LOGINClarissa menikah dengan Sandy selama tujuh tahun. Ia dituduh mandul setelah hasil pemeriksaan medis dipalsukan oleh ibu mertuanya. Pada awal cerita, Sandy membawa pulang selingkuhan yang sedang hamil dan membiarkan ibunya mengusir Clarissa saat asmanya kambuh. Clarissa takut dicintai hanya karena kasihan. Ia merasa lebih tua, berstatus janda, dan tidak pantas mendampingi pria muda dari keluarga konglomerat. Trauma pengkhianatan membuatnya sulit mempercayai perhatian Gavin, pemuda yang terpaut usia 7 tahun dengannya. Menyadari perhatian dan cinta Gavin yang begitu besar untuknya. Clarissa justru menjadikan bocah manja itu sebagai alat balas dendam pada keluarga mantan suaminya. Saat keduanya saling mengetahui identitas masing-masing, mungkin perasaan cinta mereka akan menjelma menjadi sesuatu yang tak bisa diterka.
View More"Clara, ini Selina. Dia hamil empat Minggu dan itu anakku." Kalimat Sandy bagai gema yang terus terpantul sejak satu jam lalu.
"Kamu masih ingin bilang bahwa anniversary tujuh tahun ini adalah hal yang sempurna?" Ibu mertuanya ikut membenarkan perselingkuhan itu, seolah yang bersalah di sini adalah Clara yang tak kunjung hamil. "Sejak kapan? Sejak kapan Mas Sandy bersama perempuan itu?" isak Clara di tengah guyuran hujan dan napasnya yang tersengal. "Kalau saja aku tidak meminta hasil laboratorium kalian kemarin secara langsung, pasti kau sudah memalsukannya lagi, kan?" tuduh Ratna memojokkan Clara yang terus menggelengkan kepala. "Selama ini kau sengaja menutupi kemandulanmu itu dengan meminta pemeriksaan pada dokter Chandra kenalanmu di panti kan?" Ibu mertuanya tak memberi kesempatan Clara membela diri. "Mas Sandy ...." Selina berbisik manja, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sandy. "Aku takut ... Kak Clara melihatku seperti ingin membunuh." "Jangan konyol, Selina! Dia tidak akan berani melakukannya," sahut Ratna berdiri di samping mereka. Ibu mertua Clara itu langsung memegang tangan Selina dengan kelembutan yang tidak pernah ia berikan pada Clara selama tujuh tahun ini. "Selamat datang di rumah, Sayang." Dunia Clara serasa berputar. Ia mencengkeram jari jemarinya sendiri. "Apa maksud semua ini, Mas? Apa salahku?" Sandy melepaskan rangkulannya pada Selina dan melangkah mendekati Clara. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari saku jasnya dan melemparkannya ke wajah Clara. "Buka itu!" perintahnya. Dengan tangan yang gemetar hebat, Clara membuka amplop itu. Isinya adalah hasil pemeriksaan medis dari rumah sakit ternama. Matanya membelalak membaca baris demi baris kata medis yang seolah mengejeknya. Infertilitas Primer. Pasien: Clara. "Ini ... ini nggak mungkin!" Clara menggeleng kuat, air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. "Mas, kita sudah periksa setiap tahun, dokter bilang kita berdua baik-baik saja! Ini pasti salah!" "Tidak ada yang salah, Clara!" Ratna berteriak, suaranya menggelegar. "Sandy dan aku sendiri yang mengambil hasil itu dari dokter. Kau mandul! Selama ini kau yang memalsukan hasil pemeriksaan itu! Kau tidak berguna bagi keluarga Pratama!" "Ibu ...." Clara menatapnya tak percaya. Clara merasa oksigen di sekitarnya menghilang. Paru-parunya menyempit. Ia mulai terbatuk kecil, sebuah reaksi otomatis saat asma dan emosinya bertabrakan. Inhaler-nya ada di kamar, dan jika ia tidak menahan kelemahannya ini di depan mereka sekarang, mereka akan lebih merendahkannya. "Tapi Mas ... aku ... aku istrimu ... Bagaimana bisa kamu—" "Istri? Untuk apa status istri kalo nggak bisa kasih keturunan?!" Sandy membentak, membuat Clara tersentak mundur. Clara berusaha sekuat tenaga untuk mengambil udara yang terasa sangat menyakitkan di tenggorokan. "Tujuh tahun aku bersabar, tapi hasilnya nol besar! Aku butuh penerus, Clara. Bukan asisten rumah tangga!" Selina maju satu langkah, wajahnya yang tadi tampak takut kini berubah menjadi penuh kemenangan. "Kak Clara, tolong