LOGINMarcel was born a Vampyre but never felt at home in Blackledge Castle or his own body. His father Halen has created an army of feral vampires, the means by which he will gain power and deliver justice to the descendents of the High Priestess who made him the monster he is. The curse his father's barbaric past has brought down upon Marcel is one he sets out to rid himself of. The cullings and rampant bloodshed Halen thrives on are atrocities in Marcel’s eyes, and he knows if he does not leave, he will be dragged down with the clan when the Blackledge empire inevitably falls. This story follows Marcel as he learns to accept who and what he is through encounters with undying witches, dragons as old as the mountains in which they live and packs of warrior werewolves. Marcels eyes are opened to a world he never could have dreamed of from inside the tall walls of his former home. Marcel's journey is one of hardship, heartache, self discovery and wonder but it is not without its obstacles and hardships. When he finally finds a place he could call home he needs to make a choice, love or belonging. Can a Vampyre have it all? ***This book is part of my 'Twin Alphas' series. You do not need to have read the other stories as Marcel’s story is his own.
View More“Jadi Ashraf menyelamatkan gadis itu? Untuk apa dia melakukannya!” Tukas pria bertubuh gempal dengan wajah garang sambil menggebrak meja, dia kesal.
Pria itu adalah Xiao Lan, pria asli China yang menjadi pemimpin kelompok mafia Blair Fulton.Salah satu anggota Blair Fulton yang menjadi mata-matanya mengangguk membernarkan. Informasi yang dia berikan itu tidak pernah kaleng-kaleng. Semuanya adalah kebenaran, dan anehnya dari kebenaran itu lah dia justru kena semprot oleh majikannya.“Saya juga tidak tahu untuk alasan apa tuan Ashraf melakukan hal itu,” jawabnya dengan kepala yang tertunduk.Seorang gadis cantik dengan penampilan modis yang ada di ruangan itu ikut geram, tapi bukan pada kabar yang dibawa utusan. Melainkan dengan ayahnya yang melampiaskan kekesalannya pada anggotanya sendiri.“Ayah! Berhentilah memarahi dia, lagi pula bagus dia membawa informasi yang penting. Meskipun ayah tidak suka,” tukas gadis bernama Xiao Jiang dengan cepat, dia bersidekap memandang malas ke arah Xiao Lan yang sedang berdiri memunggunginya.Pria paruh baya itu tengah menatap kota Kungmin dari ketinggian kediamannya. Tangannya mengepal kuat-kuat, menahan amarahnya yang bisa saja meledak kapan saja.“Cih! Ashraf bodoh itu malah memperumit situasi. Seharusnya keluarga Henderson sudah habis di lalap api, tapi dia malah menyelamatkan keturunannya. Ashraf itu bodoh atau idiot!” Xiao Lan menggertakan giginya.“Mungkin saja dia tidak tahu siapa yang dia selamatkan ayah, mana mungkin Ashraf akan bertindak gegabah begitu.” Xiao Jiang membela Ashraf terang-terangan.Xiao Lan yang akrab di panggil Tuan Lan itu menoleh, dia menatap sang putri tidak mengerti. Ada juga manusia yang bisa berpikir positif dengan mudah sepertinya.“Otakmu ini terbuat dari apa Xiao Jiang, kenapa isinya hanya hal-hal positif saja!” Tuan Lan mengacak rambutnya frustasi, dia kemudian duduk di samping Xiao Jiang dan menyandarkan tubuhnya di sofa.Menyadari kalau Tuan Lan sudah jauh lebih terkontrol emosinya, Xiao Jiang memberikan kode pada utusan ayahnya untuk keluar dari ruang kerja sang ayah.Tanpa perlu di perintahkan dua kali utusan itu sudah pergi terbirit-birit. Dia pasti takut dan tremor membayangkan hukuman apa yang dia dapatkan karena membawa informasi yang dibenci Tuan Lan.