LOGINPOV: KeishaWaktu seolah berjalan dalam putaran yang aneh. Sudah dua bulan sejak aku merasakan mual pertama itu, dan benih di rahimku kini tumbuh dengan pasti. Perutku memang belum menonjol, namun ada getaran kehidupan yang kurasakan setiap kali aku terbangun. Dan seiring dengan tumbuhnya janin ini, tumbuh pula sebuah kegelisahan yang mulai menggerogoti ketenanganku.Aku menatap cermin di kamar mandi, mengusap perutku yang masih rata. Aku bahagia, tentu saja. Tapi ada satu lubang besar yang membuat kebahagiaan ini terasa tidak menapak di bumi.Statusku. Hubunganku dengan Axel.Hingga detik ini, kami masih hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang belum benar-benar selesai. Kami tinggal satu atap, tidur di satu ranjang yang sama, dan berbagi tawa di depan anak-anak. Namun, di atas kertas dan di mata hukum, kami masih bukan siapa-siapa. Pernikahan kami yang dulu telah hancur oleh kebohongan, dan hingga saat ini, Axel belum pernah sekalipun mengucapkan kepastian hubungan kami, apala
Melihat mendung di mata Alexander dan riak cemburu di wajah Ellys, aku sadar bahwa tembok mansion yang megah ini terkadang terasa terlalu sesak untuk sebuah pengakuan besar. Kami butuh udara segar. Kami butuh ruang di mana status “Montevista” bisa dilepaskan sejenak, dan kami hanya menjadi satu keluarga kecil yang sedang mencoba bernapas kembali.Hingga pada sore hari ini, aku pun membuat sebuah rencana yang terbilang mendadak. “Batalkan semua jadwalku sampai malam nanti. Aku tidak menerima alasan apa pun,” perintahku pada sekretarisku lewat telepon singkat.Maka di sinilah kami sekarang. Di sebuah padang rumput hijau yang luas di area privat pinggiran kota, jauh dari kebisingan kota dan kilatan kamera paparazzi. Cuaca hari ini sangat bersahabat—langit biru bersih tanpa awan gelap. Sungguh pemandangan perkotaan yang sempurna.Aku membentangkan kain piknik bermotif kotak-kotak besar di bawah pohon ek yang rimbun. Keisha, yang hari ini tampak lebih segar dengan dress hamil berwarna pa
POV AxelSuaranya Alexander datar, namun ada nada getir yang terselip di sana. Pertanyaannya bukan sebuah sorakan bahagia, melainkan sebuah konfirmasi yang terdengar seperti vonis.Aku sempat tertegun, namun aku tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. Aku harus menjawabnya sekarang juga, "Iya, Al. Mommy sedang mengandung adikmu. Kita baru saja dari dokter."Alexander terdiam cukup lama. Dia melepaskan pandangannya dariku dan beralih ke arah Keisha yang kini berjalan mendekat dengan langkah ragu--setelah dia melepaskan Ellys ke kamarnya agar dia segera mengganti pakaiannya. Mata Al jatuh pada perut ibunya yang masih rata, tempat di mana makhluk kecil yang baru saja kami lihat di layar USG itu bersemayam."Lalu bagaimana dengan Al?" tanyanya lirih. Kali ini setetes air mata jatuh di pipinya yang putih. "Mommy baru saja kembali ke sini. Al baru saja bisa memeluk Mommy setiap malam tanpa merasa takut Mommy akan hilang lagi. Kalau nanti adik lahir ... apa Mommy akan sibuk dengan ba
POV: Axel Montevista Ada sebuah rasa hangat yang membuncah di dadaku, sebuah euforia yang sulit kujelaskan dengan kata-kata. Aku, Axel Montevista, pria yang biasanya menghitung segala sesuatu dengan logika dan angka, kini merasa seperti remaja yang baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya. Aku melirik Keisha yang tampak kelelahan di sampingku. Wajahnya masih pucat, namun ada binar berbeda di matanya. Ya, status kami saat ini memang masih menggantung di mata hukum. Kami belum meresmikan kembali pernikahan kami sejak pengkhianatan dan kebohongan besar tiga tahun lalu terungkap. Kami bahkan belum sampai ke tahap suami istri yang sesungguhnya secara batin sejak dia kembali ke mansion ini—selain ‘hari itu’. Aku masih tidur di sisi ranjang yang dibatasi oleh rasa segan, dan dia masih menatapku dengan sisa-sisa kewaspadaan. Namun, kehadiran makhluk kecil di dalam perutnya ini mengubah segalanya bagiku. Anak ini adalah pengikat. Jika sebelumnya aku harus memutar otak, me
Setelah tenang, semua anak-anakku aman terkendali—Axel akhirnya berhasil membujuk putih kecilnya itu untuk berangkat sekolah, tentunya dengan janji-janji manis sepulang sekolah nanti. Axel langsung mengeluarkan ponselnya. Dia menghubungi Dokter Yan, dokter pribadi baru, kepercayaan keluarga Montevista.Namun kali ini, pembicaraan mereka rupanya tidak berakhir dengan kedatangan dokter ke rumah. Kepadaku, Axel menjelaskan,“Dokter Yan menyarankan kita langsung ke rumah sakit saja, Keisha. Dia bilang, kalau memang benar dugaannya adalah kehamilan, alat di rumah sakit jauh lebih lengkap untuk USG awal. Itu lebih baik.”“Bolehkah aku memastikannya dulu dengan test alat kehamilan?” pintaku. “Apa itu perlu, Keisha? Kehamilanmu sudah pasti.”“Belum pasti...” cicitku.“Maka dari itu kita langsung pastikan saja ke tempatnya.”“Kalau kita salah bagaimana? Kau bisa kecewa.”“Kenapa harus kecewa? Aku tinggal membuatnya lagi yang lebih serius.”“Ya ampun, Axel,” Aku sampai geleng-geleng k
Hari pertama, adalah di mana aku merasakan keanehan di pagi hari, dan aku menolak diperiksa. Hari kedua pun masih begitu. Hari ketiga, masih sama. Dan lebih aneh lagi ini hanya terjadi saat pagi, begitu siang menjelang, kondisi tersebut menguap begitu saja. Aku kembali sehat, nafsu makanku kembali normal, dan aku bisa beraktivitas seperti biasa. Menemani anak-anakku bermain, belajar dan mendengarkan mereka bercerita.Saat itu, lagi-lagi aku masih bisa meyakinkan Axel bahwa ini mungkin hanya virus lambung yang sedang populer. Tapi tidak dengan hari ke empat, di Pagi yang sama. Jam yang hampir sama. Dan rasa mual yang identik.“Sudah sampai begini dan kamu masih ngeyel?” Ujar Axel berdiri mematung di samping tempat tidur. Dia tidak lagi bersiap-siap memakai kemejanya. Dia diam, menatapku dengan tatapan yang sangat dalam.“Kau hamilkah, Keisha?”Aku seketika terpaku. Memoriku berputar pada momen beberapa minggu lalu. Momen di mana tembok pertahanan Axel benar-benar runtuh, di mana