mengertilah. Bayi ini butuh ayahnya. Mas Sandy sudah berjanji akan memberiku status yang jelas." "Status?" Clara menatap Sandy, menuntut penjelasan. "Kau mau menceraikanku setelah semua pengorbanan yang kulakukan untuk pernikahan kita, Mas?" Clara terpaksa mengeluarkan kalimat senormal mungkin, walau paru-parunya sudah membara dahsyatnya. Sandy membuang muka, tidak sanggup menatap mata Clara yang hancur. "Aku sudah menyiapkan surat cerainya. Kau bisa mengambil apartemen kecil di pinggiran kota dan uang tunai. Anggap itu pesangon atas pengabdianmu selama ini. Toh kamu cuma makan tidur di rumah ini, sudah untung kamu bakal kuberi pesangon!" Pesangon? Kata itu menghancurkan harga diri Clara berkeping-keping. "Pengabdian?" Clara tertawa getir, tawa yang bercampur dengan isak tangis yang menyesakkan. "Aku mencintaimu, Mas! Aku meninggalkan keluargaku di panti, aku menghapus gelar sarjanaku, aku menjadi 'Clara' yang penurut hanya untukmu! Dan kau menyebutnya hanya makan tidur?!" Itu adalah kalimat terpanjang yang bisa Clara ucapkan saat dalam kondisi 'kumat' seperti ini. "Cukup dramanya! Cintamu nggak bisa berikan aku cucu, apa gunanya, hah?!" Ratna maju dan dengan kasar merenggut kerah baju Clara. "Bereskan barang-barangmu sekarang! Malam ini, Selina yang akan tidur di kamar utama. Aku tidak mau cucuku menghirup udara yang sama dengan perempuan mandul pembawa sial sepertimu!" Ratna menyeret lengan Clara hingga ke teras. "Jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi, pembawa sial!" bentak Ratna menghempaskan tubuh Clara hingga terjerembab di aspal basah, lalu menutup pintu dengan keras. Kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Hujan dan kondisi asmanya seolah ikut menyempurnakan malam paling hancur dalam hidup Clara. "Kau akan menyesali ini, Mas," bisik Clara dengan suara serak. "Kau akan memohon padaku untuk kembali, tapi saat itu terjadi, aku bukan lagi Clara yang bisa kau injak-injak!" Dua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Clara berdiri di bawah guyuran air langit yang dingin, membiarkan bajunya basah kuyup. Paru-parunya terasa seperti terbakar. Wanita itu terjatuh berlutut di atas aspal jalanan yang gelap, terbatuk-batuk hebat hingga dadanya terasa akan pecah. Di saat kesadarannya mulai menipis dan pandangannya kabur oleh air hujan, sebuah bayangan hitam mendekat. Sebuah payung besar menaunginya, menghentikan hantaman air di kepalanya. Aroma maskulin yang tajam, bercampur dengan wangi cokelat yang hangat, menyapa indra penciumannya. "Tujuh tahun yang sia-sia, bukan?" Suara itu berat, seperti lelucon, namun menyimpan otoritas yang tak terbantahkan. Clara mendongak dengan sisa kekuatannya. Di balik rintik hujan, ia melihat seorang pemuda dengan jaket hitam lusuh dan senyum miring yang menyimpan ribuan rahasia. Pemuda itu berjongkok di depan Clara, mengulurkan sebatang cokelat kecil yang bungkusnya sudah agak lecek. Tampak samar ada tato di ujung lengannya dan bekas luka sayatan panjang yang menyembul. "Luka ini ....' Sebuah adegan samar muncul membuat kepalanya berdenyut sakit. "Makan ini, Kak! Kau butuh energi untuk membalas dendam," ucapnya santai. "Siapa kamu?" tanyanya lirih, masih enggan menerima permen dari tangan pemuda itu. "Aku nggak yakin kau akan mengingatku, Kak," balasnya kembali mengulurkan coklat itu lagi. "Ambillah! Percaya padaku, setidaknya untuk malam ini." Tanpa menunggu respon Clara, pemuda itu mengangkat bahu Clara agar berdiri. "Aku bisa sendiri—" Saat Clara mencoba menepis rangkulannya, tubuhnya limbung. "Tubuhmu nggak bisa bohong, Kak." Pemuda itu sigap menangkap pinggang Clara dengan satu tangan dan tangan yang lain masih memayungi mereka. 