“Bahan dasar otakku dan otak ayah itu sama saja karena selain kita berhubungan darah kita juga makhluk hidup dengan jenis yang sama!” Xiao Jiang menjawabnya asal, dia malah asik menuang minuman dengan kadar alkohol tinggi di gelasnya.Dengan sekali tenggak Jiang menikmati minuman haram itu masuk membasahi kerongkongannya.“Kau ini pandai sekali berbicara Jiang,” sindir Tuan Lan. Dia melirik putrinya yang tengah menikmati minumannya.Jiang mengangguk semangat dan tersenyum lebar. “Karena itu ayah juga harus bisa menirunya!”Tuan Lan mengerutkan keningnya tidak mengerti, dia mengira Jiang sudah kehilangan kesadaran karena minuman itu.“Kau mabuk Jiang, kata-kata mu ngawur!” Tuan Lan hendak meraih berkas yang ada di atas nakas. Namun gerakannya terhenti karena Jiang menahannya.“Aku tidak lemah dengan minuman seperti ini ayah, yang aku katakan juga bukan omong kosong.” Jiang mengatakannya dengan penuh penekanan.“Apa yang kau maksud Jiang?” Tuan Lan mengalah, dia mengembalikan lagi berkas itu ke tempat semula dan menatap wajah Jiang lebih serius.Di saat yang sama Jiang bertepuk tangan dua kali, itu adalah kode agar tangan kanan gadis itu masuk ke ruang kerja sang ayah. Tak lama seorang pria muda dengan wajah yang tegas dan tubuh tinggi tegap memasuki ruangan. Pria itu menundukkan kepalanya memberi hormat terlebih dahulu pada Tuan Lan dan Jiang."Selamat malam Tuan Lan, Nona Jiang." Pria muda itu memberi hormat.Kening Tuan Lan berkerut, dia tampak tidak suka dengan kehadirannya. Tapi Jiang menyadari hal itu dan segera menyikut lengan sang ayah."Ashraf, jelaskan bagaimana caramu menyelesaikan misi kita. Blair Fulton membutuhkan pemikiran cemerlang mu kali ini," tutur Jiang yang sepenuhnya perintah pada pria bernama lengkap Ashraf Samar Anand itu.Tuan Lan tak terima, dia berteriak keras. "Untuk apa kita mendengarkan omong kosong dari Tukang Pukul sepertinya? dia tidak lebih dari pekerja rendahan Jiang.""Di Blair Fulton tidak ada istilah kasta ayah, dan semua orang punya kedudukan yang sama. Mau itu tukang pukul atau pimpinannya, karena kita bekerja di dunia hitam. Dunia mafia, kasta tidak dibutuhkan di sini!" Jiang memberikan penekanan pada ucapannya.Tuan Lan hanya diam, dia terpojok atas ucapan putrinya sendiri. Di saat itu lah Juang tersenyum dan memberikan kesempatan pada Ashraf menjelaskan apa yang ada di pikirannya.Ashraf beringsut mendekati Tuan Lan, dia lebih seirus dari sebelumnya.“Tuan Lan kita harus pandai memainkan kata-kata, kali ini kita akan bermain cantik dengan keluarga Henderson itu,” ucap Ashraf dengan nada yang tenang dan dingin.Kata 'bermain cantik’ tampaknya terlalu asing bagi Tuan Lan, dia terbiasa bermain dengan brutal pada musuh-musuhnya. Tuan Lan yang sejak muda terbiasa dengan dunia mafia dan segala isinya tentu tidak biasa menghabiskan waktu untuk sebuah tujuan.“Jangan bertele-tele Ashraf, aku tidak suka dengan caramu bekerja itu!” Tuan Lan blak-blakan.“Aku tahu Tuan, tapi kali ini kita harus melakukannya. Orang-orang yang licik seperti mereka tentu tidak mudah jika dihadapi dengan kekerasan fisik saja. Kita perlu rencana yang matang dan membuat mereka masuk ke dalam jebakan yang sudah kita perbuat, dengan begitu semua masalah akan selesai hingga ke akar-akarnya!” Ashraf menjelaskannya panjang lebar.Tuan Lan tampak berpikir sejenak, memang benar orang-orang licik seperti yang dia hadapi sebagai musuh itu perlu di tumpas hingga ke akar-akarnya. Dia sudah sangat jengah menghadapi orang-orang tengik.“Kalau begitu apa yang akan kau lakukan?” tanya Tuan Lan dengan nada yang serius dan tatapan matanya yang tajam.Ashraf tersenyum gembira, ini adalah hal baik yang dia tunggu-tunggu. Pemimpin tertinggi Blair Fulton akan memberikan apresiasi yang bagus atas kerja kerasnya. Dengan begitu Ashraf bisa mendapatkan pengakuan dari para anggota Blair Fulton yang lain secara resmi.“Kita perlu membuat mereka semua terkecoh lebih dulu Tuan, ini mungkin akan terasa membosankan. Tapi Henderson dan sekutunya tidak hanya mati saja, tapi mereka akan mendapatkan hukuman yang menyedihkan di dunia ini.” Ashraf menyeringai.“Jadi kau akan menyiksa mereka lebih dulu? Kenapa tidak culik saja keluarga itu?” Tuan Lan tidak mengerti rincian rencana Ashraf. Dia hanya paham atas garis besarnya saja.“Tidak bisa Tuan, itu terlalu mudah. Kita akan membuat mereka membayar apa yang sudah diperbuat dengan adil. Itu memang akan kita lakukan tapi bukan dengan tangan kita,” jelasnya.Tuan Lan menyeringai, dia mulai paham apa yang direncanakan anak buahnya.“Jadi kau akan mempermalukan mereka lebih dulu?” tanya Tuan Lan sambil tertawa.“Ya, benar sekali Tuan!”Tuan Lan menghela nafasnya berat, ini memang hal yang sepele bagi setiap mafia. Mengganti sistem dan cara penyerangan serta berubah haluan karena pimpinan yang baru. Tapi jujur saja Tuan Lan masih tidak yakin dengan inovasi rencana dari putri dan tangan kanannya.“Semoga saja rencanamu berhasil Ashraf, aku akan mendukungnya dari belakang,” Ucapnya sambil mengusap-usap lengan panjang milik Ashraf dan berlalu.Setelahnya dia pergi meninggalkan Ashraf dan Jiang yang masih bergulat dengan pikiran mereka di ruang kerjanya.Bagi Ashraf ini adalah kasus yang mudah, dia bisa saja membantai habis orang-orang itu tanpa keraguan.“Terima kasih kau sudah mau memberi ku kesempatan Nona Jiang," ucap Ashraf dengan nada yang ramah.Jiang hanya mengangguk samar, "Jangan senang dulu Ashraf, karena aku membantumu hanya karena aku membutuhkan otak cerdas mu. Bukan karena aku yang bersimpati padamu!"Ashraf membulatkan matanya, jadi ini niat sebenarnya dari Xiao Jiang padanya. Padahal Ashraf rela melakukan apa saja demi perempuan itu."Tapi nona--""Tidak ada kata tapi Ashraf, kau pikir aku akan membalas perasaan dari orang rendahan seperti mu?" Jiang menatap dengan tatapan menilai.Kata-kata Jiang sangat tajam dan melukai hati Ashraf, hanya karena dia yang menjadi algojo sekaligus eksekutor di kelompok mafia itu. Apa dia tak pantas untuk di hargai, termasuk dengan perasaanya?Imelda’s POVThe look on Marcel’s face said it all and more. He feels the bond and will not tolerate anyone messing with what’s his, not even her mother. I must admit I was unsure if he would embrace it, I never expected Evangeline to be the one to fight their gift though. The more I get to know her, the more she surprises me. I quite enjoy giving the wolves a poke every now and then, but pulling the vampyre’s strings and getting him worked up might not have been the best way to go about the next phase of my plan,Their bond was bestowed on them before the notion ever crossed their minds, but with them being who and what they are, their minds were never open to the idea that it could be possible. That is part of the reason I sent marcel to Clarence. I needed him to learn about their Goddess gift, the strength it gives the werewolves, their reason for fighting and loving fiercely. I hadn’t thought such a short stay with the pack would be so impactful. At least one battle has been remov
Marcel’s POVLeaving her with Imelda doesn’t sit right with me, I should be in there to give her comfort and protection. I know Imelda won’t hurt Evangeline, at least not in a physical sense. I’m more concerned about her heart and mind. My Eva tries to hide her softer side, she has been in survival mode since the day we met. Showing no weakness, that is what has kept her whole all these years. Deep down inside I know she cares, the things she has seen have changed her, hardened her exterior and taken away the innocence of youth. In her sleep she cries out for her mother which tears my heart in two, and all I can do us pull her closer and hope that my touch gives her some comfort. After all, it is my blood, my father and his monsters, who killed everyone she has ever loved.Eva will hold her own with Imelda. Of that I have no doubt. She will not show the cracks in her armour to anybody, she rarely lets her mask slip in front of me. It is what she carries inside that concerns me. She ke
Evangeline’s POV At the time I knew we would be heard and in the throes of passion I did not care. Now in the cold light of day I regret not making at least some effort to stifle my moans and pleading for the blessed mother to spare me from the sweet torture of Marcel and his mission to own every part of me, body and soul. The looks from the combined packs aren’t looks of disgust, the men in the pack live for their mates and vice versa, but I make a conscious effort not to walk bow legged as I make my way to the table we sat at last night. The Alphas, the Luna, Imelda, Constance and Matteau are already there and digging into breakfast. I sense Imelda’s approval as Marcel and I approach, hand in hand. Her face gives nothing away but there is a small part of me that is pleased she is content with our coupling. Maybe it’s because I don’t want to have to defend us to anyone but deep down I know it’s because she is my mother and her acceptance means more to me than i ever considered. La
Marcel’s POVThe whole time they talked about the threat coming for us and the death of Halen, all I could see inside my mind were the images of what could have happened to her, to my Eva.She is here now, in my arms, the heat of her flesh warms my own and her whimpering gasps as I explore her depths with my hand set my soul alight. She calls it her sacred place and it is a most appropriate name. I would spend forever on my knees, worshipping at her alter, and my life would be well spent.“Mar.. Marcel...” she stutters my name between gasps as my tongue tastes the salty glean on her skin. My knees sink into the loose sand and her fingers glide along my scalp as she takes hold of my hair in fisted fingers.She always does that. Tries to stop me as I lower my head to taste her, but her resolve soon dissolves and rather than trying to keep me at a safe distance she pulls me closer. Her hips rock steadily, her grip tightens on my hair and the fingers buried inside her. My tongue glides be
Marcel’s POV I stand in silent contemplation for a moment and consider my options. The answers to every question I have asked could be right behind this door and honestly, now that I’m potentially stood on the precipice of finding what I have been searching for, I’m terrified. If these people are d
Evangeline’s POV I didn’t get the chance to ask Marcel how he knew about our magic or what he meant about our parents until some time later. We did as instructed, and he walked us right past the gathering of blood drenched animals who were crouched and contorted on all fours, picking through piec
Evangeline’s POVIf you see the Blackledge Raiders, run!That is what we were taught when we were children and we were told the same thing every single day. If I wanted to go to the river to wash, my mother would stop me at the door and say, “Take a friend with you, and if you see the Blackledge Ra
Chapter TwoConstance’s POV With the raiding party away, a rare calmness has come over the castle. I often find myself eagerly awaiting their departure so I can let down my guard and just be. This place is the only home I have ever known. I grew up within these walls and every room, every portrai
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore