street, Lilith tinggal di sebuah apartemen mewah berlayanan, lebih tepatnya seperti gabungan antara apartemen pribadi dengan hotel bintang lima, bernama AKA Times Square. Apartemen di lantai dua belas itu adalah sebuah kemewahan modern yang terkendali. Lantainya terbuat dari kayu ek gelap yang mengilap, kontras dengan sofa beludru rendah berwarna charcoal grey. Dinding yang menghadap selatan seluruhnya terbuat dari kaca, membiarkan cahaya neon abstrak dari papan iklan Times Square di bawah menjadi penerangan utama ruangan, melukis interior dengan warna magenta dan biru elektrik yang terus berubah. Sebuah grand piano mini berwarna hitam legam menempati satu sudut. Di seberangnya, sebuah konsol khusus
Dini hari itu, salju turun semakin lebat—menghujani hingga mulai menimbun butiran-butirannya pada setiap tempatnya mendarat. Di tengah dinginnya udara kala itu, kamar seorang wanita dengan rambut oranye kemerahan terasa panas. Entah panas karena penghangat ruangan, atau karena bibirnya bertemu dengan bibir seorang pria yang baru ditemuinya. Ia tahu ini salah, namun entah kenapa ia tidak ingin mendorong pria itu. Ia seakan terbuai dalam setiap lumatan, dan manisnya bibir itu. Ciuman itu membuat napasnya mulai tersengal-sengal. Tidak lama, usahanya untuk sadar dari hipnotis ciuman yang memabukkan itu berhasil—ia mendorong pria itu sehingga menghentikan kegiatan panas mereka. Telapak tangan wanita itu menamparnya dengan keras. Matanya mulai memerah karena sebentar lagi rasanya ia akan menangis. “APA KAU SUDAH GILA?!” Teriak wanita itu dengan histeris. Tamparan itu membuat Pria itu terdiam sejenak, tidak bergeming sama sekali. Wajahnya sekarang menyamping ke sebelah kiri. I
Malam itu, salju pertama di tahun ini turun perlahan-lahan. Seorang wanita yang berjalan di bawah lampu jalan kemudian menghentikan langkahnya dan menengadahkan pandangannya ke langit. “Ah..sudah musim dingin, ya?” Gumamnya pelan. Kurasa aku harus membuat coklat panas sesampainya di apartemen nanti,” ujar wanita itu pada dirinya sendiri, kemudian ia melanjutkan langkahnya dengan semangat. ——— “Cekrak” Sebuah besi yang dimasukkan ke lobang kunci membuka pintu apartemen malam itu. “Ahh, lelahnya..” sang wanita yang membuka pintu itu memasuki kediamannya, yang ia tinggal sejak pagi tadi dalam keadaan gelap. Ia kemudian menyalakan satu per satu lampu ruangan di dalam apartemennya sehingga tidak gelap lagi. Karena merasa lelah, ia kemudian duduk di sofa ruang tamu dan menyenderkan kepalanya. Ia mendesah pelan dan memejamkan matanya, berusaha rileks dan melepas penatnya seharian ini. Di sofa itu, ia melepas bajunya, hendak mengganti pakaiannya dengan sweater hangat. Denga
Hari baru saja dimulai dan angin berhembus panas. Luke terduduk di atas bebatuan di depan rumahnya. Ia terus memegangi kepalanya—memasang ekspresi kesakitan yang tidak kerap hilang dari wajahnya. “Ugh…” rintih Luke pelan. Matanya kini tertutup, menikmati rasa sakit yang menggerogoti kepalanya. Ingatan samar akan wanita itu muncul lagi. Ia melihat sebuah pasar dan sosok wanita itu namun tanpa wajah. Ia sudah mengalami hal yang ia yakini sebagai “halusinasi” ini sejak lama. “Siapa sebenarnya wanita itu..” gumam Luke, masih dengan rintihan pelannya yang menandakan sakit kepalanya belum kunjung mereda. “Sebenarnya sampai kapan aku akan terus berhalusinasi seperti ini?” Tanya Luke yang kesal terhadap keadaan. Ia tidak mengerti kenapa ia terus menerus mendapat penglihatan tentang wanita itu. Luke merasa ia tidak bisa mengingat apapun, tapi hatinya terasa sakit seperti tercabik-cabik. Makanya, ia kadang berpikir dirinya gila karena sering “berhalusinasi”. Suara langkah kaki
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.