Masuk'Gavin menolakku? Apa maksudnya?' Clarissa berdiri dari kursinya sambil menggerutu dalam hati.Tatapannya sempat tertuju ke arah pintu yang baru saja dilewati Gavin.Pemuda itu benar-benar pergi begitu saja.Padahal pagi tadi ia sudah memperingatkannya untuk menjadi Gavin yang berbeda.Tapi kenapa rasanya tetap menyebalkan?"Maaf Pak ... Bu ... karena sudah jelas bahwa saya ditolak dari perusahaan ini. Saya pamit undur diri." Clarissa menundukkan wajah.Bibirnya ditekuk sedikit, memasang ekspresi kecewa seolah seluruh harapan hidupnya baru saja dikubur di dalam ruangan tersebut.Salah satu pewawancara ikut berdiri."Maafkan kami, Beliau pemegang keputusan tertinggi. Kami tidak bisa membantah keputusan Beliau.""Kami akan menghubungi Anda sebagai keputusan finalnya."Pewawancara lainnya ikut menimpali sambil mengangguk sungkan.Clarissa membalas dengan anggukan kecil. Kemudian melangkah keluar ruangan.Begitu pintu tertutup di belakangnya, getaran ponsel terasa dari saku rok span yang
Tiga puluh hari yang lalu.Setelah kesepakatan antara mereka dibuat, Clara mengganti seluruh identitasnya menjadi Clarissa. Ya, nama Clarissa tanpa embel-embel nama Alexander di belakangnya.Semua dokumen diurus Gavin.Mulai dari identitas baru, berkas administrasi, hingga ijazah cumlaude milik Clarissa yang selama ini tersimpan sebagai bagian dari masa lalu yang ingin ia tinggalkan.Entah dari mana pemuda itu bisa mengetahui begitu banyak hal tentang dirinya. Itulah bagian yang sampai sekarang masih terasa aneh bagi Clarissa.Gavin bahkan mengenalnya sebagai Clara yang dijuluki Ibu Peri oleh adik-adik di Panti Asuhan Kasih Bunda.Seolah-olah pemuda itu telah mengetahui kehidupan Clarissa jauh sebelum mereka benar-benar bertemu.Pagi itu, hari Clarissa akan menjalani wawancara di perusahaan tempat Gavin ditugaskan oleh papanya.Mobil hitam Gavin berhenti di depan halte tepat di seberang gedung perusahaan.Sebelum Clarissa turun, Gavin sempat menatapnya sekilas, namun sedikit tajam."K
"Chan!"Clarissa kembali menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Chandra.Dokter itu mengerutkan dahi. Tatapannya mengikuti gerakan Clarissa yang semakin gelisah."Ada apa?""Maaf, aku nggak bisa cerita sekarang."Clarissa menundukkan kepala. Tatapannya terus menghindari mata Chandra. Jemarinya saling meremas di depan tubuh, menunjukkan kegelisahan yang berusaha keras disembunyikan."Kita sudah kenal lama, Ra. Kamu nggak bisa bohong padaku."Kalimat Chandra membuat Clarissa spontan mengangkat wajah. Matanya membesar, tapi segera menggeleng, takut ancaman itu benar-benar menjadi kenyataan.Clarissa akhirnya mengikuti langkah Chandra keluar dari gedung rumah sakit.Mereka berjalan menuju sebuah taman kecil yang teduh di sisi bangunan. Pepohonan rindang menaungi beberapa bangku yang berjajar di sepanjang jalur setapak. Suasana di tempat itu jauh lebih tenang daripada lorong rumah sakit.Chandra berhenti di salah satu bangku. Dia menepuk permukaannya, memberi isyarat agar Clariss
"Anda baik-baik saja, Nona?"Seorang perempuan paruh baya berpakaian perawat bergegas menghampiri Clarissa setelah mendengar teriakannya dari dalam bilik.Clarissa mengangkat kepala.Matanya bertemu dengan tatapan khawatir perawat itu. Dia menggeleng kecil, berusaha meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja.Namun, matanya justru mengkhianati gelengan itu.Wajahnya masih basah oleh air mata. Tatapan kosong, seperti seseorang yang baru saja kehilangan pijakan setelah dihantam terlalu banyak hal sekaligus."Nona berbaring dulu, saya periksa sebentar, ya?"Perawat itu tidak menunggu bantahan. Dia mendekat, membantu Clarissa kembali berbaring, kemudian mulai memastikan kondisi terakhir pasiennya."Dada Anda masih sakit, Nona?" Stetoskop ditempelkan tepat di bawah tulang selangkanya."Coba tarik napas ... Oke. Bagus."Clarissa menurut.Tarikan napasnya masih terasa sedikit berat, tetapi jauh lebih teratur dibandingkan sebelumnya.Perawat itu memeriksa beberapa bagian dada dan punggung Claris
"Eugh ...."Lenguhan lirih lolos dari bibir Clarissa. Kepalanya bergerak perlahan ke kanan dan kiri karena silau cahaya yang menerobos kelopak matanya.Tangannya terangkat, menutupi kedua mata yang masih terasa berat untuk dibuka.Perlahan, kesadarannya kembali.Potongan-potongan ingatan mulai berebut masuk ke dalam kepalanya. Samar, terputus-putus, lalu semakin jelas."Gavin ...."Satu nama itu menjadi hal pertama yang terlintas di benaknya.Kelopak matanya akhirnya terbuka sedikit demi sedikit.Atap putih yang semula tampak samar perlahan menjadi jelas di hadapannya.Clarissa mengedip beberapa kali.Ia mencoba memindai seluruh ruangan.Dinding putih.Seprai putih.Aroma obat-obatan yang menusuk hidung.Ruangan itu cukup kecil dan sunyi. Ia yakin dirinya berada di sebuah bilik rumah sakit, atau mungkin klinik kesehatan.Tidak ada siapa-siapa.Hanya sebuah nakas di samping ranjang tempatnya berbaring, tiang infus yang berdiri tegak di pojokan, serta satu tabung oksigen besar yang bers
"Gavin, apa aku melakukan kesalahan?"Clarissa akhirnya memberanikan diri bertanya. Sudah dua hari sikap pemuda itu berubah kepadanya. Tatapan yang biasanya hangat kini selalu menghindar. Bahkan keheningan Gavin terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah pertengkaran.Tidak ada jawaban.Gavin hanya mengembuskan napas kasar, kemudian berbalik dan masuk ke kamar mandi.Clarissa menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu.Sejak dirinya dituduh oleh teman seniornya di kantor, Gavin mulai menjauh. Awalnya Clarissa hanya berpikir pemuda itu sedang lelah. Ia mencoba memberi Gavin ruang untuk menenangkan diri.Namun dua hari dua malam berlalu.Tidak ada penjelasan. Tidak ada pertanyaan.Bahkan sepatah kata pun tidak keluar dari mulut Gavin."Aku harus keluar, Kak. Jangan menungguku."Gavin muncul dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti. Wajahnya tampak dingin dan kaku. Tangannya langsung meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja."Gavin, kita perlu bicara."Claris







