FAZER LOGINClarissa menikah dengan Sandy selama tujuh tahun. Ia dituduh mandul setelah hasil pemeriksaan medis dipalsukan oleh ibu mertuanya. Pada awal cerita, Sandy membawa pulang selingkuhan yang sedang hamil dan membiarkan ibunya mengusir Clarissa saat asmanya kambuh. Clarissa takut dicintai hanya karena kasihan. Ia merasa lebih tua, berstatus janda, dan tidak pantas mendampingi pria muda dari keluarga konglomerat. Trauma pengkhianatan membuatnya sulit mempercayai perhatian Gavin, pemuda yang terpaut usia 7 tahun dengannya. Menyadari perhatian dan cinta Gavin yang begitu besar untuknya. Clarissa justru menjadikan bocah manja itu sebagai alat balas dendam pada keluarga mantan suaminya. Saat keduanya saling mengetahui identitas masing-masing, mungkin perasaan cinta mereka akan menjelma menjadi sesuatu yang tak bisa diterka.
Ver mais"Lima belas tahun lalu?" Suara Clara nyaris hilang, tertelan deru mesin mobil yang melaju membelah jalanan kota. Ia menoleh ke samping, menatap profil samping wajah Gavin yang diterangi cahaya dari jalanan. Garis rahangnya yang tegas, hidungnya yang bangir, dan matanya yang selalu terlihat seolah sedang merencanakan sesuatu yang besar. "Gavin, jangan bercanda! Lima belas tahun lalu kau baru sepuluh tahun, kan? Aku bahkan hampir tidak ingat apa yang kulakukan di usia tujuh belas," lanjut Clara, mencoba tertawa meski jantungnya berdegup tidak karuan. Gavin tidak menjawab. Ia justru memutar kemudi dengan tajam, membelokkan mobil ke sebuah jalan kecil yang terhimpit di antara gedung-gedung pencakar langit yang angkuh. Ia menghentikan mobilnya di depan sebuah pagar besi yang berkarat dan ditumbuhi tanaman merambat. "Turunlah," ucapnya singkat. Clara mengikutinya dengan ragu. Di balik pagar itu, terdapat sebuah tam
"Pilih apa pun yang kau suka, Kak! Kau harus buktikan bahwa kau bisa berdiri sendiri tanpa mereka. Ada aku di sampingmu, heuh?"Clara berdiri mematung di tengah sebuah butik premium yang aromanya saja tercium sangat mahal. Gavin berdiri di belakangnya, tangan bersedekap santai, sementara ia menyapu pandangannya ke deretan gaun mewah."Gavin, ini berlebihan. Kita bisa ke toko biasa. Aku belum butuh ini semua," bisik Clara, menarik lengan pemuda itu ke arah pintu keluar dengan panik."Aku tidak punya uang untuk menggantinya!" lanjutnya lagi sedikit berbisik saat Gavin masih bergeming di tempatnya.Gavin hanya memutar bola matanya, lalu mencubit hidung Clara hingga wanita itu memekik kecil."Siapa yang minta ganti? Aku nggak mau kau memakai jaketku selamanya, meskipun kau terlihat sangat ... menggoda nggak pakai apa-apa, sih." Matanya memindai Clara dari atas hingga bawah dengan kedipan jahil."Gavin!"Gavin tertawa, tawa renyah yang selalu berhasil membuat Clara kesal sekaligus berdebar
"Gavin, tolong antarkan aku ke rumah Sandy." Suara Clara terdengar lebih mantap dari yang ia bayangkan, meski jemarinya terus meremas ujung jaket hitam milik Gavin yang masih dikenakannya. Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahu, menghentikan langkahnya. Ia menatap Clara tajam, air yang menetes dari rambutnya jatuh ke lantai kayu, tapi pemuda itu tidak peduli. "Untuk apa? Mau mengemis cintanya lagi?" tanyanya ketus. Ada nada tidak suka yang sangat kentara dalam suara Gavin di pendengaran Clara. "Aku butuh dokumen pribadiku. Ijazah, paspor, dan surat-surat penting lainnya," jawab Clara, mengabaikan sindiran pemuda itu. "Aku ingin mengurus perceraianku tanpa melibatkan keluarga Pratama atau pengacara mereka lagi dengan tanganku sendiri, Gavin." Gavin terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Bagus! Aku suka kau kembali jadi Clarissa, my Guardians Angel." Gavin menyambar sebuah kunci di atas meja setelah menghabiskan sarap
“Aku nggak mau, Pa! Aku hanya akan menikah dengan Mas Sandy, TITIK!”Suara Clarissa menggema di ruang keluarga yang mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Gadis dua puluh lima tahun itu berdiri dengan dada naik turun, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya, tetapi keras kepalanya membuatnya enggan menundukkan wajah.“Satu jengkal saja kamu keluar dari rumah ini. Kamu akan kehilangan Papa dan semua hal tentang Alexander! Kamu bukan lagi Clarissa Alexander!”Jantung Clarissa serasa diremas.Bibir Clarissa bergetar. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi kedua pipinya.Namun, bukannya mundur, ia justru mengangkat dagu.“Fine! Jangan pernah cari aku lagi, Pa! Aku bukan anak Papa lagi!”Kalimat itu meluncur seperti pisau yang dilemparkan dalam keadaan marah. Ia berbalik.Langkahnya tergesa-gesa melewati ruang keluarga, menuruni anak tangga, lalu menuju pintu utama. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações