LOGIN"Pagi Kak!"Gavin menyapa dengan riang seperti biasa. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada pelukan dari belakang, tidak ada usapan jahil di kepala Clarissa, apalagi kecupan ringan yang biasanya sengaja ia curi untuk mengusik wanita itu.Pemuda itu hanya berjalan melewati punggung Clarissa yang sedang memasak sarapan mereka.Dari sudut matanya, Gavin menangkap senyuman tipis di wajah wanita yang terpaut tujuh tahun dengannya itu. Senyum sederhana yang seharusnya membuat hatinya lega, tetapi justru terasa menyakitkan karena ia tahu Clarissa sedang berusaha memperbaiki keadaan di antara mereka."Gavin, aku minta ma—""Sudahlah, Kak ..."Gavin memotong kalimatnya. Senyum di wajahnya masih bertahan, tetapi sorot matanya berubah serius."Sekali lagi kau minta maaf. Aku akan benar-benar keluar dari apartemen ini selamanya."Ia menegakkan punggung, kemudian meraih piring dari tangan Clarissa yang belum sempat diletakkan di meja. Gerakannya tenang, nyaris tanpa cela, seolah anca
"Gavin, plis jangan giniin aku—""Trus aku harus bersikap gimana sama kakakku?" sahut Gavin, memotong kalimat Clarissa.Tatapannya tertahan beberapa detik pada wajah Clarissa. Ada luka yang jelas terlihat di sana, tetapi Gavin buru-buru mengalihkannya. Ia mengembuskan napas panjang, seolah sedang mengumpulkan sisa kendali yang hampir terlepas."Jangan ge-er dulu, Kak."Gavin tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mencapai matanya."Aku bukan anak kecil lagi."Tangannya mengepal di sisi tubuh, lalu perlahan mengendur."Aku punya hati ... aku punya perasaan."Suaranya merendah. Kali ini tidak ada nada menggoda seperti biasanya ketika ia berbicara kepada Clarissa.Namun, Gavin segera mengangkat wajahnya kembali. Ia berusaha memasang ekspresi tenang, meski matanya mulai memerah."Tapi aku gak akan pernah maksa kamu nerima aku lebih dari sekedar adik."Ia menelan ludah, kemudian tersenyum kecil sambil mengangguk seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri."It's oke, I'm fine!"
"Kenapa harus nutupin perceraian Kakak? Sandy beberapa kali cari Kakak di Panti. Kenapa Kakak bohongin Nicky? Bohongin Bunda? Katakan Kak, sekarang Kakak tinggal di mana? Jaket laki-laki di kamar di layar tadi punya siapa?" Nicky menyerbu Clarissa dengan pertanyaan tanpa jeda.Lima menit.Baru lima menit keduanya melepaskan rindu setelah tujuh tahun tidak bersua, tetapi Nicky sudah membuka satu demi satu luka yang selama ini mati-matian Clarissa tutup rapat.Hatinya bahkan sudah hancur sebelum bertemu dengan adik pantinya itu.Clarissa sempat berharap pertemuan ini akan menjadi sesuatu yang menenangkan. Pelukan dari seseorang yang mengenalnya sebelum kehidupan membuatnya kehilangan dirinya sendiri. Tawa yang mungkin bisa membalut luka dari tujuh tahun pernikahan yang berakhir dengan perceraian.Namun, ternyata pertemuan ini justru terasa seperti air garam yang dituangkan ke atas luka terbuka.Dadanya semakin nyeri.Napasnya tercekat."Nick ... maaf."Hanya dua kata itu yang mampu lolo
"Kakak udah di mana?"Suara Nicky langsung menggema dari speaker ketika Clarissa baru saja menempelkan ponselnya ke telinga."Iya, masih di taksi. Udah hampir sampai kok. Maaf tadi sempat beberapa kali ditolak sama driver, Sayang."Clarissa berbohong.Tidak ada taksi.Tidak ada perjalanan menuju tempat Nicky.Perempuan itu masih berada di kamar Gavin, duduk meringkuk di sudut ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Inhaler tergenggam erat di salah satu tangannya.Basah di wajahnya akibat air mata bahkan belum sepenuhnya mengering. Jejaknya membentuk aliran tipis dari sudut mata, melewati pipi hingga ke leher.Hampir tiga puluh menit dia kumat.Bukan hanya karena asmanya.Tangis yang sejak tadi ditahannya justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Tiga bubble chat dari Gavin terus bergema di kepalanya.Sudah baca emailnya, Kak?Besok pagi jangan sampai terlambat datang. Saya tidak suka bawahan yang tidak disiplin di hari pertamanya.Selamat KakKata bawahan itu seperti terus berputar
"Kak, kita jadi ketemuan di mana?"Pesan dari Nicky baru saja dibaca Clarissa begitu ia keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih basah, ujung-ujungnya meneteskan air ke kaus putih yang dikenakannya.Ia langsung mengetuk ikon panggilan video, lalu meletakkan ponselnya di stand holder di atas meja rias kamar Gavin.Tidak ada yang berubah dari kamar pemuda itu. Hanya kini salah satu sisi lemari telah dipenuhi pakaian Clarissa, lengkap dengan meja rias kecil dan beberapa skincare miliknya. Sekilas, kamar itu tampak seperti milik sepasang suami istri.Padahal mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.Mereka hanya tinggal di bawah satu atap."Kakak lagi ngapain sih? Lama banget balesnya. Aku udah di jalan, nih, tapi bingung ketemuan di mana?" Suara cempreng khas gadis manja langsung menggema memenuhi kamar bernuansa abu-abu dan hitam itu."Kakak baru selesai mandi, Sayang ... belum sempat pegang HP habis masak trus sarapan."Clarissa menjawab sambil berdiri di antara dua pintu lemari yang ter
Pagi itu, aroma mentega dan telur memenuhi dapur apartemen kecil mereka. Clarissa berdiri di depan kompor, fokus membalik omelette hingga permukaannya berubah keemasan."Masak apa, Kak?"Suara Gavin tiba-tiba terdengar dari belakangnya.Ada yang berbeda dari sikap pemuda itu. Biasanya, tanpa permisi ia akan memeluk Clarissa dari belakang. Namun kali ini ia hanya berdiri beberapa langkah jauhnya, seolah mulai menyadari bahwa kebiasaan itu mungkin membuat perempuan tersebut merasa tidak nyaman."Tumben jam segini udah bangun?" sindir Clarissa tanpa menoleh. Tangannya tetap lincah membalik telur di atas wajan.Gavin membuka kulkas, mengambil sebotol susu, lalu bersandar santai di pintunya."HRD belum kirim email, Kak?""Bosnya aja udah nolak, mana mungkin HRD berani interupsi keputusan si bos."Jawabannya dingin. Ketus. Jelas masih menyimpan kesal.Gavin meneguk susu, lalu terkekeh pelan."Iya maaf... Clarissa Sayang... nanti aku suruh—""Gavin!"Clarissa berbalik seketika. Spatula di ta