'Siapa bocah ini? Kenapa aku merasa sudah pernah melihatnya?' batin Clara masih belum bisa menemukan ingatannya tentang wajah pemuda itu."Pilih apa pun yang kau suka, Kak! Kau harus buktikan bahwa kau bisa berdiri sendiri tanpa mereka. Ada aku di sampingmu, heuh?"Clara berdiri mematung di tengah sebuah butik premium yang aromanya saja tercium sangat mahal. Gavin berdiri di belakangnya, tangan bersedekap santai, sementara ia menyapu pandangannya ke deretan gaun mewah."Gavin, ini berlebihan. Kita bisa ke toko biasa. Aku belum butuh ini semua," bisik Clara, menarik lengan pemuda itu ke arah pintu keluar dengan panik."Aku tidak punya uang untuk menggantinya!" lanjutnya lagi sedikit berbisik saat Gavin masih bergeming di tempatnya.Gavin hanya memutar bola matanya, lalu mencubit hidung Clara hingga wanita itu memekik kecil."Siapa yang minta ganti? Aku nggak mau kau memakai jaketku selamanya, meskipun kau terlihat sangat ... menggoda nggak pakai apa-apa, sih." Matanya memindai Clara dari atas hingga bawah dengan kedipan jahil."Gavin!"Gavin tertawa, tawa renyah yang selalu berhasil membuat Clara kesal sekaligus berdebar
"Gavin, tolong antarkan aku ke rumah Sandy." Suara Clara terdengar lebih mantap dari yang ia bayangkan, meski jemarinya terus meremas ujung jaket hitam milik Gavin yang masih dikenakannya. Gavin yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang tersampir di bahu, menghentikan langkahnya. Ia menatap Clara tajam, air yang menetes dari rambutnya jatuh ke lantai kayu, tapi pemuda itu tidak peduli. "Untuk apa? Mau mengemis cintanya lagi?" tanyanya ketus. Ada nada tidak suka yang sangat kentara dalam suara Gavin di pendengaran Clara. "Aku butuh dokumen pribadiku. Ijazah, paspor, dan surat-surat penting lainnya," jawab Clara, mengabaikan sindiran pemuda itu. "Aku ingin mengurus perceraianku tanpa melibatkan keluarga Pratama atau pengacara mereka lagi dengan tanganku sendiri, Gavin." Gavin terdiam sesaat, lalu sudut bibirnya terangkat tipis. "Bagus! Aku suka kau kembali jadi Clarissa, my Guardians Angel." Gavin menyambar sebuah kunci di atas meja setelah menghabiskan sarap
“Aku nggak mau, Pa! Aku hanya akan menikah dengan Mas Sandy, TITIK!”Suara Clarissa menggema di ruang keluarga yang mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan. Gadis dua puluh lima tahun itu berdiri dengan dada naik turun, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya, tetapi keras kepalanya membuatnya enggan menundukkan wajah.“Satu jengkal saja kamu keluar dari rumah ini. Kamu akan kehilangan Papa dan semua hal tentang Alexander! Kamu bukan lagi Clarissa Alexander!”Jantung Clarissa serasa diremas.Bibir Clarissa bergetar. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh, membasahi kedua pipinya.Namun, bukannya mundur, ia justru mengangkat dagu.“Fine! Jangan pernah cari aku lagi, Pa! Aku bukan anak Papa lagi!”Kalimat itu meluncur seperti pisau yang dilemparkan dalam keadaan marah. Ia berbalik.Langkahnya tergesa-gesa melewati ruang keluarga, menuruni anak tangga, lalu menuju pintu utama. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu.
'Dia bukan bocah sembarangan.' Insting Clara mulai waspada saat memasuki gedung apartemen kumuh dati luar namun di balik pintu usang itu terdapat tempat yang tak terduga. "Masuklah! Jangan berdiri di sana seperti patung selamat datang. Kau membuat lantainya basah," celetuk Gavin sambil melemparkan kunci mobilnya asal. Clara melangkah ragu, kakinya yang telanjang bersentuhan dengan lantai kayu yang terasa hangat, sepertinya ada sistem pemanas bawah lantai. "Gavin, tempat ini ... kau bilang kau pengangguran?" "Memang," sahutnya enteng. Gavin melepas jaket hitamnya yang basah, memperlihatkan kaus putih polos yang melekat ketat di tubuh atletisnya. Bahunya lebar, pinggangnya ramping, dan Clara merasakan ada aura kekuatan yang tertahan di setiap gerakan pemuda itu. "Pengangguran bukan berarti harus hidup di tempat sampah, kan? Aku hanya pintar mengelola ... setiap sudut ruangan ini." Gavin terkekeh lagi. Ia berjalan ke arah sebuah lemari kecil dan melemparkan sehelai kaus ke


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